MENUNGGU

MENUNGGU
TRAKEA ATAU INSANG


__ADS_3

"Morning menantu kesayangan mama, eh baru bangun?"


Mama Kelan! Rea yang asal mengangkat panggilannya terkesiap, dia memang baru bangun dan Kelan masih disini sampai sekarang memeluki perutnya.


"Reana?"


"I-iya ma. Maaf Rea baru bangun."


"Ya nggak apa-apa namanya juga bulan madu, mana Keland masih tidur juga?"


Rea memukuli pelan pundak Kelan ada ia bangun dan laki-laki itu menggeliat, "Hemmm kenapa?:


"Mamaa!" Bisik Rea menekankan kalimatnya.


Kelan menarik tangan Rea memperlihatkan wajahnya pada sang mama, "Hay ma selamat pagi, pagi sayang..." ucap Keland juga pada Rea lalu menarik bahunya dan mengecup pipi Rea.


OMG


"Ehem iya, iya maaf mama ganggu. Baik-baik disana, yang akur. Saling menjaga, mana mama mau bicara sama Rea."


"I-iya ma..."


"Rea, makasih Rea sudah mau menjadi teman hidup Kelandru, Kelan itu .... Rea pasti paham anak bungsu di keluarga mama, waktu dia menikah mama sedih sekali dia akan membagi hatinya hidupnya buat keluarganya sendiri. Mama kok ya iri gitu ya aneh... tapi mama juga bahagia, mama yakin Kelan enggak salah pilih."


Rasa syukur Fenita adalah saat Keland bukan bersama Sania, Miranda dan Sania pernah bertengkar, namun bukan sebagai kekasih Kelan melainkan seorang yang sangat arogan kala itu Sania bersama mantan kekasihnya itu pernah ada disebuah club malam milik rekan Miranda, dia mabuk parah dan terlibat perkelahian hebat bersama pemilik club.


"Iya ma..."


Aduh kenapa jadi bawa-bawa hati seorang ibu sih?

__ADS_1


"Yaudah selamat bersenang-senang ya."


Rea tersenyum dan melambaikan tangannya pada Fenita disana. "Salam buat semuanya ma." Akhir Rea panggilan ibu Kelandru itu.


Rea turun dari ranjang mencari laki-laki itu, mungkin dia sudah pergi fikirnya, Rea tidak tahu apakah dia sudah lebih baik atau belum namun lihatlah pakaian Rea sedikit membasah pada Area yang ia peluk sebab keringatnya.


Rea merapikan ranjang, membereskan beberapa barang yang berserakan dari arah balkon ia lihat pintu balkon terbuka sebagia. Rea pun berjalan kesana memastikan apakah lelaki itu yang disana.


Dan benar saja laki-laki itu bukannya kembali menemui Sania ia malah bersantai disana menyandar pada balkon, melepaskan pakaiannya sembari mengudarakan asap tembakaunya.


Rea naik darah berkacak pinggang kesal melihat laki-laki itu sudah mengudarakan asapnya di pagi-pagi seperti ini.


UHUK


UHUK


"Berisik Rea, lihat perahu itu ada orang mancing disana." Tunjuk Kelan tengah laut sana.


"Aku tidak peduli dengan orang memancing. Buang hisapanmu kembali ke kamar Sania, dia pasti menunggumu." Atau kau mau membahas tentang ucapanmu semalam? Jangan-jangan di lupa dan tidak sadar mengucapkan itu.


"Buang? Kau punya alasan memerintahku membuangnya?"


"A-alasan, tentu saja. Benda yang kau hisap itu adalah sampah dan tidak bermanfaat, apa gunanya menghirup dan mengembuskan asap, kalian para laki-laki tidak ada kerjaan."


Kennan tertawa, "Kalian para wanita tidak mengerti, kau mau coba?"


"Co-coba?" Rea berkerut dahi, "Ah tidak, kau sudah gila memintaku mencobanya."


"Ayo cobalah." Kelan mendekat, mengulur batang tembakaunya.

__ADS_1


"Kau tidak waras Keland."


"Kau harus coba agar tahu rasanya dan akan menyukainya--"Kelan mengambil tangan Rea menariknya paksa.


"Keland kau sudah gilaa!" Pekik Rea mendapat tarikan Keland.


Lalaki itu pun tertawa, "Kau pasti suka--" Kelan kemudian melemparkan batang tembakaunya langsung menarik tubuh Rea, memagut bibirnya membuat gadis itu membola shock.


Kelan memagut lembut bibir merah mudah itu merengkuh pinggang Rea dengan kuat, ia terus menghisapi bibir lembut itu lalu menerobos susunan gigi rapi Rea dan semakin memperdalam ciumannya sangat aman menikmati ini.


Tubuh atletis tanpa pakaian itu terasa hangat dan nyaman menempel pada tubuh Rea, menciptakan desiran yang membuat jantung Rea berdegub sangat kencang, Rea masih mematung diam, dia tidak paham harus bagaimana malah mulai merasakan sesak nafas sebab pagutan lelaki itu.


Tok


Lelaki itu seketika mengetuk kepala Rea, "Kau bernafas dengan trakea atau insang?"


Rea tersenggal-senggal setelah Kelan melepaskan pagutan mereka, ia malu kenapa malah diam bukan melawan.


Reaaaa...kau bisa-bisanya, rasanya ia malu sekali dan ingin menampari wajahnya sendiri.


"Aku mau mandi." Rea berjalan cepat pergi dari sana.


"Di laut mau?"


Rea berbalik badan, "Berenang?"


"Kau mau lebih dari itu, boleh!"


Rea bergidik ngeri, "Tidak terimkasih aku mandi didalam saja." Rea pun pergi dari sana dan Kelan tertawa puas disana.

__ADS_1


__ADS_2