
Black telah mempersiapkan segala kebutuhan untuk Vraka selama menyamar menjadi orang biasa. Dia sudah membuatkan identitas yang baru untuk Vraka. Indonesia juga tempat yang bagus untuk menyamar karena di sana tidak begitu mengenal wajah tuan mudanya. Vraka sudah lama tinggal di luar negeri.
"Identitas anda sekarang bernama Zayyan, pemuda yatim piatu. Anda bisa menggunakan identitas ini," ucap Black memberikan sebuah tanda pengenal yang baru kepada Vraka.
Beserta sebuah tas yang berisi keperluan Vraka nantinya selama berada di desa sukamaju tersebut.
Vraka melihat semua perlengkapan yang dia butuhkan dan dia tampak puas dengan kinerja black yang cukup cepat dan tangkas.
"Baiklah, black, aku titip perusahaan," ucap Vraka sambil menepuk bahu black. Keduanya telah berteman baik selama ini. Dan karena vraka anak tunggal maka dia sudah menganggap black seperti saudaranya sendiri.
"Beberapa anak buah pilihan akan saya kerahkan di dekat anda tuan muda. Jadi secepatnya anda bisa menghubungi mereka jika terjadi masalah," kata black yang tentu saja tidak akan membiarkan tuan mudanya berada sendirian di luar.
"Baik, aku percaya padamu black."
Black pun mengantarkan tuan mudanya hanya sampai bandara. Dia menatap langkah Vraka yang kini bepergian tanpa ada dirinya yang selalu berada di sisinya. Black berharap bahwa tuan mudanya tersebut bisa segera menemukan sosok Jacob, yang merupakan lemah penting yang mengetahui harta karun yang sempat diduga oleh Jack adalah harta milik tuan Vranko Lewis. Jadi sudah selayaknya jika harta itu kembali kepada pemiliknya.
......................
Sementara itu di sebuah tempat yang terpencil. Jauh dari keramaian ibukota. Tempat yang masih asri dengan pemandangan alamnya. Sawah, sungai, dan gunung nampak begitu menyejukkan mata yang memandangnya. Jalanan yang lengang karena masih beberapa orang saja yang memiliki kendaraan bermotor. Itupun paling banyak juga sepeda motor saja.
__ADS_1
Tok
Tok
Tok
"Doni bangun?!" panggil seorang gadis sederhana dengan rambut dikuncir ekor kuda. Dia sedari tadi mengetuk pintu beberapa kali agar yang berada di dalamnya segera bangun.
" ini sudah siang, kamu bisa telat sekolah nanti!" teriaknya kembali membangunkan adiknya yang selalu saja susah bangun pagi.
"Astaga anak ini!" geram gadis tersebut kembali karena tidak ada sahutan sama sekali dari balik pintu.
Terdengar suara deheman dari dalam membuat gadis itu terdiam dan menatap seseorang yang muncul dari dalam.
"Doni wes budal sekolah nduk, jare mau selak piket karo durung nggarap tugas ngunu," ujar pria yang sudah berumur hampir tujuh puluh tahun tersebut.
(Doni sudah berangkat, nak, katanya keburu piket dan belum mengerjakan tugas)
"Lah kok ora pamitan aku toh Doni iku Mbah? Ancene bocah gemblung kok. Marahi wong isuk-isuk wes kudu ngamuk ae," ujar gadis tersebut lalu berjalan membantu si kakek untuk duduk di kursi meja makan. Dia sudah teriak-teriak sedari tadi ternyata malah orang yang dia bangunkan sudah tidak ada di kamarnya.
__ADS_1
(Kenapa tidak pamitan padaku Doni itu kek? Memang dasar bocah sableng. Membuat orang pagi-pagi sudah marah-marah saja)
"Wes nggak usah mureng-mureng ae. Ayo sarapan bareng Mbah wae. Selak keburu budal ngajar toh? Mengko lak yo ketemu Doni ono sekolahan, iyo to?" ajak si kakek kepada cucu perempuannya.
(Sudahlah, tidak perlu marah-marah terus. Ayo sarapan bareng kakek saja. Keburu berangkat mengajar kan? Nanti kan juga ketemu Doni di sekolah, iya kan?)
"Berarti Doni dereng sarapan toh Mbah? piye karepe bocah iku," lagi-lagi gadis cantik itu menghela napasnya panjang. Pusing juga dia memikirkan ulah adiknya yang Badung tersebut.
(Berarti Doni belum sarapan ya kek? bagaimana sih maunya anak itu).
"Bungkusne bekal wae opo susahe to nduk? Ora usah digawe angel Yo. Ancen adhimu Kuwi kelakuane koyo ngunu," ujar si kakek sambil tersenyum melihat kedua cucunya yang selalu saja ribut setiap harinya. Namun menjadi hiburan tersendiri di masa tuanya. Rumah menjadi lebih hidup dengan adanya kedua cucunya tersebut.
(Bungkuskan saja bekal apa susahnya sih nak? Tidak perlu dibuat susah ya. Memang adikmu kelakuannya seperti itu)
"Nggih pun Mbah," sahut gadis berlesung pipi itu menurut dan menemani sang kakek sarapan bersama.
(Baiklah kek)
❤️❤️❤️
__ADS_1
TBC