METANOIA, A Wondering Place

METANOIA, A Wondering Place
Episode 4


__ADS_3

“Bagaimana jika kalian bermalam barang semalam disini dulu?” seru ibu kepada para petugas yang membantu mengangkut barang kami, sambil menghampiri ayah.


“Itu bukan ide yang buruk, jarak dari sini kekota cukup jauh” sahut ayah dengan spontan, baru kali ini, ada yang menyebutkan jarak sebenarnya tempat ini, dan tidak berpura-pura dekat.


Kudapati salah satu dari petugas melirik kearah Arie atau Arya yang terlihat mirip, sedang mengangkat kotak mereka, dalam hatiku aku berkata, itu pasti hal wajar dan pasti terjadi, tapi sebelum terlalu lama dia memperhatikan, Lavi menyadarinya dan memberikan tatapan marah yang terlihat cukup menyeramkan, bahkan bagi ku, laki-laki itu lekas memalingkan pandangannya.


Aku berusaha menahan tawa, melihat reaksinya dan melangkah masuk, sepertinya setelah itu mereka tidak akan menginap disini. Setiap anak tangga yang kuinjak, membunyikan bunyi yang berbeda, dan teras depannya yang begitu luas, berbunyi gemericit kayu tua setiap aku melangkahkan kaki, sepertinya tidak mungkin berjalan diam-diam tanpa ketahuan dirumah ini, “kamar mu di atas” kata ibu sambil melewati ku, dengan membawa tumpukan kotak ditangannya.


Ada sebuah tangga yang berdiri melengkung dengan indahnya, begitu aku memasuki rumah itu, pada gagangnya terukir bentuk-bentuk yang menyerupai tanaman merambat, lengkap dengan bunganya, sesekali anak tangganya bebunyi gemericit, ketika ku injak.


Sesampainya ku diujung anak tanggga, terdapat lantai kosong yang mengitari ruang utama rumah, seperti balkon dan dipagari ukiran kayu yang senada, dengan ukiran pada pagar tangga.


Ruang itu berbentuk segidelapan, jika aku tidak salah hitung, setiap pertemuan sisinya, dihiasi jendela besar


dengan kaca warna-warni, mungkin ini yang maksud Arie tentang kaca hiasnya yang begitu indah, bahkan cahaya rembulan saat ini saja sudah memberikan pantulan samar warna yang indah.


Di sepanjang temboknya, terdapat rak buku yang dipenuhi buku-buku tua, dan berdebu. Ku susuri tembok itu, sambil memperhatikan judul pada punggung buku yang sudah mulai memudar, hingga aku dihadapkan satu lukisan besar, seorang wanita.


“Mungkin dia nenek buyut kita” sahut Lavi dari belakangku, yang ikut memperhatikan dengan tumpukan kotak besar ditangannya, nyataris lebih tinggi dari kepalanya, sehingga dia harus memiringkan badannya untuk melihat.


“Dia terlihat lebih muda” sahut ku, wanita itu mungkin seumuran dengan Lavi saat ini, atau sedikit lebih tua, “saat zaman itu kau bisa terbilang tua” sahut Arya sambil tertawa kecil dari belakang Lavi.


“Bellatrix Crimson, yap, dia nenek buyut kita” Arya membaca tulisan, pada bawah lukisan tersebut. “Dia terlihat cantik” kataku pelan, kemudian memalingkan muka ku menghadap Arie.


“Dia agak mirip dengan mu” komentar ku sambil memperhatikan Arie, Arie mengerutkan keningnya.

__ADS_1


“Tidak mungkin” sahutnya.


“Jika dilihat-lihat, memang agak mirip” kata Lavi sambil tertawa kecil, yang membuat wajah Arie memerah marah, dan kemudian Arya ikut tertawa, yang membuatnya tambah marah.


“Jika dia mirip denganku, itu berarti juga mirip denganmu” sahutnya, sambil menyilangkan tangan dan menatap Arya yang masih saja tertawa.


Aku dan Lavi melangkah menjauh, sebelum kami terkena amarahnya juga, kulirik Lavi ketika dia menunjukan sebuah pintu, disebelah kanan kami, “kamarmu” katanya sambil masih saja tertawa.


Kulihat dia memasuki kamar yang berada disebrang ku, dan ada dua pintu lagi disebelah kamarku dan Lavi, mungkin itu kamar sikembar, pikirku sebelum masuk keruangan dibalik pintu tersebut.


Kamar itu sangat besar, kira-kira dua kali kamarku yang lama, kasur tua dengan dipan penuh ukiran, berada ditengah kamar tersebut, dan rak buku besar dengan ukiran yang senada.


Kuletakan koperku diatas meja bundar, didepan jendela besar yang mengarah langsung kehutan diluar sana, dan sedikit gemerlap desa yang terlihat. Ku berjalan mengamati kamar itu pelan, semuanya dibuat dengan sangat hati-hati dan indah, bahkan ukiran mawar, pada gagang pintunyapun dibuat dengan detail yang luar biasa.


pintu utama. Aku berjalan mendekatinya dengan perlahan, semakin terlihat ukiran tanaman merambat pada pintu tersebut, dan bunga mawar pada gagangnya.


Arie berdiri di depan pintu yang kubuka, rupanya dia yang mengetuk pintu ini dari tadi, dan hampir membuatku ketakutan.


“Oh jadi kamar kita terhubung” sahutnya sambil berjalan melewatiku, dan melihat-lihat isi kamar ku.


“Ini kamar mandi?” kata ku, begitu menyadari ruangan dibalik pintu tersebut, kamar mandi ini nyaris sama ukurannya dengan kamarku sebelumnya.


Bak mandi besar terbuat dari kramik berwarna putih porselin, dengan kayu jati yang diukir pada kakinya,


“mengagumkan bukan” seru Arie dari kamar ku, yang terlihat sedang membandingkan sesuatu.

__ADS_1


“Ini kamar mu?” aku melangkah masuk melewati pintu di depan ku.


Kamar Arie memiliki tiga jendela, dua jendela di sudutnya, dengan meja bundar lengkap dengan kursinya, sepertinya mirip dengan yang ada dikamarku, dan satu lagi di samping tempat tidur.


“Kamarmu di penuhi dengan mawar” seru Arie, sedikit berteriak dari kamarku, “memangnya kamarmu tidak?” kataku dengan sedikit bingung.


“Tidak, kamarku penuh dengan rusa” katanya dengan santai sambil menghampiriku, baru ku perhatikan dan ternyata benar, kamarnya dipenuhi dengan ukiran, serta lukisan rusa pada langit-langit


kamarnya.


“Bahkan sampai ke gagang pintunya” katanya, memperlihatkan gagang pintu yang berbentuk seperti kepala rusa, dengan tanduk yang sangat indah.


“Ini kamar rusa kutup,” suara ibu memecahkan keheningan yang sempat menguasai ruangan, “rusa kutup?” ulangku sambil kebingungan, “mungkin itu namanya” sahut Arie, sambil menjatuhkan badan kekasurnya dan membuat debu-debu bertebangan.


Bersin-bersin ku mulai lagi, seolah otomatis datang begitu bertemu debu, ibu terlihat marah, dan menarik lengan Arie untuk membangunkannya, “lebih baik kau ganti dahulu” sambil menyerahkan alas kasur dan selimput baru kepada kami berdua, kemudian meninggalkan ruangan.


Aku kembali kekamarku, dan segera mengganti alas kasur yang berdebu dengan hati-hati, agar debunya tidak berterbangan, dan membuatku semakin bersin, tapi tetap saja aku bersin, walau sudah sangat berhati-hati.


Akhirnya selesai, kulihat jam pada smartphone ku, sudah hampir menunjukan pukul 12 malam, rasaya sudah terlalu malam dan dingin untuk mandi. Ketukan terdengar dari arah kamar mandi, “aku menggunakan kamar mandinya” seru Arie dari balik pintu, menambah alasan ku untuk tidak jadi mandi malam, dan hanya mengganti baju, dengan piama sekaligus memindahkan pakaianku, didalam koper ke lemari yang berdecit begitu aku membuka


pintunya.


Rumah ini luar biasa pikirku sambil  berbaring dan berusaha tidur diatas kasur berhias yang sangat indah, tidak kusangka aku dapat merasakan tinggal dirumah yang seperti ini.


Lagi-lagi aku melihat mimpi yang sama, ada yang aneh tentang ini, bagaimana bisa aku bermimpi ditempat yang sama berulang kali. Ya, walaupun tidak berturut-turut, tetap saja ini aneh.

__ADS_1


__ADS_2