
"Baiklah. Selamat menikmati harimu sebagai ibu yang sempurna untuk Mimi, Bu Kinasih!" Ujar Dokter Rebecca sambil tersenyum.
"Terima kasih, Bu Dokter. Jujur kau sangat menyukai hadiah yang ibu berikan ini." Jawab Bu Kinasih membalas senyumannya.
"Oh y, satu lagi!" Dokter Rebecca mengeluarkan amplop coklat dari dalam tasnya dan menyodorkan amplop coklat tebal itu ke tangan Bu Kinasih. "Ambillah, ini untukmu!"
Bu Kinasih menerima amplop itu dan membukanya untuk melihat isinya, dan ternyata isinya adalah sejumlah uang yang nilainya sangat banyak.
"Banyak sekali uang ini, Bu?!" Bu Kinasih merasa heran.
"Ya, mungkin itu cukup untuk kebutuhanmu dan keperluan bayimu setidaknya selama sebulan." Jawab Dokter Rebecca.
"Uang sebanyak ini tentu lebih dari sebulan, Bu. Karena jumlahnya sangat banyak" Kata Bu Kinasih.
"Baiklah, aku harus pergi. Sampaikan salamku untuk Mimi!" Ujar Dokter Rebecca dan kemudian pergi menggunakan sepeda motor sportnya.
...****************...
Dengan perasaan tidak sabar Bu Kinasih langsung menuju dapur untuk mengkonsumsi serbuk yang diberikan oleh Dokter Rebecca tadi, dengan harapan Asi yang di produksi dari buah dadanya akan menjadi lebih deras dari biasanya.
Bu Kinasih membuka bungkus serbuk itu, dan didalamnya ada kertas yang ternyata adalah petunjuk pemakaiannya. Kemudian membaca petunjuk pemakaian itu bahwa harus dikonsumsi dengan air dingin, dan jangan menggunakan air panas. Karena khasiatnya akan pecah jika terkena air panas.
Segera Bu Kinasih mengambil gelas dan diisi dengan air dingin, lalu memasukkan semua serbuk itu kedalam gelas berisi air dingin itu kemudian mengadukannya hingga rata. Tanpa basa-basi lagi, Bu Kinasih langsung meminumnya sampai habis.
Setelah selesai dari dapur, Bu Kinasih kembali menuju ke kamarnya. Tampak dia melihat Mimi yang belum tidur dan masih menangis.
"Kau belum tidur, sayang?" Tanya Kinasih yang sedang melepas pakaiannya, dan menggantinya dengan sarung yang biasa digunakan saat tidur di malam hari.
Mimi tidak menjawab pertanyaan Bu Kinasih dan hanya menangis.
"Mama tahu mengapa kau menangis, pasti karena malam ini kamu baru berpisah dengan teman barumu, kan?!" Kata Bu Kinasih. "Tak perlu kau tangisi, itulah hidup, kadang datang dan pergi. Adya pasti lebih bahagia jika disana, bersama dengan Tante Rebecca. Sama sepertimu yang sudah bahagia disni sekarang."
"Bahagia?! Mengapa Mama beranggapan kalau aku bahagia disini?" Tanya Mimi dengan wajah kesal sambil menangis tersedu-sedu.
"Apapun yang Mimi rasakan, bagi Mama semuanya itu adalah Mimi sedang bahagia. Kalau Mimi lagi sedih, berarti Mama anggap Mimi sama seperti bayi lainnya yang menangis hanya karena sedang lapar atau mau netekk." Jawab Bu Kinasih.
Mimi tak sanggup berkata-kata lagi, karena percuma harus berdebat dengan ibu-ibu gila, ujarnya dalam hati sambil menangis.
Bu Kinasih duduk dihadapan Mimi kemudian membuka amplop coklat berisi uang yang diberikan oleh Dokter Rebecca kepadanya. Kemudian menghitung berapa jumlah nominal pasti uang itu. Mimi pun yang sedang bersedih karena telah berpisah dengan teman barunya itupun ikut menyaksikannya.
Setelah selesai menghitung berapa jumlah nominal uang itu Bu Kinasih pun terkejut, "Waduh, aku pikir uang ini bakal cukup lebih dari sebulan.... Tapi ternyata justru cukup untuk lebih tiga bulan... Bu Dokter memberikan uang kepada kita banyak sekali, nak! Jauh lebih besar dari perkiraan Mama!"
Bu Kinasih merapikan kembali uang itu dan memasukkannya kembali kedalam amplop coklatnya. Kemudian bergegas bangkit dan menaruh amplop berisi uang itu kedalam lemari.
"Uang ini nanti akan Mama pergunakan untuk makan kita sehari-hari, dan keperluanmu seperti popokmu yang harus dibeli. Apalagi Mama sekarang sudah tidak bekerja lagi. Mama paling akan berjualan sayuran kecil-kecilan lagi seperti dulu." Ujar Bu Kinasih.
"Mama berhenti bekerja karena Mama di iming-iming oleh Tante Rebecca untuk menjalani profesi baru sebagai penjaga anjingnya Tante Rebecca, Bukan? Tapi faktanya belum ada genap sebulan Mama berhenti bekerja, Tante Rebecca sudah mengambil anjingnya dari rumah ini.. Hahaha..!!" Mimi yang sedang bersedih berusaha tertawa untuk mengejek Bu Kinasih.
__ADS_1
"Hahahaha....!! Mimi..Mimi, ternyata kamu memang bayi yang lucu ya, nak! Mama berhenti bekerja bukan karena di iming-iming oleh Tante Rebeccamu itu! Tapi sebelumnya Mama yang lebih dulu ingin berhenti bekerja, kemudian Tante Rebecca yang menawarkan Mama untuk menjalankan profesi sebagai penjaga anjing Tante Rebecca, sayang! Jadi Mama berhenti karena kemauan Mama sendiri, bukan karena iming-iming dari Tante Rebecca." Jawab Bu Kinasih yang menjawab argumen Mimi dengan tawa.
"Oh, begitu! Jadi apa yang mendorong keinginan Mama untuk berhenti bekerja saat itu?" Tanya Mimi.
"Ada teman kerja Mama disana, yang mencurigai kedekatan Mama dengan Tante Rebecca. Mama sangat mengenalnya karena di adalah teman lama Mama ditempat kerja itu. Mama nggak mau kecurigaannya menjadi penyelidikan olehnya. Itu bisa sangat berbahaya bagi kita, nak! Mama nggak mau dia berhasil menyelidiki dan menemukanmu. Makanya Mama lebih memilih berhenti bekerja." Kata Bu Kinasih.
"Berbahaya buat Mama, tapi tidak buatku!" Cetus Mimi.
Bu Kinasih tak mempedulikan ucapan Mimi dan berbaring di samping Mimi, kemudian membaringkan tubuh Mimi ke pelukannya, membuka buah dadanya dan bergegas mendorong kepala Mimi untuk menyusui Mimi yang masih terlihat bersedih.
"Ayo bobo, sayang! Malam semakin larut!" Kata Bu Kinasih yang berbaring sambil menyusui Mimi untuk menidurkannya.
Mimi pun terpaksa harus berbaring di buah dada Bu Kinasih sambil menghisap putingg susu Bu Kinasih kembali, karena sudah harus tidur dan malam semakin larut.
...****************...
Pagi hari, Bu Kinasih yang hanya memakai handuk untuk menutupi tubuhnya, mengajak Mimi untuk mandi bersama. Bu Kinasih membuka seluruh pakaian Mimi beserta popok yang dipakai Mimi. Setelah popok yang dipakai Mimi itu dibuka, Bu Kinasih melihat begitu banyak bercak merah di dalam popoknya.
"Hahahaha..!!" Sontak Bu Kinasih tertawa terbahak-bahak melihat bercak merah tersebut. Mimi merasa heran, bercak merah itu adalah darah haid sedangkan dia merasa bahwa belum waktunya haid. Mimi juga heran mengapa Bu Kinasih malah tertawa bahagia ketika melihat dirinya sedang haid, padahal selama ini Bu Kinasih selalu marah jika Mimi sedang haid, bahkan tak jarang sampai menampar pipinya.
"Kenapa Mama malah tertawa jika aku haid? Biasanya Mama nggak suka!" Tanya Mimi dengan wajah tampak kebingungan.
"Jelas aja Mama bahagia, sayang! Karena Mimi telah haid pagi ini!" Jawab Bu Kinasih dengan penuh kebahagiaan.
"Memangnya kenapa kalau aku haid pagi ini?" Mimi semakin heran.
Sedangkan Mimi masih merasa heran dan belum mengerti apa maksud perkataan Bu Kinasih.
Bu Kinasih yang tak mempedulikan Mimi yang masih kebingungan, langsung mengangkat tubuh Mimi yang sudah tidak memakai pakaian sehelai pun menuju sumur untuk memandikannya dengan sikap penuh antusias dan kegirangan sambil bernyanyi. "Lalalala.....!!.Lalalaa...!!"
Mimi diletakkan di depan sumur, kemudian Bu Kinasih menyiram air sumur ke seluruh tubuhnya secara berurutan. Bu Kinasih juga melepaskan handuk yang menutupi tubuhnya sehingga juga ikut telanjangg dan menyiram air sumur ke seluruh tubuhnya sendiri juga secara bergantian, yang menampakkan Bu Kinasih dan Mimi sedang mandi bersama.
Setelah itu, Bu Kinasih menggosok tubuh Mimi dengan menggunakan sabun mandi khusus bayi. Bu Kinasih juga menggosokkan tubuhnya sendiri dengan sabun mandi dewasa.
Saat Bu Kinasih menggosokkan sabun mandi bayi ke seluruh tubuhnya sendiri dan juga tubuh Mimi hingga dipenuhi busa sabun, Mimi masih berfikir kira-kira kejutan apa lagi yang dibuat oleh Bu Kinasih terhadapnya.
Karena Mimi yang sudah lama tinggal bersama Bu Kinasih, tentu sudah sangat mengenal sifat dan sikap Bu Kinasih yang yang tak mungkin berubah sikap bila tak ada maksud. Pasti Bu Kinasih sudah melakukan sesuatu terhadapnya.
Setelah selesai mandi dan memandikan Mimi, Bu Kinasih mengeringkan tubuhnya dengan handuk dan menutupi tubuhnya kembali dengan handuk itu. Kemudian mengerikan tubuh Mimi juga dan menutupi tubuh Mimi dengan handuk. Setelah itu Bu Kinasih menggendong Mimi untuk membawanya menuju ke dalam kamar.
Didalam kamar, seperti biasa Bu Kinasih meletakkan tubuh Mimi di atas kasur kapuk. Sebelum memakaikan pakaian kepada Mimi, Bu Kinasih yang hanya memakai handuk mengoleskan minyak telon ke dada hingga perut Mimi dan bedak bayi di bagian sensitif Mimi.
Mimi memperhatikan gerak-gerik Bu Kinasih yang tampak lebih bahagia dari biasanya. "Bolehkah aku menebak mengapa kau begitu bahagia sekarang?"
"Memangnya Mama hari ini terlihat begitu bahagia?" Tanya Bu Kinasih.
"Aku sudah hampir satu setengah tahun berada disini. Itu adalah waktu yang cukup untuk mengenalmu, Ma!" Ujar Mimi.
__ADS_1
"Oh, begitu. Kalau begitu coba tebak apa yang Mimi ketahui tentang Mama?" Bu Kinasih mencoba menguji perkataan Mimi sambil tersenyum sambil memakaikan popok kepada Mimi.
Mimi mencoba menebak, "ini adalah haid terakhirku, dan aku nggak akan pernah haid lagi."
Bu Kinasih sempat terkejut karena mendengar jawaban Mimi yang sebenarnya adalah tepat, "Hehehe... Apa yang membuat Mimi berfikir hingga harus menjawab seperti itu?"
"Biasanya Mama jika tidak menyukai sesuatu dariku, secara mendadak tiba-tiba Mama berubah menjadi menyukainya berarti Mama sudah merencanakan sesuatu." Jawab Mimi. "Aku masih ingat satu hal, selama ini bahkan hingga sekarang Mama melarang aku makan daging atau makanan lain selain Asi dan bubur bayi. Tapi secara mengejutkan saat itu justru Mama memberiku daging untuk dimakan dan ternyata itu adalah daging sahabatku, yaitu Dinar."
"Hanya itu alasannya?" Tanya Bu Kinasih.
"Bukan hanya itu... Apalagi sejak Mama berteman dengan Tante Rebecca. Sesuatu hal yang diluar nalar pasti bisa akan terjadi apalagi berhubungan dengan medis. Salah satunya adalah kakiku ini. Mama bisa lihat yang Mama dan Tante Rebecca lakukan terhadap kakiku ini! Kakiku ini masih bisa digerakkan hanya sebatas dari paha sampai lutut, tapi dari lutut hingga ke telapak kaki aku lumpuh. Itu artinya dengan kekuatan medis juga bisa melakukan apa saja yang dikehendaki. Kekuatan medis aja bisa membuatku merangkak seperti bayi, jadi tentu kekuatan medis juga bisa membuatku tidak mengalami haid agar semakin nampak seperti anak yang masih kecil." Jawab Mimi.
"Oh, begitu ya..? Ada jawaban tambahan?" Bu Kinasih tersenyum dan berusaha menahan tawanya.
"Tidak, itu saja cukup." Jawab Mimi.
"Hahahaha...!! Hahahaha....!! Hahahaha..!! Ternyata nggak sia-sia Mama memberimu Asi setiap hari, nak! Karena air Asi memang membantu meningkatkan perkembangan otakmu sehingga telah membuatmu menjadi anak yang pintar." Kata Bu Kinasih sambil tertawa terbahak-bahak. "Ya, sayang! Jawabanmu tepat! Selamanya Mimi nggak akan pernah haid lagi! Hahahaha...!!"
Mimi kembali menjadi terdiam untuk menahan kesedihannya. Obsesi Bu Kinasih semakin membuat Mimi semakin cacat. Dan Bu Kinasih dipastikan nggak akan berhenti untuk memikirkan rencana selanjutnya demi mewujudkan obsesinya agar Mimi semakin menjadi karakter bayi.
Bu Kinasih mengangkat tubuh Mimi yang berbaring untuk duduk, kemudian memakaikan baju bayi model bodysuit bewarna pink garis-garis putih dan bagian dada motif gambar beruang.
Setelah itu Bu Kinasih memasukkan empeng bayi kedalam mulut Mimi, kemudian memegang kedua pipi Mimi sambil berkata, "Ingat pesan Mama! Kamu nggak perlu berfikir untuk bisa bebas diluar sana! Lihat dirimu, kamu sudah tak bisa berjalan. Jika kamu memaksakan diri untuk bebas disana, kamu hanya akan menjadi orang yang tak berguna! Karena jalan pun kamu tidak bisa, kamu hanya akan menjadi beban diluar sana. Dan tidak ada lagi pria yang tertarik apalagi ingin menikahimu karena jelas kamu sudah tidak mungkin bisa punya anak, karena kamu sudah tidak pernah mengalami haid lagi."
Mimi yang dipegang kedua pipinya oleh Bu Kinasih hanya bisa menatap dengan tatapan lemah dan berair mata.
Bu Kinasih melanjutkan perkataannya, "Siapa yang mau membutuhkan wanita lumpuh sepertimu? Siapa pria yang mau menikahi wanita cacat sepertimu apalagi tak bisa menghasilkan anak? Tak ada yang membutuhkanmu disana, tak ada yang sepenuhnya menyayangimu ketika kamu hidup bebas diluar sana jika dalam kondisi seperti itu! Lebih baik kamu berfikirlah untuk tinggal disini selamanya! Karena disini jelas hanya ada aku yang sepenuhnya menyayangimu sebagai Mamamu.! Disini kau aku sayangi, disini kau selalu aku perhatikan! Disini kau lebih dibutuhkan sebagai bayi kecil lucu yang selalu menemani kesendirianku!"
Mimi semakin menitikkan air mata di pipi yang masih dipegang oleh Bu Kinasih, dan tak lama kemudian tangisan Mimi kembali pecah. Bu Kinasih kemudian melepaskan kedua pipi Mimi dari tangan besarnya.
"Kau sudah terlanjur menjadi bayi. Kau sudah terlanjur hidup cacat. Diluar sana orang cacat lebih sering dikucilkan daripada diperhatikan. Oleh sebab itu, jangan pernah berfikir diluar sana kau akan lebih bahagia! Hanya disni kau lebih merasakan kasih sayang yang tulus bahkan dari seorang ibu yaitu adalah aku, Mamamu! Makanya kau sudah terlanjur menjadi bayi, makanya tetaplah menjadi bayiku disini! Mama berjanji kamu nggak akan pernah kekurangan kasih sayang seorang ibu disni!" Lanjut Bu Kinasih.
Mimi semakin tak kuasa menahan tangisnya karena memikirkan apa yang terjadi pada fisiknya, yang sekarang ini sudah banyak kekurangan.
...****************...
Bu Kinasih menyiapkan makanan untuk Mimi. Seperti biasa makanan yang diberikannya Mimi adalah bubur bayi yang sudah dicampur oleh Asi dari buah dadanya. Tapi kali ini juga Bu Kinasih memasukkan pil perontok gigi yang diberikan oleh Dokter Rebecca tengah malam tadi.
Pil perontok gigi ini dihancurkan hingga membentuk serpihan dan dicampurkan kedalam makanan Mimi, dan tentu tanpa sepengetahuan Mimi.
Bu Kinasih membawa Mimi ke teras belakang rumah sambil beberapa membawa mainan bayi dan beberapa boneka. Untuk Mimi bermain sambil disuapin makan oleh Bu Kinasih.
"Buka mulutnya sayang, Hap..happ.. amm...!!" Bu Kinasih menyodorkan makanan kedalam mulut Mimi dan Mimi pun terpaksa memakannya.
"Anak Mama pintar..!! Sayang banget Mama sama Mimi ini!" Ujar Bu Kinasih yang merayu Mimi sambil menyuapinya makanan bayi itu.
"Ayo makan lagi sayang...!! Buka mulutnya! Happ..happ..aammm..!! Pintarnya anak Mama ini...!! Lapar ya, nak?! Oowww.. sayang anak Mama..!!" Bu Kinasih kembali menyuapi Mimi lagi, dan Mimi pun kembali memakannya.
__ADS_1
+++BERSAMBUNG+++