METANOIA, A Wondering Place

METANOIA, A Wondering Place
Episode 8


__ADS_3

            Rasanya tidak sampai lebih dari lima menit, aku memejamkan mata, dan suara kepakan sayap yang sangat kencang, membuatku tersadar sepenuhnya. Seekor burung hitam pekat, bertengger di samping tempat ku duduk, paruh burung itu besar, hitam mengkilap, matanya seperti menatapku, gagak itu cukup besar bagi ku.


            Dikepakannya sayap dan suara khasnya yang melengking, membangunkan Arya, dirinya masih setengah sadar dan segera waspada, burung itu bertengger di antara aku dengannya, yang kemudian mengepakan sayapnya lagi, terbang, dan mendaratkan dirinya di pangkuan Arie.


            Dirinya terbangun, merasakan ada beban di pangkuannya, tapi tetap tenang, matanya menatap gagak itu, dan gagak menatapnya. Saat itu yang kutakutkan, gagak itu akan menyerang Arie, tapi tidak


terjadi apa-apa, mereka dengan tenang duduk bersama, sementara aku dan Arya gugup menyaksikannya.


            Teringat dalam diriku, cerita tentang asal muasal warna hitam gagak, dahulu gagak tidaklah hitam, melainkan putih mengkilap, seperti mutiara, tapi karna ditipuan bangau yang iri denganya, mencelakai si gagak dan membuat bulunya hitam kelam seperti sekarang.


            Tapi walaupun dia telah di tipu oleh temannya, gagak tetap memaafkan bangau, dan mencintai dirinya yang baru, hal itu yang menurutku, membuatnya menjadi burung paling cantik di hutan, walaupun dirinya tidak seputih dahulu, namun hatinya tetap putih bersinar.


            Aku tersenyum tipis, melihat gagak itu yang duduk dengan tenang, walaui sesekali menggaruk sayapnya dengan paruh besarnya. Arie memang dari dulu selalu dicintai para hewan, kurasa para hewan itu dapat merasakan kebaikannya, dia bahkan membiarkan para serangga lewat, atau meberikan beberapa butir gula kepada semut yang ditemuinya. Terdengar aneh memang, tapi menurutku itu hal kecil yang baik, mungkin itu juga yang dirasakan


para hewan dan terpancar pada auranya.


            Angin berhembus lagi, kali ini diikuti dengan aroma rumput yang baru di potong, kutarik nafasku dalam-dalam, membiarkan sebanyak mungkin udara segar yang dapat kuhirup.


            Dari bawah kaki ku, terdengar ketukan pada pintu bundar yang kami lewati untuk sampai disini, ketukan itu


juga yang membuat gagak dipangkuan Arie terbang menjauh, meninggalkan beberapa helai bulu hitamnya, yang segera tertiup angin menerbangkannya.

__ADS_1


            Lavi muncul dari balik pintu bundar, “ternyata kalian disini” katanya, sambil berusaha menarik dirinya keluar.


             “Di sini tidak buruk juga,” komentarnya sambil berdiri di tengah kami, dengan tangan di pinggangnya, dirinya terlihat menikmati pemandangan sekitar. Angin kembali bertiup, kali ini rambut hitam Lavi yang mulai panjang dibiarkannya terurai, dan angin meniupnya, beserta keringat dan debu yang menempel pada tubuhnya.


            Dihempaskannya dirinya diantara ku dan Arie, “ayah memanggil kita, paman akan membawa kita kepusat desa, mungkin mengenalkan dengan beberapa orang juga.”


            “Apa aku boleh tinggal?”


            “Sayang sekali tidak, ayah ingin kita semua ikut.”


            “Mungkin tidak akan buruk,” Arya menyemangati Arie, sambil mengemgam tangannya yang di ikuti Lavi, aku tertawa kecil melihat apa yang mereka lakukan, aku sangat senang dan bersyukurmempunyai saudara-saudara seperti mereka ini.


            “Malam ini akan ada festival, jadi pasti tidak akan semembosankan sebelumnya” tambah Lavi dengan senyumnya, dan melirik kearahku.


            “Lebih baik kau persiapkan dirimu, ayah akan mengenalkanmu kesemua orang.”


            “Ya, dan ditambah lagi sekarang ada paman”


            Ucap Arya dan Arie yang berurutan, sambil berdiri menuruni anak tangga, Lavi di belakang mereka, masih saja tertawa kecil, aku untuk sekali lagi melihat sekeliling, di ujung sana terlihat kilatan cahaya matahari bewarna orange yang sangat indah.


            Ku susul mereka sebelum terlalu jauh, lantai berdecit setiap aku melangkah, diatas sini sepertinya tidak di pasang lampu, atau mungkin belum, kolidor ini mulai gelap, padahal matahari masih bersinar, “kau tidak mesang lampu disini?” Tanya ku pada Lavi.

__ADS_1


            “Hmm? Tidak, lagi pula lantai ini tidak kita gunakan, hanya untuk gudang.” Sahutnya yang berjalan di depan ku sambil menunjuk sebuah pintu di belakang ku, aku menengok kearah yang di tunjuknya, kalau tidak salah itu ruangan tempat Arya dan Arie tadi muncul, berarti ruangan itu gudang, mungkin aku harus mengingatnya, jika aku mencari sesuatu,mungkin aku harus kesana.


            Lagi-lagi aku harus melewati tangga melingkar yang berdecit menyeramkan ini, kami semua harus berhati-hati sekali ketika munuruninya, dan syukurnya kali ini pun aku dengan selamat sampai di dasarnya, lantai berdecit yang kurasa lebih baik dari pada tangga itu, “kenapa tidak kamu perbaiki saja tangga itu?”


            “ya, sangat menyeramkan” timpal Arya, yang sudah berdiri di ambang pintu kamarnya, ketikan aku sampai di dasar tangga.


            “Kamu pikir aku bisa memperbaiki tangga ini?” Lavi menyahut “lagi pula bagaimana caranya kau memperbaiki tangga kuno seperti ini” di sentuhnya tiang utama tangga tersebut, dan bunyi berdecit keras yang menyeramkan muncul darinya, membuat diriku dan Arie berlari menjauh, sejauh mungkin.


            “Lebih baik jangan di sentuh” saran ku, dan Lavi sudah tidak dapat berkata apa-apa lagi, dijauhkannya tangannya dengan hati-hati.


            “Ayo, bersiap” Arie memalingkan badannya dan memasuk kekamarnya, aku mengikutinya, memasuki kamar ku, sementara Lavi masih saja berdiri mematung di depan tangga itu, mungkin dia akan mencoba membenarkan tangga melingkar tersebut.


            Aku bertemu Arie di kamar mandi, baru teringat oleh ku, kamar mandi kami menjadi satu, itu berarti juga lemari kami. Dirinya tengah memilih kemeja kotak-kota berbahan kanvas yang akan dikombinasikannya dengan baju kaos hitam polos. Biasa saja, jika aku yang memakainya, tapi ketika Arie yang mengenakannya terasa lain, entah dia menggunakan sihir apa.


            Arie menyerahkan sebuah jaket berbahan jeans kepada ku, disusul dengan sweeter turtle neck yang berlengan pendek.


             “Pakai ini saja” katanya, aku tidak membantah dan hanya menurutinya, dari dulu aku memang tidak pandai memilih pakaian, dan Arie memang sangat banyak membantuku dalam hal memilih pakaian ini, bisa kukatan, dia memang memiliki bakat dalam hal fashion.


            “Rambut mu kusut,” seru Arie dari belakang ku, sambil menyerahkan sisir sikat, “terimakasih” balasku menerima sisir tersebut.


            “Sini biar ku kepang rambut mu,” di dorongnya diriku hingga terduduk di kursi panjang, ku biarkan dia menyisir dan mengepang rambut ku, sepertinya dia resah melihat ku yang bahkan tidak pandai menata rambut sendiri. Diri ku duduk dengan pasrah, sementara Arie menyisir dan mengepang rambutku, rasa nyaman ketika rambut kita disisir, dan di elus sesorang membuatku mengantuk, “sudah” katanya, membuyarkan rasa kantuk ku yang sesaat.

__ADS_1


            Aku berdiri di depan cermin besar yang ada di depan ku, sekaligus menjadi pintu lemari kami, kulihat kepangannya membuat rambutku terlihat lebih rapi, dan lebih baik.


            “Sudah siap?” Arya berdiri diambang pintu kamar kamar mandi, dari arah Arie, “sudah” sahut Arie setelah mengikatkan tali sepatunya, mereka berdua berjalan keluar melalui kamar Arie, sementara aku melewati kamar ku, dan mengunci pintu.


__ADS_2