Mimi Si Gadis Bayi

Mimi Si Gadis Bayi
Bermain Dengan Anak


__ADS_3

"Ayo makan lagi sayang...!! Buka mulutnya! Happ..happ..aammm..!! Pintarnya anak Mama ini...!! Lapar ya, nak?! Oowww.. sayang anak Mama..!!" Bu Kinasih kembali menyuapi Mimi lagi, dan Mimi pun kembali memakannya.


Bu Kinasih menyuapi makanan ke mulut Mimi sampai makanan bayi itu habis, dan Mimi pun selesai memakannya.


Seperti biasa setelah Bu Kinasih memberikan makan kepada Mimi, Bu Kinasih langsung mengangkat tubuh Mimi untuk berbaring di pangkuannya. Kemudian Bu Kinasih mengeluarkan buah dada besarnya dari pakaiannya kemudian memasukkan putingg susunya kedalam mulut Mimi.


Mimi pun disusui sambil disandarkan ke buah dada dan di pangkuan Bu Kinasih yang mendekapnya dengan erat.


Air susu Bu Kinasih keluar lebih deras dari biasanya, yang sudah dipastikan karena serbuk yang diberikan oleh Dokter Rebecca dan dikonsumsi Bu Kinasih dari tadi malam.


Sangking derasnya, Mimi pun meneguk kencang dan lahap air susu yang mengalir dari putingg susu Bu Kinasih itu. Bahkan sangking derasnya air susu yang keluar, Mimi tidak mendapatkan kesempatan sedikitpun untuk jeda menelan asi itu karena terus mengalir menggenangi ruang dalam mulutnya.


Bu Kinasih memperhatikan wajah Mimi yang disusuinya itu sambil tersenyum, sementara Mimi terus berjuang menelan air Asi yang mengalir deras kedalam mulutnya tanpa jeda.


"Minumlah sepuasnya, nak! Air susu Mama ini adalah salah satu sebagai wujud cinta Mama kepadamu. Mama sangat menyayangimu, nak! Air susu Mama yang sudah banyak mengalir kedalam tubuhmu. Itu berarti darah Mama sudah mengalir di aliran darahmu ini. Air susu Mama ini juga sebagai saksi, betapa besarnya cinta Mama untukmu, Mimi." Pesan Bu Kinasih terhadap Mimi.


Mimi yang mulutnya disumpal oleh putingg susu Bu Kinasih tak bisa menjawab apa-apa. Mimi hanya sibuk menelan Asi yang terus mengalir deras ke dalam mulutnya tanpa jeda.


"Mimi nggak perlu khawatir, air Asi Mama ini nggak akan pernah habis, justru akan semakin deras sehingga lebih dari cukup untuk kebutuhan Mimi dan selalu memberikan kepuasan kepada Mimi. Selama Mama masih hidup, Mimi nggak akan pernah merasakan kekurangan kasih sayang seorang ibu. Bahkan Mimi nggak akan pernah merasakan kelaparan dan kehausan, karena buah dada Mama ini selalu memproduksi air susu yang terbaik untuk Mimi." Lanjut Bu Kinasih. "Nikmatilah, Nak! Cinta Mama hanya untukmu."


Saat Mimi disusui dengan waktu yang cukup lama, Bu Kinasih mengangkat tubuh Mimi yang masih dengan lahap menyusu kepadanya menuju kamar, tanpa melepaskan putingg susu yang berada didalam mulut Mimi.


Didalam kamar, tubuh Mimi diletakkan di atas kasur kapuk dan Bu Kinasih mengeluarkan putingg susunya dari dalam mulut Mimi secara perlahan karena telah selesai menyusui Mimi.


Tampak air susu bewarna putih yang masih keluar dari ujung putingg susu Bu Kinasih menetes ke pipi Mimi, hingga membuat pipi Mimi menjadi basah dengan tetesan air susu.


Mimi yang selesai disusui dan masih bersandar di dada Bu Kinasih, dengan putingg susu yang masih menggantung didekat wajahnya. Mimi tampak menarik dan menghela nafas karena merasa lega setelah Bu Kinasih melepaskan putingg susunya dari dalam mulutnya.


Sementara itu Bu Kinasih tetap membiarkan putingg susu yang berada didekat mulut Mimi itu masih meneteskan Asi yang membuat pipi dan bibir Mimi basah akibat tetesan air Asi tersebut, dan Mimi hanya diam dengan pasrah.


Bu Kinasih tersenyum, kemudian memasukkan kembali buah dadanya kedalam pakaiannya. Air susu yang masih menetes membuat pakaian Bu Kinasih tampak basah di bagian dadanya.


Bu Kinasih kemudian memeluk tubuh Mimi dengan sangat erat dan tampak begitu bahagia, "Mama sayang banget sama kamu, nak! Mama akan membuatmu menjadi bayi yang paling bahagia seumur hidupmu!".


Sementara itu Mimi hanya diam tak ingin berkata apapun dan masih beberapa kali menghela nafas, sehingga dari mulut Mimi masih tercium aroma air susu dari Asi Bu Kinasih yang dia minum tadi.


Setelah beberapa saat Bu Kinasih melepaskan pelukannya dan membaringkan tubuh Mimi di atas kasur kapuk itu.


Bu Kinasih bangkit untuk membuka lemari dan mengganti pakaiannya. Karena pakaiannya tadi tampak basah di bagian dadanya bekas tetesan air susu yang mengalir di dadanya saat menyusui Mimi tadi.


Bu Kinasih memakai bra putih yang agak tebal agar asinya meresap di bra dan tidak sampai membasahi pakaiannya. Bu Kinasih hanya memakai daster lengan pendek bewarna kuning.


Meskipun tubuhnya tertutup daster, tapi buah dada Bu Kinasih tampak terlihat lebih besar dan lebih padat dari biasanya. Buah dada yang awalnya sempat kendor dan tampak turun karena setiap hari Asinya telah banyak diminum oleh gadis dewasa, kini menjadi kencang kembali dan tampak sangat penuh seperti saat baru awal menjadi ibu menyusui.


"Mama pergi dulu, sayang! Tetaplah disini dan jangan nakal!" Ujar Bu Kinasih yang menghampiri Mimi untuk mencium kening Mimi dan tak lupa memasukkan empeng kedalam mulut Mimi.


"Mama ingatkan sekali lagi, nak! Kalau sampai Mama pulang, lalu Mama lihat Mimi sedang tidak menghisap empeng itu, Mama pastikan Mimi akan mendapatkan hukuman dari Mama!" Ancam Bu Kinasih terhadap Mimi.


Bu Kinasih mengeluarkan mainan-mainan anak dari dalam karung dan dihamburkan dihadapan Mimi, agar Mimi bisa bermain sendirian saat Bu Kinasih pergi.


Setelah itu, kemudian pergi meninggalkan Mimi sendirian yang berbaring didalam kamar sambil menghisap empeng.


Tak lama kemudian, terdengar suara sepeda motor butut Bu Kinasih dari luar kamar, pertanda Bu Kinasih telah pergi dengan menggunakan sepeda motor bututnya.


...****************...


Mimi yang kembali ditinggal sendirian di dalam kamar tak tahu harus berbuat apa. Dia tampak suntuk, jenuh, bosan, karena selama satu setengah tahun terakhir tidak bisa kemana-mana dan tak pernah lagi merasakan hiburan. Bahkan untuk menonton televisi saja sudah tidak pernah lagi karena Bu Kinasih tidak punya televisi.

__ADS_1


Mumpung Bu Kinasih sedang tidak ada dirumah, Mimi melepas empeng dari mulutnya. Kemudian dia merangkak menuju jendela yang hanya terhalang dengan jeruji besi layaknya penjara. Mimi merayap ke jendela untuk melihat pemandangan sekitar yang berada di luar rumah. Cuaca cukup panas dan matahari begitu terik.


Mimi kemudian duduk kembali dibawah jendela yang terpasang jeruji besi itu dengan perasaan sangat jenuh. Tak ada sedikitpun jalan untuk keluar, tak ada sedikitpun celah untuk melarikan diri. Bahkan meskipun mendapat kesempatan untuk melarikan diri, tetapi rasa takut dan trauma membuat Mimi tak punya keberanian untuk melakukannya.


Setelah beberapa saat terdiam dengan tatapan yang kosong, akhirnya Mimi berfikir bagaimana cara menghibur dirinya sendiri untuk dapat menghilangkan kejenuhan di dalam kamar ini. Karena percuma berfikir untuk melarikan diri yang sudah jelas tak ada hasil, lebih baik berfikir bagaimana caranya agar tidak jenuh sendiri didalam kamar.


Mimi yang sangat jenuh didalam kamar sendirian, akhirnya menemukan ide untuk menghilangkan rasa jenuhnya itu. Dengan cara bermain sendirian dengan mengumpulkan ketiga boneka miliknya yang terdiri dari beruang, kelinci, dan babi untuk disusun di atas kasur kapuknya dan sandarkan di tembok. Kemudian Mimi mengambil mainan masak-masakan yang dihambur dilantai oleh Bu Kinasih tadi, dengan mengambil kompor kecil, wajan kecil, dan sutil kecil dan disusun di depan ketiga boneka itu.


"Waktunya masak! Mama masak dulu ya, sayang!" Ujar Mimi yang bermain sendirian dan berperan sebagai ibu yang akan memasak makanan untuk ketiga boneka itu. Tentu dengan alat masak mainan yang disusun dihadapan ketiga bonekanya itu.


"Hmmmm.. Enaknya hari ini masak apa ya? Bagiamana kalau Mama masak nasi goreng untuk kalian?! Kalian suka?" Tanya Mimi yang bermain sendirian dengan ketiga bonekanya itu, dan jelas bonekanya tak menjawab apa-apa.


"Ok, kali ini Mama memasak nasih goreng ya!" Mimi dengan menggunakan alat masak mainan kecilnya berpura-pura seolah sedang memasak nasi goreng, dan bersikap seolah di wajan kecilnya itu dipenuhi bahan makanan, padahal sebenarnya kosong.


Namanya juga mainan, tentu Mimi harus pandai berimajinasi layaknya anak kecil pada umumnya yang sedang bermain masak-masakan.


Mimi tampak seperti anak kecil yang sedang bermain sendirian bersama ketiga bonekanya itu. Tertawa sendiri, berbicara sendiri dengan boneka-bonekanya, dan berimajinasi sendiri. Hal itu terpaksa dia lakukan untuk menghilangkan rasa jenuhnya di dalam kamar.


Setelah adegan memasaknya selesai, Mimi berpura-pura menyuguhi makanan kosong kedalam piring mainan. Mimi kemudian beradegan seolah menyuapi makanan ketiga bonekanya itu.


Mimi memperagakan gaya Bu Kinasih yang mengancam dirinya saat makan. "Makan ya, sayang! Ayo makan, kalau nggak makan nanti Mama akan hukum kalian!" Mimi pun beradegan menyuapi ketiga boneka itu dengan paksa, kemudian Mimi tertawa sendirian.


Setelah cukup lama bermain sendirian bersama ketiga bonekanya, akhirnya Mimi kembali merasa bosan. Permainan tadi cukup menghiburnya didalam kamar, tetapi ternyata hanya sementara. Dia kembali merasa jenuh lagi seperti sediakala.


"Enak mainan apa lagi, ya?!" Mimi kembali berfikir untuk mencari cara untuk menghilangkan kejenuhannya.


Mimi memperhatikan ketiga bonekanya lagi yang hanya diam membisu. "Seandainya kalian bertiga beneran bisa berbicara, mungkin setidaknya aku masih punya teman ngobrol agar aku nggak suntuk disini!"


Saat sedang berfikir bagaimana cara untuk menghilangkan kejenuhannya lagi, tiba-tiba ada sesuatu yang aneh didalam mulutnya. Secara tiba-tiba ada sesuatu yang berada didalam mulutnya seperti kacang. Mimi mengeluarkan sesuatu yang seperti kacang dari dalam mulutnya itu.


Setelah diperhatikan, betapa terkejutnya Mimi ternyata itu adalah sebuah pecahan gigi. Mimi mencoba meraba isi dalam mulutnya lagi dengan lidahnya. Dan anehnya semakin diraba dengan lidah, semakin banyak retakan gigi yang berada didalam mulutnya.


Meskipun masih ada sisa-sisa patahan gigi yang masih menempel di gusinya, tetapi membuat gigi didalam mulutnya menjadi tidak rata. Semua giginya tampak retak dan tinggal menunggu giliran untuk rontok dan tercabut dari gusinya.


Melihat keanehan ini, Mimi seketika langsung menyadari ini perbuatan siapa. Nggak mungkin keanehan ini muncul secara tiba-tiba tanpa direncanakan. Mimi mengetahui bahwa ini pasti adalah perbuatan Bu Kinasih yang difasilitasi oleh Dokter Rebecca lagi.


Membuat gigi-gigi didalam mulut Mimi menjadi keropos, nggak beraturan, dan banyak yang retak bahkan patah.


Mimi kembali bersandar di tembok tepat di samping ketiga bonekanya. "Ternyata memang nggak enak menjadi tawanan ibu Psikopat seperti Bu Kinasih ini. Kapan Bu Kinasih bisa sadar kalau aku bukanlah bayi? Kapan aku bisa mendapatkan celah untuk bisa keluar dari sini?"


Mimi termenung, "Tapi, apakah benar suatu saat aku bisa pergi dari sini? Atau malah benar kata Bu Kinasih jika aku bakal tinggal disini selamanya? Kalau benar aku bakal berada disini selamanya, aku pasti akan menderita seumur hidup didalam buaian Bu Kinasih. Karena harus terpaksa harus mengikuti semua keinginan Bu Kinasih untuk menjadi bayinya seumur hidup."


...****************...


Kisaran dua jam kemudian, terdengar suara sepeda motor butut dari luar kamar yang menandakan bahwa Bu Kinasih sudah pulang. Mimi bergegas mengambil empengnya dan memasukkan kedalam mulutnya kembali, agar tidak dihukum oleh Bu Kinasih.


Terdengar suara Bu Kinasih berjalan menuju kamar, dan tak lama kemudian Bu Kinasih membuka pintu kamarnya.


Bu Kinasih yang membawa beberapa pack popok dan kantong tas berisi bubur bayi dan perlengkapan lainnya, matanya langsung mengarah kepada Mimi yang sedang duduk di atas kasur kapuk sambil menghisap empengnya bersama mainan-mainan yang masih berhamburan dilantai dan ketiga bonekanya.


"Oww, anak Mama nggak tidur siang? Main sendirian ya, sayang?! Oh, kasihannya anak Mama sampai main sendirian." Bu Kinasih menaruh semua barang yang dibawanya di samping lemari pakaian, kemudian bergegas menghampiri Mimi dan duduk dihadapan Mimi untuk menemani Mimi bermain.


"Ayo bermain bersama Mama! Mimi mau main apa, sayang?" Bu Kinasih mengajak Mimi bermain dengan tiga bonekanya itu. Bu Kinasih tampak penuh perhatian yang menjalankan perannya sebagai ibu yang sedang mengajak anaknya bermain, yaitu Mimi.


Mimi tidak menjawab perkataan Bu Kinasih, dan langsung memeluk salah satu dari ketiga bonekanya yaitu boneka kelinci.


Melihat Mimi yang sedang memeluk boneka kelincinya dengan erat, Bu Kinasih kemudian menggenggam kedua boneka Mimi yaitu boneka beruang dan babi.

__ADS_1


"Mau main apa sayang? Bagaimana jika kita bermain ibu dan bayi? Jadi ceritanya boneka kelinci itu bayinya Mimi, dan boneka beruang dan babi ini jadi bayinya Mama, ya?!" ujar Bu Kinasih sambil memeluk kedua boneka yang dipegangnya itu.


Mimi yang tetap menghisap empeng hanya diam sambil memeluk boneka kelinci yang dipeluknya itu, sementara itu Bu Kinasih mencoba mengajak Mimi untuk memulai permainan.


Bu Kinasih kembali menaruh boneka beruang dan babi itu dan disandarkan ditembok, kemudian mengambil alat masak mainan yang masih tersusun dihadapannya, "Mimi mau makan apa, nak?! Kali ini Mama akan memasak menu pilihan Mimi!"


Mimi tetap diam sambil memeluk erat boneka kelincinya itu, tetapi Bu Kinasih tetap melanjutkan permainannya, "Mama buatkan nasi kuning untuk Mimi ya!" Bu Kinasih beradegan mengadukan makanan kosong di atas wajan mainan kecil Mimi, seolah ada nasi kuning di wajan itu.


Mimi hanya diam memeluk boneka sambil menghisap empengnya, memperhatikan Bu Kinasih yang sedang bermain masak-masakan dengannya.


"Waktunya makan..!!" Bu Kinasih beradegan seolah menyiapkan makanan untuk Mimi dan boneka-bonekanya.


Mimi pun terpaksa mengikuti arahan permainan yang dilakukan Bu Kinasih kepadanya, tapi hanya dengan tujuan agar Mamanya itu tidak marah.


Mimi melepas empengnya dan beradegan seolah-olah makan makanan hasil masakan Bu Kinasih.


"Enak, sayang?" Tanya Bu Kinasih.


"Enak, Ma." Jawab Mimi dengan terpaksa.


"Oww, kalau begitu makan yang lahap ya, nak!" Ajak Bu Kinasih, dan Mimi pun berpura-pura menyantap lahap makanan itu.


"Hahahaha...!!" Bu Kinasih tertawa terbahak-bahak karena merasa bahagia sedang bermain dengan anaknya.


Bu Kinasih juga menyuruh Mimi untuk beradegan menyuapi makanan ke semua bonekanya, dan Mimi pun melakukannya.


Setelah bermain dengan beradegan makan bersama, Bu Kinasih memperhatikan boneka kelinci yang masih dipeluk Mimi, "Tampaknya bayi kelincinya haus mau netekk. Waktunya netekkin bayimu dulu sayang!"


Bu Kinasih membimbing tangan Mimi untuk berpura-pura menyusui bonekanya. Mimi hanya pasrah dan nurut saja apa yang diarahkan oleh Bu Kinasih.


Bu Kinasih mengangkat sedikit kaos Mimi dan mengeluarkan buah dada kecil Mimi untuk beradegan seolah menyusui boneka kelinci itu. Kini Mimi tampak seperti sedang menyusui boneka kelincinya, dan tentunya tidak menyusui sungguhan karena Mimi belum punya Asi.


"Ooww.. boneka kelincinya tampak lahap, sayang!" Ujar Bu Kinasih yang sedang memeluk kedua boneka Mimi. "Oww, boneka kelinci ini adalah bayi Mimi yang lucu, berarti boneka kelinci ini adalah cucunya Mama ya, sayang!"


Bu Kinasih kemudian membuka kancing baju dasternya kemudian membuka dasternya itu sehingga tampak kedua buah dada yang hitam dan sangat besar tertutup oleh bra putihnya itu.


"Karena Mimi lagi menyusui cucu Mama si boneka kelinci, maka Mama juga bantuin Mimi untuk menyusui cucu Mama lainnya si Boneka babi dan beruang ini, ya sayang!" Bu Kinasih membuka kedua buah dada besarnya itu dan beradegan menyusui kedua boneka babi dan beruang itu. Tetapi mulut boneka itu hanya ditempelkan ke putingg susunya saja dan buah dadanya tidak dipompa oleh Bu Kinasih, sehingga air susunya tidak keluar membasahi mulut kedua boneka itu.


Mimi yang juga beradegan menyusui boneka kelincinya itu, tetap diam tak bersuara. Memperhatikan Bu Kinasih yang sedang beradegan menyusui kedua bonekanya.


Tak lama kemudian Bu Kinasih meletakkan kedua boneka yaitu boneka babi dan beruang yang digenggam olehnya itu, dan disandarkan di dinding. Dan memasukkan satu buah dadanya kedalam bra putihnya, dan satu buah dadanya lagi dibiarkan terbuka.


"Nah, Mama sudah selesai netekin cucu Mama. Sekarang giliran anak Mama yang sudah waktunya untuk netekk sama Mama." Bu Kinasih kemudian kembali mengangkat tubuh Mimi yang sedang beradegan menyusui boneka kelincinya, dan membaringkan tubuh Mimi dipangkuannya, dengan wajah menghadap ke buah dada Bu Kinasih yang masih terbuka.


"Nah, sambil Mimi menyusui si bayi kelinci, Mimi juga jangan lupa minum susu supaya sehat!" Ujar Bu Kinasih yang kemudian lanjut menyusui Mimi, dan kali ini Bu Kinasih menyusui Mimi dengan Asi sungguhan, dengan memompa buah dadanya agar air susu dari buah dadanya mengalir deras kedalam mulut Mimi.


Kini Bu Kinasih menyusui Mimi dengan Asi sungguhan yang sangat melimpah mengalir kedalam mulut dan tertampung didalam perut Mimi, sedangan Mimi yang masih dibiarkan beradegan menyusui boneka kelinci dengan tak ada setetes pun Asi yang keluar.


Mimi kembali menghisap Asi Bu Kinasih yang deras, dan tampak pasrah. Sedangkan Bu Kinasih terlihat tampak begitu bahagia setelah puas bermain dengan anaknya ini.


Bu Kinasih menyingkirkan boneka kelinci yang yang dipeluk oleh Mimi, kemudian berbaring di atas kasur kapuknya sambil membaringkan tubuh Mimi disampingnya yang tetap menyusu kepadanya.


"Sudah cukup waktu bermainnya, nak! Sekarang waktunya bobo siang!" Ujar Bu Kinasih yang berbaring sambil menyusui Mimi disampingnya.


Tubuh Mimi dipeluk oleh Bu Kinasih yang berbaring disampingnya dengan erat. Mimi pun mencoba menutup kedua matanya karena harus menuruti perintah Bu Kinasih untuk tidur siang, sambil menghisap putingg susu Bu Kinasih dengan Asi yang mengalir sangat deras.


Bu Kinasih tersenyum sambil mencium ubun-ubun Mimi yang begitu lahap menyusu kepadanya, dan membelai rambut Mimi dengan penuh kelembutan dan kasih sayang.

__ADS_1


+++BERSAMBUNG+++


__ADS_2