
Waktu masih menunjukan pukul 10 pagi, dan kami berangkat, semakin cepat semakin baik kata ibu. Aku duduk di tengah, diantara si kembar sedangkan ibu di depan di samping ayah, Lavi ikut truk pengangkut, untuk memastikan mereka tidak salah tujuan.
Sepanjang jalan kebanyakan aku hanya tidur, dan terbangun ketika kami beberapa kali berhenti, untuk mengisi gas, atau untuk makan siang.
Ibu terus menghubungi Lavi, setiap kali kami berhenti. Entah itu untuk menanyakan sudah sampai mana mereka, atau sudah makan atau belum dia.
Tidak ada yang bilang dengan ku, seberapa jauh rumah ini, dan dari cerita mereka, nampaknya dekat dengan Kota.
Tapi percayalah, ini sangat jauh, bahkan lebih jauh, dari yang ku perkirakan. Hingga matahari terbenam, kami masih belum juga sampai ketujuan. Tapi tidak ada yang protes, bahkan Arie sekalipun yang biasanya cerewet, hanya duduk diam saja tidak memprotes, dia seperti sudah menduga jaraknya.
Kali ini kami berhenti lagi untuk makan malam, di salah satu kedai di antah-berantah. Kemanapun aku menengok, tidak terlihat apa-apa, semuanya gelap, yang ada hanya deretan lampu jalan, yang semakin terhalang oleh pepohonan. Arie keluar dari mobil, sesudah susah-payah dibangunkan.
Rambut merahnya yang awalnya tersanggul rapi, kini nampak berantakan, dan kemeja birunya yang mulai kumal dibeberapa lipatan. “Kita makan dulu” kata Arya, sambil memasang topi bisbolnya, dan membuka
kancing kemejanya, memperlihatkan kaos bermotif abtraks dibaliknya, Arie mengikuti sambil berusaha membenarkan sanggul rambutnya.
Didalam kedai, menghadirkan susana yang sangat berbeda, dengan suasana dingin diluar yang terasa asing, disini terasa hangat, dan wanita muda yang melayani kami dengan ramah, “pesanlah yang kalian mau” seru ayah, sambil menyodorkan buku menu.
Aku tidak tau apa yang harus ku pesan, atau makanan apa yang diinginkan perutku saat ini, rasanya perutku sedikit mual, berkat perjalanan jauh ini yang tidak kunjung berakhir. Melihat diriku yang kebingungan, dan mungkin wajah mual ku yang terihat jelas, ibu memesankan ku semangkuk sup jagung hangat.
Tepat sepuluh menit, setelah kami memesan, makanan kami datang. Sup jagung yang ibu pesankan untuk ku, tidak seperti yang kubayangkan, porsi sup ini seperti untuk dua orang, belum lagi isi
didalamnya, yang tidak hanya jagung, tapi juga potongan dadu daging ayam, dan campuran sayuran lainnya.
__ADS_1
Aku masih terdiam, melihat sup dihadapan ku dan kutengok, spageti yang dipesan Arya dan Arie juga tidak kalah banyaknya, tapi mereka tidak terkejut, dan mencoba memakannya, walau dengan keadaan separuh tersadar.
Ayah belum menyentuh makanannya, setelah meneguk kopi hangatnya dia berdiri, berjalan keluar menemui ibu, yang sepertinya sedang berusaha menghubungi Lavi.
“Memangnya, di tempat seperti ini ada sinyalnya.” Kata Arie dengan ketus, tanpa memalingkan pandangannya, dari spageti bertumpuk keju miliknya.
“Ada, tapi sedikit” sahut Arya, setelah mengecek smartphone miliknya yang diletakannya diatas meja.
“Tidak bisa kubayangkan kita akan hidup tanpa sinyal.” Sahut Arie dengan kesal.
“Kalian harus belajar terbiasa” suara ibu terdengar dibelakangku, yang berjalan dari pintu masuk, wajahnya terlihat lebih lega kali ini dari pada sebelumnya.
“Bagaimana Lavi?”
Jika Lavi sudah hampir sampai, itu berarti kita juga, mual di perutku perlahan menghilang, membayangkan perjalanan yang jauh ini akan segera berakhir, dan berkat sup jagung yang menghangatkan. Sup jagung ini sangat enak, dan jika boleh berkomentar, rasanya lebih enak dari pada buatan ibu, yang biasanya dia buatkan ketika aku sakit, sup ini juga cukup kental, memakan separonya saja aku sudah sangat kekenyangan.
Susah payah aku menghabiskan sup ku, dan aku tidak bisa berhenti karena kekenyangan, dengan wajah ibu dan Arie yang memelototi ku, jika tidak menghabiskannya.
Arie seorang pecinta makanan, dan selalu menghabiskan makanan yang diambilnya, baik itu enak atau tidak, dia tetap menghabiskannya, seperti dosa besar baginya jika tidak menghabiskan makanan, dan sepertinya dia juga tidak suka melihat orang yang tidak menghabiskan makanan, tapi anehnya dia tetap memiliki tubuh yang kurus, sama seperti ibu.
Begitu masuk kedalam mobil dan mulai kembali berjalanan, aku tidak bisa tertidur, kali ini aku duduk di samping jendela, sehingga aku tetap terjaga mengawasi bintang-bintang yang bersinar, sinarnya terlihat lebih jelas, dari pada bintang yang ada dikota. Mungkin karena tingkat polusi cahaya disini lebih sedikit, jadi bintang-bintang yang bersinar disini, juga terlihat lebih jelas dan indah.
Tidak terasa aku mulai mengantuk, dengan keadaan jalan yang sunyi dan gelap, aku bermimpi singkat. Lagi-lagi aku berdiri di hutan yang sama, tapi kali ini, hutan ini gelap seperti malam, dan mulai terlihat cahaya-cahaya kecil seperti kunang-kunang, berterbangan di sela-sela rerumputan dan semak, tanpa kusadari, sekelilingku sudah di penuhi kumpulan kunang-kunang, yang hanya pernah aku lihat melalui televise atau dari internet.
__ADS_1
Guncangan mobil saat menaiki jembatan, membangunkan ku dan juga si kembar, di depan kami mulai terlihat, kerlap-kerlip lampu rumah. Aku menduga, disanalah desa yang akan kami tinggali, sekali lagi kami menaiki jembatan yang lebih tinggi dari sebelumnya, sehingga aku mempersiapkan diriku, akan guncangan kasar agar tidak bertambah mual karenanya.
Dari atas jembatan, aku dapat melihat semakin jelas, alun-alun desa yang terlihat germelap. Sungguh cantik
kata ku dalam hati sambil mengaguminya, ayah membawa kami mengelilingi desa sebentar, sebelum akhirnya kami menuju kerumah baru.
Di alun-alun yang kami lewati, terdapat satu buah tiang besar tepat di tengahnya, di tiang itu tertempel
banyak papan nama jalan, masing-masing darinya menunjukan arah yang berbeda, saking banyaknya hingga membuatku kebingungan melihat yang mana, mungkin akan memakan cukup waktu mencari nama jalan di papan itu.
Entah papan nama itu akan membantu, atau hanya akan membuat orang semakin tersesat.
Ayah membawa kami terus menjauhi alun-alun, hingga germelab gesa yang indah mulai tergantikan, menyisakan cahaya lampu jalan yang tertutup pepohonan. Ada sebuah papan nama jalan, bertulisan Crimson Street, sama seperti nama keluarga kami, papan tersebut terlihat menunjuk kesebuah jalan kecil, dengan
pohon-pohon lebat disisinya, berusaha mengambil alih dan dedaunannya yang lebat, menutupi sinar rembulan yang berusaha menerobos masuk, tanpa penerangan sedikitpun, hanya lampu sorot mobil yang menerangi jalan kami.
Sesekali mobil kami terguncang, karena jalannya yang berbatu atau, karena ayah melindas dahan pohon yang tumbang, jalan itu terasa panjang di dalam gelap malam, hingga akhirnya aku melihat setitik cahaya di ujungnya.
Lavi berdiri depan truk yang mengangkut barang kami, terlihat barang-barang kami sudah diturunkan, dan
beberapa perabot besar telah dimasukan. Aku melangkah keluar mobil, melihat rumah yang begitu besarnya dihadapan ku, sekaligus menyeramkan, mungkin jika diberi penerangan sedikit lebih banyak, rumah ini akan indah.
“Kau harus melihat rumah ini ketika siang” kata Arya, begitu dia melihat wajah kagumku, “dan saat pagi, kau harus melihat cahaya matahari menembus kaca hiasnya” sahut Arie yang masih berusaha bangun.
__ADS_1
Ibu memberi isyarat, agar kami mengangkat kotak-kotak yang bisa kami bawa, dan membawa serta koper kami kedalam, sedangkan ayah berbicara sebentar dengan salah satu petugas, dan kemudian membayar mereka.