
Aku sampai di kamarku, yang terlihat lebih berantakan dari sebelumnya, sepertinya ada yang masuk dan menghambukan kamarku, kecurigaanku semakin kuat saat ku temukan jejak kaki kecil samar di lantai, sepertinya Arie membawa Jack-Jack masuk ke kamar, dan membiarkannya bermain di dalam, mungkin ini bagian dari jalan-jalan mereka.
Untung saja peta kekanakan yang kutinggalkan di atas meja, tidak menghilang, dan masih ada di tempatnya.
Terdengar suara terikan Lavi dari luar, dia terdengar marah, jadi ku pergi memeriksanya, Lavi berdiri di ambang pintu kamar, wajahnya terlihat memerah karena marah, sambil mencari-cari seseorang, yang jelas saja bukan aku, karena dia biasa saja ketika melihatku.
“Ada apa?” Tanya ku, matanya masih mencari-cari, mengeok kearah lorong dan tangga secara bergantian.
“Kau lihat ini!” Dirinya menunjuk ke dalam kamar, dan membiarkan aku melihat kedalam, kamar Lavi berdekorasi tidak jauh beda, dari kami semua, temboknya di penunuhi dengan lukisan hutan pinus, dan pada bagian langit-langit di taburi ukiran bintang dari kayu, yang sepertinya sengaja di tempel di atas sana.
“Apa?” Tanya ku, di mataku kamarnya sangat normal, tidak ada yang perlu dia cemaskan, “kamarku sangat berantan” katanya, dan kuliat lagi kamarnya, ketika mendengar jawaban Lavi. Aku sangat yakin kamar ini rapi, hanya saja selimunya yang tergumpal di tengah kasur, dan susunan bantal yang sedikit berantakan, sisanya baik-baik saja bagi ku.
“Kamar mu sangat rapi” komentar ku, dan dia masih saja terlihat marah, sambil masuk kekamarnya, dan merapikan selimu yang menggumpal.
“Ini seharusnya tidak di sini” gerutunya, sambil melipat rapi selimut berbahan wolnya, jika kamar Lavi yang
rapi ini di sebut berantakan, apa jadinya dengan kamarku saat ini.
Sebelumnya aku memang belum pernah melihat kamar Lavi, baik di rumah ini atau di rumah kami sebelumnya, ternyata dia sangat sensitive terhadap kerapian kamar, pantas saja pintu kamarnya selalu tertutup
rapat, ternyata untuk memastikan tidak ada yang sembarangan masuk, dan memberantakannya.
Dalam hati aku tau siapa pelakunya, dan dia pasti sangat marah, “astaga” Suara Arya dari balik pintu kamar Lavi, “ternyata ini juga terjadi pada kamar kalian” sambungnya.
“Kamar mu juga?” Tanya ku, sepertinya Arie membawa Jack-Jack berkeliling ke dalam kamar kami semua, dan terjawablah siapa yang memberatakan kamar kami, tanpa aku bilangpun mereka sudah pasti tau, dan sepertinya Lavi tidak bisa memarahi Arie ataupun Jack-Jack, karna dia yang membawanya kemari.
__ADS_1
Sedangkan berdebat dengan Arie, itu sangat menguras tenaga, dan siapapun itu pasti kalah, Lavi bersandar di kepala kasurnya, sambil menarik nafas dalam.
Arya seperti mendapat kesempatan emas untuk melihat isi kamar Lavi, sepertinya di antara kami semua belum ada yang pernah melihat isi kamarnya, dan sama-sama penasaran, di perhatikannya setiap sudut dan ukiran yang menjadi hiasannya.
“Kamar mu seperti kamar anak-anak” komentar Arya, “maksudmu?” sahut Lavi, yang sama kebingungannya, dengan ku.
“Kau tau, biasanya di kamar anak-anak terdapat dekorasi bintang dan bulan seperti ini” jelasnya, dan ku
rasa ada benarnya juga, biasanya di film atau di sebuah cerita akan di gambarkan seperti itu.
“Mungkin ini kamar anak-anak dulunya” komentar ku, tapi Lavi hanya menghembuskan nafas tanpa merespon satu katapun, dirinya terlihat tidak begitu tertarik dengan pembicaraan, tangannya menekan satu titik diantara alis, dan memijat kecil.
Aku kembali kekamarku dan bersiap tidur, rasanya tidak nyaman berada di kesunyian yang Lavi ciptakan, ku undurkan niat untuk menyalin peta kekanakan, yang dari tadi ku biarkan tergeletak di atas meja, rasa malas tiba-tiba menghampiri begitu aku melihat kamar yang berantakan ini.
Aku terlelap dalam mimpi yang terasa begitu singkat, kali ini aku berdiri di depan rumah, terlihat hutan gelap mungkin sekitar 20 meter di belakangnya, dari sana mucul titik-titik cahaya keemasan, yang membentuk garis menuntun kedalam hutan.
Aku tidak tau apa yang harus ku lakukan, rasanya aku ingin diam di sana saja, mematung dalam sunyi, terdengar suara langkah kaki di antara rerumputan, tapi aku tidak menemukan siapa-siapa, aku takut mimpi buruk yang kemarin akan terulang, jadi aku bersiap-siap untuk berlari kapanpun.
Sempat aku terbangun beberapa kali di tengah malam saking takutnya, tapi setiap kali aku memejamkan mata, langsung aku sampai ke dalam mimpi, melanjutkan alurnya. Suara langkah kaki terdengar lagi, aku tetap waspada setiap kalinya, dan kembali terbangun.
Mataku menangkap satu sosok yang berjalan di depan ku dengan cepat, hanya bayangan hitam yang terlihat, kemudia seorang gadis berjalan di belakangnya, mirip dengan Arie pikir ku, apa mungkin aku memimpikan Arie, rasanya aneh.
Pernah aku membaca sebuah tulisan yang katanya, jika kita memimpikan seseorang, bisa jadi itu kerena kita terlalu memikirkannya, hingga terbawa ke alam bawah sadar. Tapi aku tidak terlalu memikirkan Arie, sampai harus memimpikannya, apa mungkin aku kesal, karna dia membawa Jack-Jack kekamar dan memberantakannya, aku rasanya juga tidak terlalu kesal, nyaris biasa saja, aku sudah memaklumi apa yang dia lakukan.
Arie berjalan kearah dalam hutan, dan menghilang di balik pohon-pohon, dalam diriku sama sekali tidak ada niatan untuk mengejarnya, taupun memanggil dan menghentikannya, aku hanya membiarkan Arie berjalan begitu saja, dirinyapun tidak berkata apa-apa dan mengabaikan aku.
__ADS_1
Terdengah langkah kaki di belakangku, ada seorang pemuda yang berdiri, namun aku tidak dapat melihatnya dengan jelas, penglihatan ku kabur, dan aku terbangun lagi.
Kali ini cahaya matahari sudah merembes masuk kekamarku, saat ku lihat jam ternyata sekarang pukul 6 pagi, masih terlalu dini untuk bangun di hari libur, tapi aku sudah tidak bisa tidur lagi, jadi aku berjalan keluar, dengan masih menggunakan piama, berjalan menuju dapur di lantai bawah.
Di sana aku bertemu ibu, yang sepertinya telah bangun pagi-pagi sekali, dirinya terlihat sudah bersiap untuk
menyambut hari, ibu tengah membereskan kotak-kotak bekas pindah, dan meletakan berbagai mangkuk, serta piring ke dalam rak kaca, yang tergantung pada tembok, ibu hanya tersenyum melihatku yang menghampirinya,
“Kau sudah bangun, tumben sekali” katanya.
“Aku tidak bisa tidur” sahut ku, sambil membantunya mengambi beberapa mangkuk dari dalam kotak.
“Mimpi buruk?” ibu bertanya, nadanya lembut dan penuh perhatian seperti biasa.
“Tidak juga, hanya tidak bisa tidur” sahutku, “ibu juga sama” ibu membalasku sambil tersenyum, dan meletakan piring terakhir dari dalam kotak.
Diambilnya sekotak susu dari dalam kulkas, dan menuangkannya pada gelas di depanku, “sudah beberapa hari ini aku susah tidur” ucap ibu melanjutkan, menyerahkan segelas susu ke depanku, “mimpi buruk?” Aku mengulangi pertanyaan ibu.
“Tidak juga, hanya terkadang” jawab ibu.
“Ayo bersiap sarapan” ibu mendorongku bangun, begitu aku selesai meminum habis susu di gelas. Aku pergi kelantai atas dan beselisihan dengan Lavi, “kau mau kemana?” Tanya ku, yang melihatnya sudah berpakaian rapi.
“Aku akan pergi dengan paman” sahutnya, “sepagi ini?” Tanya ku.
“Iya” sahutnya singkat dan meninggalkanku.
__ADS_1
Setelah selesai bersiap, aku kembali keruang makan, semuanya sudah ada disana, dan paman pun ikut bergabung dengan kami. Sarapan tidak pernah sepi jika semuanya berkumpul, dan di tambah ada paman, sarapan kali ini sungguh ribut, penuh dengan cerita dan suara-suara yang saling bersahutan, tidak kalah dengan cuitan burung pagi hari.
Begitu selesai, paman dan Lavi langsung bergi, aku tidak tau apa yang mereka rencanakan, tapi sepertinya belakangan ini Lavi akan sering menghabiskan waktunya dengan paman.