MENUNGGU

MENUNGGU
JANGAN TAKUT!


__ADS_3

2 jam berlalu.


Rea terjaga, netranya membelalak saat membuka mata dunia tampak gelap, ia menolak mati. Jangan bilang saat di tidur roh-nya tidak lagi kembali pada jasadnya.


Segera dia bangkit saking paniknya, Rea terperangah dari atas kepala hingga kakinya di tutupi koran. Lalu kenapa dia bukan lagi dipesawat, atau jangan-jangan pesawat itu jatuh dan saat ini dia sudah menjadi mayat.


Rea memegangi seluruh tubuhnya, dia tidak merasakan sakit apapun. Kemudian ia menyentuh wajahnya terasanya nyata. Rea mengedarkan pandangannya dan paham dia berada disebuah mobil.


Dimana si berengsèk itu?


Atau jangan-jangan tadi aku berhenti bernafas lalu dia fikir sudah mati dan mereka segera menutup jasadku dengan koran?


"Atau jangan-jangan memang aku sudah mati?


Oh Tuhan, menyedihkan sekali akhir kisah hidupku, mati dibulan madu pernikahan palsu."


Rea kembali menguap masih separuh sadar, sungguh ia masih bingung, menatap bodoh pada dirinya lalu kesekitar hari yang sudah malam.


Di luar sana Keland menekan asap tembakaunya pada sebuah asbak lalu dia bangkit dari tempat duduknya saat deru helikopter sudah terdengar sampai.


Kelan kemudian berjalan ke mobil dan membuka pintu menuju ketempat dimana Rea berada.


"A-aku masih hidup. Apa yang terjadi kenapa kau langsung menutup jasadku?" tanya Rea tiba-tiba.


Kelan nenahan tawa sejenak dia diam. "... Rea kau hidup lagi? Rea, ini bukan lagi duniamu, matilah dengan tenang. Atau kau ada pesan-pesan yang belum tersampaikan, aku mungkin bisa membantumu." Kelan berakting panik ia tampak serius namun sungguh dia tidak tahan lagi meledakkan tawaanya melihat wajah Rea.


"Aku mati..." Rea benar percaya, maniknya siap menumpahkan air matanya. "Aku nggak mau mati! Hiksss..." Hanya tidur dua jam setelah 2 hari benar-benar membuat dia linglung saat ini.


Kelan yang tidak tahan lagi akhirnya tertawa tepingkal-pingkal telah sukses membuat Rea panik dan ketakutan.

__ADS_1


Tangisan Rea tidak berhenti kini semakin lirih dan memeluk lututnya sendiri. Kelan mendadak merasa bersalah dan menyadari sikapnya keterlaluan mengerjai orang yang tidur dan bingung.


Ia menghembuskan nafas lalu mengulurkan tangannya,"Helli-nya sudah datang. Ayo kita berangkat." Kelan memunggungi Rea, "Naik cepat kita sudah terlambat." ucapnya. Ini kali kedua Kelan menggendong Rea setelah tadi Rea yang tidur sangat nyenyak sekali di pesawat.


"Jawab pertanyaanku. Apa yang terjadi kenapa menyelimutiku dengan koran?" Rea menyeka air matanya.


"Tidak ada naiklah."


"Kau mengerjaiku?" Rea mengerucuti bibirnya ia mulai sadar dan bisa berfikir normal.


"Tidak ada. Ayo cepat naik! Menurutlah selagi aku berbaik hati."


Dengan malas Rea bangkit lalu naik ke punggung Kelandru, menyilang kedua tangannya dileher lelaki itu dan mereka berjalan menuju sebuah hellicopter disana. Nyaris memang tampak seperti pasangan normal lainnya sang suami yang memperlakukan istrinya sangat baik.


Kelan membantu Rea naik memegangi tangannya lalu dia pun naik duduk disebelah Rea, "Pakai semuanya." Kata Kelan.


Kelan membantu memasangkan sabuk pengaman Rea, lalu membenarkan headphone di kepala Rea.


"Aku takut." ulang Rea lagi kini wajah menyebalkan dan sok beraninya hilang, Rea tampak lirih.


"Hanya 30 menit. Pak Lukman adalah pilot handal, kita akan aman sampai tempat tujuan. Coba tarik nafas dan pejamkan mata."


Deru baling-baling semakin kuat, benda berbentuk capung itu pun mulai bergerak. "Ibuu..." Rea meremasi paha Kelan kuat, lelaki itu kesakitan. "Oh my God... Ya Tuhan... ibu...." Rea terus bersuara.


Kelan menjadi risih kepanikan Rea membuatnya menjadi ikutan takut dimana angin bertiup sangat kencang dan sedikit gerimis.


Kelan lalu mengambil tangan Rea lalu ia genggam kuat,"Bayangkan yang baik-baik maka yang baik pula akan terjadi."


Telapak tangan itu memegangi tangan Rea yabg sudah berkeringat dengan jemar-jemari mereka saling mengisi celah satu sama lain. Rasa takut membuat Rea menepiskan keangkuhannya dan menjadikan Keland sesuatu yang memberinya rasa aman.

__ADS_1


Setengah jam berlalu.


Keadaan yang mencengkam buat Rea berlangsung menghilang, kini Hellicopter mendarat disebuah helipad di atas resort.


Namun bukan tempat itu tujuan mereka masih harus menggunakan speedboat ke seberang pulau, mengingat sudah larut malam mereka akan menginap di resort itu dulu.


Rea berjalan meninggalkan Helicopter mengikuti Kelan dan beberapa orang yang melayani mereka sambil menyemprot-nyemprotkan cairan hand sanitaizer ke tangannya.


Kelan melihat itu langsung membola merasa tersindir. "Apa yang kau lakukan?"


"Apa? Kau lihat sedang apa, sedang antisipasi saja, siapa yang tahu tadi aku memegang sumber bakteri atau sesuatu yang bervirus."


Kelan mendengkus kesal, "Hell!Jika tadi aku ingat seperti apa isi kepalamu yang sebenarnya, mungkin aku sudah mendorongmu dari atas sana." Kelan berjalan cepat meninggalkan Rea yang tertawa puas melihat kekesalannya.


"1 sama...."Rea tertawa.


.


.


.


.


.


.


^^^☔ Beri dukungan selalu.^^^

__ADS_1


__ADS_2