MENUNGGU

MENUNGGU
kau suka?


__ADS_3

Kepanikan di kediaman Hilantadiga sampai di telinga Miranda yang sedang berada di kantornya. Miranda sangat murka, ia tidak bisa tinggal diam dan membiarkan begitu saja keputusan Kelandru.


Miranda pun segera memerinta Tobby sang asisten untuk mengantarkan dia ke appartemen yang di tempati Kelandru itu, kekesalan seorang kakak dengan sikap bodoh sang adik begitu tergambar di wajah Miranda ia begitu resah dan tidak sabar segera sampai tiba di tempat Kelandru.


Setengah jam berlalu, mobil akhirnya berhenti, dia langsung membuka pintu bergegas dengan langkah tegasnya mengayun cepat masuk ke lobby appartemen dan segera masuk kedalam elevator.


Kedua tangan Miranda mengepal kuat entah kapan Kelandru bisa berubah sedari dulu hingga dewasa selalu saja membuat semua orang kesal atas sikapnya.


Dentingna pintu elevator terbuka, sepatu berhak tinggi Miranda terdengar ketukannya melangkah cepat, ia sangat terburu-buru dan sampailah di depan unit milik Kelandru itu. Tidak menunggu Miranda selalu bisa mengakses apapun milik adiknya itu segera ia menempelkan kartunya dan masuk.


“KELANDRU!” Wanita itu memekik kuat mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan, tidak terlihat adiknya disana namun sebuah travel bag sudah tertata rapi dibawah ranjang dengan susunan dokumen keberangkatan disana. “Kelandru kau dimana?”


Lelaki itu berada di luar appartement dan dia baru saja akan kembali masuk, terkesiap melihat Tobby asisten sang kakak disana.


”Apa yang kau lakukan disini Tobby?”


“Ibu Miranda mencari anda.”


Kelandru pun segera masuk dan ia lihat sang kakak sudah berkacak pinggang menatapi barang-barangnya.


“Kak?”


Miranda berbalik badan dan menatap sang adik begitu bengis, nafasnya berhembus berat segera ia melangkah mendekat kepada sang adik lalu--"


BRUAKKKK!

__ADS_1


Kepalan tangan Miranda menghantam kuat wajah Kelandru. Keland mengaduh dengan kepalanya yang langsung miring menyentuh ujung bibirnya yang langsung lebam.


"Kenapa memukulku!"


“Kau tidak bisa menggunakan otakmu? Kenapa kau selalu saja membuat orang lain susah? Semudah itu kau mengambil keputusan pergi! Kau bukan pria single, kau menikahi putri dari seseorang, entah siapa yang menurunimu sikap berengseek seperti ini, kau benar-benar sudah tidak bisa di telolir! Bagaimana jika Reana hamil? BAGAIMANA! Tidak bisakah kau mengambil keputusan layaknya manusia normal. Kau menyerah hanya karena merasa kurang baik, berubah Kelandru, BERUBAH!! Tunjukkan kau bisa lebih baik dari yang sekarang, lebih baik dari yang mereka katakan tentangmu yang tidak punya hati, kenapa kau jadi pecundang!”


Miranda sangat berapi-api benar-benar membuat Kelandru terdiam tidak sedikit pun ia membantah, lelaki itu menatap tertunduk, pasrah mendapat maki-makian sang kakak. Hingga beberapa saat kemudian dia mengeluarkan bulir beningnya.


“Ya aku pecundang, aku berengseek! I know…”


“Kau tahu, kau sadar seperti itu dan itu sebabnya kau harus berubah Kelandru. Hubunganmu dengan Reana adalah sebuah pernikahan bukan kencan buta atau kencan sesaat!”


Bibir Kelandru kelu, ia sesak untuk mengungkapkan, memang itu yang dia fikirkan saat mereka berbulan madu, ia ingin berubah. Perasaan itu sudah tumbuh, ia nyaman dia jatuh cinta dengan Reana, tapi tidak dengan Reana yang selalu memberontak ingin pergi, selalu mempejelas dia lebih tertarik pada Sagara dan mengatakan pernikahan mereka beban untuknya.


“Dia tidak menginginkan aku, dia tidak mau pernikahan kami! Kalian tidak tahu itu. Tidak ada yang tahu Reana menyukai Sagara. Reana sejak sebelum kami menikah sudah dekat dengan Sagara, pernikahan kami beban untuknya, beban untuk kehidupannya. Rea yang mengatakan itu sendiri.” Kelandru menggelengkan kepalanya dengan maniknya yang begitu sendu,”Aku tidak mau membebaninya lagi, semua keputusan aku serahkan kepada Reana, tanyakan padanya. Dan jawabannya pasti sama, dia mau kami berakhir.”


Kelandru mengulas senyuman, “Kenapa kakak terkejut? Dulu kufikir dia hanya akan mengambil perhatian keluargaku tapi ternyata tidak berhenti di situ, dia mengambil hal lain lagi, yaitu hati seseorang yang kurasa mampu mengobatiku, menyembuhkan lukaku.” Kelandru tersenyum getir, menarik nafas berat, sesungguhnya dia tidak mudah dengan ini.


*


Reana terjaga didalam kamar, pemandangan pertama yang ia lihat adalah Fenita dengan raut sedihnya di ujung ranjang.


“Mama?”


“Reana? Kau sudah bangun sayang…”

__ADS_1


Reana bukan lagi pingsan namun ia juga baru saja bangun tidur dimana dia memang mudah sekali tidur.


“Mama kenapa?” Lihat Reana wajah sedih sang mama, bibir Rea ingin bertanya dimana Kelandru namun ia begitu berat menggerakkan bibirnya itu untuk menanyakan lelaki itu.


Betapa Reana sangat takut atas sikap kasar Kelandru, lalu dia melihat Keland bertengkar sangat hebat dengan Sania, kemudian bertengkar dengan Sagara yang begitu mengerikan ia lihat, Kelandru memukul lelaki itu. Reana mencoba menetralkan diri, yang kembali sedikit shock mengingat hal-hal itu.


“Reana…” Bibir Fenita bergetar, ia membuat Reana beringsut mendekat dan mengusap lembut Fenita menanyakan apa yang terjadi dan kenapa ibu mertuanya itu menangis.


“Kau tidak bahagia nak? Kau sakit hati, benci dan kecewa harus menikah dengan dia? Mama tahu dia memang jauh dari kata seorang lelaki yang baik dan mungkin tidak pernah kau harapkan dalam hidupmu.” Hiksss hikss Fenita terseduh-seduh lagi, “Tidak bisakah kau memaafkan Keland? Tidak bisakah kau menerima dia nak? Keland minta mama menyampaikan denganmu permintaan maafnya sudah membuatmu menderita, membuatmu shock, tertekan dan merampas semua hal-hal dalam hidupmu hanya karena dia berencana membalas dendamnya dengan Sania. Kelandru sangat menyesali itu karena Dokter mengatakan kau mengalami tekanan hingga pingsan dan kau butuh ketenangan, Kelandru sadar semua karana dia, Kelandru akan kembali ke Autralia dan menyerahkan semua keputusan pernikahan kalian kepadamu akan bagaimana, tapi dia sangat yakin kau benar akan mengakhiri.”


Hikss hikss…


Bagaikan di hantam ombak yang kuat Reana seakan terhempas kuat dan siap terhuyung, lelaki itu sadar akan sikapnya, dia akan pergi?


Ketidakrelaan muncul di permukaan hati Reana. Dia menjadi laki-laki pertama yang membuat Reana merasakan banyak hal, sangat benci, nyaman, diposesifi, menjadi ciuman pertamanya,memberi banyak hal yang Reana tidak pernah lakukan sebelumnya, dan pertama kali membuat dia merasakan apa yang namanya penyatuan rasa yang membuat candu walau menyiksa.


Rea memang benci dia, Reana memang tidak menyukainya sungguh dia, namun entah kenapa dia merasakan sesak saat mendengar Kleandru menyerah seperti ini.


Masih terbayang bagaimana wajah menyebalkan Kelandru hari itu saat menggendongnya entah karena khawatir atau cemburu dia bersama seorang pria lain, wajah takut Kelandru di tengah hujan saat dia menghilang dan Kelandru yang memeluknya erat saat sakit dan yang paling membuatnya terkesan adalah lelaki itu rela berenang menggendonganya melihat keindahan yang tidak pernah ia lihat.


Gadis kurang gizi kau sakit jiwa kalimat itu mengulang kembali dan membuat Reana siap meloloskan air matanya.


“Rea?”


Reana kau suka ini bukan? Ini yang kau mau dia memberikan mu jalan untuk mengakhiri, lakukan Reana kenapa kau diam dan berat.

__ADS_1


“Kelandru akan berangkat malam nanti, mama tidak tahu harus berkata apa, semua mama serahkan dengan kalian berdua, fikirkanlah matang-matang…”


__ADS_2