
"Suami dari mana? Kau jangan suka mengada-ngada!" Pekik Rea sudah semakin menempel ke pagar pembatas itu, Kelan terus merayapi tengkuk Rea dengan bibirnya. Demi apa ini merupakan sesuatu yang tidak pernah Rea rasakan dalam hidupnya, inikah sentuhan itu.
"Kau menikmatinya girls." Bisik Kelan dengan tawaannya.
Sial dia mempermainkanku.
"Menyingkir!" Rea mendorong kasar Kelan ia tidak peduli bagaimana cara kembali yang terpenting bisa lepas.
"Cepat sekali marah, aku hanya bercanda." Kelan menarik lagi Rea, "Menantu kesayangan mama."
Paling benci jika bawa orang tua yang mana orang tua Kelan begitu baik dan mengharapakan kebahagiian manusia tidak waras ini ke Rea.
"Maumu sebenarnya apa? Aku mau kembali."
Secepat kilat Kelan menarik Rea memangkas jarak mereka, lalu memagut Rea kembali. Rea menahan bibirnya.
"Lepas!"
Namun Kelan seperti sudah tidak peduli ia pun sudah menurunkan rel sleting belakang Rea, membuat gaun basah itu terbuka pundaknya
"Menyingkir kataku."
__ADS_1
Kelan tersenyum dan kembali menarik paksa tubuh Rea rapat pada tubuhnya lalu ia kecupi pundak mulusnya itu. Bibir itu terlalu hangat dan seakan sangat mengerti keinginan lawan padahal sangat menolak.
Rea meremang otaknya lumpuh, perlakuan lelaki ini benar-benar membuatnya melayang. Sebuah kata tidak boleh menolak suami dan sikap mama Kelan seakan membodohinya untuk tetap diam, lalu kini hanya pasrah menikmati perlakuan Kelan itu.
Seketika kecupan di pundak Rea berpindah ke ke pipi lalu menjalar ke dahinya lama, Kelan lalu menahan tawa dan memeluk Rea sangat gemas sampai ia buat terangkat.
"Ayo kembali."
Entah apa maksud laki-laki ini, terkadang ia suka menyerang lalu tiba-tiba melepaskan begitu saja. Rea cukup bingung dengan sikapnya, entah sedang di permainkan atau sama-sama mulai menikmati keadaan.
***
Di kamarnya Sania begitu sangat marah, setelah Kelan menghilang kini Rea juga menghilang, kamarnya tidak berpenghuni dan seorang penjaga bilang, sang penghuni kamar belum ada keluar untuk sarapan.
*
Kelandru benar-benar kembali berenang lalu naik ke balkon kamar utama yang ditempati Sania, wanita itu terlonjak kaget saat sosok yang muncul dari balkon.
"Kelandru, dari mana saja kau!" Sania segera bangkit.
"Handuk."
__ADS_1
Sania segera memberikannya, Keland bukan datang sebab takut wanita ini curiga atau marah hanya saja dia tidak tega Rea menjadi di tuduhkan yang tidak-tidak.
"Harusnya aku bertanya, kenapa kau tidur semalaman. Mau apa aku dikamar, pagi tadi aku memutuskan berenang karena kau tidak juga bangun dan aku tidak tega membanguni.
"Ouh entahlah." Sania menggerakkan tengkuknya, "Mungkin aku kelelahan perjalanan kesini cukup sulit."
"Hemm, aku akan mandi."
"Ayo berendam, kau tidak merindukanku?" Sania memeluk Keland."
"Tentu saja tapi aku sudah lama sekali berenang sebaiknya tidak berendam kali ini." Kelan segera melelaskan Sania dan masuk kedalam kamar mandi.
"Hemmm, baiklah. Ayo kita sarapan bersama, Rea aku yakin kembali tidur. Dia seperti orang mati, sama sekali tidak keluar kamar entah apa yang dia sukai, tempat seindah ini dia tidak mau menikmatinya.
Sania kemudian menghubungi kembali Rea dan kali ini dia mengangkatnya, segera saja Sania mengajak Rea untuk sarapan bersama.
"Kau jangan hanya tidur dan tidur! Ayo keluar. Atau kau mau aku meminta Sagara datang? Baiklah akan aku coba."
"Saniaa, aku mau pulang saja."
"Rea ini belum waktunya, sudah tenanglah aku akan membuat Sagara datang dan menemanimu."
__ADS_1
Sania segera mengakhiri panggilannya, ia dan Sagara cukup dekat dan bisa di bilang adalah teman.
"Sagaraaaa? Aaaaa Sagaraaa...." Rea begitu girangnya.