METANOIA, A Wondering Place

METANOIA, A Wondering Place
Episode 15


__ADS_3

            Angin bertiup halus menyapu kulitku, meniup beberapa helai rambut. Angin ini membawa serta perasaan mengantuk, dan ketenangan hutan rasanya nyaman sekali untuk tenggelam kedalam lamunan.


            Mungkin aku sempat tertidur, dan bermimpi sebentar, atau ini memang kenyataannya, aku tersadarkan dengan suara gesekan diantara dedaunan, dibalik pohon, rasanya aku melihat seseorang berdiri di belakang sana sekilas, atau mungkin itu hanya hayalanku saja.


            Ku perhatikan lebih jelas, tapi bayangan itu sudah tidak ada di tempatnya, makin yakin aku itu hanya sebuah


halusinasi.


            Seekor burung cukup besar terbang di atas ku, membuatku terkejut dan terbang melewati kepalaku, sehingga aku harus menunduk menghindarinya. Burung itu bertengger di atas batu yang tadinya ku duduki, sayapnya terlihat sangat besar ketika dia mengepakan, bulunya bewarna biru cerah, dan ketika burung itu menegakan kepalanya, terlihat warna emas di bagian bawah badannya hingga ke ujung sayap, yang berkilauan terkena cahaya mentari.


            Burung itu terbang lagi, kali ini dia berhenti, dan bertengger di pagar jembatan, matanya berwarna coklat tua


yang nyaris hitam, menatapku seoalah menembus jiwa. Burung itu terbang menjauh, ketika aku mencoba mendekatinya, tapi tidak pernah terlalu jauh, dirinya kembali bertengger di salah satu dahan pohon, seolah memintaku untuk mengikutinya.


            Jadi ku turuti keinginannya, hingga burung cantik itu terbang menjauh ke antar pepohonan, dan aku kehilangan jejaknya. Saat ku perhatikan sekitar, dia telah membawaku ke sebuah tanah lapang, tidak terlalu besar, di tepi sungai, tanahnya berpasir bercampur dengan batu sungai yang warna-warni.


            Di depanku terdapat beberapa batu, yang di susun melingkar, seperti bekas orang membuat api unggun, mungkin dulu tempat ini sempat dipakai sebagai wilayah perkemahan, tebakku, tapi tempat ini terlalu kecil, untuk menampung satu grup pramuka sekolah, mungkin lebih tepatnya grup perkemahan yang lebih kecil, seperti karya wisata suatu keluarga, mungkin.


            Kayu-kayu bekas bakaran yang menumpuk di tengahnya, terlihat seperti baru, berarti ada orang yang sebelumnya kemari, dan berkemah kemari.


            Aku rasanya ingin saja menyelidiki, dan menjelajahi tempat ini lebih lama lagi, tapi sepertinya hari sudah mulai sore, tidak terasa, dan angin yang bertiup bertambah dingin setiap kalinya, aku juga tidak tau berapa lama waktu yang ku butuhkan untuk kembali. Lebih baik tidak mengambil resiko, jadi ku putuskan untuk pulang dan kembali lagi besok, mungkin aku dapat memulai penjelajahan besok hari lebih pagi, jadi aku dapat lebih lama melihat-lihat.


            Aku kembali menelusuri jalan yang ku lewati tadi, berhati-hati melalui jembatan batu yang licin, dan


lempengan-lempengan batu yang mulai tertutup air, sepertinya sungai ini terhubung, dengan salah satu sungai besar, sehingga airnya mengalami pasang surut, ketika hari mulai malam. Untung saja aku memutuskan untuk pulang sekang, mungkin jika aku menundanya lagi, bisa-bisa batu-batu ini telah terendam, dan aku harus menyeberangi sungai ini basah-basahan.


            Jalur setapak yang tercipta bekas ku lewati sebelumnya, untungnya masih terlihat, walau samar, dan terputus di beberapa tempat, untungnya bukan di tempat yang membuatku kebingungan, seperti persimpangan misalnya, sehingga aku masih dapat menemukan jalan pulang, aku benar-benar beruntung kali ini, dan baru ketika benar-benar keluar dari hutan, aku akhirnya dapat bernafas lega.

__ADS_1


            Saat aku keluar dari hutan, cahaya mentari sudah berubah dari keemasan menjadi jingga, untung aku dapat pulang tepat waktu, ternyata aku sudah berjalan-jalan cukup lama.


            “Dari mana saja kau?” Tanya Lavi ketika melihatku, yang berjalan menuju rumah.


            “Hutan” jawabku singkat, dirinya hanya tertawa kecil merespon jawabanku, sambil keluar dari mobil yang di ikuti paman.


            Sepertinya Lavi baru saja pulang dari suatu tempat bersama paman, di bukanya pintu belakang, gumpalan buluberwarna keemasan meloncat keluar, menyerangku, hingga aku terjatuh ketanah, dan gumpalan bulu itu menjilat wajahku, makhluk ini terlihat sangat senang.


            “Paman memberikannya pada kita.” Suara Lavi terdengar samar dianta bulu-bulu keemasan, yang menutupi telinga ku, anjing ini sangat besar dan empuk.


            “Siapa namanya?” Tanya ku setelah berhasil menenangkannya.


            “Entahlah, lebih baik kau putuskan” katanya sambil melewatiku.


            “Jack-Jack!” Arie berteriak sambil menyerbu kearah kami, dan menjatuhkan tubuh diatas tumpukan bulu keemasan.


            “Jack-jack?” Tanya ku, “itu namanya” sahutnya singkat, sambil mengelus-elus bulu anjing, yang kini berpindah kepelukannya.


            “Sejak tadi” Arie menyahut, tanpa memperdulikan Arya.


            Memang susah, jika Arie sudah menentukan sesuatu, kurasa tidak mungkin untuk membujuknya mengubah keputusan, dan di tambah susah lagi, jika Arya juga tidak mau mengalah.


            Aku sangat menghindari berada di situasi seperti ini, dan aku malah terjebak di tengah-tengahnya.


            “Kalau begitu itu namanya, Jack” paman melewati kami sambil membawa beberapa rak telur ayam di tangannya.


            Kali ini Arya terlihat tidak terlalu puas, dan terpaksa mengalah, dirinya meninggalkan kami begitu saja, tapi

__ADS_1


Jack-Jack mengikutinya, kedalam rumah.


            “Kau habis dari mana?” Arie bertanya pada ku sambil berdiri, dan menepuk-nepuk rok berbahan jeansnya.


            “Hutan” jawab ku, Arie tertawa kecil mendengar jawabanku, “semoga saja kau selamat dari omelan ibu” sahutnya lagi, sambil menujuk kecelana ku, yang di penuhi tanah dan lumpur menjadi satu, serta beberapa helai daun yang menempel, sepertinya noda ini bertambah banyak saat Jack-Jack mendorongku tadi.


            Aku hanya menarik nafas, sambil mengikuti Arie masuk kedalam, dengan berharap ibu tidak melihatku begini. Langusung ku ambil langkah cepat, menaiki anak tangga, yang berdecit seperti piano tua, sebisa mungkin ku abaikan bunyinya, dan masuk ke kamarku secepatnya.


            Kulepaskan pakaianku yang di penuhi lumpur, dan berganti dengan yang baru, peta kekanakan yang terlipat di kantongku, terjatuh ketika aku mengganti celana.


            Peta itu kini sudah hampir hancur, dengan noda lumpur yang berbekas di lipatannya. Ku letakan di atas meja, mungkin aku dapat menyalinnya nanti, dan membuang peta yang sudah hampir hancur itu, atau mungkin aku bisa mendpatkan peta yang baru. Yang asli, bukan buatan anak-anak, bisa jadi Lavi memilikinya.


            Setelah makan malam, kutanyakan Lavi apakah dia memiliki peta tersebut, dan dirinya hanya mengangkat bahu, “aku punya satu, tapi saat ini sedang ku pakai” katanya.


            “Sampai kapan kau akan memakainya?” Tanya ku, mungkin aku bisa memilikinya, saat dia sudah tidak membutuhkan lagi.


            “Untuk saat ini mungkin, sampai aku berhasil menghapal setiap jalannya” jawab Lavi, yang membuatku geram, akan memakan waktu berapa lamanya aku tidak tau, yang jelas aku tidak bisa menunggu selama itu.


            “Untuk apa kau peta?” Tanyanya lagi.


            “Hanya untuk melihat-lihat” jawab ku, aku tidak mungkin memberitahunya tujuan ku sebenarnya, bisa-bisa dia mengejek ku selama seminggu penuh.


            “Mungkin ada satu di gudang.” Akhirya Lavi memberi tau ku, akhirnya juga jawabnya tidak semenyebalkan yang tadi.


            Benar juga, bisa jadi ada selusin peta di gudang, entah kenapa tidak terpikir olehku sebelumnya. Gudang, itu berarti ruangan yang ada di lantai tiga, dan aku harus melalui tangga yang menyeramkan itu lagi, jika aku ingin kesana, belum lagi di atas sangat gelap, berkat Lavi yang malas memasang lampu.


            “Lebih baik ku tunggu sampai pagi” gunamku, sambil berjalan menuju kamar, dan berselisihan dengan Arie “kamu mau kemana?” Tanya ku.

__ADS_1


            “Mengajak Jack-Jack berkeliling” jawabnya, sambil melewati ku dengan Jack-Jack yang ada di pelukannya, “rasanya dia terlalu besar untuk kau gendong.”


            “Dia lelah, lagi pula Jack-Jack empuk” sahutnya tanpa menghiraukan komentar dari ku, dan meneruskan jalan-jalan mereka, mungkin Jack-Jack akan di jadikan bantal oleh Arie malam ini.


__ADS_2