
“Di tambah waktu itu pembukaan objek wisata baru, danau ini” ucap paman, “seharusnya itu menjadi hari yang membahagiakan bagi semua orang, dan bisnis kami harusnya berhasil berkat acara itu” paman menambahkan, sambil menujuk kearah alat pancing, yang di susun rapi pada tembok.
Sepertinya dulu paman akan membuka toko pancing, mengingat tempatnya dekat dengan danau, itu bukan ide yang buruk untuk sebuah bisnis, jelas kalau tokonya akan ramai.
“Mereka seperti membalas dendam, akan kejadian beberapa puluh tahun sebelumnya, ketika mereka di usir” sambung Mama, wajahnya terlihat kehilangan seseorang yang berharga pada insiden tersebut.
“Mereka menenggelamkan semua orang?” Tanya ku hati-hati.
“Tidak semuanya, ada beberapa yang berhasil selamat” jawab paman Milo.
Mama berjalan kedalam, dan kembali dengan sebuah foto di tangannya, “ini David, dia putraku yang satunya lagi” Mama menunjukan fotonya padaku, laki-laki itu terlihat seumuran Lavi, mungkin lebih tua satu atau dua tahun.
“Apa yang terjadi padanya?” aku bertanya.
“Dia menghilang saat insidentersebut” sahut Mama, wajahnya sedih, namun tetap mencoba tersenyum.
“Menghilang?” tanyaku, ku pikir dia di tenggelamkan juga.
“Semua kobannya menghilang, tidak ada mayat yang di temukan, danau ini seperti menelan semuanya” paman Milo menjawab pertanyaanku.
“Bagaimana bisa?” Tanya ku lagi, aku masih tidak habis pikir, dan berusaha mencerna semua cerita.
“Tidak ada yang tau, terkadang kau akan menemukan pakaian mereka tersangkut, atau mengambang di danau, tapi tidak ada mayat” Mama menjab ku, “semua yang menghilang hari itu di nyatakan meninggal” lanjut mama, dan mengelus kepalaku dengan lembut.
“Kami tidak bisa menguburkan mereka dengan layak, jadi sekali setahun akan di adakan upacara, di danau ini untuk mengenang mereka yang menghilang” Mama menjelaskan.
“Namun setiap tahunya, orang yang datang semakin sedikit,” Mama memberitau ku.
“Awalnya cukup banyak yang mendiami tempat ini, namun satu persatu dari kami memilih untuk pindah, beberapa ingin melupakan, memulai awal yang baru, dan beberapa lagi tidak bisa merelakan keluarganya yang menghilang begitu saja, hingga akhirnya tersisa kami yang bertahan. Beberapa tetangga tua yang mendiami pondok di sebelah, dan hanya kami juga yang selalu menghadiri upacara tersebut tiap tahunya dengan rutin.” Jelas
Mama.
“Tertalu berat untuk meninggalkan tempat ini, walaupun berbahaya disini” ucap paman Milo.
__ADS_1
Tidak terasa hari sudah mulai gelap, aku ingin kembali sebelum makan malam, “aku harus kembali” ucapku.
“Tenanglah, Milo akan mengantarkan mu”
“Itu tidak perlu, aku sudah banyak
merepotkan” sahut ku.
“Omong kosong, Milo yang membawa mu kemari, itu artinya dia juga yang harus mengantarkan mu pulang” sahut Mama tidak menerima penolakan ku.
Tapi sebenarnya aku sendiri yang kemari, dan hanya kebetulan bertemu dengan paman Milo, “dimana rumah mu?” Tanya paman Milo.
“Di ujung jalan Crimson street” sahutku.
Dan lagi-lagi wajah dua orang ini terdiam kaget, sama seperti wajah paman Liam ketika mendengar jawaban ku, mungkin aku memang benar-benar harus mencari tau, apa yang menyebabkan ekspresi kebingungan mereka ini.
“Kau tinggal di Crimson House?” Mama bertanya.
Mama menarik nafas sangat panjang, hingga suaranya terdengar begitu jelas, “akhirnya mereka kembali!” teriak mama, “aku tidak menyangka akan bertemu salah satu dari mereka di rumahku sendiri” Mama berdiri, memeluku dengan sangat kencang, saat ini aku benar-benar bingung.
Reaksinya sedikit berdeda dari yang lain, dan jauh dari yang ku bayangkan, aku sama-sekali tidak menyangka akan begini, dari balik badan Mama yang besar, aku dapat melihat wajah paman Milo, yang melihatku dengan kasihan, wajahku mengisaratkan minta tolong, untung paman Milo segera memahaminya, dan menolongku.
Di tepuknya punggu Mama, yang kemudian melepaskan pelukannya yang erat, akhinya aku dapat bernafas kembali.
“Ayo aku akan mengantarmu” paman Milo berjalan di depan ku.
Aku berpamitan singkat dengan Mama, berhati-hati agar tidak di peluknya lagi, “aku akan berkunjung lagi nanti”
“Ya, sering-sering lah kemari, kami akan selalu menyambut mu” sahut Mama dengan senangnya.
Aku menyusul paman Milo, melewati papan kayu, dari sela-selanya dapat kulihat air hitam rawa yang sepertinya sangat dalam, dan ketika ku angkat wajahku, cahaya keemasan matahari menyinari permukaan danau, airnya yang hitam memantulkan kilauan cahaya putih, yang menari-nari di atas permukaan air yang tenang.
Paman menyuruhku masuk kedalam mobil besar miliknya, yang ketika aku di dalamnya, tercium aroma ikan yang sangat kuat, “buka jendelanya” perintah paman, “kau tidak akan kuat selama perjalanan dengan aroma ini, dan aku tidak ingin membersihkan muntahmu.”
__ADS_1
Aku segera menuruti perintahnya dengan senang hati, saat jendela terbuka mobilnya kini terasa lebih baik,
“beginilah aroma mobil pengangkut ikan” jelas paman Milo, dan kemudian menyalakan mobil yang mulai melaju. Jalanan berbatu membuat mobil bergoyang, untung aku tidak perlu melewatinya lagi dengan jalan kaki, aku lupa jalan ini cukup jauh untuk penjalan kaki, syukur paman Milo mengantarkanku.
“Apa yang kau pikirkan?” Tanya paman Milo, melihatku mengelamun.
“Tidak ada” sahutku, “apa cerita itu benar, maksud ku tentang para wanita yang menenggelamkan itu?” Tanya ku lagi, aku sedikit penasaran apakah itu benar atau hanya rumor yang beredar.
“Benar atau tidaknya itu tergantung bagaimana kau menanggapinya,” sahut paman Milo, “saat itu kejadian sangat kacau, semua orang panik, jadi aku tidak terlalu memerhatikan apa yang sebenarnya terjadi.”
“Para wanita mengerikan itu benar-benar kembali? Atau hanya seseorang yang berbuat jahil?” Tanya ku lagi, “ya, walaupun jahilnya kelewatan” sambung ku.
Paman melirik ku sebentar, dan kembali mengawasi jalan, “jika kau benar-benar penasaran, kau bisa mencari taunya di perpustakaan” sahut paman Milo, kemudian melanjutkan “yang jelas, hari itu aku kehilangan adik ku, aku lengah dan membiarkannya ikut rombongan ke atas kapal.”
“Aku turut berduka” sahutku, mendengar cerita paman Milo yang kehilangan adiknya, aku merasa bersalah sudah bertanya.
Kami sampai di ujung jalan, dan tinggal belokan kecil, kamipun sampai di depan rumah, hanya berselisih beberapa menit, Lavi dan paman Gray sampai menyusul kami.
“Dari mana saja kamu?” Tanya Lavi, dan melihat pria asing yang mengantarkan ku, “ini paman Milo” aku memperkenalkannya dengan Lavi, yang kemudian menjabat tangannya.
“Aku hanya mengantarkannya” jawab paman Milo.
“Milo!” paman Gray keluar dari mobil dan menyapa, “apa yang kau lakukan di sini?” Tanya paman Gray kepada Milo.
“Terimakasih sudah mengantarkan ku” ucap ku kepadanya.
“Milo ini teman ku, kami biasa memancing bersama,” paman mengenalkannya lagi, dan mengajaknya untuk masuk, bergabung dengan kami untuk makan malam.
Paman Milo berusaha menolaknya, tapi paman Gray bersih keras, akhirnya menyerahlah dia, dan kini duduk bersama dengan kami semua di meja makan.
Makan malam kini terkesan lebih ramai, dan masakan ibupun terlihat lebih special hari ini, “dari mana saja
kamu? Sepertinya seharian ini tidak ada di rumah,” ibu bertanya padaku saat makan malam.
__ADS_1