METANOIA, A Wondering Place

METANOIA, A Wondering Place
Episode 9


__ADS_3

            Ayah, ibu, paman dan kake sudah menunggu di teras depan, aku melewati pintu utama dan cahaya matahari sore yang berwarna keemasan menyiram wajah ku. Menyilaukan, sehingga aku harus menyipitkan mata, si kembar tepat berjalan dibelakang ku dengan santai.


             “Ayo berangakat,” paman dengan semangat memandu kami ke mobilnya, mungkin lebih tepatnya disebut pick up.


            Ayah membantu menaikan kake di tempat duduk depan bersama paman, semantara kami semua duduk di belakang, sepertinya mobil ini sering digunakan paman untuk mengangkut hasil pamen, dapat terlihat dari sisa-sisa kulit jagung yang mulai mengering, teringgal pada sela-sela sudut mobilnya.


            Kami duduk diatas gerabah gandum yang sudah diikat, mungkin sebelumnya paman berniat hendak mengangkut, dan menjualnya kedesa. Duduk diatas gandum itu cukup empuk, walau terkadang ada beberapa bagian yang menusuk kulitku, rasanya cukup gatal, tapi masih dapat ku tahan, berkat celana jeans tebal ini.


            Cahaya mentari sore yang keemasan terlihat sangat indah, menembus pepohonan di jalan masuk rumah kami. Jauh lebih indah, dari pada yang kulihat saat malam, bunyi kerikil yang tergelincil ketika kami lewati jalan tersebut, terdengar sangat merdu, di padu dengan bunyi angin diantara dedaunan. Rambut Arie yang di gerai terlihat serasi dengan warna daun yang berjatuhan dan cahaya matahari sore membuatnya terlihat tambah memerah dari biasanya.


            Dirinya duduk dengan tenang, di samping Arya yang sama-sama diam saja menikmati pemandangan sekitar, sedangkan ayah dan ibu, terlihat sedang bernostalgia kembali, sesekali kudapati mereka tertawa kecil, mungkin sedang mengingat masa-masa muda mereka bersama. jika di pikirkan ini adalah kampung halaman ayah, bahkan keluarganya masih ada disini, tapi kenapa kami tidak pernah berkunjung kemari, atau menerima telpon tentang kabar keluarga disini, atau mungkin mereka mengunjungi kami di kota.


            Paman melambat ketika kami sampai di depan jalan Crimson Street, di samping papan nama jalan itu ada satu lagi papan penanda, tulisannya sudah mulai terhapus tapi samar-samar jika diperhatikan mungkin dapat terbaca.


            Sepanjang jalan selanjutnya tidak banyak yang dapat dilihat, hanya pepohonan yang sepertinya bagian dari hutan yang sangat lebat, dan sesekali beberapa petak pertanian terlihat di sela-selanya. Tidak terasa cahaya lampu rumah-rumah mulai terlihat, ternyata jalan menuju rumah kami tidak sejauh yang ku bayangkan, hanya satu belokan dan sampai sudah kami kepusat desa.


            Tempat ini padat dari pada sebelumya, sehingga paman harus memakir mobilnya cukup jauh dari pusat kerumunan, “kita sampai!” Serunya, ketika selesai memakirkan mobil dengan sempurna di pinggir jalan.


            Lavi membantu ku dan Arya turun dari pick up, sementara Arie sudah meloncat sebelum sempat dihampirinya. Anak itu terlihat tomboy dan lebih keren malam ini, sepertinya dia tidak memelurkan uluran tangan, untuk membantunya turun.

__ADS_1


            “Kalian boleh berkeliling,” ayah memberi tau kami, “kita akan berkumpul kembali, 1 jam kedepan untuk makan malam, bertemu di tengah bundaran.” Ibu menambahkan pesan-pesan terakhirnya, sebelum diriya pergi berjalan di depan kami, mungkin memang benar mereka akan bernostalgia malam ini.


            Aku tersenyum samar melihat kemesraan mereka berdua, dan berjalan mengikuti si kembar dan Lavi, yang ada di depan ku, kami berjalan diantara orang-orang yang sepertinya sibuk bertukar dagangan dengan barang hasil panen atau membeli sesuatu. Tempat ini terlihat seperti pasar bagiku, hanya saja orang-orangnya terlihat sudah akrab satu-sama lain, dan hanya kami yang terlihat seperti orang asing disini.


            Sebuah toko tua berdiri di sampingku, toko itu di sinari mentari sore yang membuatnya seperti menyala, ‘toko barang antik’ papan namanya menuliskan, dari luar jendela, toko tersebut tampak tidak berpengunjung, dan hanya seorang laki-laki tua, dengan rambut putihnya duduk di balik meja kasir, dirinya tersenyum ketika mata kami bertemu.


            “Selamat datang!” Serunya yang terdengar sangat senang mendapat pelanggan, toko ini terlihat lebih baik saat kamu berada didalamnya, tidak terlihat sesuram dan menakutkan yang kukira, bahkan terlihat lebih mewah, seperti museum yang di penuhi benda-benda antik dan langka.


            Aku berjalan mengeliling toko itu, dengan pelan, dan memperhatikan pajangannya, satu-persatu, “tidak banyak yang datang kesini” ucapnya, sambil mendekatiku, tapi masih menjaga jarak “kau anak baru?”


            “Iya.” Sahut ku, dengan senyum yang berusaha ramah, “turis?” Tanyanya lagi.


            “Dimana kalian tinggal? Aku mengenal semua rumah dan siapa yang meninggalinya, bahkan sebelum orang itu meninggali rumah tersebut.” Laki-laki itu menyahut dengan senyum sok taunya, terukir jelas diwajahnya yang keriput, membuat kacamata bundarnya terangkat.


            “Kami tinggal di ujung jalan Crimson Street.”


            Dia terdiam sejenak mendengar jawabanku, seperti kaget tidak menyangka, dan akhirnya menjawab, “hanya ada satu rumah di jalan itu” katanya dengan pelan, diri ku hanya mengangguk membenarkan perkataanya.


            “Rumah itu sudah lama kosong, dan tidak dijual atau disewakan” sahutnya lagi, kali ini wajahnya terlihat lebih serius menatap ku langsung.

__ADS_1


            “Ya, Kami tinggal disana, katanya itu dulu rumah nenek buyut kami” mendengar jawaban ku, wajahnya lebih kaget dari yang kukira, kurasa tidak ada yang perlu dikagetkan tentang  hal itu.


            “Kau, keluarga Crimson?” suaranya terdengar hati-hati saat bertanya.


            “Iya” sahut ku singkat, mungkin wajahku terlihat kebingungan sekarang, dan aku mulai merasa tidak nyaman dengan situasi ini.


            “Maaf jika aku membuatmu tidak nyaman, hanya saja, rumah itu bagi ku seperti gudang harta, yang di penuhi benda-benda antik” mendengar penjelasan darinya, kurasa itu ada benarnya juga, semua perabotannya sangat kuno.


            Laki-laki itu melanjutkan, dengan menceritakan banyak hal, tentang koleksinya, dan bagaimana dia sangat jatuh hati dengan benda-benda antic. Katanya, dulu dia dengan mendiang istrinya menjelajah keseluruh negri dan kota mencari benda-benda antik, dan saat istrinya meninggal, baru dia memutuskan mengubah rumahnya menjadi toko barang antik.


             “Terkadang, rasanya sulit menjual barang-barang ini, didalamnya terdapat banyak sekali kenangan kami,” suaranya terdengar sedih dan mendalam.


            “Mungkin aku dapat mengundangmu, ke rumah ku suatu saat nanti” ucapku, berusaha menghiburnya sambil mendekat, memang aku ada mendengar ibu ingin mengadakan perayan kepindahan kami, dan mengundang beberapa tetangga atau kenalan, tapi masih belum tau kapan pastinya, saat itu aku pasti dapat mengundang laki-laki ini.


            Dirinya tersenyum, semangatnya seperti terisi kembali, membuatku ikut juga tersenyum melihatnya, “kemarilah, ada yang ingin aku berikan padamu” dia menuntun ku ke suatu sudut, di balik tumpukan benda-benda antik lainnya, dirinya mengambil sebuah kotak kayu, nampak seperti kotak perhiasan.


            Kotak kayu itu dicat dengan warna merah kayu, dan debu tebal menyelimuti diatasnya, dibukanya dan terlihat sepasang gelang dan kalung di tengah kotak itu, masih-masing darinya terdapat bandul bewarna putih, sama seperti rantainya, namun jika terkena cahaya, akan memancarkan warna merah yang indah.


            “Ini dulunya diberikanpadaku, oleh seorang wanita yang pernah meninggali rumah mu itu, mungkin saja dia nenek buyut mu.” Laki-laki itu menyerahkan kotak perhiasan kepadaku, dan mempersilahkan diriku melihatnya lebih jelas.

__ADS_1


             “Ini sangat cantik,” hanya itu yang dapat ku katakana, melihat perhiasan yang sangat indah ini, mungkin ini terbuat dari silver.


__ADS_2