MENUNGGU

MENUNGGU
Aku harus apa?


__ADS_3

Fenita menjemput sang menantu dan membawanya kerumah mereka, ia pun meminta Kelandru segera mengabari keluarga atau asisten Sania jangan sampai anaknya itu terjebak masalah lagi dengan Sania.


Mobil yang di naiki Fenita dan Reana tiba di kediaman besar itu, keduanya pun segera turun dari sana.


"Dari mana, ma?" Sapa Sagara yang baru tiba juga.


"Dari rumah sakit jemput Reana, bisa-bisanya Sania datang ke appart Kelandru dan Rea yang baru, lalu ngancam Kelandru terus melakukan percobaan bunuh diri. Dasar tidak waras!"


Sagara terkesiap, baru saja beberapa jam lalu Sania dan dia ketemuan, sungguh bukan dia yang beri tahu alamat mereka. Sania mungkin bertanya kepada orang lain.


"Lalu sekarang bagaimana? Nggak ada yang terluka, Reana kamu baik-baik saja?"


"I-ya kak, aku baik-baik aja. Kelandru lagi nungguin keluarga Sania datang."


Ketiganya lalu berjalan masuk kedalam rumah, sang mama mertua kembali ke kamarnya, tinggalah Sagara dan Reana disana. Mereka berhenti di sebuah ruangan tamu.


"Apa kabar sudah beberapa minggu tidak bertemu kalian, bagaimana bulan madunya?" Sagara berangsur duduk di seberang Reana.


"Hemm menyenangkan. Bagaimana bisnis kakak yang launching kemarin?"


"Lumayan, oh ya kamu sibuk? Kamu suka perhiasan Reana?"


"Kenapa? Aku bahkan tidak ada kerjaan, Kelandru melarangku kerja."


"Saya ingin menawari kamu jadi model di toko diamond saya, mau? Kamu cocok jadi model perhiasan, punya leher yang bagus, jemarin tangan juga. Ya jika kamu suka dan merasa ingin melakukan sesuatu." Tatap Sagara pada Reana melengkungkan senyuman tipisnya.


"Aku jadi model perhiasan di outlet baru kakak?" Reana merasa tidak yakin dan tidak percaya diri.


"Hemm, kamu pantas. Tidak kalah dengan model profesional."


Tentunya Reana sangat mau, dia tidak bisa berdiam lama di rumah, tentang ini Kelandru pasti tidak marah. Reana akan pergi saat Keland pergi dan akan kembali kerumah sebelum suaminya itu pulang.

__ADS_1


"Aku fikirkan nanti. Baiklah aku pamit naik ke kamar dulu ya kak!" Reana beranjak dari sana, dan Sagara memberikan anggukan Ya tanpa suara.


Sagara masih terus menatapi langkah Reana yang pergi, takdir sangat lucu, dia yang menginginkan gadis ini tapi Kelandru yang menikahinya. Andai dia lebih cepat pasti tidak akan terlambat.


Sialnya buat dia yang sulit melupakan seseorang ini begitu berat, terkadang ia tidak bisa mengontrol. diri untuk tidak memuji dan memperlihatkan rasa dambanya.


Di rumah sakit, Sania sedang melakukan operasi akibat tusukan benda tajam di perutnya yang merobek bagian dalam perutnya. Tidak ada yang bisa Kelandru hubungi untuk mendatangi keluarga Sania, kemana orang yang bekerja dengannya semua.


Sialnya dia harus menjadi penanggung jawab disana tidak bisa pergi.


Beberapa jam operasi Sania berlalu, dia juga belum bisa meninggalkan Sania, rumah sakit meminta Kelandru tetap disana sampai seseorang wali dari Sania datang.


"Selamat malam, pak pasien sudah siuman dan ingin bertemu bapak."


****.


"Iya Sus, terimakasih."


Sania mengharu biru, "Terimakasih masih peduli denganku."


"Hanya sebagai manusia tidak lebih, berikan kontak saudari, pekerja atau siapapun keluargamu agar mereka bisa menemanimu."


"Kau tahu bukan? Tidak ada satupun selain kau dan Reana selama ini yang ada di hidupku, tapi kalian malah bersama."


"Dimana orang tuamu, dia masih ada dan aku tahu ktu."


"Dia tidak lagi peduli denganku. Akan kemana aku pergi. Dari kecil hingga besar kedua orang tuaku sibuk, apalagi setelah ayah meninggal semuanya seakan semakin tidak ada arti. Aku sebatang kara."


"Permisi! Pak ini obat ibu Sania, dan sebentar lagi bisa di suapin makannya ya. terimkasih, " kata seorang suster yang baru datang lalu segera pergi lagi.


*

__ADS_1


Di kediaman keluarga Hilantadiga, Reana dan keluarga Kelandru sedang menikmati tontonan di ruangan keluarga. Ia duduk bersama ibu Keland dan juga ayah Kelandru yang hari ini pulang kerumah.


"Reana, coba Hubungi Kelandru, minta dia cepat kembali!"


"Tadi udah ma, katanya dia nunggu ada yang datang kesana, em Sania sebagang Kara ma, kalau sakit gini Reana kasihan juga sama dia."


"Jadi maksudnya Kelandru akan tetap disana?"


"Iya tadi Kelan mau pergi tapi dokter mengatakan Sania tidak bisa di tinggal sendiri. Reana izin minta antar supir kerumah sakit ya ma, mau lihat Sania dan cari cara bagaimana meninggalkan Sania."


"Ya udah hati-hati kamu tu."


Reana segera berganti pakaian, mengambil tas miliknya dan segera menghubungi supir untuk menyiapkan mobil dan mengantarkannya. Langkah cepat Reana membawa dia segera turun dan tiba-tiba Sagara muncul di depan pintu siap dengan mobilnya yang sudah ia buka.


"Mana pak Udin?"


"Reana, ayo! Pak Udin sedang mengisi bahan bakar mobil papa, baru aja keluar."


"Loh tadi katanya bisa antar aku kok!"


"Ayo sama saya, sekalian jalan! Saya mau menemui teman."


Dengan ragu Reana lalu berjalan menghampiri mobil Sagara dan masuk ke dalam sana. Reana tampak diam, ia sedikit canggung, sementara Sagara tampah menahan senyum dengan wajahnya yang sumringah.


Di rumah sakit.


Kelandru terus mengubungi orang lain, dia bahkan berencana membayar orang lain untuk menjaga Sania. Kelandru benar- benar sudah tidak tenang disana, sedari tadi tampak terus berdiri gelisah.


"Kel, kamu jijik menyuapi aku? Kamu lupa gimana kamu bilang cinta ke aku? Keland aku nggak punya siapapun, kamu janji dulu akan selalu sama-sama dengan aku. Kamu lupa bagaiman khawatirnya kamu saat aku sakit? Kel, aku rindu."Sania berkaca-kaca, " Aku nggak tahu harus apa, mending mati aja jika seperti ini, Kelas lihat ini kalung yang aku pakai, kamu bilang dia akan lindungi aku, kamu bilang dia kalung keberuntungan."


Telinga Kelan terasa panas, "Stop Sania!"

__ADS_1


Mata Sania masih terusmenangis dengan sangat sedihnya, "Aku masih ingat sekali, kamu bilang cinta, Kel aku harus apa sekarang, aku harus apa!" Hiksss.


__ADS_2