
Rea masih begitu kesal, ia membuat tissu berserakkan dikamar mandi itu bekas-bekas dia mengusap bibirnya atas perlakuan Kelan. Rea juga sudah mecuci bibirnya dengan cairan pencuci wajah, pencuci tangan hingga alkohol pemersih luka.
"Kelandru sialan! Area bibirnya semakin terkelupas karena tingkah berlebihannya, bagaimana nanti saat Sania tiba dan melihat ini lalu berfikir macam-macam.
Bugh bugh...
Kamar resort yang terbuat dari material bebahab-bahan kayu itu terasa sekali bergetar jika ada orang berlari-lari. Seketika pintu kamar mandi terbuka dan siperusak mood Rea muncul lagi, entah apa kali ini tingkahnya.
"Kau mau apa lagi?" Pekik Rea.
"Jangan keluar, ada hewan liar datang. Bersembunyi dulu dikamar mandi."
"Apa? hewan liar?"
"Ya..." Lelaki itu dengan santai berjalan ke arah closet yang tertutup lalu ia duduk disana seperti tengah menduduki kursi santainya lalu memainkan ponsel.
Rea tidak percaya ucapannya, segera memunguti perlengkapan wajah miliknya akan beranjak pergi,"Kau lihat bibirku. Apa yang ada didalam fikiranmu? Kau tahu ini adalah--" Tidak, tidak jangan bilang ciuman pertamaku, bisa tertawa jungkir balik dia.
"Tahu apa? Kau suka? Maaf tidak akan terulang lagi, aku hanya khilaf mengingat pasanganku."
"Mati saja kau!" Kesal Rea hendak membuka pintu.
"Tunggu biarkan dia masuk dul-- Arrghh, jangan dibuka ada room service mata-mata kak Miranda aku malas melihatnya. Kau duduk saja dulu disana."
"Tadi katamu hewan liar sekarang mata-mata kak Miranda yang mana yang benar. Dan apa kau memang tidak waras, mau duduk dimana aku? Ini kamar mandi."
"Pangkuanku atau pangkuan sang maha kuasa, kau pilih saja senyamannya."
"Sintiiiingggg!" Geram Rea.
__ADS_1
"REAAA! SAYAAAAANG! Kalian dimana?"
Suara panggilan itu mengudara, jelas sekali adalah suara Sania.
Rea pun menjadi panik dia sedang berdua didalam kamar mandi bersama Kelan, "Sania? Keluar cepat nanti dia marah. Jangan sampai kita di tuduh berselingkuh dan ada hubungan."
Kelan mengacuhkan Rea segera berdiri lalu mengantungi ponselnya, ia tiba-tiba membuka rel sleting celananya.
"Apa yang kau lakukan? Kenapa isi kepalamu mesùm semua?" Rea berbisik dengan menekankan suaranya lalu menghadap tempat lain.
"Apa? Ini celanaku tidak ada urusannya denganmu."
"Keland naikkan! Atau aku yang--"
"Ah...." Tiba-tiba Keland menyuarakan ******* menjijikkannya, membuat netra Rea membola sangat shock.
"Maka menurutlah dengaku."
"Menurut kepadamu untuk apa? Kau selalu menjebakku. Menyingkir aku akan mengintip!" Dorong Rea, Kelan di pintu.
"Sama-sama sayang..." Goda Kelan menyeringaikan senyuman.
"Mundur! Kau berani menyentuhku lagi aku--"
"Aku apa?" Kelan segera pergi keluar dari sana.
"Dasar sakit jiwa!"
Sania berada dibalkon dan ia lihat Kelan yang sudah keluar dari kamar mandi, "Dari mana saja? Aku mencarimu? Tau tidak sih perjalanan kesini itu cukup melelahkan, transit berkali-kali lalu masih naik speed boat yang harus mengantri."
__ADS_1
"Kau sudah datang." Lihat Kelan barang-barang milik Sania yang begitu banyaknya seperti benar-benar akan berlibur lama.
Sania segera berhambur memeluk Kelan dan seperti biasa ia menaiki tubuh lelaki itu yang cukup tegap dan besar. Membelitkan kedua kaki pada paham Kelan dan tangannya memeluk leher.
"I miss you..." Sania menatapi lamat-lama Kelan.
"Miss you more."
Pagutan terjadi dengan bibir, Kelan mencoba meresapi namun semuanya seakan mati rasa, dia malah merasa geli dan melepaskan membuat mata Sania membola.
"Why?"
"Aku panas dalam seluruh isi dalam mulutku perih."
Rea perlahan membuka pintu kamar mandi namun dengan ceroboh dia menjatuhkan 1 benda miliknya membuat Sania diluar balkon melihat itu.
"Rea? Kalian sama-sama dikamar mandi tadi? Bagaimana bisa." Sania begitu shock dan langsung berfikir buruk.
Rea langsung panik menggerak-gerakkan tanganya, "Semua tidak seperti yang kau fikir San, aku baru saja memakai skin care lihat ini. Dan Kelan mengambil ponselnya yang tertinggal didalam. Jangan berfikir macam-macam San, kau tahu aku tidak menyukai ini, katakan Ya Kelan!"
"Ya-ya..."
Lelaki itu memutar bola matanya jengah menuruti Rea, ternyata dia tidak cukup kuat membuat Rea terjebak dan di tuduh buruk oleh Sania.
Sania turun dari tubuh Kelan, "Hemm ya aku tahu, harusnya aku yang berada di posisimu. Kau tahu Re, perjalananku cukup panjang kesini ah entahlah... Andai semuanya tidak seperti ini mungkin aku dan Kelan sudah sangat bahagia."
Kelan terlalu muak mendengar ocehan-ocehan para wanita itu memilih menepi di ujung balkon meraih botol anggur di meja hidangan lalu membawa kotak rokoknya.
"The fuckíng acting, crocodile tears!" umpat Keland.
__ADS_1