METANOIA, A Wondering Place

METANOIA, A Wondering Place
Episode 22


__ADS_3

            Terpaksa di gunakannya tombak yang ada, mungkin tidak bisa membunuh monster itu langsung, tapi


dengan kekuatan penuh, harusnya dapat melumpuhkannya sesaat, dan dapat menjadi kesempatan, bagi Hanry untuk menangkapnya, jika beruntung dia dapat membawa monsternya hidup-hidup sebagai bukti.


            Monster itu melompat, menerjang kehadapan Hanry, dan di hunuskannya ujung tombak, yang membus langsung ke dalam dada makhluk itu, kini monster itu terbaring dengan penuh darah hitam, mengalir keluar dari lukanya, ekor hitam menggeliat-geliat kesakitan, tinggal sedikit lagi sayatan pisau, Hanry dapat mengakhiri hidup monster, yang dia duga sudah membunuh adiknya.


            Keluar suara nyanyian sayup-sayup dari mulut makhluk itu, wajahnya seketika tidak terasa asing bagi Hanry, bibirnya yang mengkilap, berusaha menyanyikan sebuah lagu, dengan bahasa yang tidak di ketahu Hanry, teringat dia dengan seorang gadis, yang dulu pernah dia lihat, bersama adiknya sesekali, ketika menemani Eli memancing.


             Walau gadis itu tidak terlihat mengejar-ngejar Eli, namun Hanry dapat melihatnya dengan jelas, Eli menyukai gadis itu, dan gadis itu pun menginginkan Eli, saat itu di biarkannya saja, karena Eli sangat jarang


menaruh rasa pada seseorang, sebagai kaka yang baik, Hanry merasa harus mendukung hubungan adiknya, dengan membiarkan mereka, dan berpura-pura tidak tau, dengan hubungan Eli dan cora. Dipikirnya, jika sudah waktunya Eli akan memberitau, tapi ternyata yang membunuh adiknya, adalah Cora, gadis itu sendiri.


            Diangkatnya belati di tangannya tinggi, siap menyayat tenggorokan Cora, namun Cora bukannya melawan, atau berusaha melarikan diri, dia malah bernyanyi semakin keras, dan wajahnya terlihat memelas tidak berdaya, melihat itu Hanry tiba-tiba merasa iba, belatinya di turunkannya tanpa sadar, gengamannya berkurang.


            Hingga saat ada kesempatan, Cora mengait kaki Hanry dengan ekornya, membuat Hanry terjatuh, dan kehilangan belati miliknya, senjata satu-satunya yang dia miliki, kini rasa ibanya sudah hilang, Hanry menerjang Cora, dengan tangannya, di dorognya patahan ujung tombak yang tersisa, sehingga semakin tertanam kedalam jantung Cora.


            Cora berteriak sangat keras, suaranya melengking di tengah badai, yang kemudian di ikuti teriakan lain,


saling bersahutan tidak jelas asalnya. Kini tubuh itu sudah tergeletak tidak bernyawa, Hanry berusaha mengatur nafasnya, akhirnya dia dapat menang dari monster yang dia hadapi, dan terlepas dari rasa iba yang dari tadi


menghantui.


            Baru akan di bawanya jasad itu sebagai bukti, air danau yang tadinya tenang, tiba-tiba bergejolak, akhirnya


seperti berada di tengah badai, dan lagi-lagi perahunya terasa telah menabrak sesuatu, begitu keras hingga dirinyapun tersentak, Hanry memeriksa apa yang kira-kira di tambrak perahunya, namun yang dia temukan bukanlah batang pohon atau batu yang ada di tengah danau.


            Seorang wanita muda yang sangat cantik, tengah bersandar di pinggir perahunya, wanita itu hanya diam saja, melihat Hanry yang terkejut, dengan panik tangannya mencari-cari senjata, namun sudah tidak ada yang tersisa. Seorang wanita muncul lagi dari bawah air, satu persatu, hingga perahunya kini di kelilingi banyak wanita yang mirip seperti Cora, perasaan bergidik menyelimuti Hanry seketika, tidak mungkin dirinya bisa melawan mereka sekaligus, berhadapan dengan salah satu dari mereka saja, Hanry sudah kewalahan, di tambah lagi saat ini tidak ada senjata yang tersisa.


            Perahunya tida-tiba bergoyang, di lihatnya dua orang wanita, menaiki perahu kecil miliknya, mereka melihat Hanry dengan marah, wajahnya seperti ingin langsung menerkam Hanry, dan menenggelamkannya, gigi-gigi taring yang memenuhi mulut wanita itu, di perlihatkannya sebagai bentuk ancaman, seolah


berkata, agar tetap diam tempat tidak melakukan apa-apa.


            Mereka menarik tubuh Cora dari atas kapal, tenggelam bersama mereka semua ke dasar danau, dan menyisakan beberapa serpihan sisik hitam yang terkelupas. Melihat kesempatan itu Hanry segera melarikan diri, tapi dia tidak mungkin ketepi danau, yang seluruh penduduknya merupakan para wanita pembunuh tadi, itu sama saja bunuh diri pikirnya. Di dayungnya perahu, menuju rawa dengan sekuat tenaga, melewati badai, sebelum para monster itu kembali.


            Diambilnya jalan memutar, menerobos hutan, hingga Hanry melihat sebuah cahaya, akhirnya Hanry sampai di pinggiran desa, tidak pernah dirinya merasa sesenang ini menginjak daratan.


            Seorang laki-laki tua melihat Hanry, yang tengah berlari tanpa tujuan di dalam badai, di pagilnya dan dia persilahkan masuk, Hanry sempat ragu, dirinya bukan orang yang taat beragama, bahkan untuk mendekati gereja saja dia tidak pernah, namun saat ini, itu merupakan satu-satunya tempat kering, terdekat yang dapat dia datangi.

__ADS_1


            “Apa yang kau lakukan di tengah badai?” laki-laki tua itu bertanya pada hanry, yang tanpa berkata apa-apa Hanry memperlihatkan sisik hitam, yang dari tadi dia genggem, laki-laki tua itu terkejut, “ini?” Tanyanya tidak percaya.


            “Kau tau apa itu?” Hanry balas bertanya.


            “Aku belum pernah melihatnya sacara langsung, namun beberapa buku, ada yang menyebutkan tentangnya” jawab laki-laki tua itu, “dimana kau mendapatkannya?”


            “Di mana lagi” sahut Hanry, sambil menahan dingin, yang baru saja dia rasakan.


            “Kau sudah berjuang, bertarung melawan para monsrter mengerikan itu seorang diri, biar aku membantumu” laki-laki tua itu berkata, setelah menyadari apa yang baru saja Hanry hadapi.


            “Apa yang dapat kau lakukan?”


            “Di bandingkan kau masuk kedalam bar, dan menceritakan kisah mu, alih-alih di percaya, mereka malah akan menganggap mu gila, bahkan mungkin lebih gila dari sekarang, bagaimana jika aku membantu mu, membuat semua orang percaya.”


            “Bagaimana caramu melakukannya?” Hanry bertanya penasaran.


            “Ini saja sudah cukup sebagai bukti, sisanya serahkan padaku, lagi pula semua orang mempercayaiku, sebagai utusan dewa bagi mereka.” laki-laki tua itu menjelaskan kepada Hanry, dan memintanya beristirahat, karena besok, mereka akan membuat semua orang tecengang akan sebuah kisah.


            Keesokan harinya, laki-laki tua itu memegang janjinya, dia beritahukan kepada semua orang, dan bukti yang berhasil di bawa Hanry, membuat semua warga mempercai kata-katanya dengan mudah.


            Hari itu Hanry di ingat sebagai pahlawan, yang telah berhasil mengalahkan monster, yang mendiami danau. Mereka kemudian menyebut para wanita, yang merupakan penduduk asli pinggiran danau sebagai Siren, dan semejak hari itu, setiap ada wanita yang memiliki kulit merah, yang merupakan ciri utamanya, para warga desa


akan melakukan pemeriksaan, atau bahkan langsung memberikan tuduhan, sehinga wanita itu di hukum mati.


            Pendeta yang membatu Hanry, kemudian membukukan kisahnya, dan buku itu di sebar keseluruh tempat, ceritanya di ceritakan banyak orang, hingga menjadi sebuah legenda, ada yang mempercayainya, ada juga yang menganggapnya hanya omong kosong.


            Semua itu tergantung bagaimana, kau menanggapinya, cerita itu berakhir disana, sebuah perjuangan yang luar biasa.



            Ku balik halaman selanjutnya yang berisikan potongan-potongan korang, di tempel bersusunan dengan tanggal kejadian, potongan pertama hanya memperlihatkan sebuah gambar pembangunan ulang Lust Lake saat, terdapat dua orang yang sedang berjabat tangan, seperti mengesahkan sebuah mahakarya, dan di belakangnya, dilatari beberapa pekerja, sedang membangun pondasi-pondasi rumah di atas rawa. Kemudian di potongan korang yang hanya berjarak beberapa bulan, terlihat Lust Lake yang di penuhi banyak orang, di bawahnya bertulisan ‘pembukaan kembali Lust Lake.’


             Terlihat banyak orang berdatangan, mungkin dari berbagai tempat, hanya untuk menyaksikan pembukaannya, yang di selenggarakan sangat ramai, ada sebuah perahu besar sebagai objek utamanya, berhiaskan sangat meriah di tengah danau, dan beberapa perahu kecil di sekitarnya.


            Sepertinya ini perahu yang dimaksud paman Milo, yang mungkin di naiki adiknya, dan yang benar saja di potongan selanjutnya, di beritakan sebuah kekacauan terjadi di tengah acara, semua perahu yang ada tiba-tiba


tenggelam, seorang ada yang menariknya kedalam danau, dan orang-orang yang berada di atas perahu tidak di temukan satupun, hingga sekarang.

__ADS_1


            Di halaman belakang, terdapat potongan Koran, yang mencatat nama-nama orang hilang, dan di tambah beberapa catatan tangan. Ku perhatikan nama-nama itu satu-persatu dengan saksama, mengingatnya sebisa mungkin.


            Orang-orang mengatakan mereka telah kembali, para siren, yang sudah membuktikan legenda Hanry bukan hanya omong kosong semata, namun memang kenyataannya, dan semenjak itu tidak ada yang berani mendekati danau, sedangkan orang-orang yang terlanjur pindah kesana, sebelum pembukaan, seperti Mama dan paman Milo, mereka terpaksa menetap.


            Ku temukan satu nama, yang kira-kira adik paman Milo, usianya saat itu terbilang cukup muda, tidak jauh lebih tua dari Lavi, aku merasa kasihan padanya, pada Mama dan juga paman Milo, yang sudah kehilangan. Kupirkan untuk ikut dengan mereka ke peringatan tahun depan, setidaknya untuk mengenang orang-orang yang saat itu menghilang.


            Sebuah ketukan di depan pintu mengagetkan ku, ayah membuka pintu, “kau belum tidur?” tanyanya, aku tersadar ini sudah lewat tengah malam, “akan segera tidur” sahut ku, menutup buku dan


segera masuk kedalam selimut, ayah membantu mematikan lampu, kemudian meninggalkanku, beruntung kali ini aku tidak dimarahi.


            Kurasakan tangan ku menyentuh pingiran buku, di jari-jariku meraba judul buku yang di tulis dengan tekstur berbeda dari bagian sampul lainya, ku ikuti alur tulisan hingga akhir dan menggulanginya lagi, hingga mengantuk.


            Di dalam kamar yang gelap, perasaan mengantuk mengahampiriku, dan membawa pergi kealam mimpi, yang kali ini tidak memperlihatkan ku apa-apa, hanya kegelapan, yang tidak ada habisnya.


            Aku terbangun, dari dalam mimpi yang tidak terasa lama, dan cahaya mentari sudah merambat masuk, Arya memasuki kamarku, tanpa mengetok pintu, dirinya langsung berkata “kau tidak dimarahi?” Tanyanya, aku kebingungan apa yang dia maksud, setengah kesadaranku masih berada di dalam alam mimpi.


            “Apa yang kau maksud?” Tanya ku.


            “Ayah kemarin memergokimu bukan? Dia tidak marah?” Katanya, sambil berjalan mendekati, duduk di atas kasurku, mata pandanya terlihat lebih hitam dari sebelumnya.


            “Tidak” sahutku, “apa yang terjadi dengan matamu? Kau sudah bergadang berapa lama?” aku balik bertanya.


            “Hanya beberapa hari, tapi aku tetap tidur” jawabnya


            “Apa yang kau lakukan?”


            “Hanya sebuah projek, yang sudah lama tertunda,” Arya menjawab, “kau akan lihat nantinya, jika sudah selesai” sambungnya, menolak menjawab pertanyaan ku.


            Arie memasuki kamarku, dirinya muncul dari arah pintu kamar mandi, terkadang aku lupa kamar kami terhubung, “apa yang kalian lakukan?” Tanya Arie, sambil mendekat.


            “Tidak ada” sahut Arya spontan.


            “Ayo kita harus bersiap” Arie menarik Arya, membangunkannya yang dengan malas mengikuti.


            “Kalian ingin kemana?” Aku bertanya sekali lagi, melihat Arie yang sudah mengenakan pakaian lengkap dengan riasan, sepertinya mereka akan pergi ke suatu tempat.


            “Ibu menyuruh kami ikut dengan Lavi hari ini” sahut Arie yang di lanjutkan Arya, ”membeli perlengkapan untuk besok, sekalian untuk sekolah nanti” katanya, dan pergi meninggalkan ku sendirian di kamar.

__ADS_1


__ADS_2