
Pagi itu adalah hari pertama Vraka bangun di desa Sukamaju. Ia melihat-lihat keadaan di sekitarnya. Dia masih memperhatikan sekitarnya. Ibu-ibu tambun yang dia selamatkan kemarin banyak membantunya begitu pula dengan anak lelaki ibu tersebut.
"Bang Zayyan, baru bangun?" tanya Adit, anak tunggal ibu nonik.
"Eh, dit, enggak, udah dari tadi, ngapain kamu?" tanya Zayyan mendekati Adit yang sedang membersihkan angkotnya.
"Bersih-bersih bang, mau narik ini," jawab Adit sambil tersenyum.
"Aku ikut ya dit, boleh nggak?" tanya Vraka. Dia sengaja mau ikut Adit narik angkot biar dia kenal dengan orang-orang di sekitarnya. Itu akan mempermudah dia menemukan sosok yang dia cari.
"Wah boleh banget bang Zayyan. Dengan senang hati aku sih malah berterimakasih Abang mau bantuin narik," Adit bersemangat karena Zayyan mau membantunya hari ini.
Akhirnya kedua pemuda itu bersama-sama narik angkot. Kerjaan Adit memang supir angkot di desa Sukamaju. Pemuda lulusan Sekolah Menengah Pertama itu begitu luwes menguasai setir mobil. Orangnya juga ramah dan mudah berbaur dengan orang lain.
Vraka menjadi kenek angkotnya kali ini. Dia memang tidak banyak berbicara dengan orang lain. Hanya menarik uang dari para penumpang saja. Selebihnya dia hanya diam, duduk, dan mengamati kondisi di desa Sukamaju.
Seorang gadis berpakaian batik dan rok panjang hitamnya tampak sedang menunggu angkot yang biasanya lewat di depan sekolah, tempat ia mengajar.
"Bu Laras belum pulang juga?" tanya guru olahraga yang melihat Laras masih berdiri menunggu angkot lewat sedari tadi.
"Eh, belum Pak Kuswo, ini masih nunggu angkot," jawab Laras.
"Mau saya antarkan saja kah? Daripada nunggu angkotnya lama," tawar Kuswo, guru olahraga yang seumuran dengan Laras tersebut. Dan sebenarnya dia memendam perasaan dengan Laras. Hanya saja Bu guru cantik itu tidak pernah mau merespon perasaannya.
"Enggak pak, saya naik angkot saja. Lagian rumah kita juga tidak searah," tolak Laras dengan halus.
"Tapi saya nggak apa-apa kok nganterin Bu Laras sampai rumahnya," ucap Pak Kuswo masih mencoba mendekati Bu Laras walau sedikit memaksa. Siapa tau kan kali aja diterima.
"Maaf ya Pak Kuswo saya naik angkot saya, itu angkotnya Adit sudah terlihat. Mari saya duluan, permisi, assalamualaikum," pamit Laras lalu bergegas meninggalkan Kuswo yang merasa kecewa karena lagi-lagi gagal mendekati gadis pujaan hatinya.
"Waalaikumsalam."
Gagal lagi, gagal lagi, hadehhhhh, batin guru olahraga itu kesal.
__ADS_1
Laras melambaikan tangannya menyetop angkot milik Adit tersebut. Laras melihat ada seseorang asing yang dia temui di angkot milik Adit.
"Naik aja mbak Laras, itu temen Adit, namanya bang Zayyan. Dia orang baru di kampung kita ini," ucap Adit yang melihat tatapan Laras kepada sosok Zayyan.
"Oh gitu ya, salam kenal saya Laras," ucap Laras sambil mengulurkan tangannya.
Zayyan, di ketua venom tersebut membalas uluran tangan gadis manis berlesung pipi di hadapannya.
"Zayyan," jawabnya singkat.
"Bang Zayyan ini dari kota sana mbak Laras. Kesini mau nyekar ke makam orang tuanya. Ayah dan ibunya di makamkan disini. Anaknya pak Ahmad dan Bu Aini. Dulunya orang kampung sini juga. Sambil liburan di desa kelahiran dia dulu katanya, bener nggak bang?" tanya Adit setelah menjelaskan secara panjang lebar kepada Laras.
"Iya bener."
"Karena rumah mereka juga sudah dirobohkan makannya bang Zayyan sekarang tinggal di kontrakan ibu aku mbak," ujar Adit kembali.
"Oh, begitu," sahut Laras sambil tersenyum.
"Lah mbak Laras tumben lho nggak bawa kendaraan. Motornya kemana mbak?" tanya Adit karena tumben aja Laras naik angkotnya.
"Oalah pantesan aja mbak sampai naik angkot."
"Iya karena si bocah nakal itu juga nggak mau mbonceng aku. Sepulang sekolah dia sudah kabur aja," lanjut Laras sekarang dengan nada sedikit kesal.
"Maksud mbak Laras si Doni?" tanya Adit memperjelas.
"Iya dit."
"Hadeuh bocah itu emang nakal kok mbak. Masak iya mbak ditinggal begitu aja," ujar Adit sambil terkikis geli.
Laras pun membalas," ya emang kelakuan doni agak lain daripada yang lain."
Adit tertawa lepas mendengar ucapan Laras. Satu desa juga tahu bagaimana kelakuan adik Laras yang super duper banyak tingkahnya. Zayyan hanya diam saja selama Laras dan Adit berbincang-bincang. Keduanya asyik bercakap-cakap dan seringkali Zayyan memperhatikan Laras yang tertawa lepas.
__ADS_1
"Sudah nyampek mbak."
Laras memberikan uang sepuluh ribu kepada Zayyan karena dia sudah sampai di depan pelataran rumahnya.
"Kembaliannya mbak."
"Nggak usah bang, ambil aja, si Adit juga biasanya gitu kok," Laras menolak sodoran uang lima ribuan oleh Zayyan.
"Udah bang nggak apa-apa. Kalau mbak Laras yang naik untung banyak aku," jawab Adit dengan senyun mengembang.
"Makasih ya dit," pamit Laras yang turun dari angkot.
"Aku yang justru makasih mbak, besok aku lewat sini kalau mbak Laras berbakat kerja. Biar nggak bingung, katanya motornya masih belum beres?"
"Wah ide bagus itu dit, makasih sekali lagi lho ya."
"Sama-sama mbak."
"Makasih ya bang zay," ucap Laras sambil tersenyum dan dijawab anggukan kepala oleh Zayyan.
Zayyan memperhatikan Laras yang berjalan dan disambut oleh seorang lelaki tua yang tatapannya cukup membuat Zayyan merasa ada sesuatu yang aneh.
"Bang, ayo narik lagi," ajak Adit yang sudah bersiap berangkat.
Kemudian angkot itupun kembali melaju meninggalkan tempat kediaman Laras.
"Ekhemmmm... kenapa jadi melamun bang. Naksir sama mbak Laras ya?" tanya Adit yang melihat Zayyan menjadi tampak melamun setelah Laras turun.
"Enggak kok."
"Iya juga nggak apa-apa bang. Lagian mbak Laras juga masih single dan juga cantik sih," kata Adit sambil tersenyum masih menggoda Zayyan.
Mendengar hal tersebut Zayyan hanya menghela napasnya panjang. Dia tadi tampaknya melihat sosok yang cukup mencurigakan. Siapa laki-laki tua yang ada di rumah Laras. Sepertinya malam ini Zayyan harus menyelidiki siapa kakek-kakek yang ada di rumah Laras tersebut.
__ADS_1
❤️❤️❤️
TBC