
Tahun ini, dan tahun berikutnya, merupakan tahun Arya dan Arie. Mereka mungkin saja
akan menjadi ratu pesta prom yang selanjutnya, “kau pasti akan sangat popular
di sekolah baru mu,” Kuharap jawaban ku dapat menyenangkannya “ya,tapi di pedesaan.“
Setelah mendengar jawabanya, aku memilih lebih baik diam, mungkin juga itu yang di perlukannya, dan lebih baik begitu.
Arya dan Arie sama-sama popular, namun Arya tidak terlalu memperdulikannya, dia seperti mengalir dengan suasana, dan menerima apa adanya.
Arie, dia yang paling keras kepala, mungkin di dapat dari ibu, untuk anak seumur dirinya, yang terbilang terlalu muda, untuk mengetahui ingin menjadi apa dia kelak, dan bagaimana cara menggapainya. Itu sungguh luar biasa bagi ku, yang saat ini bahkan masih ragu, akan berapa lama lagi aku dapat bertahan, dengan tubuh seperti ini, Tapi Arie sudah tahu apa yang di inginkannya.
“Makan malam” teriak Arya dari bawah, Arie langsung turun tanpa berkata apa-apa pada ku. Makan malam kali ini, hanya ada kami berempat, ayah dan lavi mungkin akan sampai besok pagi, kata ibu saat aku bertanya tentang mereka.
Tanpa adanya ayah dimeja makan, masakan ibu sangat sederhana, hanya spageti dengan bakso yang dilumuri saos ala ibu, dan satu mangkok keju serut khusus Arie, tetap saja enak.
Makan malam terasa sunyi, dengan Arie yang hanya diam saja, dan ibu menyodorkan satu mangkuk keju serut untuknya. Kurasa, dia tidak mungkin tahan dengan godaan keju itu, dan yang benar saja, dia langsung memakannya. Rasanya seperti tersapu ombak, cemberutnya langsung hilang, dan dia makan dengan lahap, sesekali teseringai dengan kenikmatan keju.
Malam itu, aku mendengar ibu berbicara dengan Arie, mungkin membujuknya dan memberikan beberapa janji. Pembicaraan mereka berlangsung singkat dan sungguh pelan, setiap kali aku menempelkan telinga berusaha mendengar, suara Arie tambah pelan, seperti dia mengetahui ada yang menguping pembicaraan mereka, hingga akhirnya aku menyerah dan tertidur tanpa sadarnya.
Di dalam mimpi kali ini, aku berdiri di tengah hutan yang belum aku kenali, namun rasanya sangat akrap. Wajar jika aku tidak mengenali hutan ini, aku bahkan hampir tidak penah kehutan yang benar-benar hutan, walaupun aku mencintai alam dan pohon-pohonnya. Yang aneh adalah, perasaan seakan aku mengenal hutan ini, sudah sejak lama.
Suara mobil yang kasar membangunkan ku, ku tengok dari sudut jendela kamarku, ayah dan Lavi keluar dari mobi yang berdebu, seperti sudah menempuh puluhan mill jalan tanpa aspal, sehingga debu dan pasir menempel disetiap sisi dan sudutnya.
Saat turun untuk sarapan, aku melihat Arie, nampak membereskan beberapa buku yang akan di packing, wajahnya tidak terlihat semangat, tapi dia tetap memaksa tubuhnya untuk meneruskan.
__ADS_1
Lavi duduk di bangku sampingku, ada serpihan pasir diwajahnya, “kalian berkendara sepanjang malam?” Tanya ibu, yang melihat wajah ayah dan Lavi, seperti tidak tidur beberapa hari. “Mandilah, lalu tidur” katanya, sambil menepuk pundak putranya, dan beralih memberikan kecupan pada pipi ayah.
“lain kali ajaklah Arya, mungkin memampuan begadangnya akan ada gunanya” kurasa, aku setuju dengan saran ibu kali ini.
Lavi berdiri meninggalkan meja dan mengelus kepalaku, hingga rambut ku berantakan, aku melihatnya hendak mengelus kepala Arie, namun dia cepat-cepat menjauhkan kepalanya. Memang mengesalkan
terkadang, entah mengapa dia suka melakukannya, membuat rambutku berantakan, dan serpihan roti dan gula di tangannya berpindah kerambutku.
“kita tidak perlu sampai pindah, aku akan baik-baik saja” kata ku pada ibu, rasanya tidak tega, jika kami semua harus pindah rumah hanya karena diriku, tapi ibu tidak berkata apa-apa, dan hanya tersenyum mengcup keningku.
“Ini demi kebaikan kita semua” bisik ibu pelan dan lembut di telinga ku, aku tidak mengerti apa maksudnya, dan sebelum sempat aku bertanya, ibu sudah meninggalkan ruang makan menyusul ayah. “Apa maksudnya?” aku bertanya dengan Arya, yang kebetulan lewat, sambil membawa beberapa kotak kosong lagi untuk diisi.
Wajahnya nampak bingung, jadi aku ulangi perkataan ibu, “kata ibu, kita pindah demi kebaikan kita semua. Memangnya akan ada bahaya apa, jika kita tidak pindah?” dia meletakan kotak-kotak dipelukannya, dan menyuap sepotong besar roti belumur gula halus dari piringku. “Kau tau, ayah masih belum menyelesaikan tulisannya” sahutnya dengan mulut yang masih penuh “Ya” jawab ku.
“Tabungan ayah dari tulisan sebelumnya, sudah hampir habis.”
Kali berikutnya Arya dan Arie yang menemani ayah, walaupun mereka masih muda dan belum memiliki sim tapi ku rasa tidak akan ada polisi yang menilang mu di tengah hutan.
Ayah bercerita ketika makan malam, mengenai rumah yang akan kami tinggali, serta hutan yang tidak jauh dari belakang rumah. Lavi sesekali menambahkan, dan terdapat rasa kagum di setiap komentarnya, matanya berbinar penuh semangat.
Kali berikutnya, Arie yang bercerita panjang lebar, dan tidak hanya saat makan malam, bahkan saat mereka baru saja kembali dari menemani ayah. Seolah keraguannya untuk pindah beberapa minggu lalu sudah hilang, dan tergantikan dengan semangat yang luar biasa, namun sesekali aku mendapatinya terdiam, seperti memikirkan sesuatu.
“Akhirnya aku akan mempunyai kamarku sendiri,” seru Arie dengan senangnya, ayah tertawa kecil ketika mendengar ucapanya, “kau dapat menghiasnya sesukamu nanti, dan kau Arya, ku harap tidak tambah bergadang dikamar barumu nanti.”
Selama ini Arya dan Arie selalu berbagi kamar, karena rumah kami yang dulunya terasa luas dan besar, kini
__ADS_1
terasa sempit, saat kami semua bertambah besar. Mungkin memang keputusan terbaik untuk pindah, terlihat dari wajah mereka semua, yang seperti sangat senang akan kepindahan ini.
Rumah itu sangat besar dan luas, dalam cerita mereka, bahkan bukan hanya rumahnya saja, halamannyapun sangat luas. Rasanya aku tidak sabar untuk lekas kesana, sambil membayangkannya, aku
terbawa kedalam mimpi. Mimpi yang sama seperti sebelumnya, aku berdiri di tengah hutan.
Sangat indah, tapi kali ini rasanya ku tidak sendirian, dapat terdengar oleh ku, gesekan langkah kaki di sela
rerumputan, dan sosok besar dan tinggi nampak memperhatikan ku dari balik pepohonan, tidak terlihat jelas oleh ku.
Aku terbangun dengan dentuman dari luar rumah, saat ku menengok, nampak beberapa petugas, sedang memindahkan beberapa prabotan, dan kotak kotak yang nampaknya berat. Teringat olehku ini hari pindah, ibu menengok dari balik pintu, dan menyuruhku bersiap untuk sarapan dan berangkan.
Kakiku beberapa kali tersandunng, kotak-kotak yang bertumpuk dilantai, seperti mengantri untuk dimasukan kedalam truk. Lavi nampak tidak bisa diam, dan terus membantu memasukan barang-barang kedalam truk, sedangkan Arie dia seperti mengkhawatirkan isi kotak yang dibawanya.
“Kira-kira apa isinya” aku bertanya pada ibu, yang sambil menuangkan satu lagi pancake kepiring ku, “mungkin,beberapa benda pecah-belah yang ada dikamarnya,” baru teringat di kepala aku, kalau
Arie sangat menyukai benda-benda pajangan yang mudah pecah, seperti patung kramik atau kaca, dan beberapa bola Kristal pernah terlihat di kamarnya oleh ku.
Arya melewatiku, sambil medorong kotak yang sangat besar, hampir setinggi pahanya “apa isinya?” tanya ku penasaran, kira-kira apa yang di muatnya di dalam sana, “perkakas ku” hanya itu jawabnya.
Namun aku sudah dapat membayangkan, berapa banyak dan bermacam isinya, “penemuan aneh mu?“ Tanya Lavi setengah mengejek, saat membantunya mengangkat kotak, dan Arya yang hanya mengangkat bahu, tanpa berkomentar apa-apa.
Akhirnya semua barang dapat dimasukan, dan dapat disimpulkan, sebagian besar atau setidaknya, sepertiga dari isi truk itu adalah barang-barang Arya.
Kami bersiap untuk pergi, ibu berpamitan singkat dengan beberapa tetangga, dan ketika aku melangkah keluar
__ADS_1
rumah, terlihat Arya dan Arie sedang berpamitan dengan beberapa temanya. Dari belakang mereka terlihat mirip, kemeja biru langit yang senada, dikombinasikan dengan celana pendek putih yang dikenakan mereka, nampak sangat serasi.
Mereka solah mempertahankan kemiripannya, dengan sengaja menggunakan pakaian yang senada, hampir setiap kali keluar rumah. Perpisahan mereka, diakhiri dengan pelukan yang nampak sangat erat, dan beberapa tetes air mata dari teman-temannya.