
Secara diam-diam, Faida mengeluarkan ponsel dari sakunya lagi dan akan memotret Bu Kinasih yang sedang menyusui Mimi untuk mengabadikan momen itu.
Sementara itu, Bu Kinasih yang sedang duduk di sofa, sedang menyusui Mimi dipangkuannya, dan tanpa disadari bahwa Faida sedang merekamnya.
"DORRR....!!" Tiba-tiba terdengar suara yang sangat keras dan mengejutkan berasal dari jendela ruang tamu. Membuat Bu Kinasih dan Mimi pun terkejut mendengarnya.
"Uhukk..!! Uhukk .!! Uhukk..!!" Mimi sampai terbatuk karena tersedak air susu yang dia minum dari putingg susu Bu Kinasih, akibat terkejut mendengar suara ledakan tadi.
Arah mata Bu Kinasih dan Mimi kearah sumber suara. Tampak bekas muntahan cairan berwarna merah yang diduga adalah darah segar menempel di dinding dan jendela.
Sambil menggendong Mimi, Bu Kinasih langsung bangkit dari tempat duduknya dan menuju pintu untuk memeriksa darimana darah itu berasal.
Saat Bu Kinasih membuka pintu, betapa terkejutnya Bu Kinasih melihat seorang wanita terkapar dibawah jendela dengan kepala yang masih mengeluarkan aliran darah segar.
"Terpaksa aku harus menembaknya, Bu Kinasih." Tampak Dokter Rebecca datang menghampiri Bu Kinasih yang berdiri di depan pintu sambil menggendong Mimi.
Ternyata suara ledakan keras itu adalah suara tembakan yang berasal dari pistol milik Dokter Rebecca.
"Siapa wanita ini?" sambil menggendong Mimi, Bu Kinasih memandangi tubuh wanita yang terkapar kaku dan berlumuran darah di kepalanya itu. Kemudian Bu Kinasih membalikkan mayat wanita itu.
"Faida..??" Betapa terkejutnya Bu Kinasih bahwa ternyata wanita yang ditembak mati oleh Dokter Rebecca itu adalah sahabat lamanya yaitu Faida.
"Bukankah ini mantan karyawan dirumah sakit anak?!" Dokter Rebecca pun terkejut setelah melihatnya dari dekat. "Apa yang dia lakukan disini? Darimana dia tahu tempat ini?"
"Aku juga nggak tahu Bu Dokter. Aku curiga mungkin dia pernah mengikutiku dari belakang tanpa sepengetahuan aku." Kata Bu Kinasih.
Sementara itu Mimi yang sedang digendong oleh Bu Kinasih memandang mayat wanita yang baru saja akan menolongnya itu dengan penuh kesedihan. Apakah dia gagal lagi untuk keluar dari rumah itu dan lepas dari jeratan Bu Kinasih.
Dokter Rebecca mengambil ponsel Faida yang tergeletak didekat tangannya, dan segera memeriksa ponselnya.
Dokter Rebecca melihat galeri video di ponsel Faida, "Ternyata dia merekam gambarmu saat menyusui Mimi."
Dokter Rebecca segera menghapus video itu untuk menghilangkan bukti, dan juga memeriksa galeri foto yang lain. "Ternyata dia pun sempat memotret wajah Mimi di ponselnya."
Mendengar hal itu, Bu Kinasih langsung memandang wajah Mimi dalam keadaan marah. Mimi yang ketakutan melihat wajah Bu Kinasih yang menatapnya dalam keadaan marah langsung menundukkan kepalanya.
Dokter Rebecca yang masih memeriksa ponsel Faida membuka chat terdapat di ponsel itu. Betapa terkejutnya Dokter Rebecca ketika mengetahui bahwa Faida sempat mengirimkan foto Mimi yang berpenampilan seperti bayi kepada seorang Polisi yang diduga adalah kekasih Faida. "Gawat, wanita ini sempat mengirimkan foto Mimi beserta lokasi tempat ini."
"Maksudnya, Dok?" Bu Kinasih mulai merasa gelisah.
Dokter Rebecca membacakan chat dari Faida kepada Polisi yang diduga kekasihnya itu, "Sayang, aku menemukan gadis yang sedang diculik disini. Penculiknya memperlakukannya seperti bayi. Dia minta pertolongan! Ini Foto korban sebagai buktinya. Dan ini lokasinya. Buruan, sayang!"
Lalu sang kekasih membalas, "Maaf baru balas, sayang! Aku dan beberapa Polisi akan segera kesana untuk mengrebek tempat itu. Sayang segera pergi dari tempat itu. Disitu sangat berbahaya!"
Setelah membaca chat itu, Dokter Rebecca melihat waktu kapan sang kekasih Faida membalas chat dari Faida, "Untungnya Kekasihnya wanita ini baru membalas pesan ini sekitar 3 menit yang lalu. Itu artinya kita masih bisa segera pergi dari sini."
"Berarti apakah aku akan meninggalkan rumah ini selamanya?" Bu Kinasih pun juga mulai merasa gelisah.
"Nggak ada cara lain lagi, Bu Kinasih. Kita harus segera pergi dari tempat ini. Polisi akan segera menyerbu tempat ini. Jadi tempat ini sudah nggak aman untuk ditinggali." Jawab Dokter Rebecca.
Kemudian Dokter Rebecca langsung bergegas mengambil ponsel dari tas kecilnya dan segera menghubungi kedua anak buahnya itu, "Hallo Bena, segera kesini jemput kami sekarang! Kami sedang dalam bahaya....................... Ya, Ayo cepat ya..!!"
Dokter Rebecca menutup Ponselnya dengan penuh perasaan cemas. Berharap anak buahnya itu nggak terlambat untuk menjemputnya dan Bu Kinasih beserta Mimi. "Bu Kinasih, apakah kamu sudah mengemasi seluruh barang-barangmu?"
"Untungnya aku sudah mengemas sebagian barang-barangku untuk kita bawa pergi ke kampung Psikopat yang kita sudah rencanakan ini. Tapi itu hanya berupa pakaianku dan perlengkapan Mimi saja untuk selama dua minggu disana." Jawab Bu Kinasih.
"Bagus, nggak masalah. Berarti jika kedua anak buahku sudah datang menjemput kita, maka kita tinggal angkut saja." Kata Dokter Rebecca.
__ADS_1
"Boleh aku titip Mimi sebentar, Bu Dokter? Ada sesuatu juga yang mau aku siapkan untuk aku masukkan kedalam koper." Kata Bu Kinasih.
"Oh, tentu. Sini berikan Mimi padaku!" Ujar Dokter Rebecca dan langsung segera menyodorkan tangannya.
Bu Kinasih yang sedang menggendong Mimi kemudian menyerahkan Mimi kepada Dokter Rebecca. Setelah itu Bu Kinasih langsung bergegas menuju kamarnya dan membiarkan Dokter Rebecca berdiri di teras sambil menggendong Mimi, yang sedang menunggu kedua anak buahnya itu datang menjemput mereka. Sangat nampak perasaan cemas terlihat di wajah Dokter Rebecca.
Bu Kinasih masuk kedalam kamarnya, dan mengambil beberapa berkas untuk menghilangkan identitasnya sekaligus yang akan digunakan untuk melamar pekerjaan ditempat yang baru. Setelah merasa semuanya lengkap tak tersisa, Bu Kinasih akhirnya keluar kamar menuju Dokter Rebecca yang masih menggendong Mimi dan sedang menunggunya.
Berkas-berkas Bu Kinasih dimasukkan kedalam koper miliknya. Dan tak lama kemudian salah satu anak buah Dokter Rebecca menelepon dan menjelaskan bahwa mereka sudah tiba didepan jalan masuk pinggir jalan tersebut.
Dokter Rebecca menyuruh anak buahnya untuk masuk kedalam jalan masuk itu dengan berjalan kaki menuju rumah Bu Kinasih untuk mengangkat semua koper-koper yang telah disediakan. Karena jelas jalan kecil itu membuat mobil tidak bisa masuk.
Dokter Rebecca juga menyuntikkan suatu cairan bius ke pinggang Mimi, untuk melemahkan tubuh Mimi agar dia tidak bisa bergerak untuk memberontak.
Karena efek bius itu, Mimi masih dalam keadaan sadar, tetapi dia tidak bisa menggerakkan tubuhnya. Tubuh dan kakinya tampak sangat lemas dan terlihat layu.
Mimi sengaja tetap dibiarkan sadar agar dia bisa melihat dan menikmati perjalanan, sekaligus agar Mimi bisa melihat betapa jauhnya perjalanan nanti dan agar membuatnya menjadi berfikir bahwa tidak ada harapan lagi untuk kembali ke keluarga lamanya.
Baru saja mereka semua akan bergegas menuju mobil di depan jalan masuk tersebut, tiba-tiba Bu Kinasih teringat sesuatu, "Astaga, ada satu hal lagi yang nyaris aku lupakan."
"Apalagi, Bu Kinasih? Kita nggak bisa berlama-lama lagi disini! Para Polisi akan segera datang!" Ujar Dokter Rebecca.
"Kalian duluan aja menuju mobil..! Saya titip Mimi ya, Bu Dokter! Saya kedalam sebentar." Bu Kinasih langsung bergegas kembali kedalam rumah.
"Untuk apa, Bu Kinasih?! Jangan buang-buang waktu untuk pergi!" Ujar Dokter Rebecca yang masih menggendong Mimi yang masih dalam keadaan cemas.
"Saya janji hanya sebentar, Bu Dokter! Tunggulah saya di mobil! Saya janji nggak bakalan lama!" Jawab Bu Kinasih.
"Baiklah! Kita tunggu kau di mobil." Kata Dokter Rebecca dengan wajah yang semakin cemas.
Sementara itu Dokter Rebecca yang sedang menggendong Mimi, bersama anak buahnya yang mengangkat koper pergi berjalan kaki menuju mobil.
Bu Kinasih menuju dapur untuk mengambil sebuah pisau daging, kemudian menuju gudang tempat lokasi Lola disekap.
Bu Kinasih membuka pintu, dan bergegas masuk kedalam gudang. Tampak tubuh Lola yang hanya tergeletak dilantai dengan tangan dan kakinya terikat rantai melihat Bu Kinasih datang menghampirinya dengan membawa sebilah pisau daging.
"Maafkan aku Lola, sebenarnya aku masih ingin membiarkanmu hidup dan bermain-main seperti biasa. Tapi sayang aku harus pergi dan tak bisa membawamu pergi juga." Kata Bu Kinasih.
Lola pun menangis melihat Bu Kinasih yang berdiri di hadapannya sambil memegang sebilah pisau daging.
...****************...
Tak sampai setengah jam kemudian, Para Polisi datang kerumah Bu Kinasih dan bergegas menggerebek rumah Bu Kinasih.
Tampak terlihat mayat Faida yang tergeletak dilantai depan pintu rumah dengan darah yang membanjiri wajah, rambut, dan badannya yang mengalir dari kepalanya.
Salah satu Polisi yang menjadi kekasih Faida, langsung menangis melihat Faida tewas dalam keadaan seperti itu. Salah satu temannya memegang pundaknya untuk memberi semangat kepada kekasih Faida itu. Setelah itu mereka para Polisi kemudian kembali melanjutkan tugasnya.
Tetapi tampaknya Para Polisi datang terlambat, sudah tak ada satupun orang didalam rumah itu.
Polisi berpencar untuk memeriksa setiap ruangan, termasuk kamar Bu Kinasih. Tampak yang terlihat dalam kamar hanya kasur kapuk lusuh dan lemari berisi sisa-sisa pakaian yang memang sengaja tidak dibawa oleh Bu Kinasih.
Sebagian Polisi lagi memeriksa ruangan lain termasuk dapur dan ruang tamu. Tak ada apapun yang bisa dijadikan jejak seperti foto-foto atau apapun yang berhubungan sebagai identitas pelaku. Ternyata persiapan Bu Kinasih untuk melarikan diri meskipun dalam waktu singkat tetapi benar-benar matang.
Sebagian lagi Polisi ada yang menuju kebun kecil milik Bu Kinasih, lalu menuju sebuah gudang. Tampak ada 3 makam tersusun tepat di samping gudang. satu diantara diikat kain merah di nisannya.
Polisi juga membuka pintu gudang, dan anehnya tumben pintu gudang tidak tergembok. Biasanya selalu tergembok agar tawanannya si Lola tidak bisa kabur.
__ADS_1
Tampak pula didalam gudang suasana yang begitu jorok, dan sesosok mayat wanita yang tewas dengan kepala yang hampir lepas dan dibanjiri banyak darah. Dipastikan itu adalah mayat Lola.
Berarti jelas, Bu Kinasih sengaja tidak menggembok pintu gudang itu agar polisi dengan mudah melihat dan menemukan mayat Lola.
...****************...
Berita Foto Penculikan seorang gadis berpenampilan seperti bayi akhirnya tersebar di berbagai media, termasuk di televisi dan lainnya.
Dan akhirnya berita itu sampai ke telinga keluarga dari Putri nama asli dari Mimi dan keluarga Dinar, yang sudah dipastikan bahwa foto gadis berpenampilan seperti bayi yang sudah tersebar di berbagai media itu adalah Putri.
Tetapi keluarga Dinar masih penasaran karena belum ada foto ataupun kabar mengenai keberadaan Dinar, apakah Dinar diculik bersama Putri atau tidak.
Keluarga mereka langsung bergegas ke kantor Polisi untuk mengetahui lebih jelas tentang berita itu, terutama tentang keberadaan Putri dan Dinar. Rasa rindu dari keluarga mereka untuk Putri dan Dinar sudah tak tertahankan setelah hampir dua setengah tahun tidak bertemu dan tanpa kabar.
Tak hanya itu, Aryan mantan kekasih Putri juga ikut mengikuti perkembangan berita itu bersama istrinya.
Sayang Pelaku dan Korban hingga saat ini belum ditemukan jejaknya, dan sayangnya pula saat Faida yang melaporkan kejadian itu tidak sempat memberi tahukan siapa pelakunya atau identitas si pelaku.
Hal itu membuat Bu Kinasih selaku pelaku utama dan juga Doker Rebecca masih merasa aman, ketika mengetahui berita bahwa Faida tidak sempat memberi tahukan bahwa Bu Kinasihlah penculiknya dan Dokter Rebeccalah pendukungnya. Kini mereka berhasil melarikan diri dengan merasa aman membawa korban yang dia culik yaitu Putri alias Mimi.
Tetapi dari sisa pakaian di dalam rumah dan barang pendukung lainnya saat diperiksa, sudah bisa dipastikan bahwa pelaku adalah wanita dengan usia sekitar antara 39-41 tahun.
Berita kasus hilangnya dua gadis yaitu Putri dan Dinar yang sudah lama ditutup karena tak pernah menemukan titik terang, akhirnya dibuka kembali.
Dan beritanya pun menjadi hangat kembali menjadi perbincangan karena telah diketahui bahwa korban yang diculik diperlakukan sangat aneh oleh Penculiknya, yaitu diperlukan layaknya bayi.
Hingga saat ini Polisi masih melakukan penyelidikan lebih lanjut terkait dimana keberadaan pelaku dan masih berusaha mencari identitas pelaku.
...****************...
Dua minggu kemudian, proses penyelidikan yang dilakukan oleh pihak yang berwajib kembali tidak menemui titik terang. Membuat keluarga Putri dan Dinar kembali mulai merasa harap-harap cemas dikhawatirkan kasus ini akan ditutup kembali seperti dahulu karena tidak menemukan jejak dimana mereka berada.
Pada kisaran jam 19.00, Keluarga Dinar mengundang keluarga Putri untuk bertamu kerumahnya sekaligus akan mengadakan doa bersama untuk Putri dan Dinar agar bisa segera ditemukan.
Semua keluarga berkumpul disebuah rumah yang sangat mewah milik keluarga Dinar. Duduk bersila diatas sebuah karpet berbulu lembut berkeliling membentuk suatu lingkaran. Saat doa bersama baru saja akan dilaksanakan, tiba-tiba seorang security penjaga rumah keluarga Dinar datang menghampiri ayah Dinar.
"Maaf Pak, tadi ada anak kecil menitipkan ini untuk Bapak dan keluarga." Kata security itu, kemudian Ayah Dinar bangkit mendekati Security itu.
"Anak kecil? Untuk kita? Apa itu yang dititipkannya untuk kita?" Tanya Ayah Dinar
"Ini pak." Security itu memberikan sebuah amplop putih kepada Ayah Dinar.
Tampaknya ada seseorang yang ingin memberikan sesuatu kepada mereka dan menitipkannya kepada anak kecil yang melintas.
Ayah Dinar menerima amplop itu, dan melihat tulisan di amplop itu, "Silahkan disaksikan oleh semua orang yang ada di sekitarmu!"
"Apa ini?" Ayah Dinar menjadi penasaran dan membuka amplop itu untuk melihat isinya. Semua orang termasuk keluarga Putri pun ikut penasaran apa isi amplop yang dibuka oleh ayahnya Dinar.
Ternyata isinya hanyalah sebuah flashdisk dan sebuah surat. Ayah Dinar yang merasa heran kemudian membaca surat itu yang isi suratnya, "isi flashdisk itu adalah sebuah video. Silahkan semuanya menonton, dijamin video itu sangat menarik untuk ditonton semua orang yang berada disekitar anda.
Karena muncul rasa penasaran yang tinggi, akhirnya mereka semua sepakat memutuskan untuk menunda doa bersama sejenak, dan ingin segera menonton video itu terlebih dahulu.
Di ruangan tersebut, ada TV LED besar yang dipajang di dinding. Ayah Dinar menyalakan TV LED dan mencolokkan flashdisk itu ke TV LEDnya. Semua pun berkumpul didepan TV untuk menonton isi flashdisk itu di TV.
+++BERSAMBUNG+++
Episode selanjutnya adalah episode terakhir dari kisah "Mimi Si Gadis Bayi."
__ADS_1