
Aku teringat dengan rencanaku malam tadi, dan langsung saja pergi kelantai atas, menuju gudang. Melewati tangga melingkar yan bergitu menyeramkan, lagi-lagi berbunyi setiap kali ku injak.
Untung aku dapat sampai ke atas dengan selamat, melihat kondisinya, tangga ini bisa jatuh kapan saja. Langsung aku mengarah keruangan yang kata Lavi adalah gudang, begitu aku membuka pintu, debu-debu langsung berterbangan, dan memenuhi udara di sekitar.
Hidungku langsung memerah, dan bersin-bersin ku kambuh lagi, untung ada jendela pada ruangan ini, jadi ku buka untuk membiarkan udara segar masuk, menenangkan debu yang beterbangan.
Aku masih saja bersin-bersin, walau tidak separah sebelumnya, dan aku tidak mau menghabiskan waktu terlalu lama di dalam sini, jadi aku mulai mencari peta.
Pertama-tama ku cari pada kotak terdekat yang ada, namun hasilnya nihil, dan kemudian beralih ke kotak di sampingnya, dan seterusnya, hingga aku menyerah.
Ku sandarkan tubuhku pada tembok di dekat jendela, sehingga aku tetap bisa menghirup udara segar, saat itu mata ku tertuju pada lemari buku tua, yang berdiri di ujung ruangan, terdapat gulungan-gulungan kertas yang bertumpuk pada rak lemari tersebut, bisa jadi di sana ada peta yang ku cari, aku menyelinap di antara kotak-kotak yang berserakan di lantai, mendekati rak buku tua tersebut.
Gulungan itu ku buka satu-persatu, dan ternyata semua peta, aku sangat beruntung rasanya, hanya saja semuanya terlihat berbeda, padahal peta itu menunjukan tempat yang sama.
Rupanya tahun pembuatannya yang membedakan, sehingga peta itu terlihat berbeda walau sedikit, desa ini terlihat begitu luas pada peta, seperti Kota kecil yang di katakan paman, dan terlihat di perbaharui, serta di petakan hampir setiap tahunnya. Aku tidak ingin membuang waktu di dalam gudang ini lebih lama lagi, hidung ku sudah
semakin memerah, dan mulai terasa sakit, jadi ku ambil saja peta yang kertasnya terlihat paling baru di antara yang lain, kemudian membawanya keluar.
Aku sungguh terkejut ketika melihat Arie muncul dari balik tangga,” apa yang kamu lakukan?” Tanya ku.
“Apa aku harus selalu lapor, apa yang ku lakukan padamu?” Sahutnya, dan aku melewatinya begitu saja, menuruni tangga melingkar yang berdecit.
Di kamar aku mulai mengamati peta itu, menyesuaikannya dengan peta kekanakan yang kutemukan kemarin lusa, peta moderen ini terlihat jebih jelas, dan seluruh jalannya sudah bernama, hanya saja gambar-gambar aneh pada peta kanak-kanak yang kutemukan, tidak ada di sini.
__ADS_1
Kuperkirakan hamparan warna hijau yang berarti hutan inilah, yang menjadi lokasi utamanya, hanya saja tidak di gambarkan, jadi aku menandainya sedikit demi sedikit, dengan perkiraanku saja.
Setelah selesai aku berencana berjalan-jalan kehutan, aku ingin menjelajahinya jauh lebih dalam, dan memetakannya sendiri, kali ini lebih akurat di banding peta kekanakan yang ku temukan.
Aku berdiri di tepi hutan, yang kira-kira 20 meter jauhnya dari belakang rumahku, dari sana mulai kutandai setiap langkahku, ada gari biru tipis, ku rasa itu sungai yang kemarin ku temukan, aku berjalan kearah garis biru itu perlahan, sambil menghitung setiap langkah, agar aku tau perkiraan jaraknya.
Sekitar 150 langkah ku hitung, dan diriku sampai di tepi sungai dengan aliran tenang, dari sini hanya tinggal beberapa langkah lagi aku sampai di tempengan batu, ku tandai di peta nya, dengan gambar titik-titik serta keterangannya, aku memang tidak pandai menggambar, namun dengan begini setidaknya peta ku terlihat sedikit berbeda dengan peta kekanakan itu.
Dari sini aku sudah tau apa yang ada di sisi kananku, tanah lapang yang mungkin saja bekas wilayah perkemahan, yang tidak ku ketahui sisi hutan yang ada di kiriku.
Aku berjalan menyusurinya, mengikuti aliran sungai agar aku tidak tersesat, hingga sampai di persimpangan, rupanya di sini sungai itu terbagi, yang satu menjadi sungai dangkal dengan air tenang, dan satunya lagi mengalir dengan derasnya.
Aku terus bejalan, tetap berpatokan pada sungai tersebut, hingga aku sadari pohon-pohon disini mulai jarang, namun langit masih tertutup dengan dedaunan, ku lihat sekeliling, dan mataku menangkap sebuah pohon besar di balik pepohonan di depanku, saking besarnya dari jarak ku sekarang ini, aku dapat melihatnya dengan jelas.
Aku terkagum melihat pohon sebesar ini masih berdiri hingga sekarang, ku keliling pohon ini dan mengamati setiap selanya, kulitnya mulai di selimuti lumut, dan akarnya yang besar, mencuat keluar dari dalam tanah, hingga membentuk goa-goa kecil di bawahnya.
Terdengar suara melengking ketika aku mengamati goa-goa itu lebih dalam, ku tengok ke arah suara itu berasal, yang ternyata dari burung cantik berbulu biru kemarin.
Dirinya bertengger dengan gagah, di salah satu dahan pohon besar tersebut, mengepakan
sayapnya dan turun, ini pertama kalinya jarak kami sedekat ini, terlihat lebih
jelas lagi keindahan bulunya, dan kilau emas pada bagian bawah tubuhnya yang sangat mempesona.
Rasanya aku ingin menangkapnya dan membawanya pulang, memamerkannya dengan saudara-saudaraku, mungkin bisa ku taruh di sangkar, dan mengurungnya, hingga bulu cantiknya rusak, dan
__ADS_1
kilaunya menghilang.
Itu pikiran jahat yang segera ku hentikan, bisa saja burung ini merasakannya, pernah aku membaca sekilas info yang mengatakan, hewan sebenarnya bisa merasakan aura ataupun niat kita, oleh sebab itu seekor rusa dapat kabur ketika hendak di buru, atau seekor burung yang terbang menjauh ketika kita mendekat.
Aku tentu tidak ingin burung indah ini terbang menjauh, aku masih ingin melihatnya dari dekat, dan menyaksikan bulunya berkilauan setiap kali dia bergerak, walau sedikit, sungguh indah, burung ini dengan latar pohon tua yang sangat besar di belakangnya, seperti sebuah karya lukisan yang melompat keluar.
Burung itu kini terbang menjauh, aku tidak menghentikannya sedikitpun, menyaksikan dia mengepakan sayap dari dekat saja sudah membuatku senang.
Jadi ini pohon besar yang di maksud, pada peta kekanakan yang ku temukan kemarin, ternyata pohonnya memang sangat besar, sehingga aku juga ikut menandainya pada peta yang ku bawa.
Aku duduk sebentar di sana, beristirahat dan menikmati keindahan alam di sekitarku, alunan musik yang di buat oleh angin membuatku mengantuk, namun aku tidak bisa tertidur, aku tidak ingin membuang waktuku sedikitpun.
Dalam lamunan aku mendengar suara langkah kaki di balik pepohonan, saat kulihat asal suaranya, aku tidak menemukan apa-apa, jadi sekalian saja aku berjalan, mengelilingi dan menjelajahi sekitar, sedikit lebih jauh kedalam hutan.
Seekor rubah meloncat diantara rerumputan ,dan berdiri memandangiku, bulu merahnya yang keemasan, mirip dengan lukisan yang ada di kamar Arya, sepertinya rubah ini adalah inspirasinya, mungkin saja di tempat ini ada banyak rubah yang tinggal.
Rubah itu mengikuti ku secara perlahan, namun tetap menjaga jarak, diantara semak-semak rerumputan dan bunga liar, aku biarkan saja dia, sangat jarang bagiku bertemu dengan hewan-hewan liar seperti ini, adalah pengalaman yang berhaga.
Aku terus berjalan, yang tanpa ku sadari sampai di dekat jembatan batu, yang ku temukan kemarin, aku lanjutkan berjalan menyeberangi sungai, karena aku tidak mau menjelajah terlalu jauh lagi, jadi ku ambil rute yang kira-kira dekat dengan pinggiran hutan.
Hutan mulai terlihat menipis dan ujungnya sudah terlihat, tanpa ku sadari, aku sudah berjalan cukup dekat dengan pinggir hutan.
Ku memperhatikan dimana kira-kiranya sekarang ini, sekitarnya tidak ada yang kukenali, jalan ini tidak di aspal seperti jalan desa lainnya, hanya di tumpuk dengan batu kasar.
Aku berjalan terus, mengikuti jalan yang terlihat membesar semakin jauhnya, hingga diriku sampai di persimpangan jalan, ada sebuah papan nama yang mulai luntur, bertulisan Lust Lake menujukan ke jalan yang tadi kulewati, sepertinya ada danau di ujungnya, dan nama yang lucu untuk sebuah danau.
__ADS_1