METANOIA, A Wondering Place

METANOIA, A Wondering Place
Episode 13


__ADS_3

            Itu kali terakhir kali bagi Devina melihat anak gadisnya, dan teman semasa kecil, tapi sebagai ganti, sebuah dunia rahasia yang dulu dia dan putrinya miliki, kini sudah tidak menjadi rahasia lagi, dan hanya Devina yang benar-benar mengetahui apa yang terjadi, serta apa yang sudah di bayarannya.


            Para penduduk desa hanya mengetahui itu sebuah anugrah, yang di dapatkan mereka, dan mulai saat itu juga, setiap orang menceritakan kisah yang beragam tantang bagaimana tembok kabut itu runtuh, dan menyebut-nyebut nama Devina, sehingga tempat itu di beri nama serupa dengan dirinya.


            Begitulah drama itu menceritakan, sebuah kisah hidup seseorang yang berani menyerahkan apa saja, demi sesuatu yang di inginkannya, bahkan kehilangan yang lebih berhaga dari yang di inginkannya, tapi memang kita tidak akan tau hal itu berhaga, hingga kehilangannya.


            Lavi menguap kencang di sampingku, hingga membuat konsentrasi ku buyar, “akhirnya selesai” katanya, wajahnya terlihat sangat mengantuk, aku bahkan ragu dirinya menyimak hingga akhir.


            Setelah para actor drama keluar dari panggung, dan memberi hormat, aku membubarkan diri bersama para penonton yang lain, kisah yang di ceritakan pada drama itu rasanya sangat klise, dan begitulah dongen yang mereka ceritakan, pada setiap orang dari dahulu.


            Festival itu di tutup dengan sorak ramai semua orang, dan kembang-api warna-warni di ledakan di atas langit pedesan sebagai tanda suka cita, serta tanda berakhirnya festival.


            Paman telah menunggu kami di mobilnya, sepertinya tanpa ku sadari, tadi paman pergi untuk mengantar kakek,karena jam tidurnya sudah dekat, begitulah kakek yang selalu terjadwal, tapi


begitu kakek bersemangat aku pun mungkin akan kelelahan mengikutinya


            Di luar dugaan ku, kembang api di sini berlangsung cukup lama, dan tidak kalah indahnya dengan di kota, bahkan hingga kami sampai di depan jalan Crimson Sreet kembang api itu masih berlangsung, dan sorak ramai masih saja terdengar walau samar.

__ADS_1


            Paman mengantar kami hingga sampai di depan rumah, kami menawarkannya untuk menginap, tapi dia menolak, katanya harus ada yang menjaga kakek.


            Aku berjalan ke kamarku, berbarengan dengan saudaraku yang lain, Lavi dan Arie sudah berjalan seperti zombie saking ngantuknya, sedangkan Arya, dia terlihat masih di penuhi tenaga.


            “Kamu tidak tidur?” Aku bertanya dengan Arya, yang tiba-tiba berhenti di depan sebuah kotak besar, tepat di depan kamar, “mungkin sebentar lagi” sahutnya, sambil mengangkut kotak besar itu masuk.


            Setelah ku pastikan Arie masuk kekamarnya, dan terbaring di kasur dengan benar, baru aku dapat kembali kekamar dengan tenang, saat melewati kamar Arya, aku sedikit penasaran dengan apa yang dia lakukan, dan bagaimana penampilan kamarnya.


            Aku mengetok pintu kamar Arya, mungkin saja benar dia belum tidur, tidak lama kemudian Arya membuka pintu, dan mempersilahkan ku masuk. Aku bisa bilang kamarnya terlihat lebih cerah, serta indah di banding kamar ku dan Arie, prabotnya memang tidak jauh beda, hanya saja kamar yang satu ini di penuhi dengan lukisan bunga matahari di sepanjang temboknya, seperti ladang bunga, cat kuning pada bunga membuat terlihat lebih cerah dan ceria, di langit-langitnya di lukis dan langit biru cerah lengkap dengan awanya, sunguh cantik, kamar ini jauh dari kata suram seperti kamarku, “woow” hanya itu kata yang dapat ku gunakan untuk mengekspresikan.


            “Apa yang kau lakukan?” Tanya ku sambil mendekati, “mengerjakan sesuatu yang tidak akan kamu pahami” jelasnya dengan santai, dan tersenyum lebar padaku, aku hanya bisa balas tersenyum dengannya, memang benar aku tidak mengerti apa yang dia kerjakannya saat ini.


            Dari balik jendela kamar Arya, dapat terlihat hutan yang begitu lebat dan bayangan gunung di belakangnya, pemandangan disini terasa begitu luas.


            “Apa ini?” Aku menemukan miniatur rubah yang terbuat dari kayu merah, seingatku Arya tidak terlalu suka dengan pajangan, sehingga aku bertanya, “itu sudah ada disini sejak lama,” jawabnya sambil masih saja terpaku dengan laptop, “Arie sudah mengambil beberapa darinya, mungkin yang tersisa itu pengganjal pintu atau semacamnya” jawabnya melanjutkan, masuk akal pikirku, jelas saja Arie akan mengambil, rubah ini sangat lucu dan pembuatanya sangat mendetail, seperti buatan tangan yang handal.


            Setelah melihat rubah ini aku baru sadar, di sela-sela lukisan bunga mataharinya juga terdapat beberapa rubah merah yang tengah bersembunyi, dan di gagang pintunyapun terukir kepala rubah, bahkan di kasurnya terukir rubah merah ini, ternyata kamarnya tidak hanya di penuhi bunga matahari, tapi rubah juga.

__ADS_1


            Selesai sudah aku melihat-lihat, dan hanya di abaikan oleh Arya, aku keluar dari kamarnya, mata ku langsung tertuju dengan tangga melingkar yang menyeramkan, berusaha berdiri tegak sebisanya di ujung lorong, tangga itu tambah menyeramkan lagi dengan satu lampu yang hanya menerangi dari atas, sehingga banyang-bayangnya terlihat semakit besar, sepertinya Lavi terlalu malas untuk memasang lampu di seluruhan sudut ruangan.


            Diriku sudah terlalu lelah, dan rasanya ingin tidur, menghilang di alam mimpi. Berbicara soal mimpi, aku jadi teringat dengan mimpi malam tadi, aku teringat dengan jelas mimpi buruk kemarin yang sangat menakutkan, aku tau itu hanya sebuah bunga tidur, tapi aku takut mimpi itu akan terulang lagi, dan bisa jadi kali ini aku benar-benar tidak bisa keluar, kemarin saja aku dapat bangun karena beruntung, tapi bagaimana jika malam ini tidak.


            Memikirkannya membuat diriku tambah ketakutan, jadi mungkin dengan dongen bahagia akan terbawa kedalam tidurku, dan membawa mimpi indah.


            Aku mengambil beberapa buku, yang kedengarannya menyenangkan, dan tidak terlalu berat untuk di baca, ku bawa kekamar, dengan harapan salah satu cerita dongeng ini dapat membuatku melupakan soal mimpi buruk kemarin.


            Di salah satu buku yang kuambi, di tengah halamannya, terselip sebuah kertas, yang ternyata sebuah peta, seperti peta harta karun yang di buat oleh ana-anak, di dalamnya hanya tergambar garis yang ku tebak sebagai gambar jalan, dan rumah-rumah yang mewakilkan tempat bangunan, mungkin. Aku tidak terlalu memahaminya, di dalamnya terdapat nomor-nomor, sepertinya penjelasan tempat apa itu, tapi sayangnya penjelasan nomor itu tidak bersama petanya.


            Jadi yang ku dapatkan hanya sebuah peta gambaran anak-anak, jam dinding kamarku berbunyi dan mengagetkanku, bunyinya bergema hingga keseluruh ruangan, saling bersahutan samar dengan jam


dikamar yang lain, terdengar langkah kaki yang menuju kamarku.


            Lekas-lekas ku matikan lampu, dan menutup diriku dengan selimut, ini salah satu kebiasaan ayah, dia akan mengecek kami apakah sudah tidur atau belum, dan jika kami ketahuan tidak tidur, habislah sudah dalam ceramah panjangnya, Arya yang paling sering kena, aku berani taruhan dia sudah hafal isi ceramah ayah.


            Setelah langkah kaki itu terdengar menuruni tangga, baru aku dapat bernafas lega, ternyata ada untungnya juga lantai berdenyit ini. Kubuka map kekanakan yang ku temukan, mungkin besok aku dapat menjelajahi sekeliling rumah ini, dan mungkin pergi kehutan, jika cuaca mendukung, serta tidak terlalu dingin untuk keluar.

__ADS_1


__ADS_2