
"Pak tolong segera di suapin ibu Sania, dia belum makan." kata seorang Suster yang baru saja memeriksa keadaan Sania, "Baiklah pak ini semua obatnya bisa di berikan setelah makan, yang lain sudah masuk di dalam infusnya."
****, Kelandru semakin frustasi, dimana ia lihat mata Sania berkaca-kaca, wanita itu sudah diam tidak tahu harus bagaimana lagi meluluhkan Kelandru.
Lelaki itu semakin menjauh ke pintu dimana keluarga Sania, kenapa tidak satupun ada yang datang membuat dia susah saja.
Ia pun memutuskan keluar dari pintu, namun pintu tiba-tiba di dorong dari luar, Kelandru terperangah, "Sayang?"
Reana tiba di sana, Rea melangkah santai ia tersenyum kepada suaminya itu lalu, tersenyum menyapa Sania.
"Hau San!"
"Untuk apa kau datang!" Sania malah murka dan memasang wajah tidak suka.
"Kenapa? ya untuk menjengukmu sahabatku dimana ada suamiku juga disini."
"Pergi dari sini aku tidak menginginkan kehadiranmu. Aku tidak butuh kau, aku mau kekasihku, Kelandru milikku!" Ucapan Sania kian meninggi.
Reana tidak takut sedikitpun, ia semakin melangkah mendekat, "Dia kekasihmu itu dahulu... sekarang dia adalah suamiku, ayah dari anak-anakku."
"Jangan mimpi! Kau bersamanya karena sebuah kecelakaan! Semua sebab aku pergi dari apartemen malam itu, teman sialan! Kau bukan sahabatku! Kau ****** yang berusaha menjebakku!" Sania benar-benar sangat tersulut.
"Jaga ucapamu, Sania!" Kelandru mengambil tangan Rea, "Ayo pergi dari sini, aku sudah menghubungi keluarganya, mereka belum ada kabar namun pesanku di baca."
"Kelandru kau tidak akan pergi!"
Rea tertawa, "Dia harus pergi, dia bukan polisi yang akan melayani dengan sepenuh hati, dia suamiku, ada anaknya di rahimku."Reana mengusap perutnya lalu mengeluarkan sebuah tes pack dari dalam tasnya memamerkan pada Sania dengan sangat angkuhnya.
Sontak saja Sania terbelalak, begitupun Kelandru. "Sayang?" Kelandru terkesiap ia kembali menarik tangan Rea, "Kau mengandung?"
"Hemm... kau akan menjadi seorang ayah." Sesaat Reana menatap Sania dengan lirih, "Maaf mungkin semua tidak sejalan dengan impianmu San, tapi mimpi buruk ini kau yang ciptakan. Kau membuat aku bersama Kelandru, mungkin itu memang jalannya Kelandru harus terlepas darimu dan menjalankan kehidupannya yang lain. Aku sangat berterimakasih denganmu San, dia yang tidak aku inginkan tapi yang terbaik untukku, maaf...."
__ADS_1
Bibir Sania kelu, ia tidak mampu lagi berkaca-kaca, Sania merasakan sakit hati yang teramat. Dadanya sesak bak di pukuli, Reana sudah mengandung anak Keland.
Tidak ada lagi kesempatan untuknya, dia benar-benar bodoh menyia-nyiakan kesempatan.
"Enggak! Aku nggak mau!!" Sania menjambak rambutnya frustasi, ia terus berteriak.
"SANIA STOP! tubuhmu sudah sakit karena luka yang mau buat sendiri, sekarang jangan sampai nyawa hilang sebab kebodohanmu lagi. Berhenti lah San. Kau gadis yang pintar, kau hebat, kau cantik, karirmu bagus. Kau mungkin gagal di percintaanmu tapi tidak dengan hal-hal lain. Hentikan semua ini San, hidup harus terus berjalan dan kau pun harus melihat masa depan dan belajar dari kesalahan."
Sania menundukkan wajahnya, sesaat semua yang Reana ucapkan benar. Reana mungkin tidak bagus dalam karir juga keuangan, tapi dia berhasil dalam percintaan. Semua orang punya kelebihan dan kekurangan masing-masing.
"Aku benci kau Reana."
"Tapi aku menyayangimu, Sania. Kau memutar bolak balikkan hidupku, lalu membuat aku bertemu dia."
Sania menutup mulutnya, rasanya segala tembok keras itu runtuh, ia menoleh pada Reana dan juga Kelandru yang menggandeng tangan Reana itu.
"Aku benci hidupku!" Hiksss hiksss.
Sania semakin menangis ia pun mulai mengangkat tangannya mendekap Reana, selama ini Reana yang selalu bersamanya seperti keluarga sendiri, tidak ada orang lain apa lagi ibunya yang sudah menikah lagi.
"Aku juga menyayangimu Re. Aku sangat jahat denganmu Reana.
"Kau tidak jahat, kau hanya shock dan tidak terbiasa."
"Maukah kau juga memelukku Kel--" Ucap Sania lemah, Sania seperti butuh sebuah support dan dukungan.
Dengan malas dan di tarik paksa Reana, Kelandru pun menjadi mendekat dan mereka bertiga pun berpelukan sangat erat.
"Maafkan aku..." Hikss hiksss, "Selamat kalian akan menjadi orang tua." Air mata Sania tumpah ruah, ia begitu berat untuk bisa menerima namun ini begitu lega untukknya. "Bisakah kalian tidak membenciku?"
"Tidak akan San, kita sahabat selamanya." ucap Reana menenangkan. Ruangan perawatan menjadi hangat dan mengharu biru.
__ADS_1
***
Setelah dari rumah sakit Kelandru dan Reana pun memutuskan pulang, Sania meminta Keland membawa Rea pulang mengingat dia mengandung.
Kelandru berkaca-kaca di dalam mobil, ia masih merendahkan tubuhnya memeluk perut Reana di sebelahnya, lelaki itu seakan tidak percaya semesta memberikan dia izin secepat ini untuk menjadi ayah.
"Terimakasih kau dan ibumu sudah datang ke hidup ayah nak, tidak ada kebahagiaan lain selain ini."
Reana mengusap rambut lebat Kelandru sembari terus ia kecupi, "Saat ini aku sudah tahu perasaanku Kel, aku butuh kau dan sangat mencintaimu."
Kelandru mengangkat wajahnya melihat wajah cantik Rea, tidak pernah sekalipun Rea mengucapkan cinta dan perasaannya namun kali ini dia mengutarakannya tanpa di minta.
"Apa?"
Bibir Reana maju beberapa centi, "Jangan meminta aku mengulangnya, aku tidak suka!"
Kelandru tertawa begitu gemas dengan bibir merah muda yang maju itu, ia pun lantas menyatukan bibirnya pada bibir Reana, memagut dengan lembut dan penuh cinta. Kedua mata mereka saling menatap sampai bibir terlepas dan Kelandru membawa Reana kepelukannya.
"Aku juga sangat mencintaimu Reana. Tetaplah di sampingku setiap hari dan selamanya."
.
.
.
TAMAT
(Aku merasa berdosa karena ada yang baca dan aku up lama sekali. Jujur aku sangat sibuk sekali, sebaiknya aku akhiri ya, maafkan kekuranganku, selamat membaca karya author hebat lain disini. Maaf atas cerita receh penulis remahan ini)
#Salamsayangaku
__ADS_1
😌 Salam mba payung, cerita ini mungkin akan aku hapus segera.