MENUNGGU

MENUNGGU
Membuat panik.


__ADS_3

Rea berhasil melancarkan pelariannya dia berhasil lolos dari pulau itu tanpa tertangkap orang-orang Kelandru.


Bruak, sebuah pukulan laki-laki itu layangkan pada sebuah meja di sebuah lounge, sampai sore hari orang-orang suruhannya tidak bisa juga menemukan gadis itu.


"Kau dimana?" Kekhawatiran Keland semakin menjadi-jadi, ia semakin kebingungan saat ini apakah harus memberi tahu keluarganya atau tidak.


Ponsel Keland kembali berdering, Sania mencari-carinya, "Mau apa lagi kau sialan!" Hempas Kelan ponselnya ia mengusap


rambutnya frustasi.


"Kau dimana Rea? Dengan apa kau kembali? Kenapa kepalamu sangat keras sekali, ingin sekali aku membentuk kepala kerasmu itu di tembok. Oh tidak, aku bercanda akan kubentur di dadaku saja." Ingin marah, ingin menangis dan memukul siapapun saat ini itulah yang Kelandru rasakan.


Kini langit merah kembali membentang, hari kembali akan malam sudah 3 hari gadis itu menghilang, Keland menyerah mulai mengayunkan langkahnya di landasan udara dimana sebuah armada pribadi milik keluarganya sudah siap menerbangkan dia ke Jakarta kembali.


Namun dia tidak akan memberhentikan pencarian semua orang-orang yang ia perintah masih tersebar dan mencari.


Di tempat lain, Rea sedang nongkrong di sebuah warung kecil menyantap sepiring nasi, dia baru saja tiba di kota Semarang. Perjalananya cukup panjang hingga sampai di kota itu, harus mengunjungi beberapa tempat agar tidak terlacak bahkan menaiki sebuah kapal Ferry.


Rea kembali membuka dompet miliknya, uangnya sudah tidak lagi ada, hanya sisa 35 ribu untuk membayar makan dan artinya dia harus bejalan kaki untuk pulang kerumahnya.


"Kau membuatku menderita, Kelandru. Tunggu saja kau akan kukadukan pada semua anggota keluargamu dan orang tuaku agar mereka setuju dengan perceraian."


Gerutu Rea, sesaat dia diam, Rea melihat segelar air berisi orange juice yang orang lain minum lalu melirik lagi pada dompetnya.


Oh my god menyedihkan sekali nasibku, menepiskan keinginan ia kembali mensesap air mineral gelas dihadapannya.


***


Tentu saja kabar kehilangan Rea cepat sampai di telinga Miranda, kakak tertua Kelandru itu shock saat tahu di Kelandru hanya kembali sendirian.


"Tobby! Coba cari ditempat orang tuanya mungkin Reana kembali kesana." Miranda segera bangkit dari bangku kebesarannya.

__ADS_1


Miranda baru tahu setelah keberangkatan Kelan dan Rea berbulan madu bahwasannya Rea ternya adalah teman dari Sania. Pantas saja Sania terus ada dipernikahan hari itu.


Miranda yakin kepergian Rea ada hubungannya dengan Sania dan juga kelakuan kurang ajar Kelandru yang pasti sedang memanfaarkan gadis itu.


"Hallo ma? Putramu berulah lagi, Reana menghilang dan dia kembali sendiri."


"Apa? Bagaimana bisa, apa yang terjadi."


"Dugaanku adalah, Kelandri dan Sania pasti membuat Reana tertekan, mama sudah tahu bukan Reana itu adalah temannya Sania, dia dibawa Sania ke Jakarta. Dan saya yakin Kelandru dan Sania dalang dari pernikahan ini dan semuanya tidak ingin kita pisahkan lagi."


"Cari Reana, Miranda... benar-benar anak kurang ajar."


"Ya saya sedang mengusahakannya."


***


Hari begitu terik, matahari terasa tepat di atas kepala Rea menutupi wajahnya dengan tangan sembari menarik-narik kopernya.


Ayah Rea tetap memilih menjadi supir ambulance, pasti ayah akan sangat terkejut jika dia datang fikirnya.


"Ah sudahlah, ayah juga harus tahu semuanya."


Rea kembali menarik-narik kopernya, "Ah sial, kemana roda satunya lagi, kenapa hanya tiga? Pantas saja terasa berat."


Rea terus berjalan di jalur pejalan kaki itu, tidak peduli banyak mata yang menyorot padanya, hingga Rea masuk ke kawasan rumah sakit itu.


Dia nyaris seperto wisatawan yang tersesat ke rumah sakit dengan barang-barangnya itu, lalu ia langsung menuju ke arah di mana biasa IGD berada.


Tidak menunggu lama dan bersusah payah, Rea melihat sang ayah sedang mengelap kaca mobil ambulance itu.


"Ayah!" Panggil Rea.

__ADS_1


Pria bernama Subakti Teguh dan biasa di panggil pak Teguh itu menoleh ke arah suara cempreng yang tidak asing lagi untuknya itu.


"Reana? Kok kamu disini, bukannya lagi bulan madu, naik private jet dan ke sebuah pulau."


"Ayah, Reana kangen ayah.." Gadis itu merengek, sang ayah segera memeluknya.


Rea tidak terlalu takut dengan sang ayah sebab dia adalah pria terhumor dan terlembut dalam hidup Rea. Rea lebih takut kepada sang ibu yang lebih tegak dan galak namun sangat menyayanginya.


"Ceritanya panjang, Reana mau pulang yah."


"Apa yang terjadi nak? Mereka menyakitimu."


"Tidak ayah...ayah sibuk? Rea tunggu ayah istirahat lalu antarin Rea pulang ya."


"Ayo ayah anter sekarang mumpung lagi tidak ada kerjaan dan ada teman ayah dua orang yang standby, hemm ayah juga kangen Rea. Kirain sudah lupa dan nggak mau naik ambulance lagi."


"Aaaa ayah bisa aja..."


Dia ayahku, pria paling tampan dalam hidupku. Jangan tanya aku takut atau tidak naik ambulans, jujur sih takut membayangkan ada tangan-tangan yang bergerak menarik-narikku.


Tapi aku sudah cukup kebal, dari SD hingga aku lulus kuliah, ayah sering mengantarkanku dengan ambulans, tenang dia tidak memanfaatkannya keadaan dengan menyalakan sirene agar mendapatkan prioritas saat mengantarkanku.


.


.


.


.


Berikan dukungan guys ☔

__ADS_1


__ADS_2