METANOIA, A Wondering Place

METANOIA, A Wondering Place
Episode 18


__ADS_3

Di sampingnya papan nama Crimson Street terpasang, aku tinggal mengikuti jalur itu untuk pulang, atau mungkin aku bisa melihat-lihat danau, lagi pula aku sudah tau jalan pulang, jadi tidak perlu khawatir tersesat.


Kuputuskan untuk berjalan-jalan sebentar lagi, mengikuti jalan yang menunjukan Lust Lake, aku sedikit penasan kenapa danau itu di namai Lust, apakah saking indahnya sehingga memikat semua orang, atau ada cerita di baliknya.


Jauh dari dugaan ku, ternyata jalan ini cukup panjang untuk di lalui penjalan kaki, kini aku merasa cukup lelah, dan berkat jalan berbatu ini, membuat kaki ku sakit, namun aku tetap berusaha berjalan, bisa jadi jarak untuk kembali sama dengan jarak untuk sampai, itu yang ku pikirkan, sehingga tetap melanjutkan perjalanan ini.


Akhirnya aku sampai di sebuah pintu gerbang tua yang seperti mau roboh, di atasnya bertulisan Lust Lake, dengan simbol putri duyung di kedua sisi tulisan, aku pikir ini cukup aneh, bukankah ini danau, dan biasanya  putri duyung hidup di laut, jika mereka ingin memilih simbol gunakan saja ikan, bukannya danau biasa dipakai untuk memancing.


            "Oh, mungkin saja mereka kehabisan simbo ikan" gerutuku.


Aku berjalan melewati gerbang, dan mulai terlihat rumah-rumah kayu yang bersusun, di dirikan di atas rawa. Beberapa darinya terlihat seperti sebuah toko, ada dua atau tiga penginapan kecil di antaranya, dan sebagian lagi terlihat seperti rumah penduduk.


Di ujung jalan terlihat sebuah danau yang sangat luas, di banding indah danau ini terlihat seram, ada kabut tipis di atas airnya yang tenag. Ketika aku sampai di tepi danau, seorang wanita muda


menghampiri ku dan berkata, “kau anak baru? Aku baru pertama kali melihat mu.”


“Aku baru pindah kesini” jawab ku, gadis ini mungkin seumuran denganku, tapi dirinya terlihat lebih dewasa dan cantik.


“Oh, kalau begitu selamat datang!” Serunya dengan senyum manis di wajah, “mau ku antar berkeliling?”


Sebelum aku sempat menjawab, seseorang dengan suara berat menyahut dari belkang kami, dan mengusir gadis itu, dirinya juga tidak melawan dan pergi meninggalkan ku begitu saja.


“Kau akan berterimakasih nantinya,” sahut pria itu, ketika aku melihatnya dengan wajah bingung.


pria itu kembali kemobil yang tadi di naiki, dan menurunkan beberapa alat pancing, yang terlihat sangat besar, mungkin cukup untuk menangkap seekor paus.


“Kenapa kau mengusirnya?” Aku bertanya dengan pria itu.


“Kau pasti baru di sini,” dirinya menyahut tanpa menjawab pertanyaan ku, “tentu saja kau baru, jika tidak, tidak mungkin kau kemari.” Sambungnya lagi, dan berjalan mendahuluiku.


Ku ikuti pria itu, melewati papan kayu di atas rawa, dan kami sampai di sebuah podok kecil, seorang wanita tua dengan badan besar dan rambut yang di balut kain keluar dari balik pintu.


Pria itu menyerahkan sebuah kantong hitam yang dari tadi di tentengnya, kepada wanita itu, “Mama dia orang baru” pria itu memperkenalkan ku, wajahnya seperti menanyakan siapa namaku, “Veda” sahutku.

__ADS_1


“Veda” ulang pria itu kepada ibunya, dan membisikan sesuatu ketelinga ibunya, menurutku dirinya sudah terlalu tua untuk tinggal bersama ibunya, bukankah harusnya dia sudah berkeluarga sekarang.


“Panggil saja aku Mama, semua orang disini memanggilku begitu,” wanita itu terdengar lebih ramah dari pada penampilannya, “katanya kau orang baru” dirinya mempersilahkanku masuk kedalam.


Pondok kecil ini terlihat sangat nyaman, walaupun penuh dengan barang-barang, namun semuanya disusun begitu rapi, di tuntunya aku kesebuah teras, dan mempersilahkan diriku duduk disana.


“Kau tau tempat apa ini?” Suara Mama bertanya kepadaku sambil membawakan segelas teh, dan kue di piring.


“Tidak, aku pikir ini dulunya tempat wisata” sahutku.


“Jawaban mu tidak salah, dulu tempat ini memang objek wisata”


“Apa yang terjadi?” Tanyaku, jelas terjadi sesuatu disini, dan semua orang pasti menyadarinya, hanya dengan melihat gerbang tua di depan jalan.


“Ada sebuah insiden” jawab Mama, matanya seperti menerawang kejadian dahulu kala, “insiden itu menewaskan cukup banyak jiwa, makanya tempat ini jadi seperti sekarang, dulu tidak seperti ini” sambungnya, matanya terlihat sedih, aku tidak bisa membayangkan kejadian apa yang menimpa tempat ini, sampai wajah Mama, terlihat seperti kehilangan seseorang yang bergitu berhaga.


Aku menggenggam tangannya, kemudian Mama balas menggenggam, dan mencium punggung tanganku, mengusapkannya kepipi dengan lembut, “itu sudah lama berlalu, tapi orang-orang masih takut kemari” lanjut mama.


“Dia bisa bicara begitu, tapi tetap tidak berani meninggalkan ku, barang semenit di sini.” Mama berkata ke arahku, menyinggung pria itu dengan tawa kecil di wajahnya.


“Dia putra ku Veda, namanya Milo, mungkin kau bisa memanggilnya paman.” Mama mengenalkan ku padanya, dan aku tersenyum menyapa.


Mama menuangkan teh lagi kecangkir ku, kemudian betanya, “apa kau sudah mendengar kisah tentang danau ini?”


“Belum” sahutku singkat, semoga saja dia akan menceritakannya, aku sangat tertarik pada kisah-kisah masa lalu, entah itu sejarah, ataupun hanya dongeng yang dikisahkan.


“Kamu mau mendengarnya?” Mama bertanya, dan aku mengangguk mengiyakan dengan semangat.


“Perlu kamu ketahui, dulu danau ini sangat indah, walaupun sekarang juga indah, tapi percayalah danau ini


dapat lebih indah lagi” ucap Mama.


“Kau pasti penasaran kenapa namanya Lust, nama yang aneh untuk sebuah danau.” Ucapnya seperti membaca pikiranku, kemudian melanjutkan, “seperti artinya, danau ini dapat menggoda mu” sambungnya lagi, wajahku kini kebingungan, pertanyaan berkumpul di kepalaku, bagaimana sebuah danau yang hanya berisi air

__ADS_1


dan lumpur dapat menggoda seseorang.


Mama tertawa kecil melihat wajahku, “kau pasti bertanya-tanya sekarang” lanjutnya.


“Biar ku ceritakan awalnya”


“Dahulu jauh sebelum desa ini menjadi seperti sekarang, dan danau ini masih di kelilingi hutan di sekitarnya,


tapi walau begitu sudah ada beberapa penduduk yang menempati di sekitar danau ini,” Mama memulai ceritanya.


“Kami menyebutnya penduduk asli, kau dapat membedakannya dari warna kulitnya, yang sedikit kemerahan” lanjut Mama, “mereka tinggal disini, bagaimana mereka hidup, tidak jauh berbeda dengan kita


semua, hanya saja yang membuatnya jadi pusat perhatian, seluruh penduduknya itu wanita.”


“Wanita?” Tanya ku


“Iya, semuanya wanita, tanpa ada pria satupun” sahut Mama.


Aku mulai bingung, dengan ceritanya, sudah pasti ini hanya dongeng yang di ceritakan demi memperkuat kesan danau ini.


“Yang tidak kalah menarik, fakta mengenai mereka, akan menggoda para pendatang, atau penjelajah yang tersesat, dan menyeretmu kedalam danau” paman Milo menambahkan.


“Apa?” aku rasanya tidak salah dengar, menenggelamkan orang katanya.


Mama menepuk kepala Milo, “itu memang benar, singkatnya itu yang mereka lakukan” jelas Mama, kemudian melanjutkan “setelah rumor tentang mereka tersebar, dan banyaknya kasus orang hilang, para penduduk dari desa terdekat, memburu dan mengusir mereka.”


“Tapi rumornya masih ada beberapa yang tinggal di sini, dan berbaur dengan penduduk desa lainnya” paman Milo menambahkan.


“Ya, rumor itu di perkuat lagi dengan insiden dahulu” ucap Mama.


“Apa yang terjadi” aku memberanikan diri bertanya.


“Para wanita penggoda itu kembali lagi, kali itu jumblahnya sangat banyak” jawab Mama, “tidak kalah banyak dengan kami semua.”

__ADS_1


__ADS_2