
"Tas muleh nduk?"
(Baru pulang, nak?)
"Nggih Mbah, Doni Ten pundi lho kok mboten ketingal?"
(Iya kek, doni kemana ya kok tidak kelihatan?)
"Wes metu sek tas dulen Karo konco-koncone," ujar si mbah sambil menyalakan cerutu miliknya.
(Sudah keluar barusan bermain dengan teman-temannya)
Astaghfirullahhaladzim.
Laras menghela napasnya panjang. Adiknya memang tidak bisa diem. Benar-benar diperaktif. Sampai di sekolah juga dia harus banyak-banyak bersabar menghadapi ulah Doni. Baru pulang sekolah juga sudah kelayapan bikin kesel tau nggak sih. Apalagi kejadian dia ditinggal di sekolah. Pengen rasanya Laras menjitak itu kepala si adik.
__ADS_1
"Uwes, Ndang ganti seragammu. Ojo mikirne adikmu. Doni Yo wes mangan sadurunge budal dolen," tutur Mbah Tarjo kepada cucu perempuannya.
(Sudah, segera ganti seragammu. Jangan memikirkan adikmu. Doni juga sudah makan sebelum berangkat bermain)
Laras pun pamit ke kamarnya. Mbah Tarjo menghela napasnya panjang. Dia kembali teringat dengan seseorang dengan sorot mata yang tajam menatap dia dari depan pintu angkot.
"Siapa pria muda yang ikut narik angkot dengan Adit tersebut? Aku baru tahu wajahnya di kampung ini?" gumam Mbah Tarjo sambil menyedot cerutunya kembali. Dia memikirkan sesuatu yang sudah lama dia lupakan selama ini.
"Apakah aku tadi berhalusinasi?"
......................
Tampak seorang wanita sedang melayani salah satu bos mafia di sebuah kamar ekslusif yang sudah dipesan khusus malam ini.
Tubuh seorang model papan atas itu sudah basah oleh peluh. Baik itu peluh darinya maupun partner ranjangnya tersebut. Mona Angelica tidak bisa tidak mendesah karena keganasan dari hentakkan si bos mafia.
__ADS_1
Mona Angelica hanya bisa me-leng-uh dan dia tidak diberikan kesempatan untuk bisa memilih apa yang dia inginkan. Dia harus mengikuti apa yang si bos mafia itu mau. Mona tak kuasa melawan karena dia sudah kalah dari awal. Kalau dia sampai melawan maka dia takut Vraka akan semakin tidak menyukainya.
"Arthur....."
"Akh....akh...akh...."
Arthur semakin mempercepat gempurannya di atas tubuh Mona. Dia begitu menyukai service yang model itu berikan kepadanya. Dia menjadi candu dengan mona. Selain dia juga membutuhkan wanita itu untuk bisa mengorek informasi tentang Vraka dan juga venom tentunya. Lawan bisnis mafianya hanyalah Venom. Karena nama venom yang sudah dikenal banyak partner kerjanya.
Keduanya me-leng-uh setelah mencapai pe-lepa-san bersama. Arthur memeluk tubuh Mona yang juga telah basah oleh keringat keduanya. Sedangkan Mona menerawang jauh. Sampai kapan dia akan menjadi tawanan dari pria yang kini sedang bersamanya. Mona hanya menginginkan Vraka seorang. Akan tetapi pria itu cukup dingin dan tak tersentuh.
"Cari tahu dimana Vraka sekarang. Aku membutuhkan informasi itu secepatnya," bisik Arthur di telinga Mona.
Mona hanya menganggukkan kepalanya. Sambil tidur membelakangi Arthur. Mona sebenarnya tidak suka diperlakukan menjadi budak penghangat ranjang oleh Arthur. Hanya saja pria itu telah memegang kartu as nya sehingga dia tidak berkutik sama sekali.
"Aku masih ingin lagi sayang," bisik Arthur dengan suara beratnya. Mona adalah candu bagi Arthur yang selama ini suka bergonta-ganti pasangan. Akan tetapi setelah meniduri Mona, dia merasa ingin lagi, lagi dan lagi. Sayang sekali mona tampak cuek kepadanya. Arthur tahu bahwa Mona diam-diam selama ini mencintai Vraka.
__ADS_1
❤️❤️❤️
TBC