
“Asaga kau berteriak kencang sekali.”
Suara samar yang akhirnya mulai terdengar, mengusir kesunyian ngeri yang kurasakan, rupanya Arie dari tadi membangunkan ku, menggoyangkan bahu ku, mengguncang tubuh ku.
Bahkan hingga aku tersadar dia masih saja menggoyangkan bahu ku, “aku bangun” seruku, sambil berusaha menegakan badan, memulihkan penglihatanku dan menyesuaikan dengan silau mentari yang sudah memenuhi kamar ku.
“Ini jam berapa?”
“Sudah hampir siang.”
“Hampir?”
“Ya, sudah jam 11, ibu menyuruh ku membangunkan mu.”
“Lebih baik kamu mandi dahulu sebelum turun,” Sahut Arya yang baru kusadari keberadaanya di samping ku, duduk dengan manis dan tenang di sisi kasur ku.
“Kau sangat berkeriang.” Keluh Arie sambil menyapukan tangannya keselimut ku.
“Bilang ibu aku akan segera turun” sahut ku, sambil mengusap mata dan menurunan kaki ku dari kasur.
Mereka berdua keluar dari kamarku, setelah menyelesaikan tugas yang di berikan ibu, membangunkan ku.
Bagaimana bisa aku tidur sepanjang pagi, dan baru bangun sekang. Badanku terasa lelah dan lengket, mungkin aku memang harus mandi, aku berjalan sambil mengantuk dan berhenti di depan meja rias, di cerminnya memantulkan wajahku dengan mata bengkak, seperti habis menangis.
“Apa aku menangis saat tidur?” pikir ku sambil memperhatikan setiap sudut wajahku, dan menepuk-nepuk pipiku. Mata ku bengkak, dan bintik-bintik di wajahku terlihat semakin jelas setiap harinya.
Ku alihkan pandangan ku, memperhatikan meja rias itu, penuh ukiran bunga mawar yang senada dengan
prabotan lainnya. “Kira-kira kamar ini dinamai apa?” Pertanyaan tidak penting yang membuatku penasaran muncul dibenak ku “Mungkin kamar mawar, atau yang lainnya,” gunam ku sambil memperhatikan sekitar.
Baru terlihat jelas kamar ini ketika siang hari, dengan sinar penuh matahari yang masuk kedalam, membuat kamar ini terliat lebih jelas, di setiap sudutnya.
Di bandingkan malam, penerangan seadanya yang di pasang ayah, membuatku tidak bisa melihat jelas keadaan kamar ini. Ternyata kamar ini lumayan juga, mungkin lebih bagus dari lumayan, kamar tua dengan gaya Victorian, cat tembok yang nampak seperti lukisan mulai memudar dibeberapa sisi, tapi masih saja memperlihatkan wujudnya, lagi-lagi mawar.
Aku memutar kepala ku memperhatikan setiap sudut yang terlewatkan ketika malam, hingga pemperhatikan
langit-langitnya yang berwarna merah maroon, dengan lukisan bunga mawar bertumpuk, memenuhi langit-langit, “sangat indah” gunamku.
__ADS_1
Ku membuka kamar mandi dan merasakan dingin pada lantai marmernya, berjinjit ku berjalan dan merendamkan tubuhku di dalam badtub, berisikan air panas yang uapnya mengepul-ngepul di antara udara dingin.
Ku biarkan air segar membasuh tubuh ku, dan tenggelam dalam segarnya. Di sampingku berdiri jendela besar dengan kaca warna-warni, membiarkan cahaya bewarna pelangi menembusnya, tepat jatuh di tubuhku rasanya seperti mandi dengan pancaran pelangi.
Ku kenakan dress putih berbahan cipon yang pernah ibu buatkan tahun lalu untuk ku, dengan swetter lengan panjang bewarna kuning cerah, udara di sini cukup dingin, bahkan saat siang hari, pintu kamar berdenyit ketika aku membukanya.
Lavi lewat di depan ku dan mundur beberapa langkah, dia terlihat membawa sekotak lampu baru di tangannya, “kau keberatan jika nanti aku masuk kamar mu dan mengganti beberapa lampu?” katanya.
“Tidak, masuk saja.”
“Ok, baiklah, setelah kamar si kembar aku akan kekamar mu.”
Di meneruskan langkahnya dan menghilang diambang pintu kamar Arya, terkadang aku berpikir, apa dia tidak merasa lelah, bahkan sebelum pindah kesini dia sudah disibukan dengan berbagai hal.
Aku melambatkan langkah ku ketika melewati lukisan nenek buyut, rambut merah, mata hijau, mirip dengan ku dan si kembar, ku perhatikan namanya yang mulai memudar dibawah lukisan. Wanita ini yang dulunya tinggal di rumah ini, mungkin dia juga yang membangunnya, pikiranku untuk sesaat dipenuhi tentang dirinya.
Decit tangga membangunkan ku dari lamunan, mungkin tangga ini bisa runtuh jika aku salah langkah, sesampainya ku di bawah, ada seorang lelaki paruh baya berdiri diambang pintu, mungkin seumuran ayah.
“Veda!” Dirinya menyerukan nama ku sambil memeluk ku.
“Kamu mungkin tidak mengenaliku, waktu itu kau masih sangat kecil, aku paman mu.” Ucapnya sambil melapaskan pelukan kencangnya, aku masih saja bingung, sambil mengingat-ingat.
“sekarang dimana ayah mu?” lanjutnya lagi sebelum sempat aku menjawab.
“Gray!” suara ayah terdengar dari atas anak tangga, berjalan dengan cepat menuruninya, sehingga tangga tersebut berbunyi seperti denting piano yang sudah lama tidak di pakai, dia seolah tidak peduli, atau takut dengan keadaan tangga yang kapan saja bisa runtuh.
“Will!” seru paman, dan segera memeluknya ketika ayah mencapai dasar tangga.
“Lama tidak bertemu, bagaimana kabarmu?”
“Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja.” Sahut paman dan memeluk ayah lagi.
“Benar-benar merindukanmu,” ayah balik memeluknya dan bertanya, “mana ayah? Apa dia ikut?”
“Beliau ada di mobil, aku hendak meminta bantuan mu atau Lavi untuk memindahkannya kekursi roda.”
Ayah menepuk pundah paman, dan berjalan menuju mobil mereka di luar sana, sementara paman mengikutinya dari belakang. Tidak lama ayah kembali lagi dari ambang pintu, dengan seorang kake tua di atas kuris roda.
__ADS_1
“Veda, ini kakemu.” ayah mengenalkannya pada ku, untuk pertama kalinya dalam ingatanku, bertemu dengannya.
“Mendekatlah, agar dia bisa melihat mu lebih jelas.” ucap paman dengan santai dan lembut, aku
mendekatinya dengan perlahan, sambil memperhatikannya. Rambut merahnya yang mulai di tutupi uban, mata hijaunya yang sayu.
Laki-laki itu tersenyum pada ku, “halo nak, siapa nama mu?” suaranya pelan, sambil mengulurkan tangannya dan meraih tanganku, “Veda” sahutku.
“Dia cucumu” paman berbisik ketelinganya, laki-laki tua itu tambah tersenyum kegirangan mengar ucapannya.
Di tengah pertemuan haru itu, ibu muncul dari lorong yang belum ku ketahui mengarah kemana, tangannya sambil mengaduk adonan kue di mangkuk biru yang di pegangnya.
“Hellen!” seru paman dengan gembira sambil menghampiri dan memeluknya, sama seperti aku tadi.
Kami menghampiri mereka, dengan ayah yang mendorongkan kake, yang tangannya masih saja mengenggam tangan ku.
“Lama tidak bertemu”
“Sangat lama.” ibu tersenyum sambil menyahutnya.
“kake eden!” ibu menyerahkan adonan kue di tangannya kepada Arya yang baru saja menyusulnya, dan memeluk kake, dirinya terlihat lebih senang ketika bertemu dengan kake, “senang bertemu kembali” bisik ibu,
dengan lembut di telinganya.
“Siapa mereka?” suara bisikan Arie terdengar di belakang Arya.
“Dia kakek dan paman mu.” ayah mengenalkan mereka dengan cepat dan jelas, mereka beruntung tidak berkenalan seperti aku tadi, paman memeluk sangat erat seperti memeluk anak kecil gempal, sayangnya tubuhku yang kurus membuat tulang-tulangku saling bersentuhan.
Wajah si kembar masih kebingungan sama seperti wajah ku tadi, keluarga yang belum pernah kami temui sebelumnya, tiba-tiba muncul dan mengaku di depanmu, bayangkan betapa membingungkan dan mencurigakannya itu, untung kami bukan keluarga kaya raya, jadi tidak perlu terlalu curiga dengannya, karna tidak ada harta yang bisa di keruknya, tapi melihat ibu dan ayah yang sangat akrab dengan paman dan kake, sepertinya kami memang berkeluarga, hanya saja aku belum bertemu dengannya.
“Mari, aku sedang memanggang kue, dan membuat makan siang.”
Ibu menuntun kami semua ke ruang makan, rupanya lorong itu mengarah langsung ke ruang makan, dan di ujung lorong tersebut terdapat dapur, dengan jendela besar sepanjang temboknya, mebiarkan angin sejuk masuk.
Kake yang di kursi roda, masih saja memejangi pergelangan tangan ku, dia terlihat sangat rapuh dah lemah.
Aku duduk di sampingnya di meja makan panjang yang membentang di tengah ruangan, meja itu berwarna merah maroon yang sepertinya warna alami dari kayu jatinya, ukiran menghiasi kaki meja serta sudut-sudutnya, simple dan elegan, walaupun sudah dimakan waktu, sepeti tidak ada yang berubah.
__ADS_1