
Saat membuka mataku lagi, cahaya mentari samar sudah mulai masuk ke kamarku, mungkin jika dilihat dari kamar Arya cahayanya akan lebih indah.
Seekor burung pipit kecil masuk kekamar, melalui ventilasi yang terbuka, jauh diatas jendela, burung kecil
itu berhenti di atas meja bundar, dan terbang kembali, menjauh, entah kemana.
Udara dingin berhembus melalui celah ventilasi, membuat aku kembali meringkuk kedalam selimut tebal. Gesekan kertas terasa, ketika aku tanpa sengaja menindinya, setelah di periksa ternyata peta kekanakan yang ku temukan malam tadi, peta itu sudah bertambah kumal hanya dalam semalam.
Handphone ku berbunyi, dan saat aku lihat Arya mengirim beberapa pesan, yang berisi suruhan, agar aku segera kebawah untuk ikut sarapan.
Aku bangkit dari kasur, mencuci muka dan berganti pakaian seadanya. Setelahnya segera aku kebawah menuju ruang makan.
Disana nampaknya semua sudah berkumpul, tapi seperti sibuk dengan pekerjaannya masing-masing, nyaris seperti makan sendiri-sendiri. Aku duduk di salah satu bangku di dekat ayah, matanya terpaku kelayar laptop yang masih kosong, sepertinya ayah masih tidak tau akan memulai apa dalam tulisannya kali ini.
Ibu meletakan sepiring buah yang sudah di potong di depan ku, dan segelas susu hangat di sampingnya.
“Apa yang akan kamu lakukan hari ini?” Tanya ibu kepada ku.
“Entahlah, mungkin aku akan menjelajahi tempat ini.”
Wajah ibu terlihat lebih ceria dan bahagia hari ini, dibanding hari sebelumnya, senyum tipis sama-sekali tidak memudar sedikitpun, selama sarapan.
“Seminggu lagi sekolah kalian akan dimulai, lebih baik di persiapkan mulai sekarang” dirinya berbicara kepada sikembar, yang hanya mengangguk menanggapinya, dan tetap terfokus pada layar handphone masing-masing.
__ADS_1
Sarapan kali ini berlangsung lebih singkat, dan terasa lebih tenang dari biasanya, setelah menghabiskan semangkok buah dan segelas susu hangat, aku kembali kekamar.
Aku mulai bersiap, melakukan penjelajahan yang sudah kurencanakan sepanjang malam, peta kekanakan yang ku temukan, kulipat dan masukan kedalam kantong celana, aku tidak ingin peta ini di lihat oleh satupun saudaraku, jika mereka melihatnya, pasti ejekan itu akan bertahan selama seminggu.
Udara sudah lebih hangat dibanding pagi tadi, memang pas untuk berjalan-jalan diluar, diriku melambai kepada ibu yang terlihat dari jendela dapur yang besar, dirinya balas melambai.
Rumput-rumput yang basah karena embut meninggalkan bekas pada sepatu boots ku, udara terasa sangat sejuk, dan bau pepohonan mulai tercium, semakin aku berjalan mendekati hutan.
Jauh dari yang ku kira, hutan ini terlihat lebih ramah, dan indah dibanding dilihat dari jauh, dedaunan berwarna orange dan coklat, berterbangan jatuh dari dahannya sesekali. Ku buka peta, yang dari tadi terus ku simpan rapat disaku celana, di peta ini tergambar sebuah garis tipis dan lingkaran-lingkaran kecil yang di hitamkan, ada lagi yang sepertinya sebuah bangunan, mirip dengan menara, dan tidak jauh darinya ada sebuah jembatan diantara dua buah garis, mungkin maksudnya garis itu adalah sungai.
Tidak banyak yang dapat kupahami dari peta ini, ditambah lagi aku tidak terlalu pintar dalam membaca peta, yang dapat ku pahami dengan jelas, adalah gambar pohon yang sepertinya cukup besar, entah apa yang special pada pohon itu, hingga anak ini ikut menggambarnya.
“Bukankah di dalam sini sudah di penuhi pohon, kenapa dia malah hanya menggambar satu pohon itu saja.” Aku tanpa sadar menggerutu pelan, mungkin aku juga termasuk aneh, mengikuti peta buatan anak kecil yang tidak jelas gambaranya, bisa jadi ini hanya sebuah hayalan, sepertinya aku terlalu mengagab serius peta ini, dan terlalu nekat untuk masuk kedalam hutan sendirian.
Aku saat itu juga terserang panik, cepat-cepat ku tenangkan diriku, aku isi dengan pikiran positive, untungnya ini masih pagi hari, dan malam masih sangat jauh, jadi aku tidak perlu panik atau takut tersesat dalam gelap.
Ku tengok kebelakang, mungkin ada jejak yang dapat ku ikuti untuk pulang nantinya. Beruntungnya rumput-rumput tinggi yang tadi ku lewati meninggalkan bekas dan membuat jalan setapak samar, sepertinya itu dapat ku ikuti untuk perjalanan pulang nanti.
Di depanku hutan ini terlihat sangat indah, cahaya matahari keemasan menembus sela daun-daunnya, yang berjatuhan setiap kali angin menghebus, menggoyangkan batang pepohonan, dan suara daun yang bergesekan, seperti musik yang memenuhi hutan ini.
Tanpa aku sadari, aku sudah berjalan jauh kedalam hutan, hingga di depan ku terlihat samar, di balik pepohonan, aliran kecil sungai yang mulai surut, semakin aku mendekatinya, bunyi gemericik air semakin keras. Sungai itu kini ada di depan ku, airnya tidak terlalu dalam, dan sangat bening sehingga bebatuan warna-warni terlihat di dalamnya dan memantulkan kilauan cahaya matahari.
Sepertinya dulu orang-orang sering melewatinya, karena ada beberapa lempeng batu yang cukup besar untuk di lewati seseorang, letaknya tidak jauh dari tempatku berdiri saat ini. Aku rasanya ingin menaiki lempengen batu itu, tapi juga raju, aku takut aku pergi terlalu jauh kedalam hutan dan tersesat.
__ADS_1
Ku coba melangkah ke atas lempengan batu pertama, batu itu cukup besar, dan sepertinya sudah lama tidak di lewati, terdapat lumut yang sudah hampir menutupi seluruh permukaanya, lempengan batu itu sedikit licin, jika aku tidak berhati-hati aku mungkin saja akan terpeleset dan jatuh ke dalam air, dibawah sana, walaupun dangkal aku sama sekali tidak berniat pulang dalam keadaan basah.
Rasa ragu ku hilang setiap kali aku melangkahkan kaki kelempengan berikutnya, batu-batu itu bergoyang sedikit setiap kali aku menginjakan kaki.
Hingga akhirnya aku sampai di tepi sungai, setelah turun dari lempengan batu terakhir, telingaku menangkap suara aliran air yang terdengar jauh lebih jelas. Di balik pepohonan tepat di
depanku, aku dapat melihat sebuah jembatan yang tertutup pepohonan, dan
terlihat semakin jelas ketika aku mendekatinya.
Sebuah jembatan batu, melengkung, menghubungkan dengan dua buah celah tanah yang terpisahkan karena derasnya air, sungai satu ini lebih besar sedikit saja dari yang tadi, dan airnya terlihat lebih banyak dan bergerak cukup deras, sehingga bunyi berisiknya memenuhi telinga ku, menyamarkan bunyi jangkrik dan hewan hutan lainnya, sepertinya ada air terjun di ujungnya, pikir ku. Mungkin jika beruntung aku bisa menemukannya.
Jembatan itu ku seberangi, jembatan batu ini tidak kalah berlumutnya dengan lempengan batu yang ku lewati tadi, tapi walaupun begitu, jika diperhatikan dengan saksama, terlihat ukiran pada pagarnya, seperti tulisan dengan bahasa yang tidak bisa ku pahami.
Angin berhembus dengan begitu kencang ketika aku berdiri di tengah jembatan, membuatku terpaksa menutup mata dengan kedua tangan, menghalangi daun-daunan yang ikut berhembus menyapu ke wajah
ku. Angin itu begitu kencangnya, seperti mendorongku, hingga aku terpleset dan jatuh.
Untung lumut-lumut yang menempel pada jembatan batu ini cukup tebal, sehingga aku terselamatkan dari luka lecet, hanya saja, kini seluruh bagian kaki ku dipenuhi noda tanah yang bercampur dengan lumpur, dan dedaunan yang juga ikut menempel, hingga ke telapak tangan.
Aku ingin mencucinya dengan air yang ada di sungai, tapi sungai itu cukup deras, dan airnya jauh di bawah sana, sepertinya terlalu membahayakan untuk membersihkan diri di sungai itu. Jadi aku hanya menepuk-nepuk kain celanaku, dan menggosokan telapak tangan ku, semoga saja ibu tidak menyadari noda tanah yang tersisa.
Aku berjalan pelan, menuju sebuah batu besar yang tidak jauh di depanku, sambil memperhatikan langkah dan membersihkan noda yang tersisa, sebisa ku. Aku duduk untuk mengistirahatkan kaki barang sebentar, dan memeriksa berapa memar yang ku dapat.
__ADS_1