MENUNGGU

MENUNGGU
Istrimu.


__ADS_3

"Kau mau apa? Semakin haru kau semakin melewati batasanmu!" ucap Rea dengan lehernya yang menegang dan kepalanya yang sangat menempel.


"Kau istriku, batas apa yang ada diantara kita."


"Istrimu dari mana-- kau bermimpi!"


Kelan semakin memainkan bibir nakalnya di leher Rea, lalu turun kebawah. Tubuh Rea semakin menegang gelisah.


"Kau bisa merasakannya kan? Lalu apanya yang bermimpi."


"Bukan ini tujuanmu menikahiku, kau ingin membalas dendam, ayo kita bekerja sama membalas Sania."


"Aku sedang melakukannya... sayang..." Desah Kelandru, kini kedua tangannya menyentuh nakal benda kembar Rea, membuat Rea menahan nafas. "Ibumu pasti bahagia jika mengetahui putrinya melayani suaminya dengan baik."


"Jangan bawa orang tuaku, kau bukan menantu yang baik, mereka tidak pantas mendapatkan menantu sepertimu!"


"Siapa yang baik? Lalu siapa yang kedua orang tuamu mau, dia? DIA!!" Keland menjadi tersulut ia pun memekik, "Kau sangat menginginkan dia? Baiklah aku akan mengambulkanya, kau tidak perlu berbasi-basi seolah baik ingin membantuku membalas Sania, tidak perlu aku bisa lakukan sendiri. Pergilah!!


Kelan mendorong Rea pelan membuat gadis itu terhempas sedikit ke dinding walkin closet. Raut lelaki itu berubah menegas, ia tampak memakai pakainnya, mengancing dengan cepat lalu menurunkan sebuah kopernya dari dalam lemari.


Rea memeluk dirinya sendiri, ia terus menyorot pada lelaki itu, mau kemana dia membawa koper.


"Kau akan kemana?"


Kelan tidak mengindahkan ia terus memasukan pakaian-pakaiannya kedalam koper lalu beberapa pasang celan juga jaket-jaketnya.


"Kelandru, kau akan kemana? Apa yang akan kau lakukan jangan membuat keluargamu khawatir."


"Tutup mulutmu, jangan mengurusiku!"


Rea menggeleng, jangan sampai Kelan pergi akan bagaimana dia disini, jika ingin cerai makan ceraikan dia sekarang.

__ADS_1


"Kenapa tidak bisa mengurusimu, kau--" Bibir Rea seakan tercekat untuk mengatakan dia suaminya, "Ah Kelandru ku mohon janga membuat susah keluargamu."


"Siapa yang membuat susah, aku akan kembali ke Australia, aku tidak akan menyusahkan siapapun, termasuk kau, kejar dia... kejar pria yang kau suka."


.


"Aku-- akan apa disini?"


"Kau bisa mendekati dia, kau bisa gugat cerai aku setelah kau mendapatkannya."


Kenapa menjadi sedih, kenapa tidak ingin dia pergi dan kenapa merasa tidak rela, "Kau belum berhasil membalas perselingkuhan Sania."


"Omong kosong."


"Apanya yang omong kosong, kau marah denganku?"


Kelandru meminta Rea menepi, Keland terus mondar-mandir mengemasi semua barang-barangnya. "Awas! kita tidak ada urusan untuk apa aku marah dengamu."


"Aku tidak akan kembali."


"Tidak kembali?" ulang Rea dengan air matanya yang tiba-tiba merembes keluar, "Kenapa tidak kembali?"


Keland berhenti melihat gadis itu tiba-tiba menangis, "Kenapa kau menangis, aku bukan ibumu yang pergi harus kau tangisi."


"Aku tidak tahu, tiba-tiba saja aku ingin menangis, aku sedih membayangkan seseorang yang pergi. Kenapa harus tidak kembali, tidak bisa pergi sebentar saja, walaupun aku tidak menyukaimu, entah kenapa aku lebih suka kau disini."


"Nikmati semuanya, kamar ini, rumah ini, barang-barangku. Jaga baik-baik, jika sudah berhasil menikah bersama dia pastikan kau enyah dari kamarku, rumahku. Aku mungkin akan pulang sebentar mengurus kewarganegaraanku dan pindah kesana selamanya.


Rea semakin menangis sejadi-jadinya. "Aku nggak mau---" Dan tiba-tiba tanpa di prediksi Rea bangkit lalu memasukkan pakaiannya. "Kau belum menceraikanku, aku ini masih istrimu, berhak ikut kemanapun kau pergi."


Apa?

__ADS_1


Kelandru mematung seketika, ia mendengar ucapan samar bercampur air mata yang Rea ucapkan.


Istriku.


"Aku mau ikut kau pergi." Hikss hiksss Rea meletakkan barang-barangnya sambil menangis.


Seperti mendapatkan sebuah kesegaran dalam ketandusan, Kelandru menyeringai lebar ia tertawa mendengar ucapan Rea dan tangisannya.


"Istriku?"


Hiksss


"Siapa lagi jika bukan istrimu? Walaupun aku jelek, tidak seksi dan kau bilang kurang gizi, aku sah pasanganmu--"


Sssttt...


Keland langsung menyambar Rea merasakan gemuruh di dadanya yang sudah siap meledak tidak lagi bisa menahan diri untuk terus menjaga egonya, tanpa intruksi ia menenggelamkan Rea kedalam dadanya.


"Istriku, punyaku, kau yang membuat aku akan bersumpah punyaku tidak akan pernah aku biarkan tersentuh atau orang lain mengusiknya sedikit saja."


Sania?


Kau mengucapkan hal yang sama dengan Sania, Rea terkesiap, fikiran itu langsung terlintas dikepalanya.


"Tidak pernah kepada siapapun aku melakukannya, aku bodoh seperti ini hanya kepada kau untuk pertama kali." ucap Kelandru seakan mengerti isi hari Rea.


Seketika Kelandru mendorong tubuh Rea ke ranjang, manik bersinarnya menatap Rea penuh damba. Lelaki itu kemudian mengecup dahi Rea.


Kelan mengukung Rea tanpa menindihnya, mentapi setiap inci wajar Rea, sekilas ia tersenyum lalu bibir keduanya pun berpagut, penuh kelembutan dan perasaan. Tidak lama kecupan pindah ke leher dan terus turun ke benda indah Rea yang masih terbungkus rapi.


Manik Rea sudah diselimuti kabut, ia tampak pasrah mendapati perlakuan lembut Kelandru yang sesekali membuatnya melenguh singkat, beberapa menit bermain di leher keduanya pun saling menatap dan melemparkan senyuman.

__ADS_1


__ADS_2