METANOIA, A Wondering Place

METANOIA, A Wondering Place
Episode 23


__ADS_3

            Seharian ini hujan turun, membuat ku tidak bisa melanjutkan penjelajahan, yang terpaksa harus di tunda. Setidaknya sampai hujan kali ini berhenti, jika aku ingat-ingat ini hujan pertama dalam musim ini, kata ibu hujan pertama membawa banyak keberuntungan bersamanya, jelas saja itu, para petani pasti bersyukur dengan hujan ini.


            Aku hanya menghabiskan hari ku duduk di depan perapian, dengan beberapa buku yang sudah selesai ku baca, Jack-Jack setia berbaring di ujung kakiku, sepertinya dia juga menyukai hangatnya api di perapian.


            “Menuru mu bagaimana besok?” ibu bertanya padaku, dan mengambil posisi duduk di atas sopa.


            “Ku rasa besok akan menyenangkan” sahutku sambil tersenyum padanya, “ya, pasti menyenangkan” ibu membalas senyumku, “kita sudah lama tidak liburan seperti itu” ibu melanjutkan kalimatnya, dan ketenangan yang sunyi di tengah hujan kembali memenuhi ruangan.


            Suara dentuman, seperti pintu mobil yang di banting terdengar di tengah hujan, di ikuti langkah kaki yang saling berkejaran.


            “Apa yang membuat kalian lama sekali?” ibu menyambut mereka dengan pertanyaan.


            Si kembar hanya mengangkat bahu, dan membawa beberapa kantong plastic besar di tangan mereka, menuju lantai atas. Lavi muncul dari balik pintu tidak lama sesudahnya, dia membawa sebuah kotak yang cukup besar di tangannya, dan sebuah karung makanan bergambarkan kepala anjing di depannya, Jack-Jack mengongong kegirangan melihat kantung makanan di tangan Lavi.


            “Ini semuanya” Lavi menyerahkan kotak yang di bawanya kepada ibu, yang kemudian di pindahkan ibu ke dapur, langkah ibu di ikuti Lavi dan Jack-Jack tepat dibelakangnya, dan kembali meninggalkan ku sendirian di sini.


            Ku Tarik nafas panjang, mengumpulkan niat untuk berdiri, menyusul ibu ke dapur, dengan malas aku menyusuri ruang makan, menembus dapur, lantainya berbisik ketika aku melewati ambang pintu.


            Ibu terlihat berbicara dengan Lavi, suaranya tenang dan pelan, nyaris tidak terdengar di dalam hujan yang begitu deras ini, di keluarkan beberapa bahan makanan yang segera di siapkan untuk acara besok.


            Lavi mendekatiku, rambutnya basah, air menitik dari helai helai rambut yang keluar dari ikatan rambutnya, dielusnya kepalaku, yang membuat rambut berantakan ku tambah tidak beraturan, kemudian meninggalkan ku.


            Aku berjalan mendekati ibu, berniat membantunya “apa yang akan ibu buat untuk besok?”


            “Hmm, masih tidak tau, bagaimana menurut mu?” ibu balas bertanya.


            “Entahlah, mungkin sesuatu yang mudah di makan, dan di kemas?”


            “Tapi besok kita akan memancing, jika beruntung kita mungkin menangkap beberapa ikan.”


            “Benar juga, tapi bagaimana jika kita tidak beruntung?” Aku bertanya lagi, sebelumnya aku belum pernah pergi memancing, jadi aku tidak tau seberapa besar kemungkinannya.


            “Hmm, mungkin ibu lebih baik membawa bumbu untuk ikan panggang, dan beberapa sandwict dan salad, berjaga-jaga jika kita tidak beruntung.”


            “Yap, itu yang terbaik” aku menyahut dengan semangat, ibu selalu menyiapkan rencana cadangan untuk segala kemungkinan yang terjadi.


            Aku membantu dirinya membuat beberapa potong sandwict, yang kurasa sudah cukup banyak, namun ibu terus berkata kurang. Sekarang sudah ada setumpuk penuh sandwict di hadapanku, entah kami besok akan memberi makan siapa, sehingga memerlukan sandwict sebanyak ini.


            “Lebih baik berlebih, dari pada kekurangan” sahut ibu, setiap kali aku bertanya untuk apa sandwict sebanyak ini, dan lagi-lagi dia menjawab “jika berlebih kita bisa membagikannya” dan jawabannya tidak pernah salah.


            Dimasukan semua sandwict itu kedalam kotak-kotak makan yang kemudian di bungkus dengan kain, di ikatkan menjadi satu sehingga terlihat seperti kado ulang tahun besar yang di bungkus dengan kain, ibu menyelipkan beberapa toples bumbu jadi di sela-selanya, aku takut mungkin saja toples bumbu itu terjatuh, dan kami nanti akan memakan ikan tanpa bumbu sama sekali di atasnya.


            Selesai sudah persiapan kami untuk besok, sinar matahari sudah mulai menghilang di balik langit kelabu, sedangkan hujan masih saja turun dengan derasnya, entah bagaiman dengan besok, jika masih saja hujan turun, mungkin acara akan di tunda atau lebih parah lagi di batalkan selamanya.


            Aku naik ke lantai atas, menuju kamarku, dimana Jack-Jack sedang menunggu ku di depan kamar, dirinya berdiri tegak ketika melihatku muncul dari balik tangga, ekornya yang panjang seperti kemoceng, bergerak-gerak kegirangan.

__ADS_1


            Ku persilahkan dirinya masuk, yang langsung meloncat keatas kasur, dan melingkar di atas kasur, sepertinya Jack-Jack sangat suka tidur, padahal umurnya masih terbilang muda, tapi dia juga bukan juga anjing pemalas, mungkin karea suasanan hujan yang membuatnya mengantuk, jika tidak dirinya pasti sudah bermain dengan Arie di luar.


            Jika di ingat-ingat seharian ini aku tidak ada berbicara dengan Arie, kami hanya bertemu sebentar ketika pagi, dan tadi saat dia kembali, selebihnya tidak ada. Rasanya aneh karena dia biasanya sangat di penuhi tenaga, dan tidak ada hari tanpa mendengar ocehannya, namun hari ini sepertinya kalah sengan suara hujan.


            Aku melihat Lavi menuruni tangga melingkar yang mengerikan, dirinya seperti di kejar sesuatu, dan segera


berjalan dengan cepat melewatiku, membuka pintu lemari penyimpanan alat kebersihan, mengeluarkan beberapa kain kusam di dalamnya, dan bergegas lagi menuju lantai atas.


            “Apa yang terjadi?” aku bertanya, mungkin tidak akan di jawabnya yang sedang buru-buru, dan mengikuti langkah Lavi yang begitu cepat, tangga melingkar yang menakutkan menghentikan ku mengikutinya.


            “Diatas sini semuanya bocor” sahutnya, setengah berteriak dari lantai atas.


            Aku menyusul Lavi ke lantai tiga, dengan hati-hati melangkahkan kaki disetiap anak tangga yang berdecit, dan benar katanya, di atas sini seperti turun hujan dari atas atapnya, “walaupun bocornya kecil tapi jika di biarkan bisa merembes” jelas Laavi sambil menujuk ke langit-langit yang meneteskan air.


            “Tapi tidak sampai kebawah bukan?” aku bertanya, semoga saja airnya tidak sampai kekamar kami.


            “Tidak, untuk sekarang, tapi jika di biarkan begitu saja, mungkin saja” sahutnya dan menuruni tangga, melewatiku.


            “Besok lusa akan aku perbaiki, jadi jangan khawatir” ucap Lavi.


            Aku menyusulnya kebawah, masuk kemarku, dan menempatkan diri di samping Jack-Jack yang berbaring di kasur.


            Jack-Jack seperti bola bulu hangat saat ini, sangat enak untuk di peluk, dan menenggelamkan diri di antara


bulu-bulu keemasan yang lembut, memenuhi muka ku hingga tenggelam, dia hanya diam saja, focus dengan mimpi indahnya.


            “Kalau tidak sala masih ada” sahutku, aku sangat jarang menggunakannya, karena hampir tidak bisa keluar


rumah gara-gara sakit, jadi pasti masih tersisa banyak.


            “Bagus, kalau begitu jangan lupa membawanya, dan ibu menyuruh untuk segera bersiap, sebelum matahari sudah terlalu tinggi” Arie meneruskan, dan meninggalkan pintu kamar mandi yang terbuka.


            Hari ini kami akan pergi memancing, di sebuah sungai dekat dengan rumah paman Glen, tapi dia tidak pernah menyinggung rumahnya dekat dengan sungai, kami baru mengetahuinya ketika paman Milo menyarankan, mungkin dia tidak pernah terpikir sebelumnya, atau ada alasan lain.


            Ku ikan rambut ku yang kusut, disana pasti anginnya cukup kencang, jadi aku tidak ingin rambutku tertiup dan tambah tidak beraturan lagi nantinya. Ya, walaupun mungkin aku tidak akan ikut memancing, tapi di tepinya pasti akan berangin juga.


            Aku turun kelantai bawah, dan sepertinya yang lain sudah siap untuk berangkat, Lavi menyerahkan sepasang sepatu boots karet kepadaku, “untuk apa?” Aku bertanya dengannya.


            “Di luar cukup basah, bekas hujan kemarin, dan mungkin kau akan membutuhkannya nanti” ucapnya, dan membagi sepasang sepatu boots lagi kepada Arya dan Arie.


            “Bisa kau bawakan?” Pinta Arie kepadaku.


            “Kenapa tidak kau bawa sendiri?” Aku menyahut.


            “Karena aku harus membawa kotak-kotak bekal makanan kita, dan lagi aku tidak mau berdebat dengan Lavi

__ADS_1


hanya kerena tidak ingin membawanya.”


            “Ya, lagi pula kau hanya perlu menaruhnya di dalam mobil” Arya ikut menyahut, sambil menyerahkan sepatu boots miliknya, yang di ikuti Arie.


            Aku tidak ada pilihan lain selain mengikuti kemauan mereka, dan lagi aku sebenarnya tidak ingin mengenakan sepatu ini, rasanya lembab, belum lagi baunya, tapi aku tidak ingin berdebat dengan Lavi hanya karena sepatu boots, jadi aku akan melakukan persis seperti yang Arya katakan, hanya perlu menaruhnya di dalam mobil, sehingga Lavi mengira kami akan mengenakannya nanti.


            Benar apa kata Lavi, di luar cukup basah, terdapat beberapa genangan air di depan rumah, dan beberapanya cukup besar, seperti danau kecil di halaman, padahal rumah ini letaknya cukup tinggi, seperti di tengah bukit kecil, lebih tepatnya mungkin hanya tanjakan, atau gundukan tanah yang cukup besar untuk sebuah rumah.


            Setelah memasukan semua muatan kedalam mobil, kami segera berangkat, dan seperti yang ku duga, jalan kecil yang harus kami lewati jika ingin keluar dari rumah ini, seluruhnya terendam air, walau tidak terlalu dalam, tapi tetap saja semuanya tergenang, rupanya hujan malam tadi begitu deras.


            Kami melewatinya dengan perlahan, berusaha cipratan air tidak mengotori badan mobil lebih banyak lagi, mendekati depan jalan Crimson Street, air yang menggenang sudah mulai sedikit, di jalan utama desapun terdapat beberapa jalan yang tergenang air. Syukurnya, ketika aku perhatikan, air yang menggenang itu tidak diam saja, mereka dengan perlahan terlihat mengalir kesuatu tempat yang lebih rendah.


            “Kuharap sungai tidak meluap” ibu bergunam pada dirinya sendiri.


            “Semoga saja tidak” sahut ayah yang mendengarnya.


            “Memangnya ada ikan jika seperti ini?” Arie bertanya, yang sepertinya di tunjukan kepada Lavi.


            “Aku tidak tau, semoga saja ada” sahut Lavi, wajahnya terlihat sedikit cemas membayangkan bagaimana jika memancing kali ini gagal.


            “Hey, setidaknya udara dan langit jadi lebih bersih sesudah hujan” sahut ayah yang berusaha tetap positive, sisi ayah selalu melihat segala sesuatu dengan positive, adalah yang paling aku suka, itu selalu membuat suasanya nampak lebih baik.


            Aku sebenarnya juga tidak tau, aku belum pernah ikut memancing sebelumnya, jadi diriku sama-sekali tidak tau apa-apa. Kami sampai di bundaran utama desa, dari sini ayah mengangkat smartphone-nya, sepertinya dia menghubungi adiknya.


            Ayah mengikuti arahan dari suara di balik telpon genggemnya, dengan Lavi yang tetap memperhatikan peta desa di tanggan, kami mengambil jalaur kedua setelah jalan yang mengarahkan ke Crimsoon Street dan Lust Lake, dari sini kami hanya berjalan luruh, walau sesekali ada tanjakan.


            Sepanjang jalan di sebelah kiri ku aku hanya melihat hamparan sawah pertanian, dan di sebelah kananku, sesekali terlihat rumah atau pertokoan, hingga kami sampai di jalan berbatu halus.


            Seorang pemuda dengan kemeja wool kotak-kotaknya tengah menunggu di depan rumah tua bewarna merah kayu, dari balik topinya aku mengenali wajah paman Gray, mata hijaunya yang menyipit ketika melihat mobil kami mendekat, dan tanganya melambai, memberi tanda.


            Ayah memakirkan mobilnya tepat di depan rumah paman Gray, dan tidak lama sebuah mobil besar yang aku kenali sebelumnya, muncul dari ujung jalan, aroma ikan keluar, ketika laki-laki yang mengendarai mobil itu membuka pintu lebar-lebar, paman Milo keluar dan membantu Mama turun dari mobil.


            Dengan badan besarnya, Mama menghampiriku dan langsung memeluk dengan erat, tanpa memperhatikan wajah bingung ibu, yang menyaksikannya, baru setelah paman Milo menemuka punggungnya dengan lembut, baru Mama tersadar, dan segera mengenalkan dirinya. Memeluk ibu ku dengan eratnya, bahkan sikembar yang berusaha meloloskan diripun gagal, dan memeluk mereka tidak kalah eratnya.


            Paman Gray memmandu kami menuju tempat pemancingan, sambil mendorong kursi roda kake, obrolah ibu dan Mama terdengar dari belakang, mereka seperti sudah kena begitu lama, tapi Mama memang tipe orang


yang mudah bergaul, dan lagi dirinya sangat ramah, seperti awal bertemu dengannya. Tepat di delakang lagi paman Milo dan Lavi mengangkat beberapa alat pancing serta perlengkapan yang lainnya, terlihat begitu banyak hanya untuk memancing ikan, atau memang seharusnya seperti itu.


            Akhinya kami sampai di tepi sungai, terdapat beberapa pondokan kecil di pinggirnya yang begitu indah, tempat yang pas untuk bersantai dan menikmati pemandangan indah ini, sungai ini cukup luas, di sebrangnya terdapat deretan pohon yang begitu rapat.


            Arya dan Arie memilih sebuah pondokan dan meletakan barang-barang bawaan kami, membongkarnya dan menyusunya dengan rapi, sementara ayah menyiapkan pemanggang untuk ikannya, padahal kami belum tentu mendapatkan ikan.


            “Untung sungainya tidak meluap” kata ibu.


            “Tenanglah, sungai ini tidak pernah meluap, dia terhubung langsung dengan laut” Mama menyahut, aku baru mengetahuinya, namun menolak untuk bekomentar apapun

__ADS_1


            “Lihat yang sudah kau lakukan pada tempat ini Gray” seru paman Milo.


            “Ya, butuh perjuangan untuk membangunnya” paman Gray menyahutnya, terdengar rasa bangga dalam suaranya.


__ADS_2