METANOIA, A Wondering Place

METANOIA, A Wondering Place
Episode 1


__ADS_3

    Ini cerita sebelum aku mengetahui apa yang sudah terlupakan, hari itu aku hanya


gadis kota biasa, tidak terlalu popular atau cerdas di sekolah, hanya saja satu


yang membedakan ku dari anak pada umumnya, yaitu kondisi tubuhku yang lemah.


            Aku sangat mudah terjangkit penyakit atau demam saat kelelahan, bahkan debu saja dapat membuatku bersin kewalahan, hal itu membuatku sangat jarang masuk sekolah, dan sudah sangat wajar jika ada yang


tidak mengenaliku, tapi ini hari terakhirku bersekolah, Jadi dokter memperbolehkanku pergi.


            Katanya, aku mungkin ingin berpamitan dengan teman sekelas, atau mungkin berpesta sebelum kelulusan. Tapi yang benar saja, Aku bahkan tidak mengenal siapapun di tahun ini.


            Tanpa pesta atau perpisahan, aku lulus begitu saja, tentunya dengan banyak bantuan, dari ayah dan ibu ku, serta para guru agar aku dapat lulus. Mungkin mereka sudah lelah membaca surat izin sakit ku, atau menerima telpon dari rumah sakit, jadi lebih baik meluluskan ku saja. Akupun merasa kasihan dengan mereka, terkadang.


            Berbeda dengan kakak ku, Lavi yang super popular di angkatannya, dan bahkan anak satu angkatanku sampai mengenalnya, dan jika ada orang yang mengenalku itu pasti karna Lavi.


            Dua adik kembarku juga tidak kalah populernya. Ya, umur kami memang tidak berjarak terlalu jauh, dan karena system zonasi ini kami berempat tertumpuk di satu lingkungan sekolah.


            Kadang aku merasa iri pada saudara ku, tapi aku tidak bisa membenci mereka, selain kakak ku dan si kembar, kurasa tidak ada lagi yang mau bermain, atau berbicara dengan ku di sekolah, dan tidak


jarang juga mereka akan menjahili ku tanpa henti terutama si kembar.


            Arya dan Arie nama mereka, dibuat terdengar mirip agar mudah mengingatnya, setidaknya


itu yang kupikirkan, ketika orang tua ku menamai mereka, padahal aku sudah menyiapkan deretan panjang nama, yang akan ku serahkan sebagai referensi nama mereka.


            Tapi malah diabaikan ayah ku begitu saja. Katanya, saat aku bertanya mengapa menamai mereka begitu “nama klasik dan umum jauh lebih baik”, dan itu hanya semakin sulit membedakan mereka saja, menurut ku.


            Tapi itu dulu, sekarang melihat mereka berdua saja, aku dapat langsung membedakannya. Arya memiliki lingkaran hitam di bawah matanya yang berusaha di tutupinya dengan make up, dan semakin menebal tiap harinya.  Hampir setiap malam juga, aku mendengar Arie mengomelinnya agar tidur tepat waktu.

__ADS_1


            Percayalah, hal itu tidak mempan pada Arya, kecuali kau matikan listrik dirumah, baru dia


akan mengomel beberapa saat dan tertidur sudahnya. Kadang hal itu kami lakukan jika terpaksa.


            Demi Arie yang tidak bisa tidur, jika Arya yang sedang melakukan beberapa percobaan, atau penemuan anehnya hingga bergadang. Ya, itu harus dilakukan.


            Berbeda dengan Arya, Arie seperti Lavi, dia tidak kalah populernya, dan yang paling menyebalkan, jika bisa kukatakan dengan jujur. Dia akan mengikuti ku, atau setidaknya salah satu dari kami jika bosan, atau mungkin akan berbicara non-stop tanpa henti seharian.


            Tapi tentu saja, tidak ada yang tahu tentang hal itu, hanya kami keluarganya yang mengetahui kebenarannya.


            Bagi orang lain, dia gadis muda yang sangat keren. Dengan tubuh tingginya, dan kepercayaan dirinya yang luar biasa, dia sudah beberapa kali menjadi model dalam beberapa pemotretan, dan Lavi juga terkadang. Namun dia sangat sibuk jadi tidak jarang dia menolak tawaran menjadi model dalam beberapa majalah lokal.


            Jujur saja, untuk laki-laki sepopular dirinya, sangat jarang ku lihat dia pergi berpesta, atau berkumpul dengan teman-temannya.


            Dia hanya fokus pada studynya, dan dia berhasil, di terima disalah satu unversitas ternama dikota kami. Sungguh luar biasa, dan kali ini pun, dia lulus dengan penuh penghargaan. Namun ini kali pertama, aku melihat dirinya kebingungan, langkah apa yang selanjutnya akan dia ambil.


            Banyak perusahaan yang menawarinya pekerjaan, namun tidak satupun yang diambilnya, sepertinya tidak ada yang sesuai dengan minatnya, atau munkin, dia menginginkan sesuatu yang baru.


            Pandangannya kosong, seperti menembus kedalam rongga-rongga tubuhku. Anak ini dulunya tidak terlalu


menyebalkan, dan berisik seperti sekarang, bahkan Arya yang dulunya begitu,  mereka seperti tertukar jiwanya.


            Tiba-tiba, dia mengalihkan pandangan ke arah pintu kamar, seperti anjing yang tahu majikannya akan datang, dan ibu mengetuk pintu kamarku dan masuk, ibu menanyakan kondisi ku, dan Arie berjalan keluar.


            “Ibu berpikir, bagaimana jika kita pindah kerumah nenek buyutmu? ”


            “Nenek buyut? “


            “Ya, Nenek buyut dari ayah mu. Kami sudah membicarakannya saat makan malam tadi, dan semuanya sepertinya setuju saja.”

__ADS_1


            “Jadi?“


            Jika semuanya setuju, rasanya tidak munkin hanya diriku saja yang tidak setuju. “Rumahnya di pedesaan, dekat dengan dengan hutan,” kata ayahku, yang tiba-tiba ikut berbicara dari ambang pintu kamar.


            “Ibu mu berpikir, mungkin udara pedesaan akan bagus untuk kesehatan mu, dan mungkin akan membantu kaka mu, untuk menentukan keputusannya.”


            “Dan membantu ayahmu, menyelesaikan tulisan yang sudah lama, tidak di selesaikannya,” timpal ibu ku.


            Aku hanya terdiam, rasanya mereka sudah menentukan pilihannya dan menuntun ku, untuk menjawab pilihan yang sama. “Baiklah, kapan kita akan pindah?“ Terlihat rasa puas pada wajah ibu, dan tarikan nafas lega dari ayah.


            “Mungkin bulan depan, semakin cepat semakin baik.”


            “ Ya, tapi ayah mu dan lavi, akan mengecek lokasinya minggu depan terlebih dahulu.”


            Dari penjelasan mereka nampaknya tempat itu sangat indah dan tidak jauh dari kota.


            Beberapa hari sesudahnya, ibu dan Arya sudah nampak sibuk, mengemasi perabotan dan barang-barang lainnya, aku membantu sebisanya mungkin. Namun, debu-debu ini hanya membuatku bersin, setiap kali terhirup hidung mungilku yang mulai memerah, dan setiap kali aku bersin, wajah ibu nampak tambah khawatir, jadi aku menjauh, dan mencoba melakukan sesuatu yang lain agar nampak berguna.


            Saat itu aku tersadar, aku tidak melihat Arie ikut membantu, atau mendengar ocehannya seperti biasanya, “Arie mana?” Tanya ku begitu menyadarinya.


           “Mungkin kamu harus berbicara dengannya” sahut ibu ku, sambil menunjuk kearah rumah


pohon diluar jendela.


            Pohon itu sudah sangat besar, sejak kali pertama aku menanamnya sewaktu kecil, dengan ayah dan Lavi. Pohon itu terus tumbuh, hingga dapat dibangun rumah pohon kecil, buatan kami berlima diatasnya.


Aku mengetok pintu kecil dan membukanya, Arie duduk dipojokan kesukaanya dengan smartphone ditangan.


            Mukanya masam, dan saat bersamaan juga terlihat cantik, namun dapat kubaca dimatanya dia sedang bersedih, “kamu tidak ingin pindah?“ Tanya ku, sambil menempatkan tubuhku di pojok kesukaan ku, yang saat ini bermandikan cahaya matahari sore.

__ADS_1


            Arie hanya diam saja tidak menyahut, dan menarik nafas menperhatiakan kembali smartphonenya. “ Jika pindah, aku dan Arya juga harus pindah sekolah.”


__ADS_2