Milyarder Jatuh Miskin

Milyarder Jatuh Miskin
12


__ADS_3

"Ingat ya Don, jangan kelayapan sepulang sekolah. Mbak bakalan tambah hukuman kamu kalau kamu lalai nggak ngerjain tugas rumahmu lagi," ancam Laras kepada adik satu-satunya itu. Yang tingkahnya bener-bener bikin orang beristighfar terus terusan.


"Haduh mbak, gitu aja marah-marah terus," sahut doni dengan santainya sambil menikmati masakan Laras yang selalu lezat rasanya.


"Eh, mbak marah karena ku sudah berulang kali dihukum sama guru kelasmu gara-gara nggak mengerjakan PR. Mbak malu tahu nggak sih Don. Kamu benar-benar ya pengen mbak kasih hukuman emang," ujar Laras geram.


Mbah Tarjo yang melihat kedua cucunya itu ribut di saat sarapan hanya gelengan kepala.


"Jangan ulangi lagi Doni, kamu harus nurut apa kata mbakmu. Semua demi kebaikan kamu nantinya," ujar kek Tarjo menengahi. Kalau nggak segera diselesaikan bisa-bisa Laras akan terus mengomel sampai nanti.


"Ngerti kamu Don!" tegas kek Tarjo kali ini.


Doni menghela napasnya panjang.


"Baik kek," jawabnya patuh.


Kalau sudah si kakek yang turun tangan. Maka doni akan kicep. Dia akan menuruti apa yang sang kakek ucapkan kepadanya.


"Laras sekarang ayo kita sarapan dengan tenang nduk. Jangan marah-marah di depan makanan. Ora ilok," ujar Kek Tarjo mengajak cucu perempuannya itu untuk makan bersama.


"Iya Mbah."


"Oya Laras, kemarin itu anak muda yang bersama Adit itu siapa ya? Kok Mbah baru tau wajahnya. Apakah dia bukan orang sini ya?" tanya kek Tarjo mengingat kembali pemuda yang dia lihat dari teras rumah kemarin saat angkot Adit mengantarkan Laras pulang.

__ADS_1


"Oh dia namanya bang Zayyan. Orang kota sih kata Adit. Kesini karena rindu dengan kedua orang tuanya yang dimakamkan disini. Begitu katanya."


"Siapa nama orang tuanya?" tanya kek Tarjo penasaran.


"Pak Ahmad dan Bu Aini."


Kek Tarjo seketika terdiam dan tampak memikirkan sesuatu. Laras yang duduk di depan kakeknya melihat perubahan itu dari wajah sang kakek. Tampak ada sesuatu yang sedang beliau pikirkan.


"Kakek kenapa? apakah ada masalah?" tanya Laras yang menjadi khawatir dengan perubahan sikap sang kakek tersebut.


"Ah enggak kok nduk, wes ayo Ndang dimarekke sarapanne," ucap Kek Tarjo berusaha mengubah suasana seperti awal lagi.


Laras pun segera menyelesaikan sarapannya karena dia juga sudah janjian dengan Adit untuk berangkat ke sekolah barengan. Doni masih nggak mau bonceng kakaknya karena dia ingin berangkat bareng teman-teman lainnya. Laras pun akhirnya akan naik angkot saja.


"Doni juga berangkat sekolah dulu kek," pamit Doni melakukan hal yang sama seperti kakak perempuannya.


"Iya hati-hati kalian berdua. Jangan nakal di sekolah ya Don. Kasihan mbak Laras kalau kamu banyak ulah di sekolah," pesan kakek Tarjo.


"Baik Kek," jawab Doni. Kemudian dia segera berangkat mengayuh sepedanya menuju ke sekolah.


Sedangkan Laras menunggu kedatangan angkot Adit yang kemarin sudah janji akan lewat depan rumahnya.


Tin

__ADS_1


Tin


Tin


Terdengar suara klakson dari angkot Adit. Pucuk dicinta ulam pun tiba.


"Mari mbak Laras," panggil Adit yang kali ini sudah berganti profesi sebagai kenek angkotnya sendiri.


Rupanya Zayyan lah yang menyopiri angkotnya. Ya, Zayyan merasa dia lebih cocok menjadi sopir karena dia tak perlu banyak bicara. Biar urusan itu dilakukan oleh Adit.


"Laras pamit ya kek."


"Hati-hati nduk."


"Pamit duluan ya kek," ujar Adit ikut berpamitan kepada kek Tarjo.


"Iya dit, jagain cucuku yo."


"Siap kek, mbak Laras aman," sahut Adit. Kemudian angkot itupun berjalan meninggalkan kediaman Mbah Tarjo.


"Pria yang jadi sopir itu kenapa aku merasa mengenal tatapan seperti dia ya. Hmm, apa ini hanya perasaanku saja?" batin Mbah Tarjo setelah memperhatikan lagi sosok Zayyan yang barusan dia lihat.


❤️❤️❤️

__ADS_1


TBC


__ADS_2