
Braaaaaakkk!
KURANG AJAR!!!!!!
Teriakan itu berasal dari juragan Bejo yang marah karena melihat putra kesayangannya mengalami luka parah. Ya, Rendi mengalami luka di tangannya akibat dipelintir dengan keras oleh Zayyan.
Plak!
Plak!
Kedua pipi anak buah Rendi menjadi sasaran kemarahan juragan bejo. Kedua orang tersebut sudah dia bayar untuk menjaga putranya kalau ada masalah. Ini malah pulang-pulang rendi dalam keadaan terluka. Bagaimana juragan Bejo nggak marah melihatnya. Anak buah yang nggak bisa diandalkan sama sekali.
"Kalian ini dibayar mahal buat jagain Rendi. Kenapa jadi dia pulang-pulang dalam kondisi luka parah dan juga lebam seperti itu, hah!" teriak juragan Bejo tidak terima putranya dianiaya oleh orang lain.
"Maaf juragan, orang yang kami lawan kali ini berbeda. Dia bukan orang warga sini. Dan dia juga jago beladiri juragan," ucap salah satu anak buah Rendi dengan raut wajah ketakutan.
"Bukan warga sini?" tanya juragan Bejo dengan nada tinggi.
"Benar juragan," sahut yang lainnya.
"Mau sok jagoan rupanya dia berani melukis anakku segala. Tunjukkan siapa dia padaku. Dan bawa semua anak buah Jarot. Kalau perlu kita habisi saja itu nyawa bocah tengik kurang ajar yang sudah berani melukai anakku. Belum tahu dia kalau berhadapan dengan siapa di kampung ini mau mentang-mentang aja. Kurang ajar!" geram juragan Bejo sambil meremas kertas yang ada dihadapannya.
__ADS_1
......................
"Kita mampir rumah dulu ya dit," ujar Zayyan sambil mengarahkan mobil angkotnya ke rumah Bu nonik.
"Tapi jam setengah satu kita jemput mbak Laras lho bang," ingat Adit kalau saja Zayyan lupa kalau jam satu mereka ada rencana menjemput cucu kek Tarjo itu di sekolahnya.
"Iya, aku mau ambil salep aja," jawab Zayyan dan berjalan ke dalam rumah kontrakannya.
"Salep? Buat apa?" gumam lirih Adit sambil masuk ke dalam rumahnya untuk mengambil makan siang dan juga minuman. Dia lapar bener hari ini padahal biasanya sore baru makan aja dia tahan.
Kalau jam segini Bu nonik masih berjualan di pasar. Dan sore hari sekitar jam empat baru sampai di rumah. Keseharian ibunya itu berjualan baju di pasar. Ibunya yang seorang janda tersebut hanya hidup berdua saja dengan Adit. Selain memiliki kontrakan, Bu nonik juga berjualan di pasar untuk menambah penghasilan. Adit yang tahu perjuangan keras ibunya selama ini. Dia juga tidak macem-macem anaknya. Adit tidak pernah neko-neko. Dia anak yang rajin membantu sang ibu. Bersyukur Bu nonik karena Adit menjadi anak yang baik dan penurut selama ini. Bahkan Adit tidak malu menjalankan mobil angkot milik almarhum ayahnya untuk menambah penghasilan.
Zayyan mengantongi sebuah salep yang ada di tasnya. Salep itu rencananya akan dia berikan kepada Laras. Melihat luka memar di pergelangan tangan laras akibat ulah Rendi. Membuat Zayyan merasa tidak tega.
"Makasih dit," sahut Zayyan.
Ia melahap dengan cepat makanan yang diolah oleh Bu nonik. Makanan ibu Adit ini benar-benar lezat. Tampaknya Bu nonik berbakat sebagai koki karena hasil masakannya begitu nikmat.
"Emang Abang ambil apaan sih?" tanya Adit yang kepo dengan apa yang Zayyan ambil di kontrakannya barusan.
"Salep buat Laras."
__ADS_1
Uhuk
Uhukkk
Uhuuukk
Seketika Adit tersedak makanannya sendiri akibat mendengarkan ucapan Zayyan.
"Minum dit," ucap Zayyan sambil menyodorkan segelas air mineral ke arah Adit.
Glek
Glek
Glek
Adit segera meminum air tersebut. Dia kaget mendengar ucapan Zayyan yang tampak perhatian dengan Laras.
"Wah kayaknya ada yang lagi perhatian neh," ledek Adit setelah dia selesai minum.
"Biasa aja," sahut Zayyan dengan raut wajah datarnya.
__ADS_1
❤️❤️❤️
TBC