
"Kelandru, pasti dia pelakunya! Kau sakit jiwa, apa yang kau lakukan saat aku tidur. Dimana dia?" Rea mengusap-usap lehernya yang dipenuhi kissmark, ia bergidik ngeri mengingat bagaimana malam tadi lelaki itu melakukannya.
"Aaaaa dia membuka bajuku? Oh Tuhan, apa yang dibuat? Dia sudah...." Rea menyentuh celanà dalamnya, "Tidak-tidak, kata seseorang jika pernah melakukannya, aku akan kesakitan, lalu? dia sudah membukanya kenapa tidak melakukannya? Dia tidak berselera denganku? Hemm itu bagus...lalu seperti apa bentuk yang dia sukai? Sania...dia begitu mencintainya bahkan rela menumbalkanku."
Ada titik diri yang sakit, bukan karena tidak disentuh sebab mengingat Keland begitu jahat kepadanya mengorbankan dia demi Sania.
"Hallo Rea, kau dimana saja kenapa ponselmu baru aktif?" Suara Sania mengudara di panggilan.
"Ponselku di buang kekasihmu di laut. Kau tanya aku dimana, sudah pasti dirumah keluarga Kelandru." Rea baru saja menggunakan sebuah ponsel baru yang diletakkan di atas nakasnya, lengkap dengan sebuah sim card baru namun menggunakan nomor kontak lama miliknya dari provider seluler.
"Kenapa kau jadi berlanjut, kan semuanya harus dengan persetujuanku. Rea ini salah, apakah kak Miranda yang memintanya?"
"Kau fikira aku mau Sania? Kau fikir aku suka berada disini."
"Okay aku akan datang kesana menjemputmu lalu kau bisa lari."
"Kau cukup pintar nona Sania, kau tahu artinya pernikahan? ini melibatkan kedua orang tua dan dua keluarga besar, aku datang kesini juga karena mereka menjemputku dari rumah orang tuaku."
"Apa? Rea, ini tidak bisa berlanjut, hubunganku dengan keluarga Kelandru bisa semakin menjauh, aku tidak mau itu."
"Kau yang membuat ini, Sania!"
"Harusnya kau jangan lari ke keluargamu, sudah pasti kak Miranda mencarimu."
Rea tersulut tidak akan ada yang ia akan takuti, "Kau lalu ingin aku kemana? Alam barzah atau alam-alam lain?"
"Apa maksudmu, jangan bilang kau menyukai keadaan ini? Kau mencari kesempatan Rea, Rea ini salah. Aku sudah bilang kan? suatu hari aku tidak lagi bisa mengelola kantorku. Aku ingin benar-benar menikah lalu memulai kehidupan bersama Kelandru."
"Aku tahu Sania, tapi kau salah memulainya! Kau membuat aku masuk dan terjebak."
"Kau tidak terjebak Rea jika kau mau lari, yang ada kau mulai menikmati semua fasilitas disana, Rea itu bukan tempatmu. Kembalilah ke arah yang semestinya kau hidupmu dan kencani pria yang kau suka."
Rea menyeringai lebar, "Kau kurasa tidak punya hati Sania? Kau menganggap semuanya begitu mudah, Sania hubunganku dengan Kelandru adalah pernikahan, itu sebuah hal yang sakral. Aku akan menjadi janda setelahnya--"
"Kau hanya omong kosong Rea, jika kau peduli sahabatmu maka kau akan mengerti."
"Sahabat? Sahabat sialan seperti apa yang mengorbankan masa depan sahabatnya sendiri, jangan hanya satu tahun ini kau baik denganku lalu bisa menginjak-injakku."
"Kau tidak gratis melakukannya Rea, kau mendapatkan banyak perhiasan, orang tuamu juga naik jabatan."
__ADS_1
"Ambil semuanya Sania aku tidak butuh lalu kembalikan setatus dan kehidupanku kembali."
"Kau terlalu naive banyak janda dan bekas pria lain diluar sana lalu mereka hidup bahagia, kau ternyata sama saja memanfaatkan keadaan yang ada."
"Bekas pria lain sepertimu? Kau fikir aku sama sepertimu..." Bruak, Rea segera mematikan panggilan Sania, sudah terlalu muak beradu mulut dengan orang seperti dia.
Rea tahu seperti apa Sania, pasti saat ini gadis itu sedang sangat marah dan sangat kesal sekali. Sania adalah typical yang akan melakukan apa saja demi mencapai sesuatu.
Rea meremas dadanya, dia tidak suka tempat ini tapi dia juga tidak suka terus diperlakukan semena-mena dengan Sania.
"Apakah aku harus ceritakan pada mama Kelan, sebaiknya ceraikan saja aku. Anaknya tidak benar menyukaiku."
Rea bergegas merapikan diri, akan pergi bersarapan dibawa bersama keluarga besar Hilantadiga. Ia mengayunkan langkah pelannya keluar dari kamar milik Kelandru itu, lalu berjalan di mazzenine floor itu melihat kebawah, rumah megah itu semakin terlihat sangat megah dari atas sana.
Rea lihat meja makan besar dikeluarga itu sudah terisi oleh keluarga Kelandru, satu-persatu mulai duduk.
"Dimana dia?" Netra Rea seketika membelalak, "Sagara?"Rea langsung menaikan kerah bajunya agar bekas-bekas perbuatan Kelan tidak terlihat siapapun.
"Rea sudah dipanggil?" Suara Fenita terdengar jelas oleh Rea, gadis itu pun mundur dari pembatas mezzanine lali berjalan menuju tangga turun.
Kedatangan Rea ke meja makan membuat semua mata melihat kepadanya tidak terkecuali Sagara, pria keturunan Paris dan Arab itu tersenyum melihat dia.
Sagara adalah sepupu dari Kelandru dia besar dikeluarga itu sebab ibu Sagara adalah seorang janda dan sudah menikah lagi, Sagara adalah anak dari seorang kaya raya di negara united emirates namun ayahnya itu sudah meninggal. sebab itu dia ada disana namun lebih sering tinggal di appattementnya sendiri.
"Pagi sayang."
"Pagi Rea."
"Reana pagi akhirnya papa bertemu pengantin baru."
Semua orang di meja makan menyapanya, dia pun semakin gugup, "Pagi semua pa, ma, kak Miranda... Sagara..." Langkahnya semakin berat akan duduk disebelah mana dia.
"Reana duduk disini sebelah mama." Panggil Fenita kemudian.
Dengan ragu Rea kemudian duduk disebelah Fenita, seorang pembantu langsung melayaninya menanyakan apa yang mau ia makan. Rea terperangah melihat semua sajian lengkap disana.
"Ah iya saya bisa ambil sendiri terimakasih."
Fenita dan Miranda melirik pada Rea yang menutup lehernya, langsung menggelengkan kepala.
__ADS_1
"Mana Keland ma?" Tanya ayah dari Kelandru itu.
"Ada..." Fenita tidak ingin menjelaskan.
"Pagi--"Suara serak mengudara disana, Kelandru muncul dengan masih berantakan, kali ini dia sempoyongan memegangi dinding.
"KELAND?"
"Kelan?" Rea membelalak melihat Keland sekacau itu, matanya memejam dengan kaki yang seakan tidak kuat menopang. Segera Rea berlari mengejar Keland.
Rea mengusap hidungnya ia sangat bau alkohol dan asap rokok, "Kau demam lagi Keland." Rea berusaha memegangi dia.
"Demam, aku mau tidur kau peluk--" Keland meracau menyandarkan kepalanya pada dada Rea, "Aku suka kau pakai parfum ini..."
"Aku bukan Sania." Bisik Rea.
"Ya ya...kau istriku. Bukan sisialan itu, peluk aku rindu..."Tidak peduli situasi Kelan menarik tubuh Rea dan memeluknya erat, ia mengecupi pundak Rea dalam dekapannya, "Kepalaku sakit."
"Kita naik, tidur di atas..."
"Rea! jangan bawa ke kamar kamu. Bawa dia ke kamar tamu....ayo tolong antarkan Rea."
"Tapi ma, Keland demam lagi badannya panas lagi..."
"Apa yang di lakukan dia? Kenapa kau marah sekali?" Tanya aya Kelan lagi.
"Tidak ada pa, biasa pengantin baru."Miranda mencoba menutupi, "Ya sudah Rea bawalah naik."
"Rea sayang, nggak papa Rea sarapan dulu. mama yang akan urus Keland..." Fenita bangkit semakin kesal atas kelakuan anakanya. "Dari mana dia, jangan bilang pergi bersama wanita itu."
"Ma biar Rea aja..." Rea tidak tega melepaskan dekapan Kelan, "Rea tahu cara menanganinya..." Rea mengusap punggung yang memeluknya erat itu, lalu meminta para pembantu membantunya membawa Kelandru.
Sagara ikut bangkit, "Ayo saya bantu, kau bisa sarapan sedikit dulu, setelah itu baru mengurusinya, "Ambil Sagara tubuh mabuk Kelandru.
.
.
.
__ADS_1
.
☔ Minta dukungannya gaes