Mimi Si Gadis Bayi

Mimi Si Gadis Bayi
Menjalankan Rencana Selanjutnya


__ADS_3

Mimi sampai menggelengkan kepalanya, entah segila apa wanita dihadapannya ini yang menjadi induk susunya sekarang. Dia semakin stres dan depresi karena ulah Bu Kinasih terhadapnya.


...****************...


Jam 05.30 dini hari, Bu Kinasih menuju gudang untuk melihat kondisi Adya yang sedang disekap didalam gudang itu. Dengan membawa tumpukkan rumput untuk dikonsumsi oleh Adya.


Bu Kinasih melihat kondisi Adya yang semakin menjijikkan. Kotoran tinja yang tak pernah dibersihkan semakin menumpuk dan tertampung di balik sempakknya dan membuat kotoran tinja itu banyak keluar dan menempel hingga kebagian paha dan lututnya. Aroma bau yang sangat menyengat yang berkomposisi antara aroma tinja dengan bau pesing terpadu menjadi satu.


Bu Kinasih yang sudah terbiasa dengan korbannya yang beraroma seperti itu tampak biasa saja dan tidak perlu menutupi hidungnya. Bu Kinasih menghampiri Adya yang terikat dengan rantai dan tali itu, sambil menaruh tumpukkan rumput ke hadapan Adya agar mudah Adya konsumsi.


Cara Bu Kinasih memperlakukan Adya seperti memperlakukan seekor kambing. Adya yang sedang kelaparan melahap makanan itu langsung menggunakan mulutnya, karena kedua tangan dan kakinya terikat kuat dengan rantai dan tali.


Adya yang memakan tumpukkan rumput itu dengan lahap karena dia sangat kelaparan dan tidak diberikan makanan lain selain rumput tersebut. Adya tampak kehilangan harga diri karena telah dilecehkan dan diperlakukan seperti binatang.


"Kau pasti merindukan majikanmu, si Bu Rebecca, kan?!" Bu Kinasih mengajak Adya untuk mengobrol. Tetapi Adya tidak mempedulikan perkataan Bu Kinasih karena dianggap percuma.


"Majikkanmu pasti bangga denganmu jika melihatmu sekarang. Jadilah binatang yang jinak biar majikkanmu nggak menyiksamu!" Ujar Bu Kinasih.


Bu Kinasih melihat wadah yang menampung air hujan untuk diminum oleh Adya ternyata sisa sedikit. Bu Kinasih mengambilkan air hujan yang letaknya di samping gudang yang telah dipasang talang air hujan, dengan menggunakan timba plastik bekas wadah cat tembok. Kemudian air itu dituangkan untuk minumnya Adya.


"Selamat menikmati hidangannya ya! Aku harus mandi dan bersiap untuk pergi bekerja." Ujar Bu Kinasih, yang kemudian pergi meninggalkan Adya didalam gudang dan menggembok pintu gudang itu dari luar.


...****************...


Bu Kinasih yang sudah mandi dan memakai seragam kerjanya, sarapan pagi, dan bersiap untuk bekerja, membangunkan Mimi yang tertidur pulas di dalam kamarnya untuk disusui terlebih dahulu sebelum berangkat bekerja.


Sambil menyusui Mimi dipangkuannya, Bu Kinasih memegang dahi Mimi untuk memeriksa kondisi suhu tubuh Mimi.


"Akhirnya tubuhmu sudah nggak panas lagi, sayang! Tampaknya Mimi sudah mulai sehat." Ujar Bu Kinasih yang merasa senang.


Sambil menyusui Mimi di buah dada sebelah kirinya, kini Bu Kinasih juga membuka buah dada disebelah kanannya dari dalam bra hitamnya. Kemudian menempelkan alat perah Asi untuk diperah air susunya, karena akan dicampur dengan bubur bayi dan dimasukkan kedalam botol untuk makan dan minum Mimi siang nanti.


Mimi yang sambil menghisap putingg susu Bu Kinasih, hanya bisa memperhatikan apa yang yang dilakukan oleh Bu Kinasih yang sedang memerah Asinya.


Setelah selesai, Bu Kinasih meletakkan tubuh Mimi keatas kasur kapuk dan meletakkan makanan dan minuman untuk makan siang Mimi.


Bu Kinasih kembali memasukkan kedua buah dadanya yang sangat besar itu kedalam bra hitamnya dan mengancing baju seragam kerjanya kembali.


"Mama berangkat bekerja dulu ya, nak! Jangan nakal selama dirumah!" Kata Bu Kinasih yang kemudian mencium kening Mimi dan akhirnya bergegas pergi untuk menuju ketempat kerjanya, meninggalkan Mimi sendirian didalam kamar. Tak lupa Bu Kinasih mengunci pintu kamarnya agar Mimi tidak bisa keluar dari kamar itu.


...****************...


Pada saat jam maka siang, Bu Kinasih bersama dengan Dokter Rebecca ngobrol di tempat biasanya, sebuah restoran yang sepi pengunjung agar pembicaraan mereka tak mudah didengar orang, sambil menikmati hidangan makan siang.


"Mimi sudah sembuh dari demamnya, apakah cairan itu sudah bisa disuntikkan ke lutut Mimi?! Aku sudah nggak sabar ingin melihat Mimi merangkak kepadaku." Ujar Bu Kinasih.


"Kebetulan aku juga sudah mendapatkan kabar dari anak buahku, jika pria suruhan mantan suamiku itu sudah tidak pernah mengikutiku lagi. Mungkin mantan suamiku itu mengurungkan niatnya untuk mencurigaiku." Kata Dokter Rebecca.


"Berita bagus itu, Bu! Aku nggak sangka jika mantan suaminya Bu Dokter bisa menarik anak buahnya secepat itu." Kata Bu Kinasih.


"Tapi kita harus tetap waspada. Kita nggak tahu apa yang direncanakan mantan suamiku itu." Jawab Dokter Rebecca.


Dokter Rebecca langsung mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya, "Oh ya, saya hampir aja lupa. Sebelum kita suntikkan cairan itu ke dalam lutut Mimi, tolong berikan dia ini terlebih dahulu." Bu Kinasih menyerahkan sebuah kotak kecil dan panjang seperti kemasan Vitamin.


"Apa itu, Bu?" Bu Kinasih bertanya lagi.


"Proses melemahkan lutut itu pasti sangat menyakitkan. Makanya ini harus diberikan kepada Mimi untuk menjaga daya tahan tubuhnya. Berikanlah dia malam ini sebelum tidur, dan pagi setelah makan, besok sore kita akan suntikkan cairan itu ke lutut Mimi." Ujar Dokter Rebecca.


Bu Kinasih tampak tersenyum, "Aku pasti nggak sabar menunggu waktu besok."


"Aku pun juga nggak sabar pengen melihat kondisi Adya sekarang." Jawab Dokter Rebecca. "Oh ya, ngomong-ngomong selama Adya didalam gudang apakah kau tetap memberikannya rumput untuk dimakannya?"


"Tentu, Bu Dokter. Setiap pagi aku selalu memberikan rumput yang banyak untuknya. Bu Dokter nggak perlu khawatir." Jawab Bu Kinasih.

__ADS_1


"Bisakah ibu menggantikan menu makanannya untuk Adya?" Dokter Rebecca bertanya lagi.


"Memangnya mau diganti apa, Bu?" Tanya Bu Kinasih.


"Aku ingin dia seperti anjing. Aku ingin kau memberikan makanan sisa yang sudah menjadi sampah buatnya. Makanan yang sudah basi pun nggak masalah." Ujar Dokter Rebecca.


"Tampaknya ibu sudah mulai menjadi jahat dan lebih gila dari sebelumnya, Bu!" Kata Bu Kinasih.


"Hahahaha.. Itu semua gara-gara kamu yang selalu pengaruhi aku." Dokter Rebecca tertawa.


"Nggak masalah, Bu! Anjing peliharaan ibu itu akan aku kasih makanan sisa." Jawab Bu Kinasih tersenyum.


...****************...


Malam hari sebelum tidur, Bu Kinasih yang baru saja selesai menggantikan popok Mimi karena habis buang air besar didalam popoknya. Bu Kinasih yang tidak memakai baju dan bra, hanya memakai sarung untuk menutupi dada hingga lututnya. Kemudian Bu Kinasih bersandar ditembok sambil membaringkan Mimi di pelukannya.


"Besok sore Tante Rebecca akan kesini lagi buat menemui anjing kesayangannya di gudang." Kata Bu Kinasih sambil memangku tubuh Mimi dan menyandarkan badannya di pelukannya.


"Apa urusannya denganku? Aku nggak peduli." Jawab Mimi.


"Tante Rebecca juga memberimu ini!" Bu Kinasih membuka kotak kecil berukuran panjang, dan mengeluarkan isi kotak itu yang bentuknya seperti permen hisap.


"Ambillah!" Bu Kinasih memberikan tablet seperti permen hisap itu ke mulut Mimi, dan Mimi pun menerimanya.


"Gimana rasanya, nak? Enak..?" Bu Kinasih bertanya kepada Mimi.


"Agak kecut seperti vitamin C." Jawab Mimi.


"Hisaplah, atau kunyahlah! Biar kondisimu menjadi lebih baik." Kata Bu Kinasih.


"Untuk apa Mama memberikan ini?" Tanya Mimi


"Mama sudah katakan tadi, sayang! Bukan mama yang memberikanmu vitamin ini, tetapi Tante Rebecca." Jawab Bu Kinasih.


...****************...


Bu Kinasih yang biasanya membawakan tumpukkan rumput untuk dikonsumsi oleh Adya, kini dirinya membawa makanan-makanan sisa, seperti nasi kemarin yang sudah basi, tulang-tulang ikan dan sisa-sisa potongan-potongan sayuran yang sudah dibuang kedalam bak sampah, dan di ambil lagi untuk makanan Adya.


Bu Kinasih hanya meletakkan makanan-makanan sisa itu ke lantai tanpa wadah tepat dihadapan Adya.


"Makanlah! Mulai sekarang kamu tidak akan makan rumput lagi, kamu hanya makan ini karena Bu Rebecca menginginkan kamu seperti seekor anjing. Makanlah! Jadilah anjing yang penurut!" Ujar Bu Kinasih.


Sedangkan Adya hanya menatap makanan sampah itu. Dia hanya diam dan tidak berkata sepatah katapun, meskipun dia saat ini sedang sangat lapar.


"Oh ya, sore ini Bu Rebecca akan datang kesini untuk melihatmu. Dia pasti sudah nggak sabar pengen melihat anjing kesayangannya. Kamu pasti merindukan majikanmu juga, kan?!" Lanjut Bu Kinasih.


Tetapi Adya tetap diam membisu, tidak mempedulikan apapun yang dikatakan Bu Kinasih.


"Ya sudah, kalau kamu nggak mau makan, mungkin karena kamu masih belum lapar. Aku pergi dulu, karena aku harus berangkat bekerja." Kata Bu Kinasih dan akhirnya pergi meninggalkan Adya lagi sendirian di dalam gudang.


...****************...


Bu Kinasih dan Dokter Rebecca makan siang ditempat biasa. Menikmati hidangan makanan siang sambil ngobrol tentang rencana mereka.


"Bu Dokter, agar rahasia kita ini tetap aman kayaknya aku harus mengundurkan diri dari pekerjaan." Ujar Bu Kinasih.


"Apa?! Kenapa harus berhenti bekerja?! Bukankah kita kalau ngobrol secara rahasia selalu ditempat yang aman?!" Dokter Rebecca terkejut mendengarnya.


"Bu Dokter pasti tahu si Faida itu, kan?! Sahabatku yang sering bekerja bersamaku. Rasa ingin tahunya yang berlebihan terhadap hubungan kita ini sepertinya bakal berbahaya kalau kita sepelekan." Jawab Bu Kinasih.


"Kalau begitu aku akan menyuruh anak buahku untuk menyingkirkan gadis itu." Ujar Dokter Rebecca.


"Nggak perlu, Bu! Meskipun dia begitu, walau bagaimanapun juga dia itu adalah sahabatku. Aku nggak pernah berfikir untuk menyingkirkannya." Jawab Bu Kinasih. "Jadi satu-satunya jalan agar lebih aman adalah aku harus mundur."

__ADS_1


"Hmmm.. Baiklah, kalau begitu saya akan membelikan ponsel buatmu agar kita mudah berkomunikasi." Ujar Dokter Rebecca kembali.


"Nggak perlu, Bu! Bukankah ibu tahu kalau dirumahku nggak ada listrik. Bagaimana aku bisa menggunakan ponsel jika daya baterainya habis?! Tentu ponsel itu nggak biasa digunakan." Kata Bu Kinasih.


"Lalu bagaimana jika nanti aku ingin menghubungimu?" Dokter Rebecca bertanya.


"Bukankah ibu tahu rumahku?! Dan ibu juga punya kunci serep rumahku?! Ibu bisa datang kapan pun ibu mau." Jawab Bu Kinasih.


"Lalu jika nanti kamu mengundurkan diri, kamu mau kerja apa?" Dokter Rebecca bertanya kembali.


"Kembali ke profesi seperti dulu, berjualan sayuran lagi." Jawab Bu Kinasih.


"Begini aja, kalau begitu aku akan mempekerjakan kamu secara pribadi." Dokter Rebecca memberikan saran.


"Apa itu, Bu?!" Tanya Bu Kinasih.


"Aku akan mempekerjakan kamu untuk mengurus anjingku selama dia masih berada di rumahmu. Gimana?" Dokter Rebecca memberikan opsi.


"Itu pekerjaan mudah. Bu Rebecca nggak usah khawatir, Anjing Bu Dokter akan aku urus dengan baik." Jawab Bu Kinasih.


"Baiklah, aku percayakan anjingku kepadamu!" Ujar Dokter Rebecca.


"Tapi bolehkah aku meminta satu syarat, Bu Dokter?" Bu Kinasih meminta sesuatu.


"Apa itu?" Tanya Dokter Rebecca


"Bolehkah aku juga ikut bermain dengan anjingnya Ibu? Hanya untuk melampiaskan nafsuku aja, Bu!" Pinta Bu Kinasih


"Oh, tentu! Silahkan kamu bermain-main sesukamu dengan anjingku." Jawab Dokter Rebecca yang sudah mengetahui bahwa Bu Kinasih adalah wanita sesuka sesama jenis.


"Terima kasih, Bu!" Jawab Bu Kinasih.


...****************...


Sore hari jam 16.00, Bu Kinasih dan Dokter Rebecca sudah sampai dirumah Bu Kinasih. Mereka langsung menuju ke kamar untuk mendatangi Mimi.


Bu Kinasih yang bersama Dokter Rebecca membuka pintu kamarnya, kemudian masuk kedalam kamar. Tampak Mimi sedang duduk bersandar ditembok sambil memeluk boneka kelincinya.


"Hallo sayang, Mama hari ini sengaja pulang cepat, nih sama Tante Rebecca." Bu Kinasih menyapa bayi dewasanya itu.


"Hallo, cantik." Sapa Dokter Rebecca.


Mimi hanya menganggukkan kepalanya, dia tidak menyadari bahwa tak lama lagi lututnya akan di suntik sebuah cairan, untuk melemahkan lututnya agar sudah tidak bisa berjalan lagi secara permanen.


Tetapi secara tiba-tiba buah dada Bu Kinasih merasa nyeri, karena siang tadi lupa memerah Asinya.


"Bu, buah dadaku nyeri, bolehkah aku netekin anakku dulu?" Bu Kinasih bertanya kepada Dokter Rebecca.


"Oh, silahkan! Tetekkin aja dia dulu. Dia juga tampaknya sedang haus." Jawab Dokter Rebecca.


Bu Kinasih kemudian mengangkat tubuh Mimi, kemudian dia duduk di atas kasur dan membaringkan tubuh Mimi di pangkuannya.


Bu Kinasih membuka kancing bajunya dan bergegas mengeluarkan buah dadanya dari dalam bra hitam miliknya, dan segera menyusui Mimi tanpa ada perlawanan dari Mimi.


"Oh, sayang. Enak ya susunya Mama?!" Bu Kinasih menyapa Mimi yang sedang disusuinya.


Dokter Rebecca berdiri menuju jendela yang hanya ditutup dengan jeruji besi, dan melihat ke arah gudang seolah tak sabar ingin melihat kondisi Adya yang juga akan disuntik lututnya agar menjadi lemah dan tidak bisa berjalan juga.


"Bu Kinasih, aku ke gudang dulu sebentar ya!" Kata Dokter Rebecca yang ingin melihat Adya didalam gudang.


"Ya, silahkan Bu! Aku juga masih netekin bayiku dulu." Jawab Bu Kinasih.


"Oke," Dokter Rebecca kemudian pergi keluar kamar menuju gudang tempat Adya disekap.

__ADS_1


Sementara itu Bu Kinasih masih terus menyusui Mimi sambil menimang-nimang tubuh Mimi


+++BERSAMBUNG+++


__ADS_2