
Kelandru sudah turun dari kamarnya sementara Rea masih di kamar sebab dia tidak jadi masuk kamar mandi tadi saat melihat Keland mandi tanpa busana disana.
Di ruangan tamu ada Sagara, Fenita juga Marinka yang baru tiba, mereka begitu antusias atas hadiah yang diberikan Sagara. Selalu seperti biasa Sagara mengambil hati semuanya, lelaki itu selalu tampak lebih baik.
Kelandru bergabung disana, ia mengacuhkan itu memilih sibuk dengan ipad miliknya duduk berjarak di ruangan besar yang memiliki sofa dengan capasitas sangat besar cukup untuk puluha orang.
"Mana Rea, Kelandru? Kamu larang dia turun?" Tanya Fenita.
Keland mengendikkan bahunya, "Jika aku melarangnya apa masalahnya? dia istriku."
Marinka langsung tertawa, "Istri? Kau menyebutnya istri, hemmm ya kakak suka itu, setidaknya dia jauh lebih baik dari Sania."
Fenita mencibir, Keland terdengar sedang berdusta memanasi Sagara, "Hemm tentu saja menantuku jauh lebih baik dari si Nona.S, aku bahkan tidak rela jika ada yang menyakitinya, lebih baik dia kujodohkan dengan yang lain."
Sagara hanya tersenyum lelaki itu memang jarang berbicara, sementara Kelandru menyeringai lebar meletakkan ipadnya.
"Hal macam apa itu, bagaimana bisa menjodohkan istri orang lain."
"Kalau di sia-siakan, buat apa bertahan. Dia cantik, pintar, baik sangat sayang orang tuanya pasti semua orang mau menerima dia."
Kelandru tetap tersenyum tidak akan memperlihatkan kekesalannya, "Ya semua orang mau menerima dia tapi mungkin tidak dengan sesuatu yang akan tumbuh di rahimnya, pasti dia akan mencari ayahnya." ucap Kelandru bersedekap dada, mulai mensesap secangkir teh yang terhidang disana.
Ucapan Kelandru bagaikan sebuah angin segar di padang tandus, manik Fenita membola, Marinka shock menutup mulutnya dan Sagara masih berekspesi datarnya lalu tersenyum tipis.
"Kelandru?"
"Kenapa mama sangat terkejut?"
Tidak lama Rea turun dari atas sana dia berjalan pelan-pelan dan malu melihat Kelandru disana mengingat pergulatan panas mereka yang dimana dia mengudarkan lenguhan seakan sangat amat menikmati.
"Sayang, kau sudah selesai? Kita pergi sekarang?"
Fenita semakin dibuat shock, putranya itu menghampiri Rea ke tangga lalu mengambil tangannya.
"Kalian akan kemana? Rea kau yakin baik-baik saja Nak?" Fenita merasa Kelandru mengancam Rea membuat dia harus tunduk.
"I-ya ma aku baik-baik saja."
"Ayo turun kesini, ambillah hadiah dari Sagara sepupu suamimu ini, dia membelikan kakak-kakaa, mama dan juga kau."
Kelandru menahan tangan Rea, "Jangan mengambilnya!" Ancam Kelandru berbisik.
"Kau lihat mama memanggilku, apa salahnya mengambil, kau sangat takut sekali terkalahkan." Rea menepiskan tangan Kelandru lalu menuju ke tempat mama dan yang lain berada.
__ADS_1
"Hay Reana, sudah lama tidak bertemu."
"Hay kak mana Naomi dan Sean?" Tanya Reana dua anak Marinka.
"Lagi dirumah Granny sama papanya, kakak datang karena mama bilang Sagara belikan hadiah. Ayo coba Reana kalung yang Sagara pilih cocok buat kamu, simple dan elgant."
"Ayo sayang kita buru-buru."
"Kau berisik sekali tunggu! Sini ayo mama pakaikan." Fenita meminta Rea mendekat gadia itu pun merendahkan tubuhnya dihadapan Fenita, seketika Rea menutup mulutnya, disebalik kerah yang ia tutup begitu banyak bekas kiss mark yang Kelandru buat.
"Ma-ma Reana bisa pakai sendiri." Rea memegangi kerah bajunya.
Kelandru langsung menahan tawa dia ingat perbuatannya itu seketika,"Ya benar, mama benar. Biar mama saja yang memasangnya untukmu."
"A-aku--"
"Ayo sini mendekat sayang," Fenita membawa Rea mendekat menghadap padanya lalu perlahan ia tepiskan rambut panjang Reana, "Turunkan kerah kemejanya Reana, kerahnya terlalu tinggi."
Rea gemetaran ia bergerak lambat membuka kancing kemejanya, dan perlahan namum pasti. kancing itu pun terbuka.
Marinka ikut mendekat mengangkat rambut Rea,"Cantik kan ma model yang Reana punya--"
Seketika keduanya terbelalak melihar leher Rea, begitu banyak belas kiss mark disana, bukan hanya leher namun turun ke area atas dadanya.
"A--a...pasang Marinka mama bingung memasangnya." Fenita shock tidak percaya, Marinka pun segera memasangnya.
"Terimkasih Sagara, Mama dan kak Marinka, Rea pergi dulu."
Mama dan Marinka saling menatap, "Kelandru?"
"Ya adikmu."
"Oh Tuhan, mama tidak percaya dia benar melakukannya, aku tidak tahu harus berkata apa, dia benar sudah menyingkirkan wanita itu."
"Apa yang terjadi ma?" Tanya Sagara.
"Ah tidak ada."
Kelandru menariki Rea sampai ke mobil miliknya,"Kau selalu saja suka menyiksaku! tidak bisakah kau lebih lembut."
"Lepaskan kalung sialan itu. Atau aku yang melepaskannya."
"Apa salah dia? Tidak puas kau sudah membuat dia malu tadi? Apa yang mau sebenarnya dan kau akan membawa aku kemana?"
__ADS_1
"Kau istriku, terserah aku akan membawamu kemana! Lepaskan benda sampah ini, aku bahkan bisa membeli satu tokonya untukmu." Kelan menarik tangan Rea lalu menarik kasar kalung itu.
"Kelandru kau merusaknya!"
Lelaki itu membuangnya ke rumput-rumput taman disana segera menarik kasar Reana agar masuk kedalam.
"Kau sakit jiwa, kau selalu menyiksaku!" Pekik Rea dengan tatapannya yang menajam, membuat Kelandru sadar dan seketika terdiam.
Kelandru menjadi merasa bersalah ia, menghembuskan nafas menyesali kekasarannya.
Reana mengalihkan wajahnya tiba-tiba saja pintu mobil tepat disebelah Kelandru di ketuk, Sania muncul disana.
"Sayang buka! buka pintunya."
"Sania?"Shock Rea.
Kebetulan Kelandru belum mengunci pintunya Sania langsung membuka begitu saja dan langsung berhambur memeluk Kelandru.
"Kau berengseek, kau tidak mengabariku, kemana saja kau! aku tidak peduli lagi dengan apapun termasuk keluargamu, kau tidak bisa meninggalkanku begitu saja setelah kita bahkan sudah merencanakan pernikahan dan seperti suami istri."
Reana shock ia merasa malu mendapatkan ucapan Sania, yang memang benar adanya ia tahu bagaimana keduanya dahulu. Reana menjadi malu dan merasa tidak ada gunanya, seakan sedang menjadi wanita sampingan untuk pria lain.
"Apa yang kau lakukan disini Sania!" Pekik Keland berusaha melepaskan diri.
"Meminta pertanggungjawabanmu."
Rea menarik nafas lalu menghbuskan, dia segera turun dari sana, di saat yang kebetulan Sagara keluar dari rumah.
Kelandru yang berusaha melepaskan diri dari Sania menarik tangan Rea, "Jika kau turun aku akan membunuhmu, Reana!" Ancam Kelandru sangat takut Rea berlari ke Sagara.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Berikan aku dukungan ☔