
Hubungan Eli dan Cora berlangsung beberapa saat, tanpa di ketahui kakanya, satu hari Hanry tidak ikut dengan adiknya, dan kejadian yang sangat dia takutkan akhirnya terjadi, hari itu Eli tidak pulang kerumah, ditunggunya hingga malam, tetap saja Eli tidak ada, di singkirkannya pikiran-pikiran buruk yang muncul, hingga keesokan paginya, tetap tidak ada tanda-tanda Eli.
Hanry segera mencarinya, semua orang dia tanyai, namun tidak ada yang mengetahui, dimana Eli atau teman-temannya yang lain, hingga di carinya ke danau tempat mereka biasa memancing, namun tetap sama, tidak ada apa-apa disana, siapa saja yang di tanyainya tidak ada yang tau, bahkan tidak mengenal adiknya.
Dirinya bingung, kemana lagi harus mencari, sudah beberapa hari tanpa adanya jawaban, kini wajah Eli terpampang di papan pengumuman orang hilang, Hanry merasa sangat bersalah, telah membiarkan adiknya pergi sendirian, sesuatu yang tidak di ketahuinya telah terjadi.
Tanpa adanya Eli disampingnya, tidak ada yang menghentikan Hanry untuk minum sepuasnya, dirinya menjadi lebih kacau dari sebelumnya, Hanry tenggelam dalam keputus asaan, dia sudah tidak lagi pergi berburu, yang dilakukannya hanya makan, tidur, dan minum-minum hingga mabuk.
Hingga akhinya dia pergi memancing, ke danau yang biasanya, dalam hati Hanry merasa ingin ikut menghilang seperti adiknya, dia pasrah, dan membiarkan perahunya terombang-ambing, membawanya ke ujung danau.
Dalam keadaan mabuk, mata yang berkunang-kunang, dilihatnya sesosok wanita yang keluar dari dalam air,
rambut hitamnya kontras dengan air danau, setengah badan wanita itu, tidak seperti orang pada umumnya, tidak ada sepasang kaki, wanita itu merayap keluar dari danau, ekor ikannya menggeliat diatas tanah, mendorong tubuhnya naik ke permukaan, hingga menghilang di balik rumput tinggi yang menutupi.
Hanry berusaha memfokuskan penglihatan, di gosoknya matanya hingga memerah, dari balik rerumputan itu, muncul seorang gadis, dengan rambut hitam panjang yang sama, hanya saja kali ini terlihat sepasang kaki manusia, mata mereka bertemu, membuat sekujur tubuh Hanry merinding.
Walau dirinya dalam keadaan mabuk, dia dapat membedakan yang mana nyata dan tidak, dan kali ini Hanry sangat yakin dengan apa yang dia lihat, segera di dayungnya perahu hingga menuju tepi danau, Hanry berlari sangat kencang menuju bar, dimana semua orang selalu berkumpil.
__ADS_1
Di informasikannya pada semua orang apa yang dia liat, semuanya terdiam, dan mulai mengetawakan Hanry, yang dengan mabuk masuk kedalam bar, menceritakan cerita konyol.
Akhirnya tidak ada yang percaya, Hanry pulang dengan marah, dirinya sangat ingin menghajar semua orang yang ada di dalam bar, manun niat itu di urungkannya, ketika teringat adiknya.
Dalam perjalanan pulang, Hanry berpikir bagaimana cara membuat semua orang percaya, di lihatnya senjata yang biasa dia pakai berburu, terpajang di tembok rumahnya, mulai di tutupi debu, saking lamanya tidak dia senituh, ide-ide mulai muncul di pikirannya, “orang-orang tidak akan percaya tanpa ada bukti” ucapnya, dan mulai saat itu, dirinya mulai bertekat untuk membawakan bukti, kepada orang-orang yang tidak mempercayainya.
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Hanry sudah pergi, menuju danau, dirinya tidak berniat untuk memancing, diambilnya jalan memutar, mewati rawa-rawa, di balik semak Hanry menunggu dengan sabar, hingga ada salah satu makhluk itu yang lengah.
Hanry sudah duduk disana seharian, dan sebentar lagi matahari akan terbenam, tapi tidak ada yang dia temukan, untuk pertamaka kalinya setelah sekian lama, Hanry pulang berburu tanpa membawa
Tapi semangatnya tidak luntur begitu saja, keesokan harinya dia kembali lagi dan lagi, Hanry terus berpindah-pindah tempat persembuan, siapa tau mangsanya akan muncul di tempat lain, namun dirinya tetap tidak menemukan apa-apa, bahkan untuk jejak kecil saja tidak ada. Sudah hampir sebulan, Hanry tidak juga menyerah, hingga semua orang menertawakannya, dan memangilnya Hanry si gila.
Hari itu mendung, langit seperti akan runtuh, dan badai terlihat akan datang, tapi itu tidak menghentikan Hanry, untuk melanjutkan buruannya. Saat Hanry baru saja sampai di dekat danau, hujan sudah mulai turun, rawa-rawa tidak lama lagi akan di penuhi air, dan tidak mungkin untuk bersembunyi di sana, Hanry merasa putus asa saat itu, mungkin ini buruannya yang terakhit.
Setengah putus asa, Hanry memutuskan untuk mengambil sebuah perahu dayung, yang biasa di gunakan Eli dan teman-temannya memancing, di tengah hujan, dia duduk termenung, mengambang di tengah danau yang semakin menghitam.
Hujan makin deras, tapi Hanry sama sekali tidak ada niatan untuk menepi dan berteduh, di keluarkannya air yang tertampung dengan malas, pikirnya “biarkan saja, aku sekalian menghilang seperti adiku kali ini.”
__ADS_1
Di bawah derasnya hujan yang turun, dan suara angin yang kencang, terdengar nyanyian yang sama, walaupun sudah lama tidak berburu, namun indranya tetap tajam, langkah kaki kecil kelincipun, dapat di dengarnya dengan jelas, kali ini sebuah nyanyian sayup-sayup terdengar. Di carinya asal suara tersebut, dan matanya tertuju dengan bayangan hitam yang muncul dari dalam air, hujan yang deras membuatnya tidak dapat melihat dengan
jelas, namun Hanry tetap waspada, bisa saja itu mahkluk menyeramkan yang dia lihat kemarin.
Di genggamnya senapan dengan erat, dan dalam posisi siap Hanry terus memperhatikan makhluk itu, kapan saja dia dapat menembakan senjatanya, dan membunuh monster yang ada di hadapan, tapi Hanry menunggu, dirinya ingin memastikan apa yang dia lihat terlebih dahulu.
Sosok itu menghilang, tenggelam di dalam air danau, yang tidak kalah hitam dengan bayangan yang dia lihat, Hanry tetap waspada, tidak sedikitpun di turunkannya senjata di genggaman, matanya mencari-cari ke seluruh permukaan danau, hingga semunya sunyi, hanya ada bunyi angin dan hujan yang memenuhi, air danau tiba-tiba tenang, walau tau diatasnya ada badai.
Tiba-tiba matanya berhasil menangkap pergerakan di bawah air, yang mendekati perahunya dengan cepat, Hanry segera menarik pelatuk senapannya, namun meleset, kini makhluk itu ada di bawah perahunya, dan goncangan kuat menggoyangkan perahu, seperti sudah menabrak sesuatu begitu kuat.
Goncangan itu membuat Hanry tercebur, kedalam air danau yang dingin, senapannya menghilang dari gengamannya, Hanry berusaha kembali ke perahu, namun sesuatu tiba-tiba menarik kakinya, menenggelamkannya dengan sangat cepat menuju dasar danau. Hanry berusaha melawan, namun percuma, kini paru-parunya di penuhi air, sesaat sebelum dirinya kehabisan nafas, Hanry melakukan percobaat terakhir, diambilnya sebilah pisau belati
yang dari tadi dia simpan, air danau yang gelap, membuat Hanry tidak bisa melihat targetnya dengan jelas, di arahkannya belati ke pergelangan kaki, di tebaskannya secara acak, walau dirinya mungkin saja ikut terluka, tapi resiko itu dia ambil.
Akhirnya cengkraman yang menarik kakinya berakhir, dan Hanry dapat berenang kepermukaan, apa yang terjadi di permukaan danau, jauh berbeda dengan di dalamnya, di dalam danau airnya terasa tenang, seperti tidak ada badai di atasnya.
Hanry berusaha mencapi perahu, dan menaikan badan, namun sekali lagi, ada yang berusaha menariknya, di tendangnya sekuat mungkin, hingga makhluk itu melepaskan cengkramannya. Sebagian senjatanya kini telah hilang, mungkin ikut tercebur bersama dengan Hanry tadi, yang tersisa kini hanya sebuah tombak tua yang tertinggal di perahu, sudah lama tidak di gunakan, hingga di penuhi karat.
__ADS_1