
Beberapa minggu berlalu.
"Mau apa lagi kau mengajakku bertemu, aku sudah katakan aku tidak ingin terlihat dengan masalah kau dan Kelandru, mereka sudah tinggal di tempat lain tidak di rumah orang tua Keland lagi."
Sania mengaduk batu es dari gelas bir yang baru ia minum itu, kemudian mendengkus, "Di mana mereka tinggal, aku tidak bisa terima ini, hidupku kacau. Bisnisku berantakan!"
"Apa urusannya dengan mereka? Kau kehabisan modal atau usahamu mengalami kebangkrutan?"
"Sial! Dia wanita pembawa sial! dia merebut Kelandru dariku!"
Bruakkk.
Sania membanting pelan gelas kaca itu, ia benar-benar sedang sangat kacau, bisninya di ambang kehancuran, ia kekurangan uang dan aset-asetnya satu persatu sudah ia jual.
"Kau yang membuat hidupmu sial sendiri, Reana gadis yang baik aku lihat, dia tidak menginginkan Kelandru, tapi kau yang mengantarkan Keland kepadanya."
"Aku tidak peduli, aku ingin menghancurkan mereka! Aku benci mereka, kau tahu di dunia ini Kelandru satu-satunya harapanku. Aku tidak punya siapapun." Sania nyaris menangis sungguh dada sesak sekali saat ini.
Sagara tersenyum mencibir, ia kembali menegak gelas benernya lalu meletakkannya, Sania yang merasa di acuhkan pun turun dari bangku tinggi bar itu, ia mengepalkan tangannya ingin menghampiri Kelandru.
__ADS_1
Sebaliknya dengan kehidupan Sania yang berantakan, kehidupan Kelandru dan Reana malah sebaliknya, mereka baru saja pulang bulan madu kedua ke Pulau Sumbawa. Sekarang mereka tinggal di sebuah Panthouse mewah milik Kelandru, mereka ingin hidup mandiri dan hanya berdua disana.
Setiap hari adalah hari yang menyenangkan, mereka mulai belajar saling mengenal satu sama lain, Rea belajar mencintai Kelandru yang dia sendiri masih belum yakin sama sekali dengan laki-laki itu.
Namun Kelandru selalu memberikannya kesan yang baik, dia benar menepati janjinya tidak tempramental lagi, dia selalu memberikan Rea banyak kejutan setiap hari, melakukan hal yang romanti yang pasti semua hal yang menyenangkan layaknya orang sedang jatuh cinta.
Seperti siang ini, Kelandru kembali ke kediaman mereka untuk makan siang, lalu dia berangkat lagi ke kantor. Kelandru merengkuh pinggang Rea erat dan Rea sudah tidak segan lagu melingkarkan kedua tangannya pada leher lelaki itu.
Rea menampilkan bibirnya pada bibir suaminya itu, "Cepat kembali, aku ingin menonton malam ini."
Kelandru lalu merapikan rambut Rea yang sedikit berantakan di dahinya, "Terimkasih makan siangnya, selalu lezat."
"Kau bohong, padahal tadi rasanya sedikit asin."
"Denganmu?" Bibir Rea tersenyum malu hingga wajahnya memerah, lalu Kelandru gemas dan kembali memagut istrinya itu penuh gairahh, tidak berlangsung lama, ciuman panas mereka pun berakhir dan Kelandru segera berpamitan pergi lagi.
"Pakai baju malam terbaikmu, kita akan makan malam di rumah aku akan memberikan sesuatu yang mungkin kau suka."
"Sureprise?"
__ADS_1
"Mungkin."
"Baiklah, cepat pergi! Hati-hati mengemudikan mobilnya, ada seseorang yang selalu menunggu kepulanganmu dengan selamat."
"Masuklah, kau membuatku tidak pergi-pergi jika seperti ini."
Reana tersenyum lebar, ia segera menarik pintu dan dengan berat hari menutupnya. Reana kembali menahan tawa, masih berdiri di sebalik pintu, seperti ini jatuh cinta, rasanya setiap waktu terasa indah dan tidak ingin berakhir.
Kelandru pun segera meninggal Panthouse mereka, lelaki itupun begitu sumringahnya, rasanya ia mendapatkan semangat hidup dan selalu ingin terus bekerja keras untuk kehidupan mereka berdua tanpa perlu bantuan orang tuanya.
Saat hendak akan masuk kedalam mobilnya, Kelandru berhenti, mobil lain yang sangat ia kenal plat nomornya menghentikan dia. Dan pintu mobil. itu segera terbuka.
"Turun atau kau ingin lihat aku mati di sini!" Ancam Sania memegang sebuah pisau, maniknya basah, wajahnya berantakan dia begitu kacau sekali dengan dress yang ia kenakan talinya pun turun dari pundaknya.
Keland tidak bergerak ia masih terus menatap dingin pada orang di depannya itu, "Apa maumu?"
"Turun Kelandru, aku bilang turun! Atau aku akan berteriak!"
"Kau sudah tidak waras!"
__ADS_1
"Ya karena kau! Kau membuat aku kacau--"Sania meletakkan pisau ke perutnya sendiri.
.