
“Aku hanya berjalan-jalan di sekitar sini, lalu aku melihat danau, dan bertemu dengan paman Milo” jelasku sesingkat mungkin, menceritakan apa saja yang ku lakukan seharian.
“Kau sudah menjelajah terlalu jauh” Lavi ikut menjawab, wajahnya terlihat tidak terlalu senang akan itu.
“Ada danau di dekat sini?” Arya dan Arie bertanya bersamaan, aku mengangguk menjawab pertanyaan mereka.
“Mungkin kita harus kesana sesekali, memancing mungkin” ayah ikut menanggapi.
“Ya, bisa saja, bukan ide yang buruk, Milo memiliki toko alat pancing, dan rumahnya dekat dengan danau, kita bisa membeli perlengkapan pancing di tokonya” sahut paman Gray
“Itu sempurna, kita bisa sekalian piknik di sana, dan ajak ibu mu, Milo, kita harus segera berkenalan” ibu
ikut menyahut, dirinya terlihat penuh semangat, seperti sudah sangat lama tidak berlibur.
“Aku tidak tau, di danau atau di sungai besar? Gray, kamu tinggal di dekat sungai besar, di sana bukan tempat buruk untuk memancing.” Sahut paman Milo, sepertinya dia masih ada trauma, terhadap insiden danau yang dia ceritakan, “ku dengar seseorang baru saja menangkap ikan besar di sana” sambung paman Milo.
“Bagus, tinggal kita tentukan saja harinya” sahut Lavi.
“Besok? Atau lusa?” paman Gray akhirnya bertanya, “lusa saja, jadi besok kita bisa menyiapkan semuanya,
__ADS_1
perbekalan, alat pancing, dan sebagainya” sahut ibu, yang sudah menyusun apa saja yang mungkin di perlukan.
“Baiklah, lusa kita akan pergi memancing, di tempat Gray” ayah menyimpulkan, dan tersusunlah rencana untuk kerumah paman Gray besok lusa.
Setelah makan malam paman Gray dan Milo berpamitan, aku sekali lagi berterimakasih padanya, yang sudah mengantarkan ku.
Aku naik kelantai atas, Jack-Jack dari tadi terus mengikuti, kemanapun aku pergi, aku berhenti di depan susunan buku sepanjang tembok, memperhatikan punggung bukunya satu persatu, mungkin saja ada cerita menyenangkan yang dapat ku baca sebelum tidur.
Mata ku menangkap satu judul ‘kumpulkan dongen Metanoia’ tulisannya mulai terkelupas pada salah satu punggung buku, di sampingnya ada lagi beberapa buku yang berjudul ‘Lust Lake’ tulisannya juga sudah hampir menghilang, di atas sampul yang mulai terkelupas, dan beberapa buku disampingnya bertulisan dongen atau sejarah pada cover depan.
Semua itu aku ambil, dan bawa ke kamar, ku letakan buku-buku itu di atas kasur, mengamati sampulnya yang pudar dengan perlahan, kertas-kertasnya sudah mulai menguning, dan beberapa halaman ada yang hilang, di robek atau di makan rayap.
Jelas buku ini sangat tua, baunya lembab, seperti sudah sangat lama di simpan, tidak di tuliskan siapa pembuatnya dan tahun penulisan. Di dalamnya hanya ada tulisan tangan yang mengatakan, ‘untuk anak dan cucuku’ tulisan itu berbunyi, sepertinya buku ini di berikan kepada generasi ke generasi, agar mereka mengetahui sejarah tempat kelahirannya.
Kertasnya sama dengan buku yang lain, sudah menguning, saking tuanya buku ini, dan cukup kumal, seperti sudah bi baca berkali-kali, oleh orang yang berbeda-beda, terlihat di pinggiran halamannya, terdapat tulisan tangan seseorang, yang masing-masing meninggalkan jejak, seperti sebuah catatan yang berhasil mereka temukan.
Di awal Bab, disini di ceritakan awal di temukannya danau tersebut, ceritanya tidak jauh berbeda dengan yang Mama ceritakan. Aku teringat dengan drama yang kemarin ku tonton, katanya setelah kabut itu runtuh barulah danau ini di temukan, dan di sana ternyata sudah di ada yang mendiami, para wanita yang mama ceritakan, awalnya para penduduk biasa saja, mereka menyambut dan menerima kehadirannya, saat itu lokasi danaunya masih cukup jauh dari lokasi tinggal warga, jadi sangat jarang mereka saling bertemu, hanya beberapa kali saat di pasar, atau jika ada penduduk desa yang pergi memancing kesana.
__ADS_1
Tapi tidak lama setelahnya, orang-orang yang pergi memancing kedanau itu, terkadang tidak pernah pulang, semakin lama kejadiannya semakin sering, dan terus berulang, timbulah kecurigaan oleh orang-orang desa, mereka awalnya menanyai dan melakukan penyelidikan, pada penduduk di sekitar danau, namun tidak di temukan petunjuk apa-pun.
Hanry seorang pemburu yang saat itu sedang menetap di desa, Hanry bisa di bilang seorang pemburu yang cukup handal, setiap kali dia pergi berburu, dirinya selalu pulang dengan membawa sesuatu, entah itu rubah, atau bahkan rusa.
Namun sayangnya dirinya seorang pemabuk berat, satu-satunya orang yang dapat menahan Hanry untuk minuman, adalah adik laki-laki satu-satunya, yang selalu di ajaknya kemanapun dia pergi.
Berdeda dengannya, Eli adiknya, tidak terlalu ahli dalam berburu, namun dirinya sangat pandai berbicara, dialah yang membuat buruan Hanry selalu laku di pasaran, dan berkat keahliannya itu Eli cukup di kenal oleh penduduk desa, sebagai pemuda yang ramah. Selain itu Eli juga popular di kalangan para gadis, karena wajahnya yang tampan dan keramahannya, wajar jika banyak yang mengidolakan dirinya, tentunya Hanry tidak kalah tampannya dengan adiknya, hanya saja sifatnya yang cenderung kasar dan kebiasannya mabuk, membuatnya kurang di minati, dan orang-orang selalu berusaha menjaga jarak dengannya.
Walau begitu Eli sama-sekali tidak tertarik menjalin hubungan dengan gadis manapun, dirinya beranggapan untuk selalu menjaga kakanya, dan dia rasa sudah tidak punya cukup waktu untuk itu. Saat itu aku membayangkan bagaimana sosok Eli, seorang pemuda yang ramah, mungkin rambut pirang akan cocok dengannya, dan mata biru yang pas dengan wajah tampannya yang ramah.
Hingga suatu hari, teman-temannya mengajak Eli untuk ikut memancing, ke danau, awalnya dia merasa enggan untuk meninggalkan kakanya sendiran, namun teman-temannya terus membujuknya, “pergilah, lagi pula
hari ini aku tidak kemana-mana, kau tidak perlu khawatir” kata Hanry kepada adiknya, mendengar itu, perasaan tidak enak Eli langsung lenyap.
Mereka pergi memancing keesokan paginya, dan pulang dengan membawa begitu banyak ikan, melihat hasil yang dapat mereka peroleh, hanya dalam satu hari, membuat Eli dan teman-temanya kembali lagi besok. Walau ada rumor mengenai orang-orang yang hilang di danau, rumor itu mereka hiraukan saja, di tambah Hanry yang sesekali ikut, untuk memastikan keselamatan adiknya, membuat Eli dan teman-temannya sama sekali tidak merasa takut.
Mengingat tumpukan ikan yang berhasil mereka tangkap, menurutnya itu sepadan, dengan rasa khawatir mereka yang berujung percuma, lagi pula rumor itu tidak terbukti benar, dan berkat rumor itu juga, orang-orang jadi jarang menangkap ikan ke sana, membuat ikan-ikannya lebih mudah di tangkap, beberapa dari ikan itu mereka jual, dan beberapa lagi di simpan untuk diri sendiri, rutinitas itu terus berlangsung.
Satu hal yang tidak Eli dan teman-temannya ketahui, mereka sebenanya sedang diawasi, para penduduk sekitar danau memang terkenal ramah, dan lagi mereka sangat di kenal dengan kecantikannya.
__ADS_1
Seorang gadis akhirnya memberanikan diri mendekari Eli, gadis itu dengan malu-malu memperkenalkan dirinya, namanya Cora, gadis itu sanggat cantik, mata dan rambutnya hitam pekat, bibirnya mengkilap di atas kulit merahnya.
Cora gadis yang sangat ramah, dan baik hati, hingga Eli sendiripun luluh terhadapnya, Cora memperkenalkan beberapa temannya kepada teman-teman Eli. Setiap kali Eli dan teman-temannya pergi memancing, Cora dan teman-temannya pun selalu menyambut mereka.