METANOIA, A Wondering Place

METANOIA, A Wondering Place
Episode 12


__ADS_3

            Akhirnya Devina bercerita kepada Alicia ibunya, tentu saja dia terkejut, dan kejadian yang dulu pernah dialami Alicia, membuatnya langsung percaya cerita putrinya. Tanpa berpikir itu hanya hayalan seorang gadis, atau mimpi semata, tapi tidak ada yang dapat dia lakukan, dalam dirinya merasa mendapatkan jawaban, pertanyaan yang selama ini dia tanyakan, dan saat bersamaan merasa sedih, atas apa yang harus putri kesayangannya rasakan.


            Hari pernikahan akhirnya tiba, Davina kini merasa sangat senang, dan seperti tidak ada beban pada tubuhnya, Alicia mencoba bertanya tentang yang diceritakan Devina kemarin hari, tapi wanita itu sudah melupakannya, maksudku benar-benar lupa, bahkan perasaan sedihnya yang kemarin telah hilang.


            Melihat hal itu, Alicia merasa khawatir dan sekaligus bersyukur, pada saat bersamaan, putri satu-satunya yang biasa terlihat ceria, akhirnya dapat berbahagia kembali.


            Setelah itu hari-hari Devina di penuhi berkah dan kebahagiaan, dia pun di anugrahi banyak buah hati, yang


tampan dan catik jelita, sama seperti dirinya, tapi anehnya salah satu putrinya, terlahir dengan rambut merah, yang sama sekali tidak mirip Devina atau suaminya, memang putrinya itu mewarisi wajah jelita Devina, dan mata hitau indah suaminya.


            Saking indah dan bersih mata yang dimiliki putrinya, seperti seseorang yang masih polos dan belum mengetahui apa-apa, sehingga di berikan nama Catina yang berati serupa, kepada putrinya.


            Sempat suaminya mencurigai Devina berselingkuh, tapi hal itu tidak mungkin, didesa ini tidak ada yang berani menyentuh atau bahkan melirik istrinya, semua orang menghormatinya bagai seorang putri kerajaan, dan dia sendiripun tau, kalau Devina sangat mencintainya, jadi itu tidak mungkin, hanya kebetulan pikirnya, bisa jadi jauh sebelumnya, mereka memiliki keturunan dengan rambut berwana merah.


            Tapi di sisi lain, memori yang terlupakan mulai meluap dan meperlihatkan Devina sedikit demi sedikit, ingatan yang terlupakan, melalui mimpi yang tidak kunjung usai.


            Devina merasa aneh dengan mimpinya, rasanya terlalu nyata untuk dibilang sekedar sebuah mimpi biasa, dan terasa seperti kenangan, akhirnya Devina melakukan penyelidikan, secara diam-diam tentunya, yang menuntu Davina kembali kemasa lalu, ditempat dia pertamakali bertemu dengan teman sekaligus cinta masa kecil.


            Tapi kali ini, yang di temuinya bukan orang yang sama, melainkan putrinya sendiri, Catina berjalan keluar dari balik kabut yang sangat tebal, Davina terkejut, dan ketakutan sekaligus khawatir di saat yang sama.


            Saat ditanya apa yang dia lakukan disana, Catina hanya menjawab, “aku sedang bermain dengan teman baru ku ibu” jawabnya, Davina terkejut dan tidak percaya mendengar jawaban anaknya, “dengan siapa?” Pertanyaan itu muncul di benaknya, tapi Catina tidak menjawab apa-apa.


            Melihat wajah kaget ibunya, dan seperti tidak percaya itu Catina menarik lengan Devina, menuntunya melewati kabut, dan membawa mereka berdua sampai di tengah hutan yang sangat indah.

__ADS_1


            Hutan itu terlihat sangat indah, seperti belum tersentuh, hingga dirinya dibuat takjub oleh keindahan yang ada di depan mata mereka.


            Sementara Davina masih mematung, di tengah keindahan yang belum pernah dilihatnya, Catina sudah pergi meninggalkan, dan bermain dengan berbagai makhluk yang tinggal disana.


            Makhluk-makhluk aneh, sekaligus indah yang menjadi tema bermain, mendengar suara tawa gembira anaknya mebuat Devina tersadar, ternyata mimpi yang selama ini muncul bukanlah sekedar bunga tidur biasa, melainkan sebuah kenangan.


            Perasaan bahagia menyelimuti hatinya, sedikit berharap dapat bertemu dengan teman semasa kecilnya, dan kemudian Devina teringat, bagaimana jika putrinya merasakan yang sama, kehilangan ingatan bukanlah hal yang ingin dia rasakan pada Catina.


            Pemikiran itu membuat Devina merinding, dan sebuah suara yang tidak asing di telinganya terdengar dari


belakang, suara itu sedikit berbeda, dari yang di ingatnya, sedikit berat, dan sosok yang dilihatnya saat ini, jauh lebih tinggi dan dewasa.


            Catina berlari mengahampiri pria itu, dan jatuh kepelukannya, dingakatnya gadis kecil tersebut, dan berjalan


mendekati Davina.


            Air mata tidak tertahan, membanjiri pipi Davina, dan memeluknya, pria itu hanya tersenyum, tanpa banyak


berkata-kata.


            Reuni yang sudah lama di tunggu-tungu, sayangnya hanya dapat berlangsung sebentar, mengingat hari yang sudah mulai gelap, dan mereka harus pulang sebelum makan malam.


            Akhinya mereka kembali kerumah, dan besok harinya ibu dan anak itu pergi lagi, kedunia baru yang mereka temukan, setiap hari mereka berdua pergi dan kembali sebelum gelap agar tidak ketahuan. Rutinitas itu akhirnya menjadi rahasia kecil bagi mereka berdua, pembicaraan rahasia yang selalu terulang sebelum mereka tidur, untuk mengenang setiap menit yang dihabiskan, karena tidak tau sampai kapan Davina dapat kembali ketempat masa

__ADS_1


kecil yang dirindukannya.


            Setiap hari juga, Catina mempelajari hal baru yang unik, tentang tumbuhan, peri, bahkan sedikit sihir dan


sebagainya, Davina turut merasa senang melihat putrinya yang dengan giat belajar, tanpa tau konsikuensinya.


            Hingga akhinya laki-laki itu berkata, “ini terakhir kalinya kita bertemu” ucap pria itu.


             Davina terkejut dan kebingungan mendengarnya, sementara anak gadisnya tenang saja, seperti sudah tau apa yang akan terjadi, laki-laki itu menjelaskan, tidak ada yang bertahan selamanya, termasuk kesempatan Davina dapat melihat dunia dibalik kabut, dan ini sudah batas waktu terakhirnya, Catina bisa saja kembali lagi dan lagi, sama seperti dirinya sewaktu seumur Catina, perasaan yang dimiliki Catina masih murni dan tidak tercampur oleh apa-pun, itu yang memperbolehkannya tinggal.


            Saat itu juga Devina merasa iri dan tidak adil, bahkan terhadap putrinya sendiri, Devina di penuhi rasa cemburu, yang membuatnya tidak dapat berpikir secara logis.


            “Ada satu cara lagi” laki-laki itu kemudian berkata, “jika kamu mampu menukarkan hal paling berharga bagimu, maka kamu dapat kembali lagi,” perkataannya sungguh membingungkan dan penuh banyak makna.


             “Kamu hanya dapat memilih satu kali, yang kamu berikan akan menentukan seberapa lama kau dapat kembali kemari” ucapnya menambahkan, “sayangnya tidak ada yang gratis.”


            Davina kebingungan, berusaha memahami situasi apa gerangan yang tengah dihadapinya, dia sudah tidak tau apa yang sebenarnya terjadi, yang mana nyata dan tidak. Tapi jauh di dalam dirinya, Devina tau persis apa yang di inginkan, dia tau apa maksud pria itu, dan sangat memahami setiap katanya.


            Hanya masalah benar tidaknya, yang membuat Devina bimbang, tapi itu semua tergantung dari sudut pandang mana yang menilai.


            Davina mengambil keputusan, dengan mata tertutup, keegoisan menguasai dirinya, di serahkannya hal yang paling berharga pada pria itu, tanpa pikir panjang lagi.


            Setelah itu semua sunyi, wanita itu membuka matanya, menyadari sesuatu yang sangat besar telah menghilang dari hadapan, kabut itu kini sudah lenyap, hutan indah di dalamnya kini terbuka dengan bedas, semua orang dapat melihat dan menikmati keindahn yang selama ini tersembunyi.

__ADS_1


            Menyadari perubahan itu, seluruh warga desa berdatangan, ingin menyaksikan dengan mata kepala mereka


masing-masing, semuanya dibuat tertegun dengan keindahan yang selama ini tertutup, dan kini terbuka untuk selamanya, laki-laki itu memang memegang janjinya, dan hal yang paling berharga bagi Devina menghilang saat itu juga.


__ADS_2