METANOIA, A Wondering Place

METANOIA, A Wondering Place
Episode 10


__ADS_3

            “Diberikan padaku, ketika aku mengunjungi rumah itu untuk pertama dan terakhir kalinya, wanita itu tidak


mempunyai anak perempuan, maksud dia memberikan ini untuk calon anakku yang akan lahir.” ceritanya terhenti, dan dia berjalan menuju sebuah sofa yang ada di tengah ruangan, kuliat pandangan matanya kembali sandu.


            Dia tidak meneruskan cerinya, dan tanpa di teruskannya, aku dapat menerka, apa yang terjadi dengan anaknya. Aku dudu disampingnya, menggenggam tangannya dan berusaha menghibur, tangannya terasa kasar, seperti tangan seseorang yang telah berkerja begitu keras, dan tercium samar bau selai kacang yang nikmat dari dirinya.


            “Ku berika ini padamu” katanya tiba-tiba.


            “Tidak, aku tidak bisa menerima ini” sahut ku terbata, tapi dia bersih keras.


             “Ini dulunya milik nenek buyutmu, dan sudah saatnya benda ini kembali kepemiliknya,” dirinya balas menggenggam tangan ku dan tersenyum, melihat senyumnya yang tulus, membuatku tidak sanggup untuk menolaknya, dan terasa berat juga untuk menerimanya.


            Dirinya sendiri yang mengatakan, semua benda yang ada disini, memiliki kenangan yang berhaga baginya. Pasti berat, atau mungkin malah melegakan, baginya untuk berpisah dengan kotak perhiasan ini. “Terimakasih,” hanya itu yang dapat ku ucapkan padanya, dalam hati ku berniat akan membalas pemberiannya ini.


            Terdengar lonceng pintu, dan Lavi berada di ambang pintu toko, wajahnya seperti kepanikan “kau disini” katanya, dengan nafas tersendat-sendat, “ibu mencari, ini sudah hampir saatnya makan malam,” katanya setelah menenangkan nafas.


            Aku mengguk dan berdiri, sekali lagi diriku mengucapkan terimakasih, kepada lelaki tua itu, dan berjalan menuju Lavi “kau mencariku?”


            “Sudah sedari tadi.”


            Aku tertawa kecil, melihat wajahnya yang terlihat menahan amarah, dan membiarkannya memimpin jalan, menerobos kerumunan.


            Dari balik kerumunan, aku mulai dapat melihat ibu berdiri di sisi meja, terlihat dirinya mengatur apa saja yang akan di pesan, rambut hitamnya yang bergelombang, terlihat bersinar di bawah lampu warna-warni festival, dirinya terlihat sangat cantik, dan sekilas seperti Lavi, versi perempuan.


            Dirinya menyadari kehadiran kami, dan sepertinya tidak terlihat terlalu senang, memangnya aku sudah menghilang berapa lama? Rasanya aku hanya sebentar ditoko barang antik itu, tidak mungkin sampai satu jam lebih.

__ADS_1


            “Apa yang kamu bawa?” Tanya Arya, yang memperhatikan kotak kayu ditangan ku.


            “Seorang pria tua dari toko antik itu, memberikannya padaku” kuserahkan kotak itu kepadanya, dan wajahnya terlihat cukup kagum pada isinya.


            “Seseorang memberikanmu ini?” Arie ikut menimpali, dan mengambil gelang yang ada di dalamnya, wajahnya terlihat tidak percaya.


            “Kau boleh memiliki salah satu darinya, jika kamu mau” sahut ku.


             “Isinya ada dua buah gelang dan sebuah kalung, jika aku tidak salah, sepertinya kita bisa membaginya” sahut ku, Arya ikut mengambil gelang yang tersisa, diangkatnya dan cahaya lampu festival memantulkan cahaya kemerahan didalam gelang tersebut.


            “Cantik sekali” katanya.


            “Kenapa seseorang memberikan benda secantik ini padamu?” Tanya Arie, sambil membantu Arya memasangkan gelangnya.


            “Kamu bilang dari mana tadi mendapatkannya?” paman tiba-tiba bertanya, rupanya dirinya mendengarkan pembicaraan kami, “dari laki-laki tua yang berkerja di toko barang antik.”


            “Oh, maksud mu paman Liam?” paman memberitahu, sambil menerima pesanan yang di antarkan padanya, “Liam?” itukah nama lelaki tua itu?


             “Ya, itu namanya atau setidaknya, biasa dia di panggil begitu. Alexander Liam vote, bisa di bilang di salah satu yang paling tua dan sehat mendiami desa ini” namanya terdengar setua dan antik seperti dirinya.


            “Paman Liam masih hidup?” ayah ikut bertanya.


             “Masih, dan sangat sehat” paman menjawabnya dengan cepat dan penuh semangat.


            “Jika ada yang ingin kamu ketahui, tentang sejarah desa ini atau dongeng lainnya, dialah orang yang tepat, untuk menceritakaanya padamu” paman menambahkan.

__ADS_1


             “Dulu sewaktu kami masih kecil, kami biasa ketempatnya, hanya untuk mendengar dongeng-dongen tentang desa ini” sahut ayah, wajahnya terlihat senang mengingat masa lalu, yang nampak sangat indah, sepertinya di tempat ini banyak sekali, yang membangkitkan kebahagiannya.


            “Makan” suara Arie di sampingku, sambil mendorong steak daging panggang milik ku yang sudah mulai mendingin, dirinya memang sangat sensitive dengan makanan.


            Sesudah makan, paman membawa kami keseberang jalan, yang katanya tempat itu biasa di gunakan sebagai bioskop terbuka, tapi khusus malam ini, tanah lapang itu disulap sebagai tempat pertunjukan, panggung yang cukup besar di dirikann tepat di depan layar bioskop.


            “Arya, Arie itu sekolahmu” ayah menunjuk kesebuah bangunan, yang terlihat samar dibalik pepohonan, mungkin karena gelap, bangunan itu terlihat suram dan sedikit menakutkan, melihatnya Arya dan Arie tidak nampak terlalu senang.


            Kami mencari tempat duduk diantara para penonton lainnya, paman bercerita pertunjukan ini beragam, semua orang boleh menunjukan bakat apa saja di atas sana, dan kebanyakan yang ikut tampil adalah para anak muda di desa ini, katanya.


            “Pertunjukan ini sudah bermulai dari sore tadi, semakin malam pertunjukannya semakin menarik” jelas paman.


            Dan pertunjukan drama, tentang sejarah desa ini selalu di tampilkan paling akhir, sudah menjadi tradisi di


sini, untuk menampilkan drama tentang sejarah, atau dongeng maupun legenda yang ada. Para tetua merasa itu lebih baik, dari pada cerita percintaan moderen remaja, yang tidak ada habisnya, jadi lebih baik menceritakan legenda, agar cerita itu tidak hilang, dan tentunya dalam legenda juga terdapat cerita cinta, sepertinya itu satu-satunya cara untuk menampilkan drama percintaan.


            Dan drama kali ini bercerita tentang awal dinamakan desa ini, awalnya disini tidak ada apa-apa, hanya hutan yang dipenuhi kabut, begitu yang tertera di cerita.


            Kemudian seorang wanita bangsawan yang penuh ambisi, bernama Alicia Pyre, melihat tanah yang belum ada penguasanya, dirinya ingin menjadikannya sebagai wilayah kekuasaan, wanita itu datang ke pinggir kabut yang sangat tebal, yang saat itu sekaligus menjadi tepi, dari wilayah yang ingin dia kuasai.


            Saking tebalnya, kabut itu seperti dinding yang menjaga wilayahnya sendiri, merasa tidak puas dengan apa yang di dapatnya sekarang, Alicia ingin menguasai apa yang ada di balik kabut tersebut, dirinya berjalan masuk menerobos kabut, yang di ikuti dengan para pengawalnya.


            Di dalam kabut itu dirinya mendengar suara, yang menanyakan siapa dia, dan apa maksud kedatangannya. Alicia itu memberitahukan siapa dirinya, dan maksud kedatangannya, mendengar dirinya ingin menjadikan wilayah tersebut di bawah kekuasaanya, suara misterus itu terdengar marah, kabut semakin menebal dan berputar di sekeliling, hingga memaksa wanita bangsawan itu mundur.


            Tapi Alicia tidak putus asa, di dirikannya sebuah banteng, lengkap dengan menara pengawas, tepat di perbatasan kabut tebal tersebut. Menara itu sangat tinggi dan terus dibangun agar dapat memantau hingga di atas kabut, setiap hari dia selalu berusaha menaklukan kabut yang ada di depannya, dan semua usahanya belum ada yang membuahkan hasil.

__ADS_1


__ADS_2