
"REANA!" Kelandru panik daat menghampiri. Reana di tempatnya gadis itu tampaknya pingsan, "Rea! Mamaaaa, Maama!" Ia berteriak sangat panik dan segara mengangkat istrinya itu berlari-lari masuk kedalam rumah.
"Kelandru ada apa?" Pekik Fenita dan Marinka yang langsung menghampiri.
"Reana pingsan."
"Bagaimana bisa??" Terkesiap Fenita.
Sagara yang akan masuk ke kamarnya kembali keluar lagi, "Ada apa Ma?" Ia juga menjadi panik.
"Hubungi dokter Marinka! Sagara, dokter Venus dekat sini rumahnya."
Kelandru meletakkan Reana ke sofa ia berusaha membangunkannya, segala minyak-minyakan mulai diberikan. Sementara Sagara tampak keluar menghubungi dokter yang diminta sang mama.
Wajah Reana tampak pucat, ia begitu lemas tidak berdaya, Kelandru terus memegangi pergelangan tangan sang istri memeriksa denyut jantungnya.
"SAGARARA LAMA SEKALI! Aku langsung kerumah sakit saja!" Gelisah Kelandru.
"Tunggu sebentar Kelandru, rumah sakit jauh dari sini dokter Venus ada dirumahnya mama tahu jadwalnya. 5 menit tidak datang kita bawa ke klinik atau apapun yang terdekat terserah!" Fenita mencoba memijati kepala Reana.
"Apa yang terjadi Kelandru?" Tatap Marinka nanar kepada sang adik ipar, "Suara ribut-ribur tadi diluar karena bertengkar?"
"Sania datang."
"Lalu apa yang terjadi? Apa yang dia lakukan pada Reana."
__ADS_1
"Mama dokter Venus dalam perjalanan kesini." Sagara masuk setelah sibuk memanggil dokter.
"Syukurlah. Ayo Kelandru ceritakan apa yang terjadi apa yang dilakukan Sania pada Reana."
Sagara menyeringai lebar ia merasa sedih dan kesal atas perlakuan buruk Kelandru pada Reana.
"Sania tidak melakukan apapun pada Reana, hanya menemui Kelanda dan mereka bertengkar. Dan dia-- laki-laki yang mengakui dirinya suami Reana, selalu bersikap semena-mena, dia kasar...temperamental, dia menakuti Reana!" Tunjuk Sagara sangat marah Kelandru yang berjongkok dibawa sofa memegangi istrinya itu.
Kelandru yang tadinya memilih diam menjadi tersulut, "Tutup mulutmu! Kapan aku semena-mena? Jangan memperkeruh keadaan, kau mencar muka! seolah menjadi pahlawan, kenapa kau membawa istri orang lain ke garasi? Kau ingin memanfaat keadaan!" Kelandru berucap dengan tinggi.
Sagara kembali tersenyum, "Lihat ma, kak... dia sangat temperamental, masalahmu dengan Sania tidak ada kaitannya dengan Reana, kau membuat dia menjadi istrinya saja sudah merugikan dia."
"Omong kosong!" Kelandru pun segera bangkit.
"Kelandru, Sagara sudah!" Fenita begitu panik.
Kelandru berjalan cepat dan bruakk.... ia menghantam wajah Sagara mengudarakan bunyi yang cukup kuat.
"SAGARAA!"
"KELANDRU!"
Marinka dan Fenita panik berusaha menarik keduanya. Kelandru dengan ekspresi begitu marah dan diselimuti kabut kebencian sementara Sagara, ia terus tersenyum mengusap ujung bibirnya yang berdarah.
"Lihatlah dia sangat pemarag, jaga baik-baik istrimu sebelum--"
__ADS_1
"Sebelum apa? Awas ma, aku akan menghabisinya, "Sebelum apa? Kau berharap dia meninggalkanku dan berpaling denganmu?"
Sagara memakin tertawa, "Aku tidak mengatakan itu, tapi siapa yang tahu kemungkinan bisa saja terjadi."
"Sagara sudah pergilah ke kamarmu!"
"Jangan bermimpi! Sekalipun aku mati dia tidak akan bersamamu!"
"Kelandru sudah! Kau jangan seperti ini, kau seperti anak kecil saja."
"Kenapa harus menunggumu mati, tidak perlu harus menunggu kematian, tidak ada yang tahan hidup dengan laki-laki, temperamental, angkuh dan merasa paling segalanya sepertimu."
"Omong kosong, tidak ada perempuan yang mau dengan gay sepertimu, kau penyuka sesama jenis dan mungkin berpenyakit kelamin."
"Kau meniduri banyak wanita harusnya kau yang mengalaminya."
"Sagara, pergi berhenti memancing emosinya!"
Kelandru mendorong sang mama, segera ia kembali menarik baju Sagara. Teriak-teriakam Fenita dan Marinka memecah disana. Hingga satpam datang dan memisahkan keduanya.
...***...
Sania melajukan kencang mobilnya, dia tidak terima dengan pengkhianatan ini, benar-benar apa yang ia takuti terjadi, Kelandru bersikap sebaliknya. Pantas saja semuanya seakan aneh dia bisa ada di appartement saat itu dan lalu membuat mereka di gerebek.
"Sialan! Reana, kau perempuan muraaahan, kau fikir aku akan membiarkanmu hidup bahagia mendadak jadi tuan putri di sana!"
__ADS_1
Segala fikiran buruk berputar dikepala Sania, ia harus bisa membuat Reana dan Kelandru berpisah.
"Pasti dia sudah menyerahkan dirinya? Dasar pelacür, kau perempuan sialan! Aku tidak akan membiarkan kau merebut semuanya dariku!!"