METANOIA, A Wondering Place

METANOIA, A Wondering Place
Episode 5


__ADS_3

        Terdengar suara langkah yang sangat jelas dari belakang ku, dari balik semak dan pepohonan yang berbuyi gemerisik, sesosok wanita yang sangat rupawan melangkah keluar.


            Aku sempat terpana dibuatnya, dan matanya yang bewarna coklat gelap, sangat pekat dan memikat, ku amati wanita itu dari atas hingga bawah, aku di buat kebinguangan dan kaget ketika menyadari bagian kakinya yang tidak seperti yang ku bayangkan, empat pasang kaki kokoh dan pantat kuda, ada dibagian bawah badan wanita itu.


        Pantas saja dia terlihat sangat tinggi, wanita itu hanya tersenyum, melihat wajah kagetku, “kau datang” katanya dengan lembut, sambil tersenyum.


            Aku tidak yakin apa maksudnya, tapi aku yakin ini hanya mimpi dan hayalan ku saja, pasti setelah ini aku akan terbangun, entah itu karna matahari yang menyilaukan mataku, memaksa ku bangun, atau itu keributan yang dibuat saudara-saudara ku.


            Tapi saat ini aku tidak yakin, apakah aku ingin meninggalkan mimpi ini, kembali kekenyataan, atau tetap


melanjutkannya seperti alur yang sudah di terapkan, dan akhirnya mengetahui isi cerita dan akhir di dalamnya.


            Mungkin aku akan bertahan sebentar, mengikuti alurnya, lagi pula tidak terasa hal yang mengancam atau membahayakan. Wanita itu masih menatapku dengan ramah, seperti menungguku mengambil keputusan, tapi pandangannya tiba-tiba teralihkan, melihat dengan waspada kebelakangku, akupun mengamati kemana wanita itu melihat.


            Tidak ada apa-apa, hanya kegelapan hutan “ada apa?” suara ku paruh berusaha keluar dan ingin bertanya, tapi wanita itu sudah berlari kencang dengan kaki kudanya, meninggalkan ku sendirian lagi, di dalam hutan yang kini sudah biasa aku liat.


            Kini hanya ada aku dan kesunyian, hutan ini tiba-tiba terasa sunyi, entah itu perasaan ku, atau memang biasanya sesunyi ini, bahkan suara jangkrik pun tidak terdengar. Bukankan itu seharusnya ada, pikir ku sambil mengamati sekelilingku, tanpa melangkahkan kaki sedikitpun, dan hanya diam ditempat.


            Pandangan ku tertuju kesatu titik, mungkin titik yang sama dengan yang dilihat wanita itu sebelumnya, sebuah celah diantara pepohonan, nyaris rapat dan tidak tersisa jalan setapak, aku tidak tau apa, tapi rasanya ada yang aneh, sekilas celah itu terlihat normal, tapi jika diperhatikan dengan lekat seperti ada yang aneh.

__ADS_1


            Mungkin lebih tepatnya, seperti ada yang mengawasi dari dalam sana, lama-lama membuatku ingin lari, tapi kaki ku membeku, tidak bisa digerakan, angin berhembus dingin, mengenai kulit ku, celah itu nampak tambah jelas mengerikannya.


            Seketika aku teringat, ini semua hanya mimpi, mimpi buruk, jadi aku pasti bisa bangun dan keluar dari sini. Baru aku ingin berusaha untuk bangun, celah itu tidak terlihat semenyeramkan tadi, tidak ada angin dingin yang berhembus darinya, atau perasaan ingin lari ketika melihatnya, bahkan setapak kecil di tengahnya terlihat lebih jelas dari sebelumnya, walaupun mulai tertutup semak dan bunga liar, tapi masih bisa dijalani.


            Muncul keinginan dan rasa penasaran pada dalam diriku untuk menjelajahi celah itu, tidak ada salahnya pikirku, lagi pula ini mimpi, jika terjani sesuatu yang membahayakan aku pasti akan terbangum, seperti saat kita mimpi terjatuh dari atas gedung.


            Gemerisik rumput di sela kaki ku terus mengikuti, hingga aku berdiri diambang celah pohon, menatap jalur setapak yang akan ku lewati, tanpa ragu aku berjalan, dengan pelan sambil memperhatikan sekelilingku, mengenali tanaman merambat atau pohon yang di sampingku, mungkin aku mengenali salah satunya dari buku atau internet yang pernah ku baca.


            Rasanya baru sebentar aku berjalan, tapi ujung jalan setapak tempat aku masuk sebelumnya, sudah hampir tidak terlihat, dan jalan ini sepertinya masih panjang.


             Antara melanjutkan atau kembali, aku tidak tau yang mana, aku merasa penasaran, apa yang ada di ujung , tapi rasanya jalan ini masih sangat panjang dan melelahkan.


            Angin dingin tiba-tiba melalui kulitku dengan halus, membawa serta perasaan merinding yang dalam sekejab menguasai diriku, aku panik, ku perhatikan sekelilingku, semuanya masih sama, tapi rasanya ada yang berbeda, suasanya yang berbeda, tidak terasa ramah.


            Aku paksa kaki ku untuk berlari secepatnya, dengan sekuat yang ku bisa, tapi aku masih saja lambat, dan


kegelapan dibelakangku sudah hampir menyusul.


            “Ini mimpi, aku pasti akan terbangun” teriaku, tapi suara ku tidak bisa keluar, sekeras apapun aku mencoba, hasilnya nihil.

__ADS_1


            Ini bukan mimpi, tiba-tiba tersampaikan dalam pikiran ku, tapi tidak mungkin, ini pasti mimpi, tidak ada hal seperti ini di dunia nyata , jadi sudah pasti.


             Perdebatan dalam diriku yang membuatku tambah panik, dan rasanya ingin menangis saking takutnya, mimpi ini terasa sangat nyata, bahkan rasa takut ini, aku ingin segera bangun, tapi tidak bisa, ternyata tidak semudah yang ku bayangkan.


           Sementara bayangan gelap dibelakangku semakin dekat, rasanya aku seperti tertarik olehnya, aku ingin


menengok kebelakang, tapi takut hanya akan memeperlambat laju lariku yang saat ini pun  rasanya sangat lambat.


           Akhirnya aku mencoba menengok sedikit, dan melihat kegelapan pekat di depan mata ku, seperti berpusar, ingin menerkam ku kedalamnya.


            Kuku-kuku panjang keluar dari tengah pusaran itu, diikuti dengan jari tangan yang terihat putih pucat, punggung tanggannya sangat putih dan kurus, memperlihatkan tonjolan tulang pada pergelangan dan buku jari. Tangan itu sangat dekat dengan ku, rasanya dengan sekali jangkauan dia dapat menariku, ikut tersedot kedalam pusaran gelap, dan medarat antah-berantah, ku coba menambah kecepatan lari ku, tapi itu percuma.


            Aku sungguh putus asa kali ini, ujung jalan ini masih saja tidak bertambah dekat, rasanya aku hanya berlari di tempat.


            Akhirnya ku putuskan untuk tiba-tiba berhenti dan menunduk, meringkuk, ditempatku saat itu juga, tidak tau akan terjadi apa.


            Kegelapan itu hilang, semuanya kembali seperti sebelumnya, suasananya dan hutan ini, ku lihat di depan ku


ujung jalan setapak, tinggal selangkah lagi aku bisa keluar.

__ADS_1


            Tapi tiba-tiba ku rasakan ada yang menyentuk pundak ku, seperti tangan yang dingin, tajam menusuk kulit ku, kulirik sedikit dan memperlihatkan ku tangan yang sangat putih pucat dan kurus, tangan yang sama dengan yang berada di tengah pusaran itu, tidak berani ku lihat lebih kebelakang untuk mengetahui siapa pemiliknya, keringat dingin ku becucuran, suara ku tidak bisa keluar.


Tangan itu tiba-tiba mencengkam bahu ku dengan kuat, kuku-kukunya rasanya seperti ingin membelah kulit ku, sangat sakit, dengan penuh tenaga tangan itu menarik ku kedalam tanah yang gelap, bercampur dengan bayangan gelap yang pekat, aku tidak berdaya, seringan kapas rasanya tubuh ku ditariknya dengan mudah.


__ADS_2