
Sampai keduanya dalam perjalanan pulang. Laras belum memutuskan jawabannya untuk pertanyaan Zayyan kepadanya. Tetapi pria itu tidak akan memaksa Laras karena ini masalah yang tidak bisa secepat itu juga diputuskan. Zayyan memberikan waktu kepada Laras untuk berpikir.
Keduanya kini tengah melewati hamparan sawah dan gunung yang begitu indah. Keindahan Sang Maha Agung yang tak mungkin dielakkan oleh siapapun.
Itulah mengapa banyak yang betah tinggal di desa Sukamaju. Tempatnya yang indah dan bersih dari polusi membuat udara di sana jauh lebih segar daripada di kebanyakan tempat. Zayyan yang selama ini selalu berada di kota-kota besar pun mengakui hal tersebut.
Mereka berdua melewati jalan setapak agar lebih cepat sampai di rumah. Jalan yang sepi namun terasa sejuk saat melihat pemandangan sawah dan pohon padi yang tampak menghijau di sebelah kanan dan kiri mereka.
Laras bahkan saking nyamannya sampai bersandar di punggung Zayyan tanpa sadar. Walaupun jalan yang mereka lewati jalanannya tak mulus, terasa gronjal-gronjal tak beraturan. Akan tetapi Laras merasakan suatu keanehan saat laju motor yang dikendarai oleh Zayyan terasa memelan. Perasaan Laras sudah tidak enak saja.
"Bang kenapa jalannya pelan...."
Laras melihat ke depan dan mendapati beberapa orang mencegat perjalanan keduanya. Laras mengeratkan pegangannya di kemeja yang dikenakan oleh Zayyan hingga tampak kusut.
"Mereka mau ngapain bang?" tanya Laras lirih.
Laras semakin tidak tenang saat salah satu dari enam orang yang mencegat mereka terlihat berjalan mendekat. Sedangkan Zayyan terlihat biasa dan tenang saja. Jarak mereka semakin dekat membuat Laras bisa melihat salah satu dari kelima orang di sana.
"Astaga, itu kan si Rendi, mau ngapain lagi sih dia? Nggak ada kapok-kapoknya deh."
__ADS_1
Zayyan menyunggingkan senyuman tipisnya saat mendengar gumaman Laras di telinganya.
Zayyan berdiri menjulang di hadapan keenam orang yang dia diantaranya dia mengenalinya. Dengan santainya Zayyan menatap satu persatu Manusi yang tengah memandang remeh kepadanya. Terutama si Rendi, manusia lemah yang sok kuat didepannya. Ingin sekali rasanya Zayyan meremukkan anak kurus itu. Dia sudah berani melukai Laras tempo hari maka kalau hari ini dia berani melawannya akan Zayyan sikat sekalian.
"Oh jadi ini orang baru di kampung yang berani mukulin den Rendi."
Salah satu orang yang tidak Zayyan kenal langsung menudingkan telunjuknya tepat ke arah wajah Zayyan. Pria itu menatap remeh ke arahnya. Bagian leher yang bertato kalajengking, dan juga kedua tangannya penuh dengan tato membuatnya merasa tampak sangat di depan Zayyan. Namun siapa sangka jika Zayyan justru santai-santai saja.
"Iya kang Jambrong. Dia sudah berani mukul aku dan ngambil cewek aku sekarang. Kalau saja waktu itu aku nggak lagi sakit pasti aku bisa ngalahin dia kang. Apalagi cewek aku sekarang sudah diambil oleh dia. Sukanya main rebut barang milik orang saja kok," sungut Rendi seperti anak kecil yang mengadu kepada orang tuanya karena mainnya diambil orang lain.
"Apa maksud kamu ya ren!" bentak Laras.
"Heh! Jaga ucapanmu ya ren. Siapa cewek kamu. Dan juga aku bukan barang yang suka kamu permainkan. Lagipula kita tidak pernah menjalin hubungan apapun. Kamu saja yang selalu nguber-nguber aku nggak jelas. Dan kemarin kamu juga yang menyakiti aku di tengah jalan seperti itu. Apakah itu yang kamu katakan cinta, hah!!! Sakit emang kamu ya," cerocos Laras dengan amarah yang tertahan.
"Sayang kenapa kamu berkata seperti itu setelah mengenal dia. Apakah kamu udah nggak sayang lagi sama aku?" ucapan Rendi sudah semakin melantur saja membuat Laras rasanya ingin menimpuk kepala Rendi yang sudah tidak berfungsi dengan baik tersebut.
"Siapa yang kamu panggil sayang, heh? Jangan sembarangan memanggil sayang kepada calon istriku!" ucap Zayyan dengan tegas dan hal itu membuat Rendi mengepalkan kedua tangannya. Dia merasa tidak terima jika Laras menjadi calon istri Zayyan. Laras tercipta hanya untuk Rendi seorang.
"Heh, orang baru! Jangan mentang-mentang kamu lebih cakep ya. Terus berani mengklaim kekasihku sebagai calon istrimu. Aku kasih paham ya! Laras hanya tercipta untuk Rendi. Dan dia hanya akan menjadi nyonya Rendi Achmad Subejo seorang!" teriak Rendi seperti orang kesetanan. Beberapa anak buah Jambrong sampai kewalahan menghadapi Rendi.
__ADS_1
Melihat tingkah Rendi membuat Laras khawatir. Entah mengapa perasaannya sedikit tidak tenang saja.
"Jangan takut sayang, ada Abang di sini ya," Zayyan malah sengaja menampilkan kemesraan di depan Rendi dan para anak buahnya.
Dengan lembut zayahn membelai pipi Laras yang tembem dan mulus itu. Membuat Rendi semakin mendengus bak banteng yang hendak menyeruduk saja.
"Aku nggak apa-apa bang, tapi perasaanku kenapa nggak enak ya."
Zayyan tersenyum lalu meraih kedua tangan Laras, diibawanya ke arah bibir. Zayyan menciuminya dengan lembut, seolah-olah tengah menyalurkan perasaan tenang yang dia miliki untuk Laras.
"Gimana? Udah enakan perasaan kamu?"
Laras yang diperlakukan semanis itu bagaimana tidak speechless coba? Rasanya tubuhnya seperti jelly saja yang sewaktu-waktu bisa meleyot melihat sikap Zayyan begitu perhatian kepadanya yang sedang cemas.
BANG-SAAATT!!!! KITA NUNGGUIN KALIAN DI SINI BUKAN UNTUK MELIHAT DRAMA KEMESRAAN KALIAN YA!
❤️❤️❤️
TBC
__ADS_1