MENUNGGU

MENUNGGU
Pasrah di Grebek.


__ADS_3

Di sebuah cafe resort Sania dan Kelandru sudah berada disana menikmati sarapan mereka, tidak lama Rea pun datang, melangkah malas satu meja bersama mereka.


"Hemm putri tidur sudah bangun." Sania mencibir Rea, "Ya Tuhannn, kau salah kostum Rea, pake beginian kalau mau ke hangout ke pasar atau main sama teman-teman di kontrakanmu."


Rea memakai kaus putih kebesarannya dan sebuah celana pendek berbahan kainnya, sementara Sania dengan dress pantai miliknya yang indah.


Rea tidak mengindahkan segera duduk begitu saja. "Bangkit Rea!"Tarik Sania tangan sahabatnya itu sementara Keland selalu bersikap acuh berpura-pura tidak tahu.


"Mau apa Sania!"


"Lihatlah dunia Re, hidup hanya sekali dan kau harus mencoba semua hal." Dengan enteng Sania merobek bagian depan kaus Rea dengan sebuah pisau daging disana.


"Sania apa-apaan ini nggak lucu tahu."


Sania semakin merobek-robek kau Rea membuat banyak rumbai lalu ia simpul bagian pusatnya mengespose indah setengah bagian perut rata Rea tidak lupa Sania menurunkan kerahnya memperlihatkan pundak mulus Rea.


"Sania ini bukan Typeku."


"Tapi Type para pria-pria diluar sana, ayolah buka matamu, mulailah lihat dunia. Lihat seperti ini jauh lebih bagus."


"Aku tidak butuh jadi type siapapun."Rea berangsur duduk.


"Kau pesan makananmu disana, setelah itu menunggu disini."


"Disana!" Tunjuk Rea segera bangkit kembali menurunkan sedikit kausnya yang sudah di rombak-rombak Sania.


"Panggil saja." ucap Kelan kemudian.


"Lama, pergilah pesan sana."

__ADS_1


"Hemm." Rea segera mengayunkan langkahnya kesana.


Saar Rea pergi Sania pun tertawa, "Dia sebenarnya sangat cantik hanya saja terlalu polos, lihat pasti pria-pria disana menggodanya."


Kelan terus saja berkutat dengan ponselnya, padahal dia kesal melihat kelakuan Sania yang membuat Rea tampak sangat seksí seperti itu. Nyaris bukan hanya tampak seperti crop top melainkan hanya menutup dada saja.


"Satu dua tiga...lihat sayang, Rea digodai pria-pria bule itu."


"Kau tidak perlu berbuat seperti itu, biarkan dia dengan yang nyaman untuknya saja."


Sania tertawa, "Kau tidak tahu sahabatku itu, sedari dia datang ke Jakarta hanya 1 pria yang selalu ia coba dekati daj mencari perhatiannya, yaitu ya sepupumu itu Sagara. Aku meminta Sagara datang jika dia tidak sibuk."


Keland mulai memantik rokoknya, "Untuk apa seperti itu, kau ingin membuka kepada Sagara tentang pernikahan bohongan ini."


"Kenapa? Biarkan itu adil untuk Rea."


"Lihatlah Rea diajak berkenalan, aku akan bilang dengan Rea makan saja disana."Sania mencoba mengirimkan pesan pada Rea, "Aku ingin dia tahu bagaimana rasanya jadi pusat perhatian semua orang dan jadi wanita yang sedikit nakal, dia terlalu baik...nakal dalam artian membuat pria mengejar-ngejar dia."


Keland menghembuskan kembali asapnya kini seakan berat, saat Sania mengatakan Rea menyetujui makan di meja lain bersama seseorang yang baru berkenalan dengannya itu.


Padahal bagi Rea dia lebih baik makan di meja lain jauh dari Sania dan Kelandru yang sama-sama memuakkannya itu.


Terserah apa kata pria didepannya ini, aku lapar...


Sepanjang makan pria dihadapannya terus bertanya menggunakan bahasa mandarin, sial berisik dia bicara apa, nggak paham.


"Cheers!"


Tiba-tiba pria itu mengajakknya bersulang, Ha? emang dia tanya apa dan aku jawab apa.

__ADS_1


"I-ya cheers!"


Benar kata Sania, Rea memang tidak pernah peka dan terkadang terlalu polos akan sikap seseorang, saat ini Kelan memanas, Rea tidak ada kapoknya padahal dia sudah menegurnya awal mereka datang kemarin saat sedang bersama seorang bule.


Dalam kelengahan Rea yang sedang mengabadikan swafoto di tempat indah itu, tiba-tiba tangannya di cekal dan mulutnya di tutup. Emosi dan kekesalan memenuhi kepala pria si penarik tangan itu.


Kelan segera melempar ponsel Rea ke air, di depan matanya Rea bertukar kontak dan mengunggah foto bersama pria tadi, seakan ia sengaja membuat-buatnya marah.


Keland lalu menarik Rea kedalam kamar mandi untuk pria dicafe itu, mengangat Rea di atas closet yang terutup itu.


"Suka menggoda pria, pelajaran sialan seperti itu kau suka menerimanya?" Lepaskan Kelan bibir Rea yang sedari tadi ia tutup.


Hah, Rea mengembuskan nafas lega, "Pelajar sialan itu kekasihmu yang membuatnya."


"Kau tidak punya otak dan mulut untuk melawannya!"


Crakkkkkk


Kelan merobek kaus yang Rea kenakan, "Dibuka seperti ini jauh lebih bagus."


"Kau gila!"Robekan itu nyaris memperlihatkan area dua benda yang tertutup milik Rea.


"Marah? Tidak suka, kenapa tadi kau tidak melakukannya? suka menggoda? Baiklah aku tergoda." Kelan menarik dekat tubuh Rea, lalu menempelkan wajahnya di perut terbuka Rea.


"Ke-keland!" Rea segera berpegang pada dinding merakan gelinya sentuhan rahang di perutnya.


Lelaki itu terus menjalari wajahnya di perut Rea, perlahan turun dan turun, membuat Rea membola, "Kelan--"


"Siapa yang bisa melarangku sekalipun kita di gerebek kau sah istriku." Kelan kembali mengelitik Rea dengan wajahnya lalu berhenti disatu zona inti dirinya membuat dia bergidik ngeri dan semakin berpegang erat pada dinding.

__ADS_1


__ADS_2