
Reana menatap kepada jalanan lalu lintas yang berlalu lalang, sebagian tubuhnya memerintahnya pergi ke bandara, sebagian sisanya lagi memintanya untuk kuat dan tegar melanjutkan misinya yaitu bercerai dan melepaskan diri dari Kelandru.
Dari langit masih tampak terang dan kini berganti gelap, ia sudah berdiri di jalanan tidak ada yang tahu Reana pergi, seluruh anggota keluarga Kelandru sedang sibuk mencegah Kelandru pergi, dia tidak ingin ikut bersama mereka sebab sebagian dirinya masih terus kuat pada pendiriannya untuk melanjutkan misinya.
Tiba-tiba matanya yang sayup menatap kosong jalanan lalu lintas itu membola, ia menatap jelas pada pemandangan didepan sana, sepasang pria dan wanita bersama seorang bayi digendongan pria itu, Reana mengingat dirinya. Dia tidak lagi gadis sebuah hal sudah terjadi dan membuat sesuatu didalam dirinya mungkin sedang tumbuh. Dia bisa egois mempertahankan egonya tapi bagaimana jika ada makhluk lain dalam dirinya yang tumbuh, tidakkah dia menyesali keputusannya nanti melihat makhluk itu tidak mendapatkan orang tua yang utuh karena egonya?
Sekilat mungkin Reana memanggil sebuah taksi yang kebetulan baru berhenti menurunkan seseorang disampingnya, “Pak ke bandara…”
Reana segera naik, tidak tahu pukul berapa lelaki itu akan berangkat entahpun dia sudah berangkat sebab sang mertua hanya mengatakan dia berangkat malam dan ini sudah cukup malam.
Haruskah dia kembali harus menyesali sudah mengulur-ulur waktu? Tentu saja, dia kini tampak berkaca-kaca, segenap hatinya sudah mulai bisa merasakan dia butuh lelaki itu. Dia ternyata butuh pria berengseek dan sialan itu. Dan dia percaya lelaki itu juga menyukainya jelas dari sikapnya, dia cemburu dia sangat possessive karena sifat cemburu butanya itu.
Tidak lama taksi pun berhenti, Reana segera turun dan berlari-lari ia tidak tahu harus kemana yang terpenting berlari saja dulu sambil terus mengedarkan pandangannya mencari-cari wujud lelaki itu.
__ADS_1
Sampailah langkah lelahnya berlari-lari membuatnya melihat sebuah layar monitor yang memberikan informasi keberangkatan, Reana menatap kesana melihat waktu kebarangkatan itu dan tujuan ke Australia satu-satunya setatusnya sudah chek-in artinya Kelandru sudah di dalam.
Reana langsung mencari dimana tempat itu, “Enak sekali kau mengatakan semua keputusan di tanganku, kau itu bodoh, harusnya kau sadar, jika aku tidak mempunyai rasa yang sama denganmu semua itu tidak akan terjadi.”
Reana terus berlari-lari sambil terus menggerutu, "Oh Tuhan sandalku!" Sendal Reana putus, "Ah terserahlah!" dia terus berlari dan meninggalkan benda itu, sampailah disebuah pintu masuk ia lihat Miranda sedang berdiri disana mengusap matanya dengan tissue dan lalu Fenita berjalan pergi ke arah lain sepertinya Kelandru sudah masuk kedalam sana.
“KELANDRUUUUU!!!!!” Reana berteriak, dia akhinya masih melihat lelaki itu baru saja akan masuk memperlihatkan dokumen-dokumennya kepada petugas, sontak saja teriakan itu membuat Reana menjadi sorotan disana.
Tidak pernah ada dalam fikiran Kelandru dan keluarganya Reana akan datang, sebab Kelandru sudah menjelaskan gadis itu tersiksa dengannya dan dia memang sangat ingin sekali mengkhiri semuanya. Kelandrh berbarik badan ia terperangah melihat Reana yang berhenti dengan nafasnya yang tersenggal-senggal kemudian Reana berjalan lagi.
Fenita yang tadi begitu sedih kini terkesiap,”Reana?” Dia dan Marinka bengong begitupun dengan Miranda.
Rea melangkah dengan lantang ke arah Keland di ambang pintu yang mulai menepi. Rea menatap dengan tegas kepada Kelandru dan seketika Reana mencekik Kelandru yang sudah dihadapannya.
__ADS_1
”Kenapa kau begitu tidak punya hati, setelah membuatku seperti ratu, memperlakukanku sangat manis hingga membuat aku nyaman ada kau di samping dan kau bahkan sudah mengambil hal berharga milikku, sekarang kau pergi begitu saja? Lalu siapa yang akan mempertanggung jawabkan jika aku hamil? SAGARA, kau mau dia menjadi ayah anakmu dan kau di panggi om oleh anakmu, lebih baik aku membunuhmu saja!” Reana semakin mencekik Kelandru dan seketika air matanya tumpah ruah, “Aku benci kau, kenapa kau mau meninggalkanku, kan aku sudah bilang aku mau ikut, artinya aku butuh kau, kenapa kau tidak peka!”
“Re-rea?” Lelaki itu tiLelaki itu tidak peduli sakitnya di cekik sungguhan oleh Rea, sungguh dia bingung namun sebuah tombak yang menusuk dadanya seakan lepas membuat dadanya lega,”Reanaa-- kau datang untukku?”
Segera mungkin Keland melepaskan tangan Rea lalu menarik tubuh mungil Rea dan ia peluk erat, “Maafkan aku … maafkan aku membuatmu susah, maafkan aku menjadi manusia yang memuakkan dalam hidupmu…”
Reana menggeleng,”Aku mau kau, jangan pergi…”
Air mata Kelandru pun tidak tertahankan, lolos begitu saja dari netranya,”Aku mencintaimu. Aku sungguh berat untuk pergi, aku bahkan bingung harus bagaimana disana berusaha melepaskamu, maafkan aku … maaf harus menyakitimu dulu untuk memulai semuanya.” Keland peluk erat kepala Rea lalu ia kecupi dahinya.
“Jangan pergi....” ulangi Rea lagi.
Kelandru menggeleng, “Aku tidak akan pernah pergi, tidak akan pergi tanpamu. Aku akan memperbaiki semuanya.” Tidak peduli tempat ia pun menghujami banyak kecupan di puncak kepala Reana lalu memeluknya lagi membuat gadis itu sedikit terangkat.
__ADS_1
Reana menatap wajah Kelandru sedikit berjarak,”Aku tidak tahu cinta itu bagaimana tapi aku mau kau, aku butuh kau.”
Keland mengulas senyuman lalu mengambil tangan sang istri,”Aku tidak peduli apapun cinta bagimu yang terpenting kau merasakan yang aku rasakan, membutuhkan dan tidak bisa lagi berjauhan." Kecup Kelandru tangan Reana penuh perasaan.