MENUNGGU

MENUNGGU
MEMANGSAMU


__ADS_3

Lama sekali Kelandru di dalam kamar mandi bahkan sudah satu jam, Rea yang sedari tadi bersantai menonton televisi beberapa kali melirik ke kamar mandi.


"Apa yang dia lakukan?"


Rea sangat gengsi untuk bertanya, bisa besar kepala Kelandru fikirnya. Namun ini sudah satu jam bisa saja lelaki itu pingsan.


"Atau bisa juga pergi kedunia lain lewat jalur septic tank... Ah Rea kau jangan bercanda siapa tahu dia benar-benar sedang dalam bahaya."


Rea segera bangkit lalu menempelkan telinganya ke pintu toilet, tidak terdengar apapun terasa begitu senyap, kekhawatirannya pun membuncah.


Tok


tok


tok


"Kelandru? Kau sedang apa? Kenapa lama sekali?"


Tidak ada respon apapun, "Kenadru? Keland! Oh Tuhan dia tidak menjawabnya."


Rea menjadi panik ia mengedarkan pandangannya kesekitar mencari sesuatu, kunci cadangan atau apapun untuk membuka kunci.


Rea panik membuka semua nakas, lalu semua laci, hingga ia mendapatkan sebuah kunci yang dia tidak tahu kunci apa. Rea pun segera menuju pintu untuk membuka pintu.


Tangan Rea gemetaran memasukkan kunci, ia membayangkan hal buruk terjadi pada suaminya itu.


Cklak


Tiba-tiba pintu terbuka dan lelaki itu keluar dengan santainya hanya memakai handuk yang membalut pinggang, wajahnya tampak terlihat bersih Keland baru mencukur habis rambut-rambut di rahangnya.


Rea terperangah dan langsung mundur malu seketika. Rasanya ia ingin menghilang dari sana seketika melihat lelaki itu baik-baik saja, tapi dia malah mengkhawatirkannya.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan di depan pintu kamar mandi, mengintipku?"


"A-apa, ah tidak ada aku fikir kau kenapa-kenapa didalam sana. Orang pemarah sepertimu siapa yang tahu kan tiba-tiba tekena serangan jantung mendadak atau stroke tiba-tiba."


"Kau mendoakanku?"


"Tidak juga, ah sudahlah aku akan turun mama memanggilku, sepertinya Sagara sudah tiba, mama terdengar senang sekali dibawah sana."


"Jangan pernah keluar dari kamar ini walau hanya selangkahpun tanpa izinku." Keland kembali menegang, ia berjalan ke arah walk in closetnya kemudian.


"Sejak kapan kau bisa mengaturku? Kapan ada peraturan dan boleh seperti itu, aku mau turun atau tidak bukan urusanmu."


Seketika Keland meraih ponsel miliknya lalu menyalakan sesuatu disana.


"Kelandru apa kabar, ini ibunya Reana, ibu tidak bisa hubungi Reana kenapa ya nak? Oh iya ibu mau bilang tolong sampaikan sama Reana ibu dan ayah ndak jadi berangkat ke Jakarta, ibu ada tugas dari puskesmas buat kunjungan ke desa-desa terdekat melakukan penyuluhan masyarakat, mungkin bulan depan baru bisa.


Kelandru, ibu titip Reana ya nak, jaga dia baik-baik, kalau keras kepala tegur dia, sekarang Kelandru lah yang sepenuhnya bertanggung jawab untuk Reana, ibu percaya Kelandru pasti bisa menjaga dan membahagiakan anak ibu, salam sayang ibu buat seluruh keluarga ya. nak..."


Tit...


Rea sukses terperangah mendengar pesan audio antara ibu dan Kelandru itu, artinya ibunya sudah berharap dengan pernikahannya agar langgeng dan benar bahagia.


"Omong kosong! ibu salah orang, kenapa menitipkan anak ibu kepada pria sialan yang jahat ini, dia merusak kebahagiaan anak ibu!" Pekik Rea tidak terima.


Kelandru menyeringai lebar, "Kelandru bertanggung jawan penuh atas Reana, ehem... kau mendengarnya bukan? Tolong bajuku Rea!"


Rea enggan menoleh, "Bukan urusanku."


"Ya sudah aku akan turun hanya memakai handuk, tidak masalah."


"Pakai saja kau fikir aku peduli."

__ADS_1


"Tentu tidak, kau tidak akan peduli tapi orang-orang dibawa akan peduli, kenapa kau tidak memakai pakaian Kelandru?"


"Kau menjebakku!" Rea dengan kesal melangkah ke walkin closet lalu membuka pintu-pintu kaca tempat pakaian Kelandru di susun rapi itu. Dari pantulan kaca ia melihat wajah tampan dengan penampilan barunya itu tampak tersenyum penuh kemenangan. "Jangan tersenyum! Kau tidak lebih tampan."


"Dari Sagara?"


"Ya, dia paling tampan."


"Terserah...kau tidak akan bisa apa-apa."


"Siapa bilang?" Rea tersenyum lebar, "Dia pernah menghubungiku dan ku rasa dia juga tertarik denganku--"


Seketika Kelandru menarik Rea, membuat bibir gadis itu tertutup dengan tangannya, betapa sakitnya Kelandru mendengar setiap ucapan Rea tentangnya.


"Keland!" Rea berteriak tertahan sebab bibirnya di bekap.


Seketika Keland melepaskan Rea membuatnya bersandar ke dinding walk in closet, satu tangan Kelan menahan satu tangan Rea dengan tubuhnya sudah sangat menempel.


"Kau sangat menyukai dia?"


"Bukan urusanmu, aku juga tidak pernah mengurusi kau menyukai Sania atau tidak bukan?"


Kelan menyantuh wajah Rea lembut, lalu turun ke lehernya, Rea bergidik ngeri lelaki ini menatapnya seperti mangsa. Lalu ia tersenyum melihat wajah takut Rea, mulai menyentuh bibir Rea sangat sensual mengusapnya dengan jemari jempolnya.


Sreeeetttt...


Dalam satu tarikan nafas dan dada yang bergemuruh, Kelan menarik kasar kemeja Rea membuat seluruh kancing kemeja Rea jatuh bertaburan.


"Keland kau mau apa?" Rea ketakukan.


"Memangsamu." Kelandru mendekat lalu menempelkan wajahnya pada ceruk Rea, gadis itu meremang gelisah, Keland mencecapkan bibirnya disana.

__ADS_1


__ADS_2