
Ayah Rea mengajak Rea menyinggahi sebuah warteg untuk makan siang sebelum kerumah pulang kerumah, Rea yang tadi yang sudah makan dia pun mengambil kesempatan makan lagi di traktir sang ayah.
Sungguh Rea malu mengingat dia sudah bekerja dan malah kini sudah menikah dengan seorang anak konglomerat tapi masih saja minta makan di traktir ayah, namun ayah tidak pernah membahas itu, dia sudah biasa makan bersama sang anak di warteg jika sang ibu tidak sempat memasak dan sibuk di puskesmas.
Tidak lama berada di warteg mereka kemudian pulang kerumah. Sesampainya dirumah, Rea dan sang ayah terkesiap ada 2 mobil mewah dengan beberapa orang bersetelan bodyguard dan 1 diantaranya bersetelan jas biasa, tampak berdiri-berdiri dihalaman rumah mereka.
"Reana siapa mereka kok ramai sekali." Tanya ayah Rea sudah memberhentikan ambulance miliknya beberapa puluh meter dari halaman rumah.
Rea menelisik dari dalam, lalu dia melihat seorang laki-laki yang merupakan asisten dari Miranda kakaknya Kelandru.
"Pak Tobby?"
"Pak Tobby siapa nak?"
"Asistennya kak Miranda yah."
Rea dan ayahnya kemudian turun dari ambulance, pria bernama Tobby itu langsung menghampiri Rea.
"Selamat siang Pak Teguh, nona Reana. Maaf nona Reana, ibu Miranda ingin berbicara dengan anda." Angguk hormat Tobby memberikan ponsel miliknya kepada Rea.
Teguh langsung menyenggol Rea untuk segera mengambil ponsel dari lelaki bernama Tobby itu, walau dia tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya.
Rea mengambil dengan ragu ponsel Tobby lalu berjalan ke sisi lain, "Hallo kak."
"Reana kamu baik-baik saja sayang..." Suara khas dan elegant Miranda mengudara disana. "Apa yang terjadi? Kenapa Rea pergi dari sana? Rea... Kalau ada apa-apa, kasih tahu kakak atau mama. Reana? Apa yang Kelan buat, kalau Rea pulang seperti itu ibu dan ayah Rea pasti khawatir. Rea jangan takut cerita aja-- saya, mama dan Marinka ada di pihak Rea."
"Maaf kak. Rea nggak kuat hadapi Kelandru dia semena-mena, Rea belum ada cerita ke ibu atau ayah kok. Rea juga baru aja sampai."
"Ada Sania disana? Katakan dengan jujur."
"Hmmm...iya..."
__ADS_1
"Okay, Rea pulang kerumah mertua Rea sekarang ceritakan semua yang terjadi. Kita selesaikan semuanya disini dan kakak janji Kelandru tidak akan bisa berbuat semena-mena dengan Rea, mana ayah Rea kakak mau jelaskan agar tidak membuat khawatir."
Rea kemudian memberikan ponselnya kepada sang ayah, membiarkan Miranda entah menjelaskan apa kepada ayah. Rea terus memperhatikan ayahnya yang sesekali memberikan anggukan mengerti lalu tidak lama memberikan ponsel kembali kepada Tobby.
"Reana ayo pulang, kasihan semuanya mengkhawatirkan Rea disana, dalam rumah tangga biasa kesalahpahaman terjadi. "
"Rea kangen ibu, Rea mau jumpa ibu dulu."
"Ibu pulang malam, nanti hari minggu ayah janji ajak ibu buat temui Rea, ibu juga sangat merindukan Rea."
"Ibu masih marah sama Rea?"
"Enggak kok, ibu bahagia kalau Rea bahagia."
Rea langsung berhambur memeluk sang ayah, air matanya berlinang. Ayah...Rea nggak bahagia, pria sialan itu membuat Rea tersiksa... andai ayah tahu...
Beberapa menit memeluk sang ayah, Rea kemudian di minta Teguh untuk segera berangkat, pria paruh baya itu mengacup puncak kepala putrinya.
Tapi kenyataan malah tidak memberikan itu, Rea mendapatkan pendamping, kurang ajar, menyebalkan, arrogant, semena-mena dan sikapnya tidak bisa di tebak seperti memiliki kepribadian ganda.
Lambayan tangan ayah mengantarkan Rea masuk kedalam mobil yang dipersilahkan Tobby, "Ayah janji kan hari minggu datang."
"Iya nak, hati-hati ya..."
Lagi dan lagi Rea menyeka air matanya, netranya terus menyoroti ayah yang masih berdiri diluar, "Ayah Rea...lelah..."
Rea menyandarkan dirinya disana, tidak sabar lagi dia sampai dirumah keluarga Hilantadiga itu, dia akan membuka semuanya tanpa sedikitpun melewatkannya.
***
Kelandru tiba di kediaman orang tuanya, ia langsung mencari keberadaan sang mama, "MAMAAA! Mamaaa!"
__ADS_1
Kepulangan Kelandru sudah sangar dinantikan Fenita, wanita paruh baya itu langsung turun dari kamarnya. Suara sepatu berhak tinggi dengan marmer yang beradu mengudara disana, bunyi-bunyi ketukan itu seiring dengan langkah Fenita.
"Mamaaaaa Rea hilang ma, dia menghilang, aku sudah mencarinya berhari-hari!" ucap Kelan begitu panik.
Kelandru tampak sangat berantakan entah sudah berapa hari tidak berganti pakaian, wajahnya begitu kusut, dari jauh saja aroma asap rokok, tembakau dan alkohol yang ia minum menyeruak sangat tajam.
"Anda siapa?"
"Mama. Jangan bercanda, ini tentang nyawa seseorang, aku sudah mencarinya kemana-mana tapi dia tidak ada. Apakah dia ada menghubungi mama? Mama punya contak orang tuanya?"
"Sunarsih!!!!!... Ita, Dian, Mega, Tami, Ridwaaan! Bagaimana bisa seorang gelandang, kucel kotor dan berbau menyengat ini masuk kerumah saya? Apa kerjaan kalian!!"
Pekikan Fenita membuat seluruh pembantu dirumahnya berlari-lari panik, "Iya bu... iyaa... mana gelandangannya? Tidak ada siapapun yang tidak di kenal yang datang bu."
"Mata kalian bermasalah? Lihat dia lihat, tolong usir sekarang juga jika tidak berhasil saya akan pecat atau potong gaji kalian."
"Mama. Jangan bercanda! Tolong ma, ini bukan waktunya bercanda, aku kehilangan dia ma..."Kelan mengacak rambutnya frustasi.
"Semuaaa! kerjakan pekerjaan kalian jika masih mau bekerja disini, saya tidak sedang bercanda." Fenita menggerakkan kipasnya segera naik lagi ke kamarnya.
"MAMA--"
.
.
.
.
.Beri dukungan mba payung ☔
__ADS_1