
Arya keluar dari dapur dengan semangkuk besar berisi kentang tumbuk yang sudah di camping dengan sayur dan kacang-kacangan lainnya, di belakangnya Arie mengikutinya dengan membawa teko kaca berisi perasan lemon dan markisa di dalamnya, pasti terasa segar dan nikmat.
Ibu membuatkan bubur hangat khusus untuk kake, dia terlihat senang berkumpul dan makan bersama keluarganya, seperti ini. Kake bahkan tidak terlihat pendiam seperti yang ku pikirkan sebelumnya, beliau ikut mengobrol bersama kami di meja makan, dan sesekali menceritakan tentang pengalamannya kepada kami, dan beberapa lelucon lucu yang belum pernah kudengar sebelumnya.
Mungkin suara kami terdengar hingga kelantai atas, Lavi muncul di ambang pintu, di tengah cerita masalalu kake yang menegangkan, “kalian tidak memanggil ku?” suaranya membuat kami terdiam, dan yang benar saja kami memang lupa, cerita kake sangat sayang di tinggalkan barang sejenak.
“Lavi!” Suara paman dengan senangnya lalu menghampiri dan memeluknya dengan erat, Lavi balas memeluknya, di antara kami kurasa hanya matanya yang tidak menunjukan kebingungan sama sekali terhadap reaksi orang itu, “paman Gray, lama tidak bertemu.”
“Kau sudah bertambah sangat besar.” Paman melepaskan pelukannya, tapi masing merangkul bahunya, mengelus kepalanya, membuat rambutnya serta debu-debu kecil yang menempel berterbangan.
“Rasanya terakhir kita bertemu gigi mu masih tanggal di tengah, sekarang liat dirimu, sangat tampan.” Suara ketawa paman yang besar terdengar seperti santa Klaus bagi ku, dan tawanya menjangkit, membuatku ikut tertawa.
“Pasti akan banyak gadis yang mengejarmu disini.” Goda paman yang masih tidak berakhir juga, sambil menepuk pundaknya, dan menyuruh duduk di sampingnya, Lavi hanya tertawa kecil menanggapinya.
“Apa yang kau lakukan di atas sana?” Paman mulai bertanya, melirik kekotak yang tadinya di bawa lavi.
“Hanya mengganti beberapa bola lampu.”
“Rumah ini memang perlu banyak perbaikan, jika kau mau aku bisa membantu mu.”
“Tidak, itu tidak perlu, kami sudah cukup banyak merepotkan mu.” Ayah langsung menyahut ketika paman menawarkan bantuannya.
__ADS_1
“Kalian sama sekali tidak merepotkan, lagi pula kita keluarga.” Di tepuknya punggung kakanya itu dengan
tawa yang menyertai.
“Lagipula, aku juga akan butuh bantuan kalian”
katanya dengan senyum lembut kepada ayah dan Lavi.
“Keluarga kita dulunya mempunyai lahan pertanian, cukup luas, tapi karna sekarang tinggal aku sendiri, yang tinggal di kota kecil nyaris seperti desa ini, aku tidak bisa mengurusnya lagi. Mungkin, jika kita bersama kita bisa mengembalikan kejayaannya lagi.” Paman berbicara dengan suara lembut seperti memohon, matanya seperti sambil membayangkan masa lalu yang sangat indah.
“Kurasa itu patut di coba,” sahut Lavi yang memberikan semangat kemata paman.
“Aku tidak tau tapi sepertinya, bagus juga.” Ayah tersenyum hangat, dan membuat paman semakin semangat.
Dan begitulah makan siang yang panjang ini berakhir, setelahnya semuanya berpencar, melakukan kegiatannya masing-masing. Ayah pergi dengan kake, sepertinya ke teras depan, Lavi dan paman berkeliling rumah, mungkin mereka akan melakukan suatu perombakan, Arya dan Arie aku tidak tau mereka kemana, mereka langsung lenyap begitu makan siang selesai, seperti sengaja mengihindari tugas cuci piring, dan yang terakhir aku tertinggal membereskan sisa-sisa makanan ini, sementara ibu mencuci piring.
Ibu diam saja, entah perasaan ku atau ibu terlihat lebih pendiam hari ini. Pandangannya lepas kedalam hutan gelap di hadapannya, bahkan hingga aku selesai membereskan semuanya dan berpamitan, ibu hanya tersenyum dan ucapan terimakasih, pelan serta lembut kelur dari bibirnya.
Aku tidak tau apa yang ku lalukan setelahnya, mungkin berkeliling rumah akan baik, tapi pirasatku mengatakan yang lain, rasanya aku ingi merasakan hembusan angin pedesaan yang sejuk, dan tanpa sadar aku sudah sampai di lantai dua, tepat di depan lukisan nenek buyut lagi, lama-lama rasanya mata wanita itu menatapku, membuatku bergidik jika lama-lama melihatnya.
Ada sebuah tangga melingkar di sebrangku, di ujung lorong, mungkin waktu itu gelap sehingga aku tidak
__ADS_1
menyadari sebelumnya, sekarang tangga tersebut bermandikan cahaya mentari yang menembus dari jendela di sampingnya, langkah kaki ku berdecit semakin nyaring saat aku mendekati tangga tersebut.
Gagangnya sedikit berdebu, meninggalkan jejak seperti sudah pernah ada yang melewatinya sebelumnya, mungkin saja Lavi, pikirku. Aku menaikinya, dengan hati-hati, setiap tangganya berbunyi yang berbeda dan terkadang bergoyang, kayunya indah dengan ukiran pada pegangannya, dan beberapa darinya sudah berlubang entah dimakan rayap atau patah.
Akhirnya aku sampai di atas dengan selamat, tanpa mebuat satupun anak tangganya terlepas, ku hempaskan nafas lega di lorong baru yang kulihat, lorong ini penuh dengan pintu-pintu yang menuju entah kemana, beberapa pintunya terkunci, dan beberapa lagi dapat terbuka dengan mudahnya, sedangkan sebagian besar darinya sangat sulit untuk mendorong pintunya hingga terbuka.
Beberapa darinya hanya kamar kosong dan beberapa lagi berisi kasur lengkap dengan lemari dan mejanya, namun lebih sederhana dari disbanding yang ada di kamar ku atau Arie. Mungkin dulu digunakan untuk kamar tamu atau kamar pelayan, ku susuri lorong tersebut, hingga aku sampai di tengah ruangan dengan tangga melingkar tepat di tengahnya, aku tidak tau kemana tangga itu akan membawa ku, di atasnya terdapat pintu berbentuk lingkaran, mirip pintu rumah pohon ku dahulu, namun ini berbentuk lingkaran, seingatku rumah ini hanya ada tiga lantai, dan saat ini rasanya aku ada di lantai ketiga, apa pintu itu mengarah ke loteng, aku tidak tahu .
Baru aku akan melangkahkan kaki menaikinya, Arya dan Arie keluar dari ruangan di depan ku, “apa yang kalian lakukan di sana?”
“Apa yang kau lakukan?” sahut Arie tepat saat aku bertanya.
“Kami hanya menjelajah” Arya menyahut sambil mendekatiku.
“kira-kira apa yang ada di atas?” katanya tanpa ragu melangkahkan kaki keanak tangga yang berdecit, aku mengikuti setelah beberapa langkah di belakangnya.
Angin menerpa diriku ketika sampai diujung tangga tersebut, ada teras kecil dengan tempat duduk di sekelilingnya, Arya kulihat dia sudah mengambil posisi untuk duduk dan membiarkan angin meniup rambutnya, dia terlihat sangat menikmatinya.
Aku masih terpaku menyaksikan pemandangan yang indah ini, rumah ini benar-benar di kelilingi hutan, dari atas sini ku dapat melihat sedikit rumah-rumah desa yang tertutup pohon, Arie menyusul kami, rambunya langsung di terpa angin ketika kepalanya melewati pintu kecil, membuatnya kesusahan melihat sekeliling.
Dirinya langsung mengambil tempat duduk di samping Arya, sambil masih berusaha merapikan rambut merahnya yang berantakan terkena angin. Pandangan ku terpaku pada pegunungan samar di depan ku, baru kusadari, ternyata tempat ini juga dekat dengan gunung, mungkin aku dapat mendaki sesekali, hutan di bawahnya juga terlihat ramah, bahkan terlihat dari atas sini, pasti tidak berbahaya untuk di jelajahinya seorang diri.
__ADS_1
Arie baru saja dapat menikmati pemandangan yang begitu indah dan terasa damai ini, dirinya malah terbawa angin kedalam lamunan, bersama dengan Arya, dan sepertinya mulai mengantuk. Aku duduk di sebrang mereka, pemikiran konyol yang membuatku penasaran melintas di benak ku, apa anak kembar juga menghayalkan hal yang sama.
Memikirnya membuat ku tertawa kecil, sekecil mungkin agar tidak ketahuan mereka dan membuatnya marah, rasanya tidak ada salahnya juga untuk terhanyut dalam hayalan kali ini.