
"Kemana perginya dia? Mendadak menghilang begitu saja? apakah ini bukan sesuatu yang mencurigakan?" ucap Arthur sambil mengangkat kedua kakinya ke atas meja kerja.
"Laporan mereka, katanya Vraka ada di Indonesia karena ayahnya meninggal dunia," kata tangan kanan Arthur.
Arthur mengerutkan keningnya. Dia merasa ada sesuatu yang membuat Vraka menjadi betah berada di Indonesia. Apakah memang benar hanya masalah kematian ayahnya? Ataukah ada informasi lain yang dia tidak ketahui? Itulah sebabnya Arthur memaksa Mona untuk mencari informasi ke orang terdekat dari Vraka. Karena Mona sudah terbiasa bekerjasama dengan mereka. Tampaknya kalau Mona yang menggali informasi tidak akan dicurigai oleh kelompok mereka.
"Kita tunggu informasi terbaru dari Mona," ujar Arthur sambil menghembuskan napasnya panjang.
"Apakah tuan percaya dengan wanita itu? Dia adalah orang yang selalu bekerja untuk Vraka," kata Leo, anak buah Arthur yang begitu dipercaya.
Sedangkan pria seumuran dengan Vraka itu hanya berdecih. Jangan dikira dia lengah begitu saja karena selalu menghabiskan malam-malam panasnya dengan Mona. Arthur bisa saja melukai Mona kalau dia sampai berani mengkhianati dirinya. Wanita seperti Mona masih bahan diluaran sana. Yang mampu memberikan service terbaiknya untuk melayani Arthur.
"Kalau dia macam-macam, kita bu-nuh saja. Dan lempar mayatnya ke jurang. Beres bukan," ujar arthur dengan santainya.
Leo menganggukkan kepalanya setuju dengan pendapat tuan mudanya. Karena Leo sebenarnya kurang suka dengan keberadaan Mona di sisi tuan mudanya.
"Tentang peta harta karun itu? Apakah sudah ada titik keberadaannya?" tanya Arthur kembali.
Leo menggelengkan kepalanya.
"Tidak ada tuan muda. Saya sudah berusaha mencari tetapi yang kami dapatkan hanyalah kunci-kunci yang palsu," ujar Leo.
Dia tidak berbohong karena memang itulah yang dia dapatkan. Berita tentang harta kekayaan yang ditimbun oleh seseorang membuat kelompok mafia mereka tertarik untuk mendapatkannya. Siapa tahu kelompok mereka yang lebih dulu mendapatkan harta tersebut. Maka Arthur akan dengan mudah menguasai dunia mafia. Dia akan membuat para mafia lain bertekuk lutut di bawah komandonya. Itulah yang diharapkan oleh seorang Arthur selama ini. Namun, tidak segampang itu juga menemukan keberadaan kunci yang asli. Arthur tidak boleh sampai kecolongan oleh Vraka. Musuhnya itu tidak boleh mendapatkannya lebih dulu.
__ADS_1
"Jangan sampai keduluan oleh Vraka. Dia tidak boleh mendapatkan kunci berharga itu. Kalau tidak, kelompok kita akan berasa di bawah komandonya," ucap Arthur dengan geram.
......................
"Oh, namanya Mbah Tarjo. Orang-orang di sini suka memanggilnya kek Tarjo. Dia hanya tinggal berdua saja dengan cucunya, mbak Laras dan juga si Doni. Anaknya kek Tarjo meninggal dunia akibat kecelakaan. Menyisakan kek Tarjo dan kedua cucunya saja yang selamat waktu itu. Karena itulah kek Tarjo memilih tinggal di kampung. Lebih tenang katanya daripada tinggal di kota. Dan juga dia tidak mau kedua cucunya menjadi terus-menerus sedih setelah kehilangan kedua orang tuanya," jelas Adit dan Zayyan hanya menganggukkan kepalanya.
"Jadi kek Tarjo sudah lama tinggal di sini?" tanya Zayyan.
"Iya bang, sejak kedua cucunya masih kecil. Aku sendiri sudah mengenal mbak Laras sejak mbak Laras masih ingusan, hehehe," ucap Adit sambil terkekeh.
"Tetapi sepertinya kek Tarjo orang berpengaruh di sini ya?"
"Lebih tepatnya dituakan sama orang-orang. Selain itu juga kek Tarjo memiliki kebun paling luas dibandingkan yang lainnya. Jadinya semua orang di kampung ini sungkan dengan kek tarjo. Termasuk pak Bejo," kata Adit sambil memakan jagung yang dia bakar berdua dengan Zayyan.
"Siapa pak Bejo?"
"Itu bang, orang kaya juga di kampung kita. Cuma orangnya sombong. Nggak kayak kek Tarjo dan keluarganya. Pak Bejo itu sok banget orangnya. Belum lagi tuh anaknya si Rendi. Haduh.... gayanya selangit dan suka memamerkan harta kekayaannya kepada orang lain. Kalau ketemu mereka mending minggir aja daripada ngeladenin omongan nggak berfaedahnya," cerocoa Adit dengan nada yang tidak suka.
"Heh, Adit, jangan menggunjing sembarang. Nanti di denger salah satu anak buah kang Bejo bisa jadi panjang ntar urusannya. Ibu nggak mau kalau nanti kita jadi punya masalah sama kang Bejo," tegur Bu nonik yang baru saja muncul dari dalam rumah. Ibu bertubuh tambun itu tampak membawa dua gelas kopi pesanan putranya.
"Hadeuh ibu, aku cuma ngomong aja sama bang Zayyan. Bukan lagi menggunjing yang bukan-bukan," sahut Adit tidak terima.
"Ibu cuma kagak pengen ada masalah dit. Kamu mengerti nggak sih," balas Bu nonik.
__ADS_1
"Iya Bu, ngerti Adit," jawab Adit daripada makin panjang saja perdebatan mereka.
"Nak Zayyan tadi ketemu ya sama neng Laras?" tiba-tiba Bu nonik bertanya hal yang membuat Zayyan menjadi bingung dibuatnya.
"Iya Bu."
"Gimana pendapat nak Zayyan tentang neng Laras. Cantik nggak?"
"Ibu kenapa jadi super kepo begitu sih?" mendadak Adit merasa aneh dengan tingkah ibunya sendiri.
"Cantik Bu," jawab Zayyan singkat.
"Ya nggak apa-apalah. Neng Laras anaknya baik, cantik, dan juga ramah. Dia suka membantu orang lain. Nggak sombong. Andai usia Adit lebih tua dari dia. Pengen rasanya ibu lamar jadi calon menantu. Tetapi harapan tidak sesuai dengan kenyataan. Kalau nak Zayyan suka dan pengen deket sama neng Laras. Ibu mendukung banget," kata Bu nonik mengutarakan maksud hatinya.
"Astaghfirullah buk, kenapa jadi bahas perjodohan. Bang Zayyan ke kampung ini cuma pengen ziarah dan liburan aja. Kenapa ibu malah semangat bener jadi tempat ajang jodoh," celetuk Adit menanggapi ulah sang ibu.
"Ya nggak apa-apa dit, siapa tahu jodohnya neng Laras orang dari kota kayak nak Zayyan. Lagian kalau ibu lihat-lihat nak Zayyan ganteng lho. Cocok sama neng Laras yang cantik," kata Bu nonik dengan semangat.
"Astaga, emakku kenapa mendadak agak lain begini ya," lirih Adit sambil menyeruput kopinya. Sedangkan Zayyan hanya tersenyum tipis melihat ibu dan anak tersebut.
❤️❤️❤️
TBC
__ADS_1